
Pagi ini tak seperti biasanya, Rain sedikit canggung karena untuk pertama kalinya dia ke kantor dengan predikat sebagai istri Ocean Kalandra. Sean memang menyuruh Danu untuk menyebarkan foto pernikahannya dengan Rain. Dia ingin memperbaiki namanya yang sudah jelek akibat tersebarnya foto mesum waktu itu.
"Kamu kenapa sih Rain kayak gelisah gitu?" Tanya Sean saat mereka dalam perjalanan menuju kantor.
"Aku gugup Sean, gimana ya reaksi orang orang ke aku?"
"Astaga, aku kira kamu lagi kebelet." Ucap Sean santai sambil mengemudikan mobilnya.
"Kebelet apaan?"
"Kebelet pipis, kamu kira kebelet apa? jangan jangan otak kamu udah mulai mesum."
Rain langsung mengalihkan pandangan ke tempat lain, males banget pagi pagi ngelayanin candaanya Sean yang resek itu.
"Ayok turun cepetan, lo mau sampai kapan didalam mobil?" Sean mulai kesal kerena sesampainya di kantor Rain malah tetep anteng gak mau turun.
"Kamu duluan gih, entar aku nyusul belakangan."
"Mau bikin gosip baru? Mau semua orang bertanya tanya kenapa pengantin baru berangkatnya sendiri sendiri? Udah ah gak usah drama pagi pagi. Kerjaanku udah numpuk karena gak masuk 2 hari." Sean segera menarik Rain keluar dari mobil.
Rain mulai mengatur nafasnya dan berusaha untuk rilex. Sean menggandeng tangannya saat mereka mau memasuki kantor.
"Ga usah gandengan, kayak mau nyebrang aja." Rain melepaskan genggaman tangan Sean.
"Emang mau nyebrang kok, menyeberangi lobi yang penuh dengan mata dan mulut yang akan melihat dan mengghibah kita." Sean kembali menggenggam tangan Rain.
Seperti dugaan Rain, semua mata tertuju pada mereka. Status baru ini sungguh membuat Rain jadi keki.
"Pagi Pak, Bu." Sapa para karyawan dengan hormat dan senyum mengembang. Rain dan Sean hanya menjawab dengan senyum dan anggukan kepala. Rain seperti melihat adegan slow mo saat para karyawan menyapanya dengan hormat dan senyum yang mengembang. Rain merasa ngeri, entah semua yang nampak itu tulus atau hanya sebuah lakonan.
Rain bernafas lega saat mereka sampai diruangan Sean. Pagi ini berjalan dari lobi ke ruang CEO terasa sangat jauh sekali.
__ADS_1
"Kamu ngapain malah duduk disitu, meja kamu kan diluar?" Sean heran kerana Rain malah duduk disofa.
"Bentaran doang Pak, saya masih mengatur detak jantung yang gak karuan kayak habis lari maraton." Ucap Rain sambil sandaran di sofa. Biasanya jalan menuju ruang Sean biasa saja, tapi pagi ini mampu membuat jantungnya berdetak cepat.
"Segitunya lo, baru gue pegang tangan aja udah kayak jantungan, gimana coba kalau gue cium." Dengan gaya coolnya Sean berjalan mendekati Rain.
"Apaan sih." Rain mendorong tubuh Sean, saat wajah mereka sudah sangat dekat. "Gak usah mesum pagi pagi, ini kantor bukan rumah." Detak jantung Rain berdetak makin cepat.
"Berarti kalau dirumah boleh dong?" Sean seperti mendapat angin segar. "Jadi gak sabar pengen pulang." Godanya sambil mengerlingkan mata.
Astaga, aku bisa gila kalau disini, batin Rain. Dia segera mengambil tasnya dan keluar dari ruangan Sean.
"Tunggu."
"Apalagi?" jawab Rain dengan malas.
"Gak lupa kan bikinin kopi?"
Rain segera ke pantry untuk membuat kopi. Dan sepertinya pagi ini tak berpihak padanya. Buktinya dia bertemu dengan Khaila n the gank.
"Ada yang ngintilin suami ke kantor nih. Udah jadi istri bos mah harusnya santai santai dirumah gak usah kerja. Ini mah masih aja ngintilin suami. Takut banget suaminya diambil orang lain." Khaila mulai cari gara-gara.
Rain tak ingin terpancing, dia tetap fokus membuat kopi. Ternyata status baru sebagi istri bos tak langsung membuatnya bebas dari bullyan.
"Ya gimana gak takut, orang pak bos aja terpaksa nikahin dia karena hamil duluan." Sasa menimpali.
"Apa lo bilang?" Rain yang kesal langsung membanting sendok yang baru saja dia pakai mengaduk kopi. "Jangan bikin gosip yang gak bener ya." Rain tak bisa lagi bersabar saat dikatakan hamil duluan.
"Halah semua orang udah tahu kali kalo lo nikah buru buru karena hamil duluan. Lagian masak sik orang kaya nikahnya cuma di masjid dan gak ngundang orang sama sekali. Kayak orang miskin yang gak punya duit aja. Keliatan banget tuh kalau Pak Bos gak niat nikahin lo. Dia cuma terpaksa karena gak mau lo koar koar kalau dihamilin dia."
Rain mengepalkan kedua tangannya, dia sudah seperti singa yang mau menerkam mangsanya. AC pantry yang dingin tak mampu mendinginkan hatinya yang panas.
__ADS_1
"Padahal belum tentu juga kalau hamil anaknya pak bos. Bisa juga anaknya orang lain, kali aja anak pacarnya yang sering jemput itu. Kasian banget ya pak bos, gara gara foto mesumnya kesebar, dia jadi terpaksa nikahin lo dan tanggung jawab atas anak orang."
Byurr
Rain menyiram air satu teko ke wajah Khaila hingga gadis itu gelagapan.
"Sialan lo," pekik Khaila.
"Masih untung lo cuma gue siram air minum, gak gue laporin ke polisi. Fitnah yang lo buat udah sangat kejam. Dan gue bisa ngelaporin lo atas pencemaran nama baik."
"Laporin aja kalau berani," tantang Khaila.
"Udah La, udah. Jangan bikin suasana makin panas, entar lo dilaporin ke pak bos. Dia kan udah jadi nyonya bos sekarang." Sasa coba menahan Khaila. Sebenarnya dia juga sedikit takut untuk melawan Rain.
"Bagus kalau lo tahu diri. Lain kali gak usah nyari gara gara sama gue." Rain memelototi kedua orang itu.
"Kenapa emangnya kalau gue nyari gara gara sama lo? mau lo bunuh kayak bokap lo yang pembunuh itu." Khaila justru makin menggila karena tak terima diguyur air.
PLAK.
Rain menampar Khaila dengan keras.
"Jangan bawa bawa bokap gue."
Khaila yang tak terima langsung membalas menampar Rain hingga keduanya saling menyerang. Mereka berdua saling menjambak, mencakar dan mengumpat satu sama lain. Sasa dan beberapa orang disana berusaha untuk melerai.
"Berhenti, ada keributan apa ini?" Teriak Sean yang tiba tiba datang. Dia menyusul Rain ke pantry karena Rain terlalu lama membuat kopi.
Semua mata langsung tertuju pada Sean. Rata rata mereka ketakutan terutama Khaila dan Sasa.
Sean melihat Rain dan Khaila yang biasanya cantik berubah seperti mak lampir. Rambut acak acakan serta baju berantakan dan beberapa luka cakaran di sekitar wajah dan leher.
__ADS_1