Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
ANNIVERSARY


__ADS_3

Rain menatap wajahnya didepan cermin sambil tersenyum. Dia sedang mengagumi anugerah yang diberikan Tuhan padanya berupa paras yang cantik. Apalagi saat dirinya tengah dirias oleh MUA disebuah salon seperti saat ini, aura kacantikannya semakin terpampang nyata.


Malam ini Rain begitu cantik dengan make up flawless dan rambut disanggul modern. Strepless dress selutut berwarna hitam yang dia kenakan membuatnya terlihat begitu anggun dan seksi.


"Udah selesai belum?" Tanya Sean yang baru masuk keruangan tempat Rain make up.


"Bentar lagi pak, tinggal ngerapihin rambutnya dikit lagi." Jawab seorang hair stylish yang sedang berdiri disamping Rain.


Sean yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya tak memperhatikan Rain sama sekali dan segera mencari tempat duduk.


"Udah sayang, ayok." Panggil Rain yang sekarang sudah berdiri didepan Sean. Sekarang Rain tak lagi memanggil suaminya dengan nama karena Sean terus protes.


Sean segera menutup ponselnya dan beranjak dari duduk. Seketika dia terkesiap melihat penampilan Rain malam ini. Dia membuka matanya lebar lebar untuk menatap Rain dari atas kebawah.


Rain menelan salivanya saat menyadari tatapan mengintimidasi dari suaminya.


"Kenapa yang, ada yang salah dengan penampilanku? jelek ya?" Rain jadi salah tingkah.


Sean menggaruk garuk kepala bagian belakangnya. Dia melihat Rain begitu cantik dan seksi malam ini. Sungguh menggoda dan mampu membuat siapa saja yang melihat terpesona.


"Cantik banget."


"Beneran?" Rain kegirangan lalu mendekati Sean dan melingkarkan tangannya dilengan Sean.


"Tapi aku gak suka." Sean mematap tajam kearah Rain.


Deg


Rain langsung melepaskan tangannya dari lengan Sean.


"Baju kamu terlalu seksi. Kamu gak khawatir melorot apa pakai baju gak ada talinya kayak gitu?" Sean keberatan dengan gaun model strepless yang dipakai Rain.


"Gak bakal melorot, pas banget kok dibadan aku, gak longgar."


"Gak risih apa pakai baju dadanya kebuka kayak gitu? Kayak cuma dibebet kain aja tubuh kamu. Gak beda sama pakai handuk. Kenapa gak sekalian telanjang aja?" sarkas Sean dengan agak keras hingga dua orang mua yang tadi merias Rain, menoleh kearah mereka.


Muka Rain seketika meram padam, antara malu dan marah. Rain ingin sekali menangis, dia malu dibentak didepan orang seperti ini. Apalagi kata kata Sean terdengar sangat kasar.


"Ganti baju kamu." titah Sean dengan wajah garangnya.

__ADS_1


"Ya udah aku ganti baju. Disebelah salon ada butik, aku beli baju disana saja." Rain berjalan keluar salon dengan langkah cepat menuju butik diikuti Sean dibelakangnya.


Karena tak ada waktu lagi, Rain asal comot saja gaun tanpa milih milih.


"Ini bagus gak?" Rain menunjukkan midi dress warna nude berlengan brukat dengan kerah model v. Dia sengaja bertanya dulu agar penampilannya kali ini tak mendapat protes pedas dari Sean.


"Ya udah ganti yang itu aja." Sean segera membayar gaun yang diambil Rain.


Rain masuk keruang ganti sambil menenteng gaun itu. Sesampainya diruang ganti Rain malah menangis, dadanya sesak karena dari tadi menahan tangis.


Dia tak menyangka Sean akan mengeluarkan kata kata kasar padanya didepan banyak orang seperti tadi. Kalaupun dia salah, harusnya Sean bisa menegur lebih halus.


"Beb cepetan, kita gak punya banyak waktu." Panggil Sean dari balik pintu kamar pas.


"Iya." Jawab Rain dengan suara bergetar efek dari menangis. Rain menghapus airmatanya dan buru buru ganti baju. Setelah merapikan baju serta rambutnya, Rain segera keluar.


"Buruan yuk, mama bisa ngamuk ngamuk kalau kita telat." Ucap Sean sambil menggandeng tangan Rain. "Kamu habis nangis beb?" Sean melihat mata Rain merah.


"Enggak kok, Yuk buruan." Jawab Rain sambil berusaha terlihat baik baik saja. Dia berjalan mendahului Sean menuju mobil ya g terparkir didepan salon.


"Kamu nangis beb, kamu marah sama aku gara gara aku suruh ganti baju?" Tanya Sean saat mereka sudah didalam mobil.


"Enggak kok." Jawab Rain sambil menunduk. Dia tak mau menatap Sean karena saat ini matanya sedang berkaca kaca.


"Aku gak marah gara gara kamu nyuruh ganti baju. Tapi aku kecewa dengan caramu menegurku tadi. Aku malu Sean, semua orang ngeliatin kamu marahin aku. Ditambah lagi kata kata kamu sangat kasar padaku." Jawab Rain sambil terisak. Tak bisa dipungkiri hatinya sakit mendengar ucapan kasar dari mulut suaminya.


Sean baru menyadari kesalahannya. Sepertinya dia memang sedikit keterlaluan tadi. Mau bagaimana lagi, mungkin bicara kasar dan ceplas ceplos sudah mendarah daging pada diri Sean.


"Maaf, tadi aku terbawa emosi. Kamu tahukan kalau mulut aku ini kadang gak bisa dikontrol?Aku gak suka kamu pakai baju kayak tadi karena terlalu terbuka. Aku gak rela kamu jadi santapan mata mata nakal dipesta nanti. Kamu terlalu berharga buat aku. Aku tak ingin membagi apa yang menjadi milikku pada orang lain." Sean membelai punggung Rain untuk menenangkannya.


"Aku cuma berusaha terlihat cantik dan elegan. Aku ingin tampil luar biasa sehingga gak malu maluin kamu dipestain nanti."


"Untuk terlihat luar biasa gak perlu pakai baju terbuka Beb. Kamu udah cantik dari lahir. Pakai apapun tetap akan cantik. Bahkan saat kamu pakai daster sepuluh ribuan kamu masih aja cantik. Udah gak usah nangis." Sean menghapus air mata Rain dengan ibu jarinya.


"Mana ada daster sepuluh ribuan Sean. Dibuat beli bakso aja gak cukup uang segitu." Gerutu Rain dalam hati.


"Boleh kok pakai baju seksi, telanjang juga boleh. Tapi kalau lagi dikamar sama aku." Sean menyelipkan candaan agar Rain tak sedih lagi.


"Kalau kamu mah maunya aku gitu terus." Rain mengerucutkan bibirnya sambil mencubit lengan Sean.

__ADS_1


"Tuh kamu mulai pinter, tahu apa yang diinginkan suami."


"Dah dari dulu kali pinter, bawaan dari lahir," protes Rain.


"Kamu gak pernah malu maluin aku Rain. Aku sangat bangga bisa menikahi wanita hebat dan pintar sepertimu." Sean mengecup lama kening Rain.


"Aku ada sesuatu buat kamu." Sean mengeluarkan sesuatu dari dashboard mobilnya. Sebuah kotak elagan warna hitam yang sudah bisa ditebak isi didalamnya.


Mata Rain terbelalak melihat isinya. Satu set perhiasan mewah yang terlihat sangat cantik dan elegan. Sebenarnya waktu itu Sean tak mengajak Rain ke toko perhiasan karena dia juga membelikan untuk Rain. Dia sengaja tak memberi tahu karena ingin melihat kekesalan Rain lebih dulu baru memberinya hadiah.


"Untukku?" Rain masih tak percaya.


"Bukan, untuk mama." Rain terlihat kecewa. "Tentu saja untukmu Beb. Apa kau suka?"


Rain mengangguk pelan. Terlihat binar kebahagiaan di mata Rain. Ini untuk pertama kalinya setelah menikah Sean memberinya hadiah.


"Biar aku bantu pakaikan." Sean mengambil kalung lalu memakaikannya dileher jenjang Rain. Setelah itu dia berlanjut memakaikan cincin di jari manis sebelah kanan karena jari kiri Rain sudah terisi cincin pernikahan mereka.


Rain membuka sendirinya antingnya lalu Sean memasangkan yang baru disana.


"Sempurna, kau sangat luar biasa Beb. Kau terlihat sangat cantik." Sean begitu terpesona melihat Rain hingga dia tak mampu menahan diri untuk tidak mencium wanitanya itu.


Cup


Sebuah kecupan singkat dia berikan di bibir Rain. Dia tak ingin memperdalam karena takut tak bisa menahan diri.


Ekspresi Rain terlihat sedikit kecewa saat Sean menarik bibirnya. Dia seperti menginginkan lebih dari sebuah kecupan singkat.


"Segitu dulu, entar malam saja lanjutannya." Goda Sean sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Pipi Rain merona, dia malu saat tertangkap basah meninginginkan sesuatu yang lebih.


Sean melajukan mobilnya menuju sebuah hotel mewah. Malam ini adalah pesta anniversary pernikahan orang tuanya yang ke 30th.


"Aku takut Sean." Rain yang gemetaran menggenggam tangan Sean. Dia berusaha mencari kenyamanan disana.


"Takut." Sean mengerutkan dahinya. "Kita mau ke pasta Rain, bukan ke rumah hantu, kenapa tatapanmu horor seperti itu?" Sean sampai geleng geleng kepala.


Entahlah cuma perasaan atau apa. Intuisi wanita itu mengatakan akan terjadi sesuatu didalam sana.

__ADS_1


"Ayo masuk, ada aku, aku akan selalu menjagamu. Lagian disini hanya ada saudara serta teman dekat orang tuaku. Tak ada hantu atau binatang buas yang akan memangsamu, tenanglah. Dan mamaku, aku tahu dia wanita yang menjunjung tinggi kesempurnaan. Dia tak mungkin cari masalah denganmu, dia tak mungkin menghancurkan pestanya sendiri. Dia ingin segalanya sempurna malam ini."


Rain mengangguk, ada sedikit perasaan lega dihatinya. Ini pertaman kalinya Rain diperkenalkan kepada saudara dan orang orang luas sebagai istri Sean. Mungkin perasaan nerveos itulah yang membuatnya tertekan.


__ADS_2