
Rain yang sedang masak terpaksa mematikan kompornyan saat mendengar suara bel.
"Mama." Rain agak terkejut melihat mama Sean datang.
Wanita setengah baya itu langsung melengang masuk tanpa menyapa atau sekedar basa basi pada Rain.
"Mana Sean?"
"Sean keluar Ma."
"Kemana?"
"Beli rokok katanya."
"Ya belinya dimana? susah banget sih nanya sama kamu. Masak semua harus dijelasin dulu."
"Gak tahu Ma beli dimana. Biasanya di minimarket."
"Kamu itu istri macam apa sih, suamimya pergi kemana kok gak tahu? Nggak perhatian banget jadi istri. Nanti kalau Sean cari perempuan baru nangis nangis. Ya salah kamunya sih, ga pecus jadi istri."
Apaan sih mamanya Sean. Kok ngomongnya jadi panjang lebar, ngelantur kayak gitu. Kelihatan banget kalau gak suka sama aku. Gumam Rain dalam hati sambil berusaha sabar.
"Bau apa ini, kamu lagi masak ya?" Vivi mencium wangi aroma masakan.
"Iya mah, Rain masak gurami asam manis. Mama mau nyicipin?"
Vivi segera menuju dapur, dia tergoda aroma yang membuat selera makannya makin naik. Vivi mencicipi sedikit saos asam manis bikinan Rain. Ternyata rasanya enak.
"Ternyata kamu bisa masak juga?"
"Bisa ma."
"Oh iya aku lupa, kamukan orang miskin. Pantesan bisa masak, gak punya pembantu sih."
Rain lagi lagi mengelus dada mendengar perkataan mertuanya. Akhirnya dia sadar kenapa sifat Sean sangat menyebalkan. Ternyata itu turunan dari mamanya. Benar benar cocok, sebelas dua belas. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
"Mama mau makan? Rain ambilkan nasi ya?"
"Ya udah buruan."
Rain segera mengambilkan nasi dan menyiapkan lauk lainnya. Hari ini Rain sengaja masak banyak karena dia ingin membawakan makanan untuk Alan. Mumpung libur, kapan lagi dia bisa ke rumah Alan. Dia sangat rindu adik kesayangannya itu.
__ADS_1
Sementara Vivi makan, Rain masuk kekamar dengan niatan ingin menelepon Sean dan menyuruhnya segera pulang. Dia merasa kurang nyaman kalau hanya berdua dengan mertuanya. Berkali kali dia telepon tapi tak dijawab. Akhirnya dia mengirim pesan.
Cepetan pulang, mama kamu disini.
Pesannya terkirim tapi tak dibaca. Rain jadi menerka nerka sedang dimana dan ngapain Sean sekarang.
"Rain.... " Teriakan Vivi mengagetkan Rain yang ada dikamar.
"Iya Ma."
"Ambilin mama nasi lagi, mama mau nambah."
Kalau saja bukan mertuanya, Rain ingin sekali mengetok kepala Vivi. Bagaimana tidak kesal, nasi ada di rice cooker yang terletak tak begitu jauh darinya. Tapi wanita tua itu malah teriak terika minta diambilin.
Sabar Rain, sabar, orang sabar disayang Tuhan, batin Rain.
"Kamu ambilin tas mama ya. Mama pesen tas ditemen mama. Dia juga tinggal diapartemen ini. Di apartemen nomor 307. Kamu gak keberatan kan?"
"Iya ma." Rain sama sekali tak keberatan kalau hanya disuruh ambil tas. Dia segera menuju apartemen 307.
...******...
"Siang mbak, saya disuruh mama Vivi mengambil tas pesanannya." Ucap Rain pada perempuan muda yang tinggal di apartemen 307.
"Terimakasih." Rain masuk dan mengikuti perempuan itu sampai ruang tengah. Dia melihat etalase berisi puluhan tas branded.
"Ini tas nya mbak." wanita itu memberikan tas berwarna nude kepada Rain. Rain mengecek sekilas tas itu. Tas itu memang sangat bagus dan terlihat mewah. Selera mertuanya itu memang bagus.
"Terimakasih mbak, kalau begitu saya permisi."
"Loh mbak, tas nya belum dibayar."
"Saya kira udah dibayar mama mbak."
"Belum mbak, kata tante Vivi, mbaknya yang bayar."
Deg
Rain baru sadar kalau dia dikerjain mertuanya.
"Memangnya berapa mbak harganya?"
__ADS_1
"90 juta."
"Hah." Rain melongo mendengar harga tas yang menurutnya sangat fantastis itu. Seumur umur dia tak pernah beli tas semahal itu.
"Kalau begitu saya telepon mama dulu ya mbak." Rain meminta nomor mertuanya pada wanita penjual tas itu karena dia tak punya nomornya.
"Hallo Ma."
"Ada apa?" Jawab Vivi dengan nada ketus.
"Tasnya belum dibayar ya?"
"Belum, kamu gak keberatankan bayarin?"
"Tapi ma."
"Udah gak usah tapi tapian. Pelit sekali kamu sama mertua. Mama yakin Sean udah ngasih uang banyak sama kamu. Enak aja kamu mau ngabisin uang Sean sendirian. Gak usah nyari alasan buat gak mau bayar. Mama gak mau tahu, segera bawa tas itu kesini. Mama udah mau pulang."
Dengan terpaksa Rain membayar tas itu. Kali ini tabungannnya benar benar terkuras habis. Bagaimana tidak, baru beberapa hari yang lalu dia membelikan Sean sepatu 30jt, sekarang dia harus membayar tas 90jt.
Rain kembali ke apartemennya dengan langkah gontai. Tubuhnya terasa lemas karena harus kehilangan 90jt. Uang mahar dari Sean sudah benar benar habis sekarang. Belum juga pernah dinafkahi tapi sudah diporoti.
Vivi segera mengambil tas ditangan Rain dengan senyum kemenangan. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, dia langsung pulang tanpa bilang terimakasih.
"Sial banget sih aku, nikah sama orang kaya bukannya banyak duit malah duitku yang habis," keluh Rain.
Rain menuju meja makan, dia ingin makan untuk mengisi ulang tenaganya yang habis karena ulah mertuanya. Tapi lagi lagi dia dibuat kesal. Dia melihat meja makan sangat berantakan. Vivi sama sekali tak mau membereskan bekas makanannya. Bahkan terlihat sepertinya sengaja mengotori meja makan.
"Mana mama?" Tanya Sean yang baru datang.
"Udah pulang. Kamu kemana sih aku teleponin dari tadi gak diangkat?" Rain melampiaskan kekesalannya pada Sean.
"Aku...aku.. " Sean tersenyum sambil menggaruk garuk lehernya.
Rain dapat mencium bau alkohol dari mulut Sean.
"Kamu habis mabok?"
"Minum dikit doang gak sampai mabuk. Diajak anak anak, aku gak bisa nolak."
Rain menghela nafas, sepertinya hari ini kekesalannya lengkap sudah. Dia tak jadi makan, selera makannya lenyap seketika.
__ADS_1
Pantesan ditelepon gak diangkat. Di chat juga gak dibales, ternyata lagi mabuk ples enak enak diluar sana. Padahal ini masih siang, batin Rain. Hatinya makin dongkol, kesal sekali rasanya menghadapi pasangan ibu dan anak itu.