
Sayang, tak bisakan hari ini kau tak usah bekerja.
Gak usah kekantor, temenin aku dirumah.
Aku takut sendirin
Sean mendesah frustasi mengingat kata kata Rain tadi pagi. Dia sungguh menyesal karena mengabaikan permintaan Rain dan lebih memilih bekerja.
"Maaf beb, harusnya aku nemenin kamu hari ini, maaf." Sean menggengam erat tangan Rain yang masih pingsan itu. Matanya berkaca kaca mengingat hal mengerikan yang baru saja dialami Rain.
"Aku mohon sadarlah beb, maafin aku." Sean tak kuasa menahan air matanya.
"Sean." Lirih Rain saat matanya perlahan mulai terbuka.
"Beb, kau sudah sadar?"
"Sean."
"Iya beb, aku disini. Aku disini, kau jangan takut lagi." Sean menciumi punggung tangan Rain berkali kali.
"Aku takut Sean, aku takut sekali, hiks hiks hiks." Hati Sean terasa disayat sayat melihat kondisi Rain yang menyedihkan.
"Firman." Seketika Rain teringa Firman. Bajingan itu, apakah dia mati? Apakah Sean benar benar menghantam kepalanya dengan vas bunga. "Fir, Firman tidak matikan?" Bibir Rain bergetar saat menanyakan hal itu. Dia langsung mengubah posisinya menjadi duduk.
Sebelum dia benar benar pingsan, dia sempat mendengar suara vas bunga pecah. Sempat terfikir olehnya jika Sean sungguh sungguh sudah menghantam kepala Firman dengan vas.
Waktu itu, dia sangat takut saat melihat Sean mengangkat vas bunga besar itu ke atas kepala Firman. Dia seperti merasakan dejavu. Kejadian Dimasa lalu saat ayahnya membunuh rentenir seakan terulang lagi.
Rain tak ingin jika Sean sampai membunuh dan masuk penjara seperti ayahnya. Sudah cukup ayahnya dipenjara gara gara menyelamatkannya, dia tak ingin Sean mengalami nasib yang sama.
"Kenapa kau malah mengkhawatirkannya?" Sean tak suka saat baru sadar malah kondisi Firman yang ditanyakan Rain.
"Jangan salah faham, aku hanya tak mau kau jadi pembunuh gara gara aku Sean." Rain menghambur kepelukan Sean sambil sesenggukan. "Aku tak mau kau berakhir dipenjara seperti ayah. Apa yang kau lakukan tadi, sama persisi dengan yang ayahku lakukan waktu itu. Aku tak mau terulang lagi Sean. Aku tak mau orang yang aku cintai berakhir dipenjara."
"Tidak beb, aku tak membunuhnya walaupun aku sebenarnya sangat ingin membunuhnya." Terang Sean sambil menghapus air mata Rain yang terus bercucuran.
Saat itu Sean hampir kalap kalau saja Rain tak teriak. Melihat Rain pingsan, Sean begitu cemas lalu melempar vas bunga itu ke arah lain lalu segera menolong Rain. Sedangkan Firman, dia buru buru memunguti pakaiannya lalu kabur.
"Tenanglah beb, aku mohon jangan menangis lagi." Pinta Sean sambil membelai punggung Rain yang saat ini berada dalam pelukannya. "Kau sudah aman sekarang. Aku berjanji akan selalu menjagamu."
Tiba tiba Rain merasa sangat mual. Dia melepaskan pelukannya dan berlari menuju kamar mandi.
Hoek Hoek Hoek.
Rain memuntahkan isi perutnya kedalam wastafel. Sean yang cemas segera memijit punggung Rain.
"Kamu kenapa beb? sakit?"
"Perutku mual sekali sayang, kepalaku juga pusing." Jawab Rain sambil membasuh mulutnya dengan air keran. Saat Rain mengangkat wajahnya, matanya membelalak sempurna melihat leher dan dadanya penuh dengan kissmark.
Seketika Rain merasa jijik pada tubuhnya yang sudah jamah oleh Firman. Rain berjalan cepat menuju shower lalu mengguyur tubuhnya sambil menangis.
"Aku benci Sean, aku benci ini." Rain menggosok gosok leher dan dadanya dengan dengan sangat kuat.
"Hentikan beb, hentikan. Kau menyakiti tubuhmu sendiri. Jangan menggosoknya terlalu kuat, kulitmu bisa lecet." Sean menarik tangan Rain lalu mendekapnya agar lebih tenang.
"Aku jijik Sean, penjahat itu sudah mengotori tubuhku. Aku benci ini, aku benci." Rain terus menangis didalam dekapan Sean. Mereka berdua berpelukan dibawah shower yang terus mengucur.
Hati Sean hancur mendengar isak tangis Rain. Sumpah demi apapun, dia paling tidak suka melihat air mata Rain jatuh. Tak ingin Rain sakit, Sean berniat untuk mematikan shower.
"Jangan dimatikan Sean." Rain menarik tangan Sean yang hendak mematikan shower. "Aku harus membersihkan tubuhku dari sisa sisa bajingan itu. Aku jijik pada diriku sendiri Sean." Rain kembali menggosok tubuhnya dengan kuat hingga terlihat merah.
__ADS_1
"Jangan seperti ini beb, aku mohon." Sean memegangi tangan Rain agar tak menyakiti dirinya sendiri.
"Lepaskan Sean, biarkan aku menghilangkan semua ini." Rain terus menggosok tubuhnya dengan keras.
Sean menarik tangan Rain lalu memeganginya kuat agar tak kembali menyakiti dirinya sendiri. "Bukankah tubuh ini adalah milikku?" Tanya Sean sambil menatap kedua mata Rain. Rain mengangguk perlahan.
"Jadi aku berhak melarangmu menyakiti milikku. Jangan sakiti tubuhmu sendiri, jangan sakiti milikku." Rain menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Sean sambil terus menangis.
"Biarkan aku yang memandikanmu. Biar aku yang membersihkan sisa sisa Bajingan itu. Menurutlah padaku, please," bujuk Sean.
Akhirnya Rain mengangguk, dia membiarkan Sean membersihkan tubuhnya.
"Pagi tadi aku membayangkan jika sore ini akan berendam bersamaku didalam bathup yang penuh bunga mawar. Tapi kenapa kenyataan kau malah membersihakan tubuhku seperti ini." Batin Rain sambil terisak.
Setelah selasai membersihkan tubuh Rain dan membalutnya dengan handuk, Sean gantian mandi karena tubuhnya juga sudah basah.
"Apa kau lapar?" Tanya Sean saat dia tengah mengeringkan rambut Rain menggunakan hair dryer.
Rain menggelang, dia tak ada nafsu untuk makan. Setelah merasa jika rambut Rain kering, Sean segera menggiringnya keatas ranjang.
Sean mengambil obat di laci nakas untuk mengobati lebam bekas tamparan Firman.
"Aku bersumpah akan menghancurkan orang yang telah membuatku seperti ini Rain, aku bersumpah." Gumam Sean dalam hati.
"Tidurlah, aku akan memelukmu."
Rain mengangguk lalu merebahkan tubuhnya. Sean berbaring disamping Rain lalu menarik pelan kepala Rain agar menggunakan lengannya sebagai bantal.
"Tidurlah, lupakan semuanya." Sean mencium lama pucuk kepala Rain. Lalu membelai rambut dan pipi Rain.
"Jangan tinggalkan aku Sean, aku takut." lirih Rain sambil mengeratkan pelukannya pada Sean.
.
...*******...
.
Tengah malam Rain terbangun karena merasakan perutnya yang lapar. Mungkin kalau biasanya dia akan ke dapur dan membuat makanan sendiri, tapi untuk saat ini, dia masih merasa takut.
"Sean... sayang." Rain mengguncang pelan lengan Sean.
"Iya beb." Sean membuka matanya perlahan sambil mengumpulkan kesadarannya.
"Aku lapar."
Sean menggosok gosok matanya sambil menguap. Sebenarnya dia masih sangat ngantuk.
"Kau mau makan apa biar aku pesankan?" tawar Sean sambil bergerak mengambil ponselnya diatas nakas.
"Temani aku kedapur saja, aku mau memasak mie instan."
"Biar aku yang memasak, kau tunggulah aku disini."
Rain menggelang, dia tak mau ditinggal sendirian. "Aku ikut."
"Baiklah."
Mereka berdua berjalan menuju dapur. Sean menarik kursi untuk Rain agar istrinya itu duduk manis menunggunya yang sedang memasak.
Sean, pria yang seumur hidup tak pernah memasak itu bingung kala sudah berada didapur. Dia Bahkan tak tahu dimana mie instannya disimpan.
__ADS_1
"Kenapa sayang?"
"Mie nya kamu taruh dimana?"
"Dilemari, yang berada diatas kamu, agak kekanak dikit. Ambil yang rasa soto."
Sean membuka almari gantung yang dimaksud Rain dan melihat tumpukan mie instan disana. Dia cukup tercengang karena ternyata Rain menyetok sebanyak ini mie instan.
Sean tak tahu yang mana yang rasa soto, dia mengambil satu persatu dan membaca kemasannya.
"Yang warna hijau Sean." tutur Rain yang menyadari jika Sean membaca satu persatu bungkus mie instan.
Sean mengambil bungkus warna hijau dan dibacanya sekilas, ada tulisan rasa soto di kemasan itu. Dia garuk garuk kepala lalu melihat bungkus bagian belakang.
"Kamu ngapain Sean, kok gak ngerebus air malah mantengin bungkusnya?"
Sean menatap Rain sambil menyeringai kecil. "Aku lagi baca cara bikinnya beb, aku gak bisa."
"What!" Mata Rain membelalak lebar. Ternyata ada juga orang yang tak bisa memasak mie instan yang sangat mudah itu.
"Mau kemana, tetap duduk ditempatmu." Titah Sean saat melihat Rain beranjak.
"Biar aku yang masak sendiri."
"Biar aku saja," tolak Sean. "Kamu kasih instruksi dari sana aja, biar aku yang eksekusi."
Rain mengulum senyum, dia senang melihat suaminya yang begitu perhatian. Akhirnya dia kembali duduk dan memberi instruksi pada Sean apa yang harus dilakukan.
Sean tersenyum puas saat melihat mie yang dia masak sudah matang dan siap didalam mangkuk.
"Aku akan menyuapimu." Dengan telaten Sean meniup mie yang masih panas itu lalu menyuapi Rain.
"Kenapa kamu gak makan?"
"Aku gak biasa makan selarut ini."
"Tapi ini sangat enak." Rain mengambil sendok ditangan Sean lalu berganti menyuapi Sean.
"Cobalah sedikit." Rain menyodorkan sesendok Mie didepan mulut Sean.
Tak mau mengecewakan Rain, Sean memilih untuk membuak mulutnya.
"Enakkan?"
Sean mengangguk, dia tak mengira kalau rasa mie instan yang dia masak seenak ini.
"Ternyata aku pintar memasak ya, buktinya rasanya enak sekali." tutur Sean dengan bangganya. Rain sontak terkekeh mendengarnya.
"Siapapun yang masak rasanya bakal kayak gini sayang. Ini memang udah rasa dari pabriknya."
"He.... Gitu ya?" Sean menggaruk garuk kepalanya karena malu.
"Makasih ya Sean."
"Gak masalah, cuma masak mie doang, gak perlu berterimakasih."
Rain menggeleng sambil tersenyum tulus ke arah Sean. "Bukan hanya untuk mie, tapi untuk semua yang kamu lakukan padaku. Makasih udah ngelindungin aku dan ada ada untukku."
Sean meletakkan sendoknya lalu menggenggam jemari Rain. "Karena aku suamimu, sudah kewajibanku untuk ada dan selalu melindungimu. I love you Rain."
"I love u too."
__ADS_1