
Kemarahan Rain pada Sean sudah sedikit mencair. Selama didalam bioskop Sean tak henti hentinya merayu istrinya yang sedang ngambek itu. Dan setelah film usai, Sean langsung menggandeng tangan istrinya keluar dari studio. Mereka memilih keluar terakhir agar tak berdesakan dengan pengunjung lain.
"Dasar pelakor, wanita murahan." Tiba tiba seorang gadis yang tak lain adalah Amaira memaki serta menjambak rambut Rain.
"Aww... " Pekik Rain saat merasakan sakit dikulit kepalanya.
"Apa apaan lo, lepas." Sean berusaha melepaskan tangan Amaira dari rambut Rain.
"Dasar pelakor, berani beraninya kamu nggodain kakak dan pacar aku." Bentak Amaira sambil berusaha menjbak Rain lagi tapi terhalang oleh badan Sean.
"Jaga mulut lo! berani beraninya lo nuduh istri gue yang macam macam." Sean balas membentak Amaira sambil melotot dan berkacak pinggang.
"Jadi dia istri lo? hahaha." Amaira tertawa mendengarnya. "Udah punya suami cakep kayak gini, masih aja lo kegatelan sama kakak dan pacar gue." Teriak Amaira sambil berdecak kesal.
Kekacauan itu sontak mengundang perhatian semua pengunjung. Semua orang berkerumun untuk menyaksikan pertengkaran itu.
Rain memperhatikan gadis itu dengan seksama. Dia seperti pernah melihatnya sebelum ini.
"Kayaknya kamu salah paham." Rain coba membela diri.
"Salah paham kata lo? Gue ada bukti lo jalan bareng cowok gue."
Sean seketika bingung, siapa orang yang dimaksud gadis itu. Kenapa dia terlihat yakin dan bilang ada bukti.
"Siapa sih dia ini Beb?"
"Kalau gak salah adiknya Arya." Rain sedikit kurang yakin.
"Astaga." Sean menepuk jidatnya sambil geleng geleng. "Pantesan gak ada akhlak, mirip kayak kakaknya," cibir Sean sambil menarik ujung bibirnya.
"Kurang ajar lo, berani beraninya bilang kakak gue kayak gitu. Istri lo itu yang gak ada akhlak. Udah nikah masih aja godain kakak gue."
"Kakak lo yang gak tau diri. Dia suka sama istri gue." Sean tak terima Rain dikatakan seperti itu.
"Udah Sean, kita pergi aja yuk, malu dilihatin orang." Rain menarik tangan Sean untuk pergi dari sana. Dia malu karena banyak orang yang menonton drama itu.
"Enak aja mau pergi." Amaira menarik tangan Rain hingga terlepas dari genggaman Sean.
__ADS_1
PLAK
Sebuah tamparan mendarat tepat dipipi Rain.
"Shitt. " Sean sudah mengangkat tangannya untuk menampar balik Amaira tapi dicegah oleh Rain.
"Jangan Sean, dia perempuan." Rain menggeleng dan sambil berusaha menurunkan tangan Sean.
"Gue kasihan sama lo. Lo belain istri lo mati matian tapi istri lo malah selingkuh." Amaira tersenyum sinis.
Alan yang baru dari toilet mendengar suara Amaira yang melengking. Dia hanya bisa mendengar suaranya karena banyak orang yang mengerumuni.
"Emangnya kamu punya bukti apa nuduh aku kayak gitu?" tanya Rain.
"Gue punya bukti lo jalan sama cowok gue. Lo pengen lihat?" Amaira mengambil ponsel di tasnya dan ingin menunjukkan foto kiriman dari temannya waktu itu.
"Ra." Suara panggilan Alan menghentikan jari jari Amaira yang sedang mencari foto di galery ponselnya.
Amaira segera menoleh begitu juga Rain dan Sean.
"Alan." lirih Rain.
"Apaan sih Al." Amaira menarik tangan Al dengan kasar. Dia makin emosi melihat Alan perhatian pada wanita didepannya itu. "Wanita ini udah nikah Al, dia bukan wanita baik baik. Elo jangan kegoda ama dia."
"Elo ngomong apa sih Ra? Dia ini kakak gue." Seru Alan.
Amaira melongo mendengarnya. Kakinya terasa lemas, hingga dia hampir terjatuh. Dia tertunduk lesu karena merasa malu dan bersalah.
"Astaga, jadi cowok yang lo maksud tadi dia?" Sean menunjuk ke arah Alan. "Ajarin tuh cewek lo akhlak. Bisa bisanya dia memaki Rain dan menamparnya."
Bola mata Alan membulat sempurna mendengar Amaira menampar Rain. Dia begitu emosi karena selama ini dia dan orang tuanya selalu memperlakukan Rain dengan sangat baik. Bahkan ayahnya tak pernah sekalipun mengangkat tangan pada Rain.
"Jadi lo nampar kak Rain?" Alan mencengkeram erat lengan Amaira hingga membuat gadis itu menunduk ketakutan. Belum pernah dia melihat Al semarah ini sebelumnya. "Keterlaluan lo." Bentak Alan tepat didepan wajah Amaira.
"Maafin aku kak, sumpah aku gak ngerti kalau kamu kakaknya Al." Amaira memegang kedua tangan Rain sambil menangis. Dia takut hubungannya yang baru membaik dengan Al akan rusak kembali.
"Gak usah dengerin dia. Ayok kita pulang." Sean menarik tangan Rain dan mengajaknya pergi. Amaira berusaha menahan tangan Rain.
__ADS_1
"Tunggu kak, aku mohon maafin aku. Aku benar benar gak tahu kalau kamu kakaknya Alan. Aku terlalu cemburu, aku takut kehilangan Al."
Melihat gadis itu menangis, Rain jadi tak tega.
"Enak aja lo minta maaf gitu aja setelah nampar istri gue?"
Amaira memegang tangan Rain lalu meletakkan dipipinya"Kamu boleh kok balas nampar aku. Tapi aku mohon maafin aku. Aku cinta sama Alan kak, aku gak mau dia mutusin aku gara gara ini." Amaira menangis sesenggukan.
"Udah jangan nangis, malu dilihatin orang."
"Kamu mau kan kak maafin aku?"
"Ya udah kali ini aku maafin kamu. Tapi lain kali jangan sembarangan ngelabrak orang apalagi sampai melakukan kekerasan fisik," tutur Rain.
"Kok dimaafin gitu aja sih beb?" Sean berdecak kesal.
"Maafin Al ya mbak." Alan juga ikut merasa bersalah. Karena kesalahan pahaman Amaira, kakaknya yang jadi korban.
"Kalian berdua memang pasangan yang cocok." Sean tersenyum sinis.
"Selesaikan masalah kalian berdua. Mbak pulang dulu ya."
Setelah Rain pergi, Alan menatap tajam kearah Amaira. Dia seolah olah ingin menelan gadis itu hidup hidup. Amaira terus menunduk, dia sampai tak berani menatap mata Alan.
Kali ini Alan benar benar lelah menghadapi Amaira. Dia tak tahu lagi harus berbuat apa.
"Nih." Alan menyerahkan kunci mobil Amaira. "Lo pulang sendiri." Alan segera melangkah meninggalkan Amaira.
"Tunggu Al." Amaira berusaha menahan tangan Amaira. "Gue minta maaf, gue terlalu cemburu."
"Ra," Alan mengangkat dagu Amaira agar gadis itu menatapnya. "Aku gak sanggup lagi ngadepin kamu. Kita udahan ya. Lagian kita gek pernah bener bener jadian kan?"
"Nggak, gue gak mau Al." Amaira terus menangis dan menggeleng.
"Gue pulang dulu Ra."
Mendadak kepala Amaira terasa sangat sakit. Dia memegangi kepalanya sambil berjalan mengejar Al.
__ADS_1
BRUK
Lagi lagi gadis itu pingsan.