
Tempat yang tadinya ramai itu seketika menjadi senyap saat Sean datang. Semua orang memilih diam untuk mencari aman.
Sean tak menyangka jika hari pertama Rain bekerja dengan status istrinya, dia sudah berkelahi.
"Apa yang terjadi disini?" Tanya Sean sekali lagi karena tak ada yang menjawab.
"Dia yang memulai Pak, dia menyiram saya dengan air sampai saya basah seperti ini. Selain itu dia juga menampar saya duluan," ucap Khaila sambil menunjuk ke arah Rain.
"Saya melakukan itu karena ada alasannya. Dia memfitnah saya. Dia bilang kamu terpaksa menikahi saya kerena saya hamil duluan."
"Bohong Pak, saya tak bicara seperti itu," sangkal Khaila.
"Mulai besok kamu gak usah kekantor lagi, kamu saya pecat." Ucap Sean pada Khaila.
"Tapi Pak." Khaila tak terima dipecat.
"Ini juga peringatan untuk kalian semua." Sean mengedarkan pandangannya pada semua karyawan yang berada disana. "Rain istri saya, tolong hormati dia seperti kalian menghormati saya. Dan satu lagi, Rain tidak hamil, dan saya juga tidak terpaksa menikahinya. Jika kalian bertanya kenapa kami tak mengadakan pesta? jawabannya adalah kami akan mengadakan pesta bulan depan. Dan semua orang dikantor ini akan saya undang."
Semua orang hanya menunduk tanpa berani mengeluarkan kata kata.
"Ayo pergi dari sini." Sean menarik Rain keluar dari pantry.
Semua orang disana terperangah melihat Sean yang terlihat sangat membela Rain. Gosip yang mengatakan jika Sean terpaksa menikahi Rain seolah langsung terpatahkan.
...******...
"Aww... , pelan pelan Sean, perih tau." Rain meringis saat Sean mengoles obat ke pipi Rain yang terluka akibat cakaran Khaila.
"Ini udah pelan, tahan sedikit kenapa." Sean meniup luka yang baru diobati agar tak terlalu perih.
Rain merasa gugup karena wajah Sean terlalu dekat dengan wajahnya. Rain menutup mata dan tak berani bergerak kerena jika dia bergerak, kemungkinan wajah mereka akan bersentuhan.
"Ngapain tutup mata, berharap gue cium?"
Seketika Rain langsung membuka mata, dan ternyata Sean sudah menjauh darinya.
"Si Khaila itu orang apa macan sih? kukunya tajam banget. Pipiku jadi ada lukanya, gimana kalau gak bisa hilang?" Rain memperhatikan wajahnya dari cermin kecil yang selalu dibawanya.
"Nanti aku carikan dokter yang paling bagus kalau lukanya gak ilang. Kalau perlu kita berobat ke luar negeri."
"Benaran Sean?" Rain meletakkan cerminnya dan menoleh ke arah Sean.
"Becanda."
"Sialan kamu." Rain memukul lengan Sean karena kesal.
"Hahaha... ya masa iya luka gitu aja dibawa ke luar negeri?" Ngabis ngabisin duit aku aja. Beberapa hari lagi juga ilang lukanya, gak dalem kok. Gak usah lebay deh." ledek Sean.
"Udah jangan cemberut gitu, jeleknya makin keliatan." Sean ingin ketawa lagi tapi takut Rain makin marah.
"Yang kamu omongin tadi beneran ?"
"Yang mana, yang aku omongin banyak. Kalau tanya itu yang jelas?"
"Huft." Rain membuang nafas kasar. Bicara dengan Sean memang harus ekstra sabar. Untung cakep, kalau jelek udah dibuang kelaut lo Sean, batin Rain.
__ADS_1
"Yang kamu bilang mau ngadain pesta."
"Oh yang itu, beneranlah. Emang kenapa? kamu gak mau?" Tanya Sean sambil membereskan kotak p3k.
Rain diam saja, dia tak menyangka jika Sean akan mengadakan pesta. Dia pikir Sean hanya main main saja dengan pernikahan ini.
"Astaga Sean, aku hampir lupa, satu jam lagi kita ada meeting dengan Bumi raya grup." Rain menepuk jidatnya sendiri. Hampir saja Rain melupakan jadwal Sean hati ini. "Aku gak ikut ya, aku malu wajah dan leherku ada bekas cakaran harimau."
"Ish, luka dikit aja. Kamu touch up pakai bedak juga gak keliatan. Ribet banget sih jadi cewek." Omel Sean.
...******...
Hari ini pertama kalinya Sean bertemu dengan CEO Bumi raya group. Mereka membuat reservasi disebuah restoran.
"Pak Arya." Sean tak menyangka jika CEO bumi raya grup adalah Arya wirabumi, seniornya dulu saat kuliah.
"Astaga, saya tak menyangka jika Ocean Kalandra adalah kamu Sean. Apa kabar kamu?" Arya bersikap lebih santai dan tak terlalu formal.
"Baik, kenalkan ini Rain, sekretaris saya."
Rain segera mengulurkan tangannya dan disambut baik oleh Arya. Arya datang sendirian karena sekretarisnya sedang cuti hari ini.
Setelah memesan makanan, mereka memulai obrolan tentang kerjasama bisnis yang akan mereka jalin. Kerena sudah kenal, walaupun tak akrab, obrolan itu terasa lebih santai dan tidak terlalu formal.
Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiran Sean. Sejak tadi Arya sering mencuri pandang ke arah Rain. Sepertinya pria itu menyukai Rain. Hal itu membuat Sean sedikit kurang nyaman.
"Emm.. " Rain meringis saat meminum jusnya. Ternyata pelayan tadi salah memberikan pesanan Rain. Rain pesan jus semangka, tapi yang datang justru jus strawbery yang sangat asam.
"Ada apa?" tanya Sean heran.
"Kamu gak suka asam?" tanya Arya.
"Saya kurang suka."
"Ambil aja ini." Arya menyodorkan minumannya pada Rain. "Jus strawberynya buat saya aja."
"Tidak usah pak, biar saya pesan yang baru saja. Lagian ini sisa saya, udah saya incip." Rain merasa tak enak karena jus strawbery itu sudah dicicipinya. Itu sama halnya dengan memberikan minuman sisanya pada Arya.
"Udah gak papa." Arya meletakkan minumannya kedepan Rain dan mengambil minuman milik Rain.
Sean dibuat panas karena kejadian itu. Bagaimanapun Arya masih muda dan tampan. Dia takut kalau Rain terpikat pesona Arya. Dulu saja Arya sangat terkenal dikampus. Dia salah satu idola para mahasiswi.
Cih, sok perhatian banget, kayaknya beneran suka nih Arya sama Rain, batin Sean.
Sean yang kesal menendang kaki Rain saat wanita itu mau minum hingga membuat Rain tersedak.
"Huk huk huk."
"Pelan pelan." Ucap Arya.
Rain hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
Kling.
Rain membuka ponselnya saat mendengar ada notif pesan masuk. Matanya membulat sempurna saat mengetahui ternyata Sean yang mengirim pesan padanya.
__ADS_1
Annoying bos
Gak usah caper lo, pakek acara pura pura tersedak. Dikasih perhatian dikit sama Arya aja sok kecakapan. Awas aja kalau lo senyum senyum ke dia lagi.
Rain melirik sekilas kearah Sean. Entahlah apa yang ada diotak Sean hingga mengirim chat padahal mereka duduk bersebelahan.
Setelah selesai makan, mereka kembali membicarakan masalah bisnis. Tapi Sean menjadi gelisah saat tiba tiba perutnya sakit.
Sialan, kenapa pakai sakit perut segala sih pas lagi kayak gini. Gue kan gak rela ninggalin mereka berduaan. Bisa makin caper tuh Si Arya ke Rain, batin Sean.
Sean berusaha menahan sakitnya tapi akhirnya dia menyerah karena tak kuat.
"Saya permisi ke toilet dulu ya."
"Silakan." Ucap Arya dengan senyum mengembang. Dia merasa senang karena ditinggal berdua. Dia seperti sedang diberi ruang untuk berduaan dengan Rain.
"Sudah lama kerja sama Sean?"
"Baru beberapa bulan."
"Seneng dong punya bos ganteng?"
"Biasa aja." Ganteng sih, tapi nyebelin, batin Rain.
"Masak sih biasa aja? dulu pas kuliah dia jadi idola kampus loh. Banyak banget cewek yang ngejar ngejar dia. Memangnya kamu gak suka sama dia?"
Rain hanya menjawabnya dengan senyuman. Gimana mau suka, orang nyebelin kayak gitu. Yang ada bikin kesel tiap hari, batin Rain.
Kling
lagi lagi Rain mendapat pesan dari Sean.
Annoying bos
Jangan deket deket sama Arya. Gak usah keganjenan.
Jangan ngomong macem macem saat gue gak ada. Lo diem aja, kalau dia gak nanya. Gak usah sksd.
Lo gak usah banyak ngomong sama dia.
Gak usah sok kecakepan.
Rain kaget melihat pesan spam chat dari Sean. Sebenarnya dia ngapain sih toilet, kok ngechat terus, batin Rain.
Annoying bos
Bales
Kok diem aja, jangan bilang lo lagi caper?
Beles
"Siapa yang ngechat? mukanya kok kayak bete gitu?" Arya seakan bisa membaca raut wajah Rain.
"Bukan siapa siapa, orang nawarin asuransi, maksa banget." Rain segera mensilent ponselnya dan memasukkannya dalam tas.
__ADS_1