Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
TAMU MENYEBALKAN


__ADS_3

Rain buru buru mengambil ponsel Sean yang tergeletak diatas nakas saat sang empunya mandi. Dia ingin menghapus vidio yang tadi dibicarakan Sean. Tapi rencananya tak berjalan mulus karena ponsel Sean terkunci menggunakan sandi.


"Ngapain kamu pegang HP aku?" Tanya Sean yang baru keluar dari kamar mandi.


"Bepara nomor sandinya?"


"Buat apa? aku gak selingkuh gak usah ngecek ngecek HP aku." Jawabnya santai sambil menggosok gosok rambutnya yang basah dengan handuk.


"Udah cepetan berapa nomor sandinya?" Rain tak sabar mau menghapus vidio itu.


"Ngapain sih pagi pagi ngurusin HP aku. Emangnya sarapan udah siap?"


"Aku sudah delivery order."


"Astaga, males banget jadi bini."


"Cepetan berapa nomor sandinya?" Rain berdecak kesal kerena Sean tak juga memberitahu nomor sandinya.


"Bantu aku pakai baju dulu entar aku kasih tahu."


Demi sandi Rain menurut dan membantu Sean mengancingkan kemejanya. Setelah siap dengan kemeja, dia lanjut memakaikan dasi.


"Udah selesai, cepatan berapa?" tanya Rain sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ish gak sabaran banget."


"Cepatan."


"Tanggal lahir aku." Jawab Sean sambil memakai jam tangannya.


"Berapa?"


"Tanggal lahir aku."


"Iya berapa? aku gak tahu."

__ADS_1


Sean menghela nafas antara kesal dan lelah. Bisa bisanya istrinya tidak tahu tanggal lahirnya. "Tanggal ulang tahun Gaza."


"Emangnya tanggal lahir kalian sama?" Rain heran. Jari jarinya segera menekan nomor sesuai tanggal ulang tahun Gaza. "Kok salah." Ucapnya saat melihat sandi yang dia masukkan ternyata salah.


"Ya jelas aja salah." Sean menghela nafas. Sumpah demi apapun dia sangat kesal saat ini. "Lagian ngapain aku pakai sandi ulang tahun Gaza? kurang kerjaan apa?"


Mendengar ucapan Sean, Rain baru menyadari kebodohannya. Jelas sekali tadi Sean hanya asal bicara tapi malah Ditanggapiny dengan serius.


Sean merebut ponselnya dari tangan Rain. "Kamu hafal tanggal ulang tahun Gaza tapi gak inget tanggal ulang tahun suami kamu?" Ucapnya sambil melotot lalu pergi meninggalkan Rain.


Selama sarapan hingga perjalanan ke kantor, Sean hanya diam. Rain sesekali melirik ke arah pria yang sedang fokus mengemudi itu. Tapi dapat dilihat dari raut wajahnya kalau pria itu tengah marah. Beberapa kali Rain mencoba mengajaknya bicara tapi diabaikan oleh Sean.


Sesampainya dikantor, Rain segera ke pantry seperti rutinitas hariannya. Dia membuatkan kopi untuk Sean. Sejak kejadian Khayla dipecat, tak ada lagi yang berani menggunjingnya, semua orang mulai menghormatinya. Walaupun tak ada jaminan jika apa yang mereka lakukan itu tulus atau hanya pencitraan.


Apapun alasan mereka, Rain tak peduli, yang penting dia bisa menjalani harinya dengan tenang.


Rain meletakkan kopi dimeja Sean. Pria itu sama sekali tak bergeming, dia tetap saja fokus pada layar laptop didepannya.


"Sean, kamu marah ya sama aku? maaf."


Tak ingin berdebat, Rain memilih mengalah dan kembali ke meja kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tapi kemudian dia kepikiran sesuatu, yaitu tanggal lahir Sean. Merasa wajib tahu diapun membuka website perusahaan. Dia mencari profil ceo disana.


Rain melihat foto Sean lengkap dengan data dirinya. Belum ada setahun Sean menjadi CEO dan status pernikahannya juga belum dirubah disana. Sebenarnya Sean akan merubah setelah resepsi pernikahan mereka yang rencananya akan digelar bulan ini. Tapi karena Rain menolak terpaksa resepsi itu diundur hingga waktu yang belum ditentukan. Rain ingin menuntaskan masa percobaan pernikahannya selama 6 bulan. Jika memang harus berlanjut, dia setuju resepsi. Jika tidak, lebih baik tidak karena cuma buang buang uang saja.


...****...


.


"Selamat siang Bu." Sapa seorang wanita yang mendatangi meja Rain. Rain yang kala itu tengah fokus pada layar komputer langsung berdiri.


"Selamat siang Bu, ada yang bisa saya bantu?" Ucapnya sambil terseyum ke arah tamu wanita itu. Wanita itu tampak memperhatikan Rain dengan seksama.


"Kamu Rain kan?"


"Ghea." Rain sebenarnya sudah mengenali wanita itu sejak awal melihatnya. Namun dia pura pura lupa. Tapi sialnya Ghea terlanjur mengenalinya. Ghea adalah teman SMA Rain.

__ADS_1


"Jadi sekarang kamu kerja jadi sekretaris disini?" Tanya Ghea dengan senyum meremehkan.


"Benar, apa kamu general manager dari PT. Smart SR ?" Setahu Rain siang ini Sean ada jadwal meeting dengan perusahaan itu.


"Tepat sekali." Jawab Ghea dengan dengan gaya menyombongkan diri. Padahal dia. mendapat jabatan itu karena perusahaan itu milik salah satu teman baik ayahnya. "Aku gak nyangka kamu cuma jadi sekretaris? padahalkan dulu kamu anak paling pintar dikelas?" Sejak dulu Ghea selalu iri pada Rain. Selain pintar, Rain juga cantik hingga dia jadi siswi paling populer disekolah.


"Gimana kabar ayah kamu dipenjara?"


"Alhamdulillah baik." Rain tak kaget bagaimana Ghea bisa tahu tentang ayahnya. Kabar tentang ayahnya yang dipenjara karena membunuh sudah tersebar di grup chat SMA, oleh karena itu Rain keluar dari grup.


"Oh iya, katanya pernikahanmu juga dibatalkan?" Ghea menarik ujung bibirnya. Rasanya dia puas sekali bisa menyudutkannya Rain. "Aku turut sedih ya Rain. Tapi mau gimana lagi, calon suami kamu kan anak pejabat, mana mau mereka punya mantu anak napi."


"Aku gak nyangka kamu sengefans itu sama aku hingga tahu semua tentangku."


"Jangan kepedean, aku sebenarnya juga gak mau tahu. Tapi mereka menyebarkan semua gosip tentangmu di grup."


"Lucu sekali, aku sudah kuliah saat itu tapi masih saja aku dibahas di grup chat SMA. Kayaknya walau udah lulus SMA, aku tetap aja jadi yang paling populer diantara semua siswa angkatan kita." Rain tersenyum miring. "Apa gosip tentang aku yang sudah menikah juga tersebar di grup?"


"Jadi kamu sudah menikah?" Ghea mengerutkan keningnya. Dia sama sekali belum dengar tentang itu.


"Kayaknya kalian kurang update berita deh."


"Kenapa kamu gak ngundang teman SMA?" Ghea seperti mendapat celah disini. Kalau ada yang datang ke pernikahan Rain, pasti kabar pernikahan itu cepat tersebar. "Atau jangan jangan pernikahanmu sengaja kau sembunyiin ya? Apa jangan jangan kamu malu sama suami kamu?"


"Maksudnya?" Rain tak paham.


"Apa suami kamu sudah tua? Atau jelek banget gitu? Iyuh...." Ghea menunjukkan ekspresi jijik. "Secarakan siapa yang mau punya istri anak pembunuh. Lagian kamu butuh duit banyakkan buat pengobatan adik kamu. Pastinya kamu bakal nerima lamaran siapa saja asal bisa bantu keuangan kamu, walaupun udah bau tanah sekalipun."


Rain mengepalkan kedua tangannya. Rasanya geram sekali mendengar hinaan demi hinaan dari Ghea.


"Kayaknya kalau ngobrol sama kamu aku bisa telat nih meeting sama Pak Ocean. Buruan beri tahu dia kalau aku udah datang."


"Siapa juga yang mau ngobrol sama kamu?" batin Rain.


"Langsung masuk aja, Pak Sean sudah menunggu." Rain masih berusaha untuk bersikap hormat. Bagaimanapun Ghea seorang tamu disini.

__ADS_1


__ADS_2