
Alan memandangi kartu undangan yang ada ditangannya. Kemarin Amaira datang memberi udangan ulang tahunnya.
"Jangan sampai gak datang ya Al, please."
"Sorry Ra, kayak nya gue kerja deh, gue dapet shift sore." Alan terpaksa berbohong karena dia enggan datang. Menurutnya acara itu hanya untuk teman teman Amaira anak orang kaya. Bukannya minder, Alan hanya merasa gak ada yang dia kenal disana.
"Kan bisa ijin Al, tukar shift juga bisa sama teman kamu."
"Aku gak enak Ra."
"Please Al. Elo yang paling gue tunggu besok. Kalau elo gak datang, gue gak mau tiup lilin." Ancam Amaira dengan muka cemberut.
Terserah lo mau tiup lilin apa gak, bukan urusan gue juga, batin Al.
"Datang ya Al, please...." Amaira mengatupkan kedua telapak tangannya didepan wajahnya. Gadis itu seperti sudah kehilangan urat malunya dengan memohon mohon laki laki untuk datang ke ulang tahunnya.
"Gue usahain deh." Akhirnya Al mengatakan itu, karena kalau tidak, Amaira tidak akan segera pulang. Dan hal itu mengganggu pekerjaannya serta membuatnya sungkan pada karyawan lain.
"Gitu dong, jangan sampai gak datang. Inget, gue gak bakal mulai acara kalau lo gak dateng."
...*****...
Rain melamun dimeja kerjanya. Dia terpaksa tak turun makan siang kerena pasti ujung ujungnya dibully habis habisan. Mending gak makan daripada makan hati.
"Kamu gak makan siang?" Suara Sean mengagetkannya. Entah kapan datangnya, pria itu sudah berdiri depannya.
"Gak lapar."
"Kamu pikir gak makan bisa nyelesaiin masalah? yang ada tambah nambah masalah. Perut kosong bikin otak kamu gak bisa mikir. Yuk keluar makan siang sama saya."
"Enggak enggak, nggak usah Pak. Saya udah delivery order kok. Bentar lagi juga datang." Rain terpaksa bohong. Menurutnya kalau dia keluar bersama Sean, gosip bakal makin santer.
"Gak usah mikirin masalah foto. Yang nyebarin udah aku pecat. Lama lama kalau udah capek mereka pasti berhenti sendiri ngehujat kamu."
Tapi kapan berhentinya, yang ada aku sudah gak kuat, gumam Rain dalam hati.
"Ayo keluar makan siang."
"Gak usah, saya udah delivery."
Akhirnya Sean tak jadi keluar makan siang. Dia menyuruh Danu membelikan makan siang untuknya.
__ADS_1
...******...
Hari ini terasa begitu lama bagi Rain. Dia sangat galau memikirkan Gaza. Dari pagi hingga sore entah sudah berapa banyak pesan yang dia kirim ke Gaza. Mulai dari apa kabar? sudah bangun? sudah sarapan? sudah makan siang?
Dari semua pesan itu tak ada satupun yang dibalas oleh Gaza. Panggilan, jangan ditanya, entah sudah berapa puluh kali dia menghubungi Gaza. Tapi hasilnya tetap sama, Gaza tak mau mengangkat teleponnya.
"Kamu gak pulang?" Tanya Sean yang melihat Rain masih setia duduk ditempatnya saat jam pulang.
"Saya pulang nanti saja." Rain sengaja ingin menghindar dari orang orang. Lebih baik pulang terakhir asal tak bertemu dengan pegawai lain. Setidaknya hatinya tidak sakit karena mendapat cacian.
"Sampai kapan kamu mau kayak gini? Masalah itu dihadapi bukan dihindari."
Rain memutar kedua bola matanya jengah. Bagi Sean yang seorang bos, memang mudah menghadapinya. Tapi tidak baginya yang hanya karyawan biasa.
"Anda mudah bicara seperti itu karena anda tak berada diposisi saya. Yang mereka hujat saya bukan anda. Anda bos, mana berani mereka menghujat anda. Kalaupun berani paling juga dibelakang anda."
"Ayo pulang sama saya. Mereka tak akan berani menghujat kamu kalau ada saya."
"Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri."
"Beneran bisa pulang sendiri? ya udah cepetan pulang, nunggu apalagi."
"Huft." Rain membuang nafas kasar. Akhirnya dia mengemasi barangnya dan bersiap pulang.
"Karyawan istimewa mau masuk lift nih, minggir dong." Sindir seseorang yang sedang mengantri didepan lift saat melihat Rain.
"Kok ngantri disini sih, tuh sana ke lift vip. Bos gak bakal marah. Kan dikasih jatah."
"Hahaha.... " Ucapan itu disambut gelak tawa oleh karyawan lain. Mereka seakan kompak untuk membully Rain.
"Jangan gitu ah, nanti lo dilaporin ke Pak Bos loh. Emangnya mau dipecat?"
"Takut.... ternyata selain pandai nyenengin Pak Bos diranjang, pandai ngadu juga ya?"
Rain diam saja menerima semua hujatan. Sabar, mungkin cuma itu yang harus dia perbanyak saat ini. Membela diri gak akan ada gunanya. Toh kenyataannya dia memang tidur dengan Sean.
"Kira kira kalau bosnya tua, jelek, ples gendut, dia mau gak ya nemenin tidur?"
"Ya pasti mau mau ajalah, yang penting kan dapat posisi enak di perusahaan."
"Cih menjijikkan."
__ADS_1
"Demi jabatan mau mau aja ditidurin bos."
SRETT
Sean menarik Rain masuk ke lift vip yang berada tepat disamping lift karyawan. Para karyawan yang lain melongo melihatnya.Tanpa aba aba mereka seketika bungkam. Nyali mereka menciut.
"Kok tiba tiba diem?" tanya Danu yang masih berdiri didepan lift VIP. Dia tak jadi ikut masuk karena ada Rain.
Tak ada yang menjawab, mereka malah buru buru rebutan masuk lift saat pintu terbuka.
"Apa apaan sih?" Rain menghempaskan tangan Sean saat pintu lift suda tertutup sempurna. Hanya mereka berdua yang ada didalam lift.
"Kamu yang apa apaan. Dibully kayak gitu kok diem aja. Mulut kamu gak bisa bicara, Hah?" Sean beneran kesal mendengar mereka membully Rain habis habisan. Sedangkan yang Dibully hanya diam seperti patung.
"Anda kira menarik saya kesini gak bikin saya makin dibully?" ucap Rain kesal.
Ting
Sean menarik Rain keluar saat pintu lift terbuka. Rain berusaha melepaskan tangan dari genggaman Sean tapi percuma. Sean terlalu kuat memegangnya.
Semua mata menatap mereka berdua. Muka Rain otomatis memerah karena malu. Dia terus menunduk. Ingin sekali rasanya dia menggigit tangan itu agar melepaskannya. Tapi apa daya, hal itu tak mungkin dia lakukan didepan umum seperti ini.
"Tegakkan wajah kamu, ngapain Nunjuk terus. Harusnya kamu bangga bisa saya gandeng kayak gini." Bisik Sean tepat ditelinga Rain.
Hal itu justru membuat mereka terlihat makin intim. Bahkan dari samping, Sean terlihat seperti mencium pipi Rain. Pemandangan itu bagai magnet yang membuat semua mata tertuju pada mereka.
"Ngapain kalian melihat seperti itu?" teriakan Sean sukses membuat semua orang dilobi menunduk karena takut. "Gak pernah ngeliat orang gandengan tangan?" Sean malah mengangkat tangannya yang sedang memegang pergelangan tangan Rain.
"Saya membayar kalian disini untuk kerja, bukan untuk ghibah. Kalian gak usah sok suci jadi orang. Kalian pikir kalian yang paling bener disini hingga bisa menghakimi orang sesuka kalian."
"Jangan kalian pikir saya tak tahu kehidupan kalian diluar sana seperti apa. Kali ini mungkin aib saya dan Rain yang terbongkar. Tapi besok atau lusa, entah aib siapa yang akan terbongkar. Bersyukurlah karena Tuhan masih menutupi aib kalian."
Semua orang hanya menunduk, tak ada satupun yang berani menjawab.
"Dan satu lagi, jangan pernah menghujat Rain lagi. Dia calon istri saya." Dengan lantang Sean mengatakannya.
Deg
Rain yang sejak tadi menunduk sontak langsung menatap Sean.
Apa ini, apa yang dia bicarakan didepan semua orang. Apa dia sudah gila, batin Rain.
__ADS_1
Bukan hanya Rain yang syok, semua orang yang ada disana juga begitu. Mereka tak mengira jika Rain adalah calon istri bos mereka. Para pegawai perempuan merasakan patah hati masal seketika.