Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
KE RUMAH MERTUA


__ADS_3

Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bisa bersama orang yang kita cintai. Menyatukan dua pikiran untuk menjadi satu visi dan misi memang tidak mudah, butuh kesabaran, perjuangan serta pengorbanan.


Seperti itulah yang dirasakan Rain saat ini. Setelah dia mantap membuka hati pada Sean, semuanya seolah lebih mudah, bagai air yang mengalir, dua manusia yang sangat berbeda visi dan misi itu akhirnya bisa menyadari jika saat ini mereka adalah satu kesatuan.


Sean tak lagi hidup dengan seenaknya seperti dulu. Setidaknya sekarang ada hati yang harus dia jaga. Begitu pula dengan Rain, dia harus ekstra sabar menghadapi Sean yang sering membuatnya harus mengelus dada.


"Beb, kamu beneran gak mau ngadain resepsi?" Tanya Sean setelah pergulatan panas mereka. Entah untuk yang keberapa kalinya Sean bertanya tentang resepsi yang terus tertunda hingga 6 bulan pernikahan mereka.


"Gak usah, buang buang duit aja." Sejak dia mengalami kesulitan ekonomi waktu itu, Rain menjadi sosok yang lebih perhitungan. Dia tak mau membuang uang untuk sesuatu yang mungkin bisa di skip.


"Ya gak gitu juga beb. Aku kasihan aja sama kamu kalau gak ada resepsi. Aku tahu semua wanita menginginkankan menjadi ratu sehari. Aku yakin semua wanita memimpikan hal itu, memakai gaun mewah bak ratu, berjalan diatas karpet dengan menggandeng mempelai pria. Apa kau tak ingin seperti itu." Sean menarik Rain agar makin mendekat padanya. Dia mengangkat kepala Rain dan meletakkannya diatas lengannya.


Bohong kalau Rain tak pernah memimpikan hal itu. Sejak dulu dia ingin memakai gaun putih dan bersanding diatas pelaminan bersama pria yang dia cintai. Tapi dulu bayangan mempelai pria itu adalah Gaza. Tapi kenyataannya sekarang, suaminya adalah Sean.


"Aku lebih suka menjadi ratu dihatimu daripada menjadi ratu sehari." Sean terkekeh mendengar penuturan Rain. "Aku tak menginginkan resepsi Sean, tapi aku menginginkan sesuatu." Ucap Rain sambil mendongak ke atas untuk menatap wajah tampan suaminya.


"Apa yang kau inginkan?"


"Rumah, aku ingin sebuah rumah yang bisa menampung kita serta calon anak anak kita nanti. Aku ingin rumah yang sederhana dengan halaman yang luas. Sejujurnya, aku kurang nyaman tinggal di apartemen."


Sean tersenyum mendengarnya. Menurutnya keinginan Rain sangat sederhana namun dia sulit mengabulkan.


"Kenapa? apa ada yang salah dengan ucapanku?" Rain melihat sesuatu yang aneh dari ekspresi Sean.


Sean menggeleng. "Maaf Rain, sepertinya susah mengabulkan permintaan kamu."


Rain mengerutkan keningnya. Mana mungkin seorang Ocean Kalandra tak mampu membelikannya rumah sederhana dengan halaman yang luas? Bahkan harga mobilnya saja kalau dijual sudah bisa untuk membeli rumah sederhana.


"Aku tak butuh rumah mewah Sean. Aku hanya ingin rumah sederhana."


"Aku tahu kau bukan wanita yang menyukai kemewahan. Hanya saja... " Sean tak mampu meneruskan kata katanya.


"Hanya saja apa?" Rain tak ingin makin penasaran.


"Aku anak tunggal Rain. Aku mempunyai kewajiban mengurus kedua orangtua ku. Sebenarnya sejak kita menikah, papa terus memaksaku untuk pulang ke rumah. Apa mungkin aku tinggal sendiri dan membiarkan orang tuaku kesepian di hari hari tuanya."


Seketika raut wajah Rain berubah. Impiannya membangun rumah tangga kecilnya seakan terenggut seketika.


"Kenapa Wajahmu seperti itu? Apa tinggal bersama mertua terdengar sangat horor bagimu?"


"Lebih, lebih dari sekedar horor bagiku. Membayangkan wajah mamamu saja sudah seperti masuk ke dalam wahana rumah hantu." batin Rain.

__ADS_1


"Aku tidak akan memaksamu saat ini juga. Aku tahu kau dan Mamaku tidak cocok. Tapi mungkin setelah mereka mendapatkan cucu, perlahan kau dan mama bisa akur."


"Semoga." Rain berusaha tersenyum walau terlihat sangat dipaksakan.


"Weekend ini kita ke rumah papa ya Rain. Sebenarnya sudah sejak lama papa menyuruh kita datang."


Rain mengangguk walau terpaksa. Bagaimanapun dia sudah menjadi istri Sean. Dan itu artinya, orang tua Sean juga orang tuanya juga. Mau tidak mau, cepat atau lambat, dia juga harus berhadapan dengan mertuanya.


.


...******...


.


Vivi langsung memeluk putra kesayangannya saat Sean dan Rain berkunjung ke rumah mereka. Wajah perempuan paruh baya itu sumringah melihat anaknya pulang. Namun tatapannya seketika berubah sinis saat menatap Rain. Menantu yang tidak diinginkannya.


"Akhirnya setelah 6 bulan menikah, ingat juga mengunjungi mertua." Sindir Vivi sambil menarik ujung bibirnya. Sejak menikah dengan Sean, ini memang baru pertama kalinya Rain menginjakkan kaki dirumah mertuanya.


"Gak usah mulai deh ma. Sean pulang lagi kalau mama kayak gini." Karena sikap mamanya inilah yang membuat Sean enggan mengajak Rain mengunjungi orang tuanya. "Papah mana?"


"Biasa, dia ditaman belakang. Pasti sedang memberi makan ikan koi kesayangannya."


"Sean ke tempat papa dulu." Pamitnya dan segera membawa Rain menemui papanya. Ternyata berbeda sekali suasana yang tercipta. Papa Sean senang anak dan menantunya pulang. Tak ada sedikitpun tatapan tidak suka pada Rain. Bahkan mereka terlihat akrab.


"Kalian sudah menikah 6 bulan lebih, apa masih belum isi juga?" Vivi tak mau berbasa basi.


"Belum ma, doain aja." Rain mengulum senyum terpaksanya. Pertanyaan inilah yang paling ditakuti Rain, dan mungkin oleh semua menantu wanita didunia ini.


"Bentar lagi juga isi ma. Tinggal nunggu waktu aja. Kita udah usaha kok tiap hari. Bahkan gak pernah absen bikin." Celetuk Sean dan langsung mendapat injakan kaki dari Rain hingga pria itu meringis kesakitan.


"Tiap hari bikinpun kalau mandul ya percuma."


Huk huk huk


Rain seketika tersedak makananannya. Dia tak mengira kata kata frontal itu mampu keluar dari mulut mertuanya. Sakit hati, jangan ditanya lagi. Wanita mana yang mau dikatakan mandul. Mungkin itu adalah kekurangan yang tak mampu diterima dengan ikhlas oleh wanita manapun.


"Hati hati beb." Sean menuang air putih dan segera menyodorkannya pada Rain.


"Kalau ngomong itu dijaga ma." Papa Sean menasehati istrinya. Jujur saja dia juga tak suka dengan ucapan Vivi yang menyudutkan menantunya.


"Mama apa apaan sih ngomong gitu. Kata kata itu doa ma." Sean geram pada mamanya.

__ADS_1


"Udah udah gak usah bertengkar. Kita jarang jarang bisa kumpul keluarga kayak gini. Lebih baik diam dan selesaikan makan kalian." Zaenal sebagai kepala keluarga berusaha menengahi.


Sean melirik ke arah Rain. Dia tahu istrinya itu pasti terluka akibat ucapan mamanya. Setelah makan siang, Sean segera mengajak Rain pulang. Dia tak ingin Rain merasa lebih tersakiti lagi kalau terus dirumah itu.


Selama dalam perjalanan pukang, Rain hanya diam. Dia bahkan terlihat enggan menjawab semua pertanyaan Sean. Padahal Sean ingin sekali menghiburnya.


Sesampainya dikamar, tangis yang sejak tadi dia tahan akhirnya pecah. Dadanya sudah terlalu sesak untuk menahannya.


"Gak usah dimasukin hati ucapan mama. Dia orangnya memang kayak gitu." Ucap Sean sambil membelai rambut Rain yang sedang berbaring tengkurap diatas ranjang.


"Aku pengen sendiri Sean, bisa gak tinggalin aku sebentar."


"Mana bisa aku ninggalin kamu saat nangis kayak gini."


Rain bangun lalu duduk menghadap Sean. "Bagaimana kalau aku benar benar mandul Sean?"


"Hus." Sean buru buru meletakkan jarinya dibibir Rain. "Jangan ngomong sembarangan, kata kata itu doa. Lagian kita baru intens berhubungan sekitar 2 bulan. Jadi itu masih terlalu dini Rain."


"Tapi dulu kita sudah pernah melakukannya Sean. Mungkin sekitar 5 bulan yang lalu. Tapi aku juga tidak hamil." Rain masih ingat saat Sean memaksanya berhubungan badan diawal pernikahannya dulu.


"Kita hanya melakukannya sekali, dan mungkin kau tidak dalam masa subur waktu itu. Jangan terlalu dipikirkan."


"Aku pernah mengkonsumsi pil kontrasepsi. Apa mungkin karena itu aku jadi kurang subur?" Rain menerka nerka.


Sean mengerutkan Keningnya, dia bahkan tak tahu jika Rain pernah mengkonsumsi pil kontrasepsi.


"Kapan kamu mengkonsumsinya?"


"Dulu, saat aku mau menjual diri padamu. Aku tak mau ambil resiko. Aku tak mungkin hamil dengan orang yang tak aku kenal. Oleh karena itu aku mengkonsumsi pil kontrasepsi."


Sean memeluk Rain lalu berkali kali mencium pucuk kepalanya. Dia paham ketakutan istrinya.


"Aku yakin semuanya baik baik saja Rain. Kau pasti akan hamil jika sudah waktunya. Kita hanya tinggal menunggu saat itu. Baru 2 bulan usaha kita Rain. Diluar sana banyak orang yang berusaha hingga bertahun tahun. Bahkan ada yang 10 tahun baru dikaruniai anak. Positif thinking, aku yakin kau akan hamil. Apa kau tak percaya jika aku bisa menghamilimu?" Sean sedikit menggoda istrinya agar tak sedih lagi.


Rain menggebuk dada suaminya yang masih bisa menggoda disaat seperti ini.


"Mau cepet hamilkan?" Tanya Sean dengan alis sedikit terangkat dan seringai dibibirnya. "Yuk bikin, siapa tahu sore sore gini langsung jadi."


"Ih modus kamu." Rain seketika tersenyum melihat wajah mesum suaminya.


"Kali aja anak kita pengennya dibuat pas lagi sunset. Saat langit sedang cantik dengan warna jingga. Malem malem terlalu biasa. Dia pengen yang luar biasa."

__ADS_1


Rain tak mampu lagi menahan tawanya. Dia tak menyangka akan muncul pikiran sekonyol itu dikepala Sean. Tapi benar kata Sean, daripada nangis gak jelas, mending usaha bikin anak.


__ADS_2