Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
NIKAH YUK


__ADS_3

Alan masih mengobrol bersama teman temannya dikelas saat Amaira datang menemuinya.


"Cie... dah dijemput pacar tuh." Goda Gibran teman sekelas Alan.


"Buruan anterin pulang dah, entar diputusin nyahok lo. Dia kan sumber duit lo." Sindir Koko dengan mulut pedasnya.


"Sumpah, gue iri banget sama Alan. Pakai pelet apa sih dia sampai bisa dapat cewek cantik ples tajir kayak Amaira?" Joni menimpali sambil geleng geleng kepala.


Bukan sekali dua kali Alan mendapat sindirin pedas dari teman temannya yang iri dengan keberuntungannya. Tapi Alan mencoba mengabaikan semua itu. Toh pada kenyataannya, dia memang sangat beruntung. Cowok miskin yang dapat pacar cewek tajir melintir.


Alan buru buru memasukkan semua bukunya lalu mengajak Amaira pulang.


"Bisa gak sih gak usah nyamperin gue dikelas?" Tanya Alan dengan nada kesal saat mereka sudah sampai didalam mobil.


"Kanapa sih Al, gitu aja marah?"


"Lo denger gak apa yang mereka ucapin? Semua orang nyindir gue Ra."


"Gak usah dimasukin hati kali Al. Anggap aja angin, gak usah didengerin."


"Enak banget lo ngomong gitu. Telinga gue normal Ra, gue bisa denger semuanya. Gue gak budek." Bentak Alan sambil melotot.


"Kok kamu jadi ngelampiasin ke aku gini sih Al. Mereka yang salah kenapa marahnya ke aku?" Ucap Amaira dengan mata berkaca kaca. "Aku tuh selalu salah dimata kamu Al. Pernah gak sih sekali aja kamu belajar buat ngertiin aku." Air mata Amaira mulai menetes. Dia sebenarnya paling tak bisa dibentak. Sejak kecil dia diperlakukan layaknya tuan putri. Tak ada yang bicara kasar padanya.


Tapi sejak bersama Alan, semuanya berubah, dia mulai terbiasa dibentak dan diabaikan.


"Nangis, nangis, cengeng banget sih lo. Kebiasaan, dikit dikit nangis." Alan mengambil tisu lalu memberikannya pada Amaira. "Cepetan bersihin air mata ama ingus lo. Gue gak mau mama lo nanya macem macem ke gue kalau liat mata lo sembab."


Amaira segera menghapus air matanya. "Gue laper Al, kita cari makan yuk."


"Dimana?"


"Terserah kamu."


Alan segera melajukan mobilnya keluar dari area kampus. Dan sekarang, mereka berada di sebuah warung nasi rawon. Sejak pacaran dengan Alan, Amaira mulai biasa makan di warung sederhana.


Setelah memesan dua porsi nasi rawon, Alan kembali ke mejanya sambil membawa dua botol air mineral.


"Al lihat deh." Amaira menunjukkan foto Rain dan Sean di Labuan bajo yang diunggah di akun di sosial media.


Alan memperhatikan akun tersebut. Sepertinya akun itu milik Sean, karena namanya @Sean_2335 . Alan tak tahu jika Sean memiliki akun lain. Dulu dia pernah mencari akun ig Sean. Dan dia menemukan akun @Ocean_Kalandra yang isinya hanya foto foto saat meeting atau saat perjalanan bisnis. Alan pikir hanya itu akun milik Sean. Sekarang dia baru tahu jika Sean memiliki akun lain yang bersifat lebih pribadi. Dan ternyata akun itu memiliki banyak sekali pengikut.


"Elo followernya Kak Sean?"

__ADS_1


"Hehehe... iya." Jawab Amaira dengan seringai kecil dibibirnya. "Ini gara gara temen temen aku yang ngefans sama kak Sean. Aku sebenarnya enggak, cuma ikutan mereka aja ngefollow kak Sean."


Sean memang alumni kampus dimana Amaira dan Alan kuliah. Sean yang sangat populer, membuatnya banyak memiliki follower terutama dari kalangan cewek.


"Gemes banget deh liat foto foto mereka. Kita kesana yuk Al, nyusulin mereka."


"Ya kali kita kesana Ra. Lo pikir Labuan bajo itu deket? Jauh neng, butuh duit banyak." Omel Alan sambil mengaduk nasi rawon panas yang baru diantar oleh pelayan.


"His, aku gak bodoh lah Al. Aku juga tahu kalau jauh, emangnya Depok, deket sini." Amaira memutar kedua bola matanya.


"Terus ngapain ngajak kesana? Aku gak ada uang Ra. Kalau mau ngajak aku ngedate, deket deket sini aja. Ke monas, kalau gak gitu ke Ancol." Ucap Alan sambil memakan nasi rawon yang masih panas.


"Bosen ke monas mulu. Kita ke labuan bajo ya Al, Please...." Pinta Amaira dengan ekspresi puppy eyes agar Alan meleleh.


"Tabunganku bisa ludes kalau kita kesana Ra. Udah gih cepetan makan, katanya tadi laper."


"Gak perlu mikirin uang. Kan bisa pakai uang aku. Uang bulanan yang dikasih Kak Arya gak pernah habis, bahkan sampai numpuk numpuk di rekening aku." Terang Amaira sambil mulai memakan makanannya..


"Aku gak mau pakai uang kamu. Aku tuh cowok, masak pakai uang ceweknya, malu maluin."


"Malu sama siapa sih? toh yang tahu juga cuma aku sama kamu. Aku gak masalah kok Al. Yang aku punya semuanya buat kamu juga gak papa. Aku ikhlas kok."


"Enggak, aku bilang enggak ya enggak. Kamu itu kadi cewek jangan kayak gitu dong Ra. Jangan semua semuanya main kasih aja ke cowok. Kalau dapet cowok gak bener, habis kamu Ra diporotin."


Alan menghela nafas lalu meletakkan sendoknya. "Mereka itu honeymoon Ra. Gak enak ganggu mereka." Alan terus mencari alasan agar Amaira tak jadi mengajaknya ke Labuan bajo.


"Al, aku juga pengen banget deh honeymoon kayak mereka. Nikah yuk."


BRUSSSHHH


Alan yang sedang minum sontak menyemburkan air dimulutnya saking kagetnya diajak menikah.


"Alan.... jorok ih." Amaira langsung mengelap wajahnya dengan tisu karena terkena semburan air dari mulut Alan.


"Sorry Ra, sorry. Habis lo ngagetin gue. Becanda lo kebangetan, bikin gue jantungan."


"Aku gak becanda kali Al. Aku beneran pengen ngajakin kamu nikah."


Alan melongo melihat ekspresi Amaira yang terlihat serius. Sepertimya gadis itu benar benar mengajaknya menikah.


"Gak usah ngehalu tinggi tinggi. Kuliah aja baru masuk udah mikirin nikah. Aku tuh gak ada niatan nikah muda. Masih pengen lulus kuliah terus kerja sampai sukses dulu baru nikah."


Itu sesuatu yang sangat mustahil bagi kita Ra. Kita sangat berbeda, dan gue gak mungkin bisa nikah sama lo. Lo itu princess Ra, lah gue cuma kacung lo. Gue sadar diri Ra, gue gak bakal bisa bahagiain lo. Cewek kayak lo gak akan bisa hidup pas pasan bareng laki kayak gue.

__ADS_1


Amaira meletakkan sendoknya lalu menunduk.


"Aku takut tak bisa nunggu selama itu Al. Aku takut Tuhan udah manggil aku sebelum kamu lulus kuliah dan jadi orang sukses." Mata Amaira mulai berkaca kaca.


"Aku gak suka kamu ngomong gitu. Kamu pasti sembuh. Bang Arya akan ngelakuin cara apapun buat nyembuhin lo Ra. Lo tu harus semangat, bukan putus asa kayak gini. Semua penyakit ada obatnya." Alan menggenggam tangan Amaira yang ada diatas meja. Dia tahu gadis didepannya itu sangat rapuh. Hanya saja Amaira selalu sok kuat.


"Aku gak tahu diri banget ya Al. Udah tahu penyakitan dan mau mati, masih aja kepedean ngajak kamu nikah. Nikah sama cewek kayak aku tuh emang cuma beban. Ya, aku memang selalu jadi beban buat semua orang." Amaira mencoba menahan diri agar tak menangis, tapi dadanya terlalu sesak hingga dia tak mampu menahan kecuali dengan meluapkan air matanya.


"Aku gak mikir kayak gitu kok Ra, beneran." Alan menggeser kursinya kesebelah Amaira agar bisa menghapus air mata gadis itu.


"Lalu kenapa kamu gak mau nikah sama aku? Karena kamu belum bisa cinta sama aku?" Tanya Amaira sambil menatap dalam kedua mata Alan.


Bukannya belum bisa cinta Ra. Tapi aku selalu menahan diri agar gak jatuh cinta sama kamu. Aku selalu kasar sama kamu biar kamu nyerah sama aku. Tapi nyatanya, kamu sama sekali gak ada niatan buat nyerah.


"Kamu mau makan apa kalau nikah sama aku Ra? Kuliah aja baru mau semester dua. Aku nggak mungkin bisa ngehidupin kamu."


"Kamu kan kerja jadi sopir aku Al. Ada penghasilan, aku janji bakal hidup sederhana kok sama kamu. Makan tahu, tempe tiap haripun aku gak masalah."


Alan menyeringai mendengar ucapan Amaira. Gadis itu sudah kaya sejak Lahir. Dia tak tahu kerasnya hidup. Dia tak tahu susahnya mencari uang. Gadis itu sok sok an bisa hidup sederhana. Padahal dia tak pernah mengalaminya. Yang iya baru seminggu udah gak kuat dia.


"Kalau kita nikah, aku bukan sopir kamu lagi Ra. Masak suaminya di gaji sebagai sopir?" Al geleng geleng kepala.


"Kamu minta kerja kantoran aja ke kak Arya, gampangkan."


Alan mendorong kepala Amaira dengan telunjuknya.


"Dewasain dulu pikiran kamu baru mikir nikah. Hidup gak segampang itu Ra."


"Jadi kamu beneran gak mau nikah sama aku?" Tanya Amaira dengan ekspresi putus asa.


"Aku mau."


"Beneran?" Amaira langsung tersenyum dan memeluk pinggang Al. Dia terlalu senang hingga tak memperhatikan orang orang yang melihatnya.


"Aku mau nikah sama kamu, tapi setelah kamu sembuh."


Amaira langsung melepaskan pelukannya. Rasanya seperti di terbangkan ke atas lalu dihempaskan begitu saja.


"Itu sama saja dengan kamu gak mau Al. Karena aku gak bakalan bisa sembuh." Amaira membuang pandangannya kearah lain.


"Bisa Ra, aku yakin kamu bisa. Kamu harus optimis. Banyak kok survivor kanker yang akhirnya bisa sembuh. Kalau kamu bener bener cinta sama aku. Buktikan Ra, buktikan kalau kamu bisa sembuh. Kamu mau kan nikah sama aku?"


Amaira mengangguk cepat.

__ADS_1


"Aku gak mau jadi duda di usia muda. Jadi kamu harus sembuh dulu baru kita nikah."


__ADS_2