
Deg
Jantung Rain terasa berhenti gara gara Delmar menyebut nama Gaza. Semuanya pasti makin runyam karena Sean paling anti dengan nama Gaza.
"Om Gaza?" Sean langsung melotot dan menatap tajam ke arah Rain. Rain langsung kelimpungan menghadapi tatapan mata Sean yang horor.
"Jadi kemarin Del katemu sama Om Gaza?" Sean berusaha mendapatkan informasi dari Delmar.
"Iya Pah, di minimarket."
"Del keluar dulu ya nak, papa mau ngurus kerjaan bentar sama mama."
Rain makin gemetaran, di tahu Sean pasti marah lagi. Delmar mengangguk lalu keluar dari kamar orang tuanya.
"Jadi kamu ketemuan sama Gaza pas aku gak ada?" Tanya Sean dengan tatapan horor.
"Jangan salah paham, aku gak sengaja ketemu sama dia. Kalau gak percaya tanya aja sama Del, dia denger kok semua yang aku obrolin sama Gaza. Lagian aku gak mungkin ketemuan sama Gaza ngajak ngajak Del. Bunuh diri namanya."
"Aku gak suka dibohongi ya Rain." Sean terlihat sangat marah.
"Kapan sih aku pernah bohongin kamu? Jadi sekarang kamu mulai gak percaya sama aku?" Rain berusaha menahan air matanya yang ingin meleleh.
"Entahlah, aku gak bisa perpikir jernih kalau berhubungan dengan Gaza."
Sean berdecak kesal lalu masuk kekamar mandi. Rain yang tidak suka masalahnya berlarut larut mengikuti Sean masuk kedalam kamar mandi.
"Ngapain kamu ikut masuk? aku mau mandi." Bentak Sean. Bukannya keluar Rain malah memeluk Sean yang sedang bertelanjang dada.
"Kita sudah sepakat bakal ngelupain masa lalu. Gaza cuma masa laluku Sean. Kamu masa depanku. Jadi gak ada alasan buat kita berantem gara gara Gaza." Rain mulai terisak. "Seperti Delia yang dulu pernah ada dihati kamu. Begitu pula dengan Gaza. Dia cuma masa lalu yang sempat singgah dikehidupanku, dia bukan masa depanku. Kamu tak perlu insecure, semua rasaku untuk Gaza udah hilang. Semuanya untuk kamu Sean. Hatiku, tubuhku, semuanya. milikmu."
Sean terdiam untuk beberapa saat, dia bisa merasakan air mata Rain yang jatuh menimpa dadanya. Rain makin mengeratkan pelukannya ditubuh Sean. Tapi Sean tak membalas pelukannya.
__ADS_1
"Keluarlah, aku mau mandi." Sean menguraikan tangan Rain yang melingkar dipinggangnya. "Udah gak usah nangis." Sean menghapus air mata Rain dengan ibu jarinya.
"Jangan marah lagi, please." Pinta Rain sambil menatap Sean dengan masih sesenggukan.
"Iya, udah keluar sana." Tak ingin berdebat lagi, Rain memilih keluar dari kamar mandi.
Tapi tak berselang lama, Rain masuk lagi sambil membawa buket bunga yang tadi dibeli Sean.
"Kok masuk lagi?" tanya Sean sambil mengguyur tubuhnya dibawah shower.
"Aku juga mau mandi." Jawab Rain sambil mengisi bathup dengan air lalu menaburkan kelopak bunga mawar kedalamnya.
Sambil menunggu air penuh, Rain berjalan mendekati Sean yang sedang menyabuni tubuhnya.
"Sini aku bantu." Rain mengambil spon sabun dari tangan Sean.
"Gak perlu, aku udah gede bisa mandi sendiri. Kamu pikir aku Delmar?" protes Sean sambil menyalakan shower lagi.
"Makanya gak usah sok sok an mau mandiin aku. Mending kamu Mandiin Delmar sana." usir Sean sambil melanjutkan membersihkan sisa sabun di tubuhnya.
Rain berdecak kesal lalu melepaskan semua pakaiannya.
"Mau ngapain kamu?"
"Mandi, udah terlanjur basah. Lagipula aku juga udah siapin air di bathtup kok." Jawab Rain sambil menatap bagian tubuh bawah Sean yang tampak menegang.
"Ngeliatin apa kamu? gak usah nakal matanya." Sean menyadari arah pandang Rain.
"Kok galak gitu sih, padahal aku cuma mau bantuin. Ya udah kalau gak butuh aku, sana kamu main solo." Rain menyentuh sekilas sesuatu yang mengeras itu lalu meninggalkan Sean dan masuk kedalam bathtup yang mulai penuh.
Sean menghela nafas melihat Rain yang malah asik bermain main kelopak bunga mawar. Egonya gak mengijinkan dirinya bermain solo. Bisa jatuh harga dirinya kalau bermain solo didepan Rain.
__ADS_1
Sean mematikan shower lalu masuk kedalam bathtup. Rain berusaha menahan tawa melihat ekspresi lucu Sean. Sepertinya usahanya untuk menggoda Sean berhasil.
"Bantuin."
"Bantuin apa? nggosok punggung kamu?" Rain sengaja ingin mengerjai Sean dulu. "Atau mau aku keramasin, dipijit pijit gitu kepalanya kayak krimbat disalon?"
"Gak usah pura pura gak ngerti. Udah nggodain duluan mau kabur gitu aja." Sean langsung menarik tubuh Rain mendekat dan mencium bibirnya dengan ganas. Tangannya dengan aktif menyentuh bagian sensitif Rain. Dan terjadilah pergulatan panas yang akhirnya membuat keduanya akur kembali. Selesai melakukannya, mereka segera membersihkan diri lalu sama sama mengeringkan rambut didepan meja rias.
"Beb, apa sih yang kamu rasain saat ketemu Gaza lagi?" Sejatinya Sean masih sangat penasaran dengan perasaan Rain.
"Deg degan."
"Hah!" Mata Sean membulat sempurna mendengar jawaban Rain.
"Deg degan, tapi bukan karena masih ada cinta. Tapi deg degan karena takut kepergok kamu, karena kamu pasti ngamuk." Jelas Rain lalu menutup mulutnya menahan tawa melihat dari cermin ekspresi Sean yang berlebihan.
"Jawaban kamu bikin aku jantungan tahu gak?" protes Sean yang merasa diprank.
"Kamu gak nanya, gimana perasaanku saat ketemu kamu?"
"Emangnya gimana?"
"Deg degan juga. Deg degan karena tak sabar pengen segera kamu sentuh dan bawa ke kamar." Rain terkekeh sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sean sambil mengalungkan lengannya di leher suaminya itu. Hormon kehamilan membuatnya ingin bermanja manja pada Sean.
"Dasar otak mesum." Ledek Sean sambil menggosok mengacak acak rambut basah Rain.
"Jangan marah marah lagi ya. Gak usah bahas masa lalu. Mending bahas anak kita yang bentar lagi mau launching." Ucap Rain sambil meletakkan tangan Sean diperutnya.
"Maafin aku ya beb, aku terlalu cemburu. Tapi aku kayak gitu karena terlalu cinta sama kamu. Aku takut kehilangan kamu." Sean menciumi wajah Rain sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Kamu gak akan pernah kehilangan aku Sean" Tutur Rain sambil mencium bibir Sean dengan lembut.
__ADS_1