
Pov Rain
Aku tak menyangka jika akan ada hari ini. Hari dimana aku tak berani mengangkat kepalaku karena terlalu malu. Dulu aku pikir hanya aku, Maya, Sean , Danu dan Tuhan yang tahu perihal aku menjual diri. Tapi nyatanya tak sesimpel itu, ada orang lain yang tahu. Dan orang itu tidak sedang berada dikubuku.
"Kamu percayakan padaku Sean? Kau bilang hanya akan percaya semua yang keluar dari mulutku. Semua ini fitnah. Percayalah, aku mohon." Aku memegang kedua lengan Sean. Berharap dia percaya padaku dan berdiri dipihakku. Tapi kenapa tatapannya seolah menyiratkan jika dia ragu padaku?
"Jangan percaya padanya Sean, ucapan yang keluar dari mulut seorang jalang sepertinya tak bisa dipercaya." Ucap Mama Vivi sambil menarik Sean hingga tanganku terlepas dari lengannya.
Aku seketika goyah saat tangan Sean terlepas dariku. Dan dia, kenapa diam saja saat mama menariknya. Apakah dia sudah tidak percaya padaku? Tapi tak mungkin, Seanku mencintaiku, dia pasti lebih percaya padaku daripada semua orang didunia ini.
"Jalang sepertimu tidak pantas menjadi istri putraku. Dan aku tak akan pernah mengakui anak dalam kandunganmu sebagai cucuku." Mama terus menyudutkanku.
Aku tak peduli apapun ucapannya. Yang aku pikirkan sekarang hanya Sean. Hanya bagaimana caranya membuat dia percaya.
"Aww.. " Aku meringis sambil memegangi perutku yang tiba tiba sakit. "Sean, perutku sakit." lirihku sambil menggigit bibir bawah menahan sakit.
"Rain kau kenapa?" Sean mendekatiku dan memegangi pundakku, dia terlihat cemas.
"Perutku sakit sekali."
"Jangan pedulikan dia, dia hanya pura pura untuk menarik simpatimu." Mama Vivi lagi lagi menarik tangan Sean agar dia menjauh dariku.
"Apa mama tak melihat jika Rain benar benar kesakitan? Wajahnya pucat ma." Tanpa mempedulikan mamanya, Sean langsung mengangkat tubuhku dan membawaku ke rumah sakit.
Ya Tuhan, tolong selamatkan anakku. Semoga dia baik baik saja. Aku terus berdoa dan merintih sepanjang perjalanan ke rumah sakit.
"Tahan Rain, kau harus kuat. Semoga tak terjadi apa apa pada anak kita." Ucap Sean sambil meletakkan tangannya diatas perutku.
Untuk sesaat rasa sakitku seakan hilang mendengar Sean menyebut anak kita. Kata kata itu lebih manjur dari seluruh obat yang ada didunia. Apakah itu artinya Sean percaya padaku? Dia percaya kalau anak ini anak kami? Hanya Sean yang bisa menjawab. Tapi satu yang aku lihat dari matanya, dia mencemaskanku dan anakku saat ini.
__ADS_1
...******...
.
Pov Sean
Aku cemas sepanjang perjalanan ke rumah sakit. Aku terus berdoa semoga Rain dan anak kami baik baik saja. Aku tak ingin kebahagian yang baru sehari kami rengkuh harus musnah.
Aku memang sedikit meragukan Rain saat mendengar kalau Maya sendiri yang bilang telah menjualnya pada banyak pria.
Tapi anak dalam kandungan Rain. Seratus persen aku yakin jika itu anakku. Aku selalu bersama Rain, dirumah, dikantor, dimanapun. Aku rasa tak mungkin dia ada main di belakangku.
Sejak menikah denganku, aku yakin jika Rain hanya berhubungan badan denganku. Tapi sebelum menikah, aku sedikit ragu jika dia hanya melakukan itu denganku.
Aku tak bisa mempercayai Firman. Firman hanyalah manusia laknat dan bermulut sampah. Tapi Maya? entahlah, aku tak begitu mengenalnya. Tapi dia sahabat Rain. Apakah mungkin dia tega memfitnah Rain? Dan itulah yang membuat kepercayaanku pada Rain sedikit goyah.
Ahrrgg rasanya kepalaku hampir meledak memikirkan semua kemungkinan itu. Ada rasa tak terima sekaligus kecewa jika memang benar Rain pernah menjual diri pada banyak pria hidung belang.
Sesampainya dirumah sakit, aku segera menggendong Rain dan membawanya ke UGD untuk mendapatkan pertolongan.
Aku mondar mandir didepan UGD sambil terus berdoa agar Rain dan anakku baik baik saja.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?" Tanyaku pada seorang dokter yang baru keluar dari UGD.
"Alhamdulillah tidak terjadi apa apa pada kandungan istri bapak. Tapi sepertinya istri bapak dalam kondisi tertekan saat ini. Dimasa kehamilan trimester pertama, janin masih sangat rentan. Stres bisa mempengaruhi tumbuh kembang janin. Saya khawatir janin anda tak bisa bertahan jika istri anda terus terusan mengalami stres."
Setelah dokter menjelaskan panjang lebar, aku masuk masuk untuk melihat Rain. Aku melihatnya meringkuk diatas brankar. Sepertinya dia masih menangis.
Dadaku terasa sangat sesak melihat Kondisinya. Hidup kami bagai roller coaster akhir akhir ini. Setelah tragedi Rain hampir dilecehkan. Tuhan memberi kami sedikit kabahagiaan dengan kabar Rain hamil. Tapi sekarang, kami kembali mendapat cobaan. Sepertinya Tuhan sedang menguji cinta kami.
__ADS_1
"Beb." Panggilku sambil membelai kepalanya.
Rain mendongak ke arahku dengan mata yang terlihat sipit karena bengkak terlalu banyak menangis.
Dia menatapku tanpa bicara sepatah katapun. Tapi dari tatapannya, aku tahu jika banyak yang ingin dia sampaikan padaku. Tapi aku tak peka untuk bisa tahu apa yang ada dalam hati dan pikirannya.
"Jangan pikirkan apapun lagi. Stres bisa membahayakan janin dalam kandunganmu. Lupakan semuanya?"
"Aku tidak sedang amnesia, apa mungkin aku bisa melupakan masalah sebesar ini?" Ucap Rain sambil mengubah posisinya menjadi duduk.
Aku bingung bagaimana cara untuk menghiburnya. Aku sendiri kacau sekarang.
"Apa kau percaya padaku Sean?" Dia menatapku dengan penuh harap.
"Ya." Jawabku sambil tersenyum. Aku berkata seperti itu bukan karena aku seratus persen percaya. Melainkan aku hanya ingin dia dan anakku baik baik saja.
"Kau berbohong Sean." Rain mengangkat ujung bibirnya. Sial, aku tak bisa menyembunyikan keraguanku. Rain memang sangat pandai membaca ekspresi.
"Bukannya aku tak percaya padamu Rain. Hanya saja aku tengah goyah sekarang. Aku bingung Rain."
"Apa kau juga meragukan anak dalam kandunganku?"
"Tidak, aku yakin itu anakku." Jawabku sambil mengelus perutnya. "Rain, bisakah kau memberiku satu saja alasan. Alasan yang akan membuatku percaya seratus persen padamu?"
"Bukankah cinta adalah alasannya. Kalau kau mencintaiku, kau pasti percaya padaku. Aku berani bersumpah, jika satu satunya pria yang pernah tidur denganku hanya dirimu. Tatap mataku Sean, dan tanyakan pada hati kecilmu. Apa menurutmu aku sedang berbohong saat ini?" Rain meletakkan tepalak tangannya didadaku.
Aku melihat jelas kejujuran dimatanya. Aku bisa melihat itu walau aku kurang peka. Ya, Rainku tak mungkin berbohong. Aku yang bodoh, bodoh karena sempat meragukannya.
"Maafkan aku Rain." Ucapku sambil membawa kepalanya dalam dekapanku. Aku membelai rambutnya dan berkali kali mencium puncak kepalanya. "Maaf karena sempat meragukanmu." Sekuat tenaga aku menahan air mata agar tak jatuh. Tapi nyatanya pertahananku jebol, air mataku mulai menetes.
__ADS_1
Persetan jika Rain atau siapapun menertawakan aku yang menangis. Aku memang lemah jika menyangkut Rain.