Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
HAPPY BIRTHDAY SEAN


__ADS_3

Rain terus memandangi jam dinding yang ada diruangannya. Sudah jam 11 malam tapi Sean tak juga kembali. Berkali kali dia menelepon tapi ponsel Sean tidak aktif.


"Sean kemana ya Al, kenapa dia gak balik balik." Tanya Rain cemas.


"Kak Sean udah gede mbak, gak usah mikirin dia. Lebih baik mbak tidur biar cepet sehat."


"Tapi aku gak bisa tidur sebelum Sean datang."


Alan membuang nafas kasar, dia bingung harus membujuk Rain bagaimana lagu agar mau tidur.


"Kamu cariin Kak Sean Al, mbak khawatir sama dia."


"Alan harus nyari dimana mbak? Alan gak tahu sama sekali tempat tongkrongan dia." Alan berkilah. Sebenarmya dia tak ingin meninggalkan Rain sendiri, dia takut kakaknya itu akan berbuat nekat lagi.


"Mungkin dia di apartemen. Kali aja tadi dia ketiduran disana." Rain sudah menghubungi semua teman Sean, dan tak ada satupun yang tahu keberadaan pria itu.


"Ya biarin aja kalau emang di apartemen. Kali aja dia capek mbak. Biar Alan malam ini yang tidur disini."


"Mbak gak tenang Al. Sean marah sama mbak. Dia kecewa karena mbak mau ninggalin dia. Mbak gak bisa tenang sebelum dia maafin mbak. Mbak takut dia ninggalin mbak."


"Mbak kenapa sih jadi overthingking kayak gini. Kak Sean gak mungkin ninggalin mbak. Percaya sama Alan. Alan lihat sendiri dia nangis nangis saat mbak bunuh diri. Jangan mikir kejauhan." Alan jadi cemas dengan keadaan Rain yang sekarang.


"Ya udah Alan nyariin Kak Sean. Tapi kakak harus janji gak bakal ngelakuin hal bodoh kayak tadi." Ular Alan sambil mengenakan jaket jeans miliknya.


"Iya kakak janji."


Tujuan pertama yang akan didatangi Alan adalah apartemen. Dia berharap Sean benar benar ada disana.


Langkah Alan terhenti saat melihat seseorang yang sedang dia cari. Alan melihat Sean tengah duduk di kursi lobi rumah sakit. Alan mendekatinya dan langsung duduk tepat disebelah Sean.


"Mbak Rain nyariin kamu."


"Iya, nanti aku kesana." Ucapnya datar. Sebenarnya sejak tadi Sean ada dirumah sakit. Namun dia masih belum ingin bertemu Rain.


"Kenapa nunggu nanti? Lebih baik kakak kesana sekarang. Aku gak tenang ninggalin mbak Rain sendirian. Aku takut dia nekat lagi."


"Nih bocah kesambet apa? kenapa tiba tiba ngomongnya aku kamu gini? biasanya juga elo gue. Dan tadi, gue gak salah dengarkan? Dia manggil gue kakak." Gumam Sean dalam hati.


"Lo kembali aja ke ruangan Rain, entar gue nyusul."


"Yang mbak Rain butuhin kamu, bukan aku. Sejak tadi dia cemas nyariin kakak. Dia Bahkan sampai telepon berkali kali tapi ponsel kakak gak aktif. Dia gak mau tidur sebelum kakak datang," terang Alan.


"Aku ngelihat mbak Rain sekarang beda sama yang dulu. Mbak Rain kayak orang depresi. Tadi aja dia Nangis nangis takut kalau kakak ninggalin dia."


Sean melongo mendengar penjelasan Alan. Dia bahkan tak pernah berfikir jika Rain bakal nangis nangis hanya karena dia gak balik balik ke ruang rawatnya. Sean jadi teringat obrolannya tadi siang dengan dokter.


flashback


"Ada apa ya Dok? Kondisi istri saya baik baik sajakan?" Tanya Sean cemas.


"Saya belum bisa menyimpulkannya. Tapi dari yang saya lihat, sepertinya istri anda mengalami depresi."


Sean terkejut mendengarnya. Selama ini yang dia tahu Rain adalah wanita yang kuat. Dia bisa bertahan dengan banyaknya masalah dalam hidupnya terutama setelah keluarganya mengalami kecelakaan maut.


"Kalau anda mau, saya bisa menjadwalkan Ibu Raina untuk konsultasi dengan psikiater. Keadaan seperti ini tak bisa terus dibiarkan. Saya takut dia bisa bertindak nekat lagi setelah ini."


"Nanti akan saya bicarakan dulu dengan istri saya dok." Sean tak mau mengambil keputusan sepihak sebelum memberitahu Rain.


"Apa tidak ada cara lain selain ke psikiater?"


"Kenapa kebanyakan orang selalu tak mau konsultasi dengan psikiater?" Keluh dokter Dimas. "Tolong buang anggapan jika hanya orang stres atau gila yang ke psikiater."


"Bukan begitu maksud saya Dok. Saya hanya takut istri saya tak nyaman jika harus bertemu psikiater."

__ADS_1


"Kalau memang anda tak mau. Anda bisa membawa istri anda refresing untuk sejenak menghilangkan beban hidupnya. Buatlah dia merasa nyaman. Kalau memang itu tidak berhasil, berjumpa psikiater adalah jalan satu satunya."


...*****...


POV RAIN


Ceklek


Aku buru buru mengangkat kepala dan melihat siapa yang datang.


"Sean." Sapaku seraya mengulumkam senyum dibibir. Kenapa jantungku jadi dag dig dug gini? Aku takut dia masih marah padaku.


"Kenapa belum tidur? ini sudah malam."


"Aku menunggumu."


"Tidurlah."


Cup


Dia mengecup keningku sekilas lalu beranjak ke sofa. Sebenarnya aku ingin menarik tangannya agar tetap disisiku, tapi sayangnya pergelangan tanganku sakit hingga aku tak bisa berbuat apa apa.


"Maaf," lirihku. Tapi sepertinya Sean bisa mendengar buktinya dia berbalik badan ke arahku.


"Maaf." Aku mengulanginya lagi dengan lebih keras.


"Aku sudah memaafkanmu, sekarang tidurlah, jangan pikirkan apa apa lagi."


Aku menggeleng cepat "Aku gak mau tidur, kita perlu bicara."


"Rain, please, udah malam." tolaknya.


Aku segera merebahkan tubuhku lalu berbaring memunggunginya. Bagaimana aku bisa tidur, aku gak ngantuk sama sekali. Air mataku perlahan mulai menetes, aku terus kepikiran Sean yang marah padaku. Walaupun dia bilang sudah memaafkanku, tapi aku yakin dia masih marah. Buktinya dia bersikap dingin padaku.


"Disuruh tidur kok malah nangis?"


Aku segera berbalik badan ke arah Sean. "Maaf." Lagi lagi aku mengucapkan kata keramat itu.


"Iya, aku udah maafin kamu. Mau ngobrol?" tawarnya yang langsung aku tanggapi dengan anggukan kepala.


Sean duduk diatas ranjang lalu mendekapku didadanya. Posisi yang paling aku sukai ya seperti ini, berada dalam pelukannya yang super nyaman.


"Aku kangen." Ujarku sambil menatap matanya.


"Aku juga kangen." Jawab Sean sambil mencium pucuk kepalaku. "Jangan pernah lakukan hal gila seperti tadi pagi. Aku tak akan pernah memaafkanmu jika melakukan itu lagi."


"Hem, aku janji."


Sebenarnya aku juga belum mau mati. Tapi aku juga tak tahu apa yang merasukiku tadi pagi hingga punya keberanian untuk bunuh diri.


"Happy birthday Sean." Ucapku lalu memberi kecupan singkat dibibirnya. Sekarang tepat jam 12 malam, dan aku yakin, aku orang pertama yang mengucapkannya.


Aku melihat Sean tersenyum, sepertinya dia sangat senang. Ini adalah pertama kalinya Sean ulang tahun setelah kami menikah.


"Kamu ingat hari ini ulang tahunku?"


"Tentu saja, aku bahkan sudah lama menantikan hari ini. Aku sudah merencanakan diner romantis untuk kita. Tapi sayangnya malah kayak gini," keluhku.


"Ini sudah lebih dari cukup. Kau ingat saja aku sudah sangat senang."


Cup cup cup cup


Sean menghujani wajahku dengan kecupan, dan berakhir dengan ciuman lembut dibibirku.

__ADS_1


"Kamu mau kado apa?" Tanyaku antusias.


"Kamu, aku ingin kamu."


"Sean, apaan sih." Aku melotot sambil memukul pelan dadanya. "Aku tuh baru keguguran, aku masih dalam masa nifas sekarang."


"Emph." Sean merapatkan bibirnya manahan tawa. "Hahaha." Tapi akhirnya tawa itu lolos juga. Sumpah aku bingung, kenapa dia malah ngetawain aku.


"Ish, mikir apaan sih?" Telunjuk Sean mengetuk pelan keningku.


Aku bengong, apa aku salah?


"Kamu bilang tadi mau aku?"


"Aku tuh mau kamu selalu disisiku, selalu ada buat aku dan selalu mencintai aku."


Glodak, sumpah malu banget. Wajahku pasti udah kayak kepiting rebus sekarang. Kenapa sih otakku malah sinkronnya ke arah lain.


"Kayaknya sekarang yang otaknya mesum bukan aku deh, tapi kamu beb." Ledek Sean sambil masih menertawakanku.


"Aku ngantuk mau tidur." Aku memerosotkan tubuhku dan berbaring. Rasanya ini cara paling mujarab untuk menghilangkan malu.


"Katanya tadi belum ngantuk?" Bisik Sean sambil memelukku dari belakang. "Jangan pura pura ngantuk. Hari ini ulang tahunku, kita perlu tiup lilin dan make a wish."


"Tapi gak ada cake dan lilin Sean," keluhku. Harusnya tadi aku nyuruh Alan beli cake. Istri apaan sih aku, gak gercep banget.


"Ada kok."


"Kamu udah beli?"


Sean menggeleng lalu membuka ponselnya. "Anggap aja ini." Sean menunjukkan gambar birthday cake lengkap dengan lilin yang menyala.


Aku tersenyum lalu duduk. Gak nyangka kalau Sean punya ide kayak gini.


"Nyanyi yuk." Ajaknya.


"Harus banget ya?"


"Banget nget nget."


Mau tidak mau akhirnya kami menyanyi lagu happy birthday berdua. Dan setelah lagunya habis Sean meniup gambar cake diponselnya dan aku tepuk tangan. Pelan sih karena tanganku masih sakit.


"Make a wish," pintaku.


Sean mengangkat kedua tangannya dengan antusias lalu tiba tiba dia turunkan lagi.


"Kenapa kok gak jadi?"


"Aku lupa." Jawabnya cengar cengir sambil garuk garuk kepala. "Aku udah make a wish sebelum waktunya."


"Maksudnya?"


"Aku udah make a wish tadi siang. Aku memohon sama Tuhan agar gak ngambil kamu dari hidup aku. Aku sangat takut tadi siang, aku takut kamu ninggalin aku selamanya."


"Maaf, maaf udah bikin kamu takut." Aku pengen sekali memelukmya erat, tapi sayangnya tanganku tak bisa melakukan itu.


"Jangan nangis lagi." Sean mengusap air mata yang lolos dari sudut mataku.


Sean memegangi tengkukku lalu menyapukan bibir lembutnya ke bibirku. Aku mulai membuka mulutku dan membalas ciumannya. Tapi tiba tiba Sean menarik bibirnya lebih cepat dari perkiraanku.


"Segitu dulu aja, kalau lama lama bisa gak kuat dan pengen lebih." ujar Sean sambil mengelap bibirku yang basah.


"I love you Ocean Kalandra."

__ADS_1


"I love you more Raina Zemira."


__ADS_2