Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
TANGAN JAHIL


__ADS_3

Rain sangat lelah, setelah mandi dia merbahkan diri untuk istirahat. Niat hati ingin tidur, tapi nyatanya dia hanya membolak balikkan tubuhnya diatas kasur. Tubuhnya lelah, tapi matanya tak mau terpejam karena dia kepikiran Sean yang lagi ngambek.


Menyadari Sean tak kunjung masuk kamar, Rain jadi tak tenang. Dia buru buru keluar, takutnya Sean yang lagi ngambek malah kumat lagi mabuk mabukan di club malam.


Rain bernafas lega saat melihat suaminya tengah tertidur disofa dengan tv yang masih menyala.


Rain mendekati Sean lalu menggeser sedikit kaki suaminya itu agar ada tempat untuk dirinya duduk.


"Kok tidur sih? mandi dulu sana, masak seharian jalan jalan gak mandi." Rain menggoyang goyangkan tubuh Sean agar dia bangun.


Sebenarnya Sean tidak tidur, dia hanya pura pura saja. Dia sedang malas sekali ngobrol sama Rain.


"Aku tahu kamu gak tidur. Kamu cuma pura pura aja kan karena marah sama aku? Aku minta maaf. Udah gih sana mandi dulu, bauk tau."


"Gak usah ngurusin aku." Sewot Sean.


"Kok gitu sih ngomongnya? Aku tuh udah berusaha buat care sama kamu, tapi kamunya malah kayak gini."


"Gak usah sok care. Udah aku mau tidur, gak usah ganggu." Sean kembali memejamkan matanya dan memiringkan tubuhnya membelakangi Rain yang duduk ditepi sofa.


"Kalau mau tidur ya masuk kamar, ngapain tidur disini?"


"Malas."


"Jadi ceritanya kamu ngajak pisah ranjang nih?"


"Tidur seranjang juga gak pernah ngapa ngapain. Emang kalau aku tidur dikamar, kamu mau ngelonin aku?"


"Ya udah terserah kamu."


"Jadi kamu mau ngelonin aku Rain?" Sean buru buru mengubah posisinya menjadi duduk.


"Ish, siapa yang bilang?" Rain mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Tadi kamu bilang terserah aku, itu artinya kamu mau."


"Maksud aku terserah itu, kamu terserah mau tidur disini atau didalam. Gak usah ge er deh." Rain memutar bola matanya.


Sean yang kesal kembali tidur dengan posisi memunggungi Rain.


"Ya udah kalau kamu mau tidur disini. Aku sih terserah kamu aja maunya gimana. Aku mau delivery makanan, kamu mau gak?"


"Ogah."


Rain menghela nafas lalu beranjak meninggalkan Sean. Setelah makanannya datang, Rain segera ke dapur untuk makan malam. Dia kembali melihat Sean yang masih tak bergeming dari tempatnya.


Setelah makan malam, Rain makin ngantuk. Tak butuh waktu lama dia langsung tertidur pulas. Beda sekali dengan Sean, perutnya terasa lapar serta tubuhnya terasa gerah karena tak mandi. Dia terus membolak balikkan tubuhnya di sofa yang sempit dan tak nyaman itu.


Tak tahan dengan perutnya yang makin menjerit minta diisi, dia mengambil ponsel lalu delivery makanan.


Setelah menghabiskan makanannya, Sean memutuskan masuk ke kamar untuk mandi. Dia tak tahan dengan tubuhnya yang terasa lengket.


"Keterlaluan banget sih lo Rain. Bisa bisanya lo tidur enak sedangkan gue kelimpungan di sofa gak bisa tidur." Sean berdecak kesal.


"Kenapa sih tidur aja masih kelihatan cantik? bikin kesel tau gak? gimana coba aku mau marah sama kamu kalau aku udah bucin akut kayak gini." Sean mengacak acak rambutnya karena kesal pada dirinya sendiri.


Sean mengecup sekilas kening Rian lalu menarik selimut dan memejamkam matanya. Dia tak ingin berlama lama memandang wajah Rain karena takut kepingin.


Pagi harinya saat membuka mata, Rain yang tidur dengan posisi miring terkejut melihat wajah Sean tepat didepannnya. Padahal yang dia ingat Sean tidur disofa dan dia tidur sendiri dikamar.


Menyadari tangan Sean sedang memegang dadanya, Rain buru buru menyingkirkan tangan jahil itu. Tapi baru saja disingkirkan, tangan itu kembali lagi ketempat semula sambil meremas gundukan empuk itu. Dia seakan menemukan tempat nyaman hingga ingin terus bertengger disana.


"Ish, jahil banget sih." Rain mencubit tangan jahil itu.


"Aww.... " Pekik Sean yang terkejut saat merasakan sakit dilengannya. Dia membuka mata lalu mengusap lengannya yang sakit itu.


"Apaan sih? gak gitu tau caranya bangunin suami." Sean pikir Rain sedang berusaha membangunkannya.

__ADS_1


"Bangunin apanya? kamu itu tidur apa cuma pura pura sih?" sungut Rain.


"Ya tidurlah, masa ada tidur pura pura. Aku masih ngantuk, mau tidur lagi." Sean menarik kembali selimutnya lalu berbaring memunggungi Rain yang masih ngomel.


"Nyebelin, katanya tidur tapi tangannya ngegrepe grepe aku."


"Ngomong apaan sih kamu? orang tidur malah difitnah."


"Difitnah kata kamu?" Rain makin kesel. "Kamu pura pura tidur biar bisa meremas remas dada aku kan?"


Sean terkejut mendengar penuturan Rain. Dia benar benar tak sadar dengan apa yang dia lakukan. Dia memang sedang tidur, tapi mimpi sedang bercumbu dengan Rain. Dia tak tahu kalau beneran meremas dada istrinya. Sean menahan tawanya saat menyadari yang barusan tak hanya terjadi dalam mimpi saja.


"Jangan bilang kalau semalam kamu juga ngegrepe aku pas aku udah tidur?"


Sean membalikkan badannya ke arah Rain. Dia menemukan ide jahil untuk mengerjai istrinya.


"Astaga beb, jadi kamu sadar tadi malam? Kirain kamu ah uh ah uh itu dalam keadaan gak sadar. Ternyata diam diam kamu menikmati."


"Apa maksud kamu?"


"Alah, gak usah pura pura lagi. Semalam waktu aku mainan puncak dada kamu, kamu ah eh ah eh keenakan. Kirain kamu gak sadar, nyatanya beneran menikmati." Sean menutup mulutnya untuk menahan tawa.


"Bohong, aku gak mungkin kayak gitu." Rain memukul kepala Sean dengan bantal. Sedangkan Sean malah cekikikan melihat kekesalan istrinya. Puas sekali rasanya dia bisa ngerjain Rain.


"Muka kamu merah tuh, malu ya ketahuan?"


"Bohong."


"Mau aku tunjukin vidionya?"


"Kamu vidioin aku?" Rain memelototi Sean. "Cepetan hapus." Titahnya sambil memukul mukul lengan Sean.


"Gak mau, itukan koleksi pribadi aku. Kapan lagi coba aku bisa dapat vidio yang menampakkan dada kamu yang gede dengan ekspresi wajah keenakan sambil ah....ah..." Sean menirukan suara desahan wanita.

__ADS_1


"Nyebelin." Rain menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu. Dia kemudian turun dari ranjang meninggalkan Sean yang masih cekikikan menertawakannya.


__ADS_2