
Pov Sean
Steak daging saos lada hitam yang tadi gue pesen, cuma gue pantengin aja. Makanan seenak itu sama sekali gak bikin gue berselera. Nafsu makan gue sudah hilang sejak Rain bilang cerai. Kata kata itu sudah meracuni otak gue, hingga gue gak bisa berpikir sehat lagi.
Apa lo kalo ngeliat gue kayak gini Rain? Kayak gue yang gak berselera melihat makanan ini. Walaupun enak dan mahal, kalau gak selera ya gak mau. Walaupun gue ganteng dan kaya, tetep aja lo gak mau sama gue, gak cinta sama gue.
Gue baru nggeh, kalau sesakit ini rasanya cinta sendirian. Cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan. Sakit, lelah dan muak pada diri gue sendiri yang serasa bodoh.
"Apa cewek cewek yang naksir sama gue terus gue tolak ngerasain kayak gini ya?" kata gue sambil tersenyum tapi hati menangis. Apa ini karma buat gue? banyak cewek yang naksir tapi semua pada gue tolak. Tapi saat gue naksir cewek, giliran gue yang ditolak.
Setelah lama menunggu dan yang ditunggu tak muncul juga, akhirnya gue masuk kedalam kamar untuk memanggil Rain sekali lagi. Ya Tuhan... nyesek rasanya ngeliat orang yang gue tunggu dari tadi malah meringkuk diatas ranjang sambil nangis sesenggukan.
"Kamu kok malah tiduran lagi sih Rain? Udah ah jangan nangis mulu, gak capek apa? Aku nungguin kamu di meja makan dari tadi."
"Kamu makan aja dulu Sean, aku gak lapar?"
Apa lo pikir gue lapar? nggak Rain, gak sama sekali. Liat makanan gak nafsu gue.
Gue berjalan mendekati Rain. Gue lihat matanya bengkak karena kebanyakan nangis. Secinta itukah kamu sama Gaza Rain? Dua minggu nikah sama gue nyatanya gak ngerubah sedikitpun perasaan lo ke Gaza. Lo tetep aja cintanya sama Gaza.
Kenapa yang gue lihat bukan Gaza yang hancur, tapi elo dan gue. Lo hancur karena Gaza. Dan gue hancur karena lo. Ya, mungkin kita bertiga yang hancur. Kita bertiga saling bertautan, membentuk segitiga yang saling berhubungan satu sama lain.
Kayaknya bukan hanya gue aja yang patut dikasih selamat karena berhasil buat Gaza hancur. Tapi selamat juga buat lo Ga, karena sekali lagi udah ngebuat gue hancur.
"Makan dulu Yuk Rain, ntar kamu sakit loh."
"Aku emang udah sakit kok, hati dan tubuh aku sakit semua."
"Jadi tubuh kamu juga sakit? Kirain cuma bagian itu aja yang sakit?"
"Ya sakit semua lah Sean. Orang kamu nindih aku kayak orang kesetanan."
Maaf Rain, gue gak sadar, gue terlanjur keenakan, gak sadar kalau kamu kesakitan. Habisnya terlalu enak sampai sampai gue lupa segalanya.
"Mau aku pijitin Gak?"
"Kalau kamu terlalu baik kayak gini, aku malah takut Sean."
"Takut kenapa?"
"Takutnya kamu lagi mabok, jadi gak sadar sama ucapan dan kelakuan."
__ADS_1
"Jahat banget sih kamu, orang baik kok dikata mabok. Maaf ya tadi udah nampar kamu. Pasti sakit banget ya?"
"Ya sakit lah, mau nyoba?"
"Enggak." jawab gue tanpa pikir. Siapa juga yang mau ngerasain ditampar, gila kali.
"Aku bawain kesini ya makanannya?"
"Aku gak lapar, maksa banget sih."
"Huft, ya udah."
Sabar Sean sabar, kayaknya makanan mahal itu jatahnya tempah sampah.
...*******...
Sean kalang kabut saat melihat jam sudah hampir pukul 8 pagi. Padahal dia ada meeting jam 8.30 di kantor. Setelah mandi asal asalan dan bersiap siap, dia membangunkan Rain.
"Rain udah pagi, gak capek apa dari kemarin kamu tidur mulu? bangun gih, mandi sana biar seger badannya, gak sakit lagi."
"Jam berapa?" Tanya Rain sambil meregangkan otot ototnya.
"Jam 8 lebih nih."
"Aku berangkat dulu ya, ada meeting nih. Kamu istirahat dirumah aja, pasti badan kamu masih sakitkan?" Sean mengecup kening Rain lalu pergi.
Tumbenan dia so sweet pakai cium kening segala mau ke kantor. Padahal biasanya gak pernah, batin Rain sambil tersenyum.
Dikantor semua orang sudah kalang kabut mempersiapkan meeting rutin bulanan. Selain mempersiapkan diri, mereka juga mempersiapkan hati.
Sudah menjadi kebiasaan Sean ngamuk ngamuk kalau kerjaan kurang sempurna dikit aja. Para karyawan sudah menebalkan kuping untuk mendengarkan omelan yang tak pernah absen itu.
"Tumben Pak Sean telat, biasanya kurang 5 menit aja udah nongol diruang meeting," kata salah satu manager.
"Pengantin baru biasalah. Semalaman lembur ya udah pasti kesiangan. Liat aja ntar, bininya pasti gak masuk karena kecapekan?"
"Berani taruhan berapa?"
"Gocap deh."
"Cih dikit amat"
__ADS_1
"Belum gajian."
Ruangan meeting berubah menjadi ruangan ghibah tatkala sang CEO tak kunjung datang juga. Tapi mereka semua senang karena senam jantungnya ditunda beberapa menit.
Keriuhan segera berhenti saat Sean datang. Pria itu langsung memulai meeting. Semua orang tampak mulai tegang, tapi lain halnya dengan Sean. Dia malah tak bisa fokus. Dia masih saja kepikiran Rain yang minta cerai. Kata itu udah kayak toxic yang merusak otak Sean.
"Bagaimana Pak?"
"Hem, apanya?" Sean kebingungan karena dia tak mendengarkan sama sekali. Semua orang saling memandang satu sama lain. Mereka seperti berhadapan dengan CEO baru, bukan Ocean Kalandra yang garang seperti biasanya.
Dan yang paling dibuat heran disini adalah Danu. Selama bekerja, dia belum pernah melihat bosnya itu tak fokus seperti ini.
"Danu tolong pimpin meetingnya. Setelah itu laporkan semua pada saya." Sean segera meninggalkan ruangan itu.
Sean rebahan disofa ruangannya. Dia memijit mijit kepalanya yang terasa berat.
Beberapa jam kemudian, Danu datang dan melaporkan semua hasil meeting. Sean hanya mendengarkan tanpa mengomentari sedikitpun.
"Bagaimana dengan Mr. David , apa dia sudah diantar ke bandara?" Mr. David adalah kliennya dari UK. Dan hari ini dia kembali ke negaranya.
"Sudah pak, Herman barusan melapor kalau dia sudah mengantar Mr. David ke bandara. Dia juga bilang kalau melihat Ibu Rain ada di bandara."
"What! Rain ada dibandara?"
"Benar pak."
"Ya sudah kamu boleh keluar."
Sean kesal mendengar Rain ada di bandara. Dia segera mengambil ponsel untuk menghubungi Rain.
"Kamu ngapain ada di bandara Rain? apa kamu mau nganter Gaza? mau ngadain acara perpisahan yang dramatis? Mau nangis nangis? Apa nangis semalaman masih kurang?" Gumam Sean sambil terus berusaha menelepon Rain.
Sean panik karena ponsel Rain gak aktif. Pikirannya jadi menjalar kemana mana.
Jangan jangan Rain kabur dengan Gaza ke London, batin Sean.
Dia segera menyusul Rain ke bandara. Jalanan yang macet membuatnya terus mengumpat sepanjang jalan. Dia tak sabar ingin segera sampai di bandara. Dia juga masih berusaha untuk terus menghubungi Rain, tapi dia sia saja, ponsel Rain tetap tidak aktif.
Sesampainya di bandara, Sean langsung menuju bagian informasi.
"Jam berapa jadwal pesawat menuju London hari ini?"
__ADS_1
"Maaf Pak, pesawat dengan tujuan London susah berangkat satu jam yang lalu."