Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
IKUTLAH DENGANKU


__ADS_3

Rain tak bisa tidur karena memikirkan permintaan Gaza saat ditelepon tadi. Gaza mengajaknya bertemu untuk yang terakhir kali sebelum dia akan pergi ke London.


Ditelepon Gaza saja, Sean sudah marah besar, apalagi kalau bertemu. Membayangkan kemarahan Sean saja Rain sudah ngeri. Tapi dia juga ingin bertemu Gaza. Dalam hatinya masih ada rindu untuk mantan terindahnya itu.


"Rain, kamu gak kekantor?" Sean membangunkan Rain yang masih tidur. "Ini udah siang, tumben belum bangun. Biasanya pagi pagi udah masak."


"Aku gak enak badan Sean. Aku cuti hari ini."


Sean meletakkan telapak tangannya didahi Rain. Dia tak merasa panas, dia merasa suhu badan Rain normal normal saja.


"Kepalaku pusing."


"Apa perlu aku panggilkan dokter?"


"Gak perlu, aku cuma butuh istirahat saja. Kamu berangkat saja gih, pagi ini ada meeting dengan klien kan?" Sebagai sekretaris tentu saja Rain hafal jadwal Sean.


"Ya udah aku kekantor dulu. Kalau ada apa apa, hubungi aku atau Danu."


"Ok." Rain kembali melanjutkan tidurnya.


Setelah memastikan Sean sudah berangkat, Rain segera bangun. Sebenarnya dia hanya pura pura sakit. Dia ingin bertemu Gaza hari ini.


Maaf Sean, aku terpaksa bohong. Kalau minta ijin, sudah pasti gak kamu ijinin, guman Rain dalam hati.


...*******...


Rain tiba disebuah cafe tempatnya janjian dengan Gaza. Dia melihat Gaza sudah menunggunya disalah satu meja.


"Maaf membuatmu menunggu."


"Tidak apa apa Rain. Kau mau pesan apa?"


"Seperti biasanya saja."


Cafe ini memang menyimpan banyak sekali kenangan antara Rain dan Gaza. Ini merupakan tempat favorit mereka berdua. Selain makanannya enak, tempatnya juga instagramable. Dan untuk urusan pesan memesan makanan, keduanya sudah hafal kesukaan satu sama lain.

__ADS_1


"Kamu makin cantik Rain." Ucap Gaza sambil memperhatikan wajah Rain.


Rain hanya tersenyum mendengarnya. Gaza memang sangat berbeda dengan Sean. Gaza lebih perhatian dan lebih romantis. Sedangkan Sean, dia lebih cuek dan menyebalkan.


"Kapan kamu ke London?"


"Besok."


"Semoga kamu sukses disana Ga."


"Mungkin aku bisa sukses disana, tapi aku tak yakin bisa bahagia." Gaza berubah menjadi sendu.


"Kenapa Ga?"


"Maafkan aku yang telah membatalkan pernikahan kita dulu Rain. Aku terpaksa saat itu, aku memikirkan keluargaku. Aku tak mau mereka kena imbas dari masalah itu. Tapi disisi lain, aku malah tak memikirkan diriku sendiri dan juga kamu, aku menyesal Rain."


"Sudahlah Ga, semuanya sudah terjadi."


"Andai saja aku bisa lebih egois, mungkin kita sudah menikah saat ini."


Mata Rain mulai berkaca kaca. Tak bisa dipungkiri jika dia masih mencintai Gaza.


"Apa kau bahagia bersama Sean?"


Rain menggeleng "Untuk saat ini belum, tapi aku akan berusaha menuju bahagia."


Sebenarnya aku sendiri juga tidak yakin akan hidup bahagia bersama Sean. Tapi aku akan berusaha. Mungkin sulit, tapi inilah hidup. Semua tak selalu terjadi sesuai yang kita harapkan, batin Rain.


Gaza mengeluarkan paspor atas nama Rain dari dalam tasnya dan memberikannya pada Rain. Dulu mereka memang sempat mengurus itu untuk kepergian mereka ke London.


"Aku masih berharap kau bisa ikut denganku ke London Rain."


"Semuanya sudah berbeda sekarang Ga. Mungkin dulu ini semua adalah rencana kita. Kita berencana menikah dan membina rumah tangga di London. Tapi sekarang aku sudah membina rumah tangga dengan pria lain."


"Bukankan kau bilang tak bahagia bersama Sean. Kalau saja kita bisa bahagia jika bersama, kenapa tidak kita coba." Gaza menggenggam tangan Rain yang ada diatas meja.

__ADS_1


"Tapi semua sudah terlambat Ga."


"Aku tahu ini semua karena kesalahanku yang telah membatalkan pernikahan kita. Tapi percayalah, hingga detik ini, aku masih mencintaimu. Dan aku yakin kau juga masih mencintaiku."


"Tapi ada Sean diantara kita. Ada juga keluargamu yang tak bisa menerimaku."


"Sean hanya menggunakanmu untuk balas dendam padaku Rain. Dia tak tulus mencintaimu. Bukankah masalah foto itu sudah berakhir saat kau menikah dengan Sean. Tak akan ada lagi yang mempermasalahkan itu karena kalian akhirnya menikah. Orang akan menganggap itu hanya bagian dari masa lalumu. Tidak akan ada lagi yang menghalangi kita Rain. Aku mohon ikutlah denganku. Aku sudah membelikan tiket untukmu. Aku tunggu kau dibandara besok."


Rain menarik tangannya dari genggaman Gaza. "Aku tak bisa melakukan ini Ga. Statusku adalah istri orang. Mana mungkin aku akan kabur dengan pria lain."


"Setelah kau ikut denganku, kita bisa segera mengurus perceraian kalian. Aku mohon ikutlah denganku Rain." Gaza kembali menggenggam kedua tangan Rain. Dia sangat berharap Rain mau ikut dengannya. Walaupun hal ini terdengar ekstrem. Mengajak kabur istri orang.


"Bangsat."


BUGH


Sean langsung memberi bogem mentah kewajah Gaza. Rain sangat terkejut melihat Sean tiba tiba datang.


"Beraninya kau menyentuh tangan istriku," bentak Sean sambil menarik kerah baju Gaza.


"Apa kau tak laku hingga terus saja mengejar ngejar istriku, hah. Dasar pebinor." Teriak Sean dengan suara sangat lantang.


Kegaduhan itu sontak memancing perhatian para pengunjung lain. Semua mata tanpa intruksi langsung mengarah pada Sean dan Gaza.


"Sean, udah Sean. Ini tempat umum, semua orang melihat kita." Rain berusaha menenangkan Sean.


Melihat semua orang menatapnya, Sean langsung melepaskan Gaza.


"Aku bukan pebinor, tapi kau yang sudah merebut calon istriku," kata Gaza.


"Aku tak pernah merebutnya darimu, tapi kau yang sudah mencampakkannya."


"Aku melakukan itu gara gara ulahmu."


"Aku peringatkan untuk yang terakhir kalinya. Jangan mendekati istriku atau coba coba merebutnya dariku. Karena aku tak akan membiarkan apa yang menjadi milikku direbut orang lain. Mungkin dulu kau bisa mengambil Delia dariku. Tapi kali ini, aku tak akan membiarkan hal itu terulang lagi."

__ADS_1


"Jangan seyakin itu Sean." Ucap Gaza dengan senyum miring.


"Ayo pulang." Sean segera menarik tangan Rain keluar dari cafe.


__ADS_2