
Rain berjalan mengekor dibelakang Sean dengan muka masam. Bagaimana tidak, sejak tadi Sean terus saja nyari kesempatan. Dan sekarang, mau makanpun Sean masih berulah.
"Lo gak makan Sean?" Tanya Dino yang sedang duduk lesehan bersama Brian, Leo dan Zalfa.
"Makanlah, mana mungkin gue gak makan soto lamongan Ibu Seruni yang enaknya ngalahin soto di hotel bintang lima." Jawab Sean sambil duduk diantara mereka. "Duduk sini Beb." Sean menyuruh Rain duduk disebelahnya.
Rain pura pura senyum didepan semua orang walau sebenarnya hatinya dongkol.
"Gue disuapin bini, lo lo pada gak usah iri." pamer Sean.
Dino, Leo dan Brian saling menatap sambil menyebik.
"Dasar manja," ejek Dino.
"Manja sama bini gak papa kali. Ak beb." Sean membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Rain. Untuk menjaga imej, Rain terpaksa menuruti semua tingkah gila Sean.
"Kalau mau mesra mersaan jangan disini we. Jiwa jomblo gue meronta ronta," ucap Brian.
"Sok sok an lo, mentang mentang punya bini." Seloroh Leo.
"Makanya cepetan halalin tuh cewek lo. Biar bisa enak enak tiap hari kayak gue." Sean menunjuk dagu ke arah Zalfa yang sejak tadi hanya diam.
Rain ingin sekali menoyor mulut Sean yang suka bicara ngasal itu.
"Gue kasihan sama lo Rain. Lo pasti kewalahan ngadepin suami super mesum kayak dia." Brian geleng geleng kepala.
"Justru suami kayak gue ini nagihin tau. Iya kan beb?" Sean mengerlingkan satu matanya kearah Rain.
"Idih bikin nagihin? yang iya Rain geleng geleng kepala ngadepin fantasi liar lo. Orang mesum kayak lo, dimana aja jadi. Gue rasa didapurpun kalau lagi pengen lo garap juga." Dino kalau ngomong emang seenak jidatnya.
"Emangnya gue bapak lo, yang suka ngegarap emak lo didapur?" sindir Sean sambil menyeringai. "Gue mah gak level kalau gak ada kasur yang empuk."
Brian dan Leo sontak langsung menatap Dino.
"Ngapain liatin gue kayak gitu?" Dino jadi salting.
"Beneran, bapak lo suka ngegarap mak lo didapur? Hahaha...makanya muka lo kayak penggorengan. Bikinnya didapur sih." Sahut Brian. Ketiga pria itu kompak menertawakan Dino.
Zalfa menunduk mendengar obrolan mereka yang fulgar. Dia merasa malu sendiri. Dia memang tak pernah ikut kumpul sebelumnya.
"Udah ah, cewek gue malu nih denger kalian ngomong kayak gitu." Leo menyadari jika Zalfa sedikit tidak nyaman.
"Sory, lupa kalau ada cewek lo," ucap Sean.
Rain mengambil tissu saat melihat kuah soto mengenai dagu Sean. Dengan perlahan dia membersihkan dagu dan bibir Sean. Sean sampai dibuat speechless dengan kelakuan Rain.
Tak hanya Sean, ternyata Leo, Dino dan Brian juga memperhatikannya.
__ADS_1
"Astaga.... gue gak nyangka kalau ternyata elo bucin juga Rain? Gue pikir cuma Sean doang yang bucin sama lo."
Sean langsung memelototi Dino yang bicara seperti itu. Hal itu sama saja membuka kartunya. Padahal Sean berusaha keras agar Rain tak menyadari kalau dia menyukainya. Apalagi kalau sampai Rain tahu dia bucin, mau ditaruh mana mukanya.
"Jangan dengerin dia beb." Sean berusaha bersikap tenang. Dan Rain hanya menanggapi dengan senyuman.
Setelah makanannya habis, Rain dan Zalfa kebelakang untuk membantu mencuci piring.
"Kamu sudah lama nikah sama Kak Sean?" tanya Zalfa.
"Baru aja, belum ada sebulan."
"Masih pengantin baru, pantesan mesra banget." Rain hanya tersenyum menanggapi ucapan Zalfa.
"Kamu kapan nikah sama Leo?" Rain ingin mengalihkan topik pembicaraan.
"Gak tahu." Jawab Zalfa sambil mengedikkan bahunya.
"Emang belum ada rencana kesana?"
"Kak Leo udah ngajak nikah sih, tapi aku masih ragu. Apalagi kalau melihat kebiasaan Leo saat ngumpul bareng teman temannya. Aku tidak suka. Maaf ya Rain, bukan berarti aku gak suka sama suami kamu."
Rain paham apa yang dirasakan Zalfa. Dia sendiri sebenarnya juga tak suka dengan pergaulan Sean.
"Aku ngerti kok. Tapi seseorang itu bisa berubah Zal. Bisa saja kan Leo berubah setelah kalian menikah?"
Ketakutan itu juga yang dirasakan Rain. Rain ingin mencoba untuk menjadi istri yang seutuhnya. Tapi dia tak yakin jika melihat sisi kelam Sean. Dia tak yakin Sean akan sungguh sungguh membina rumah tangga dengannya. Apalagi melihat pernikahannya yang mendadak tanpa rencana tanpa cinta.
Rain takut jika dia sudah memberikan semuanya pada Sean, tapi pria itu justru meninggalkannya.
"Kalian kenapa repot repot, biar ibu saja yang nyuci. Ntar tangan kalian kasar." Ucap Bu Seruni yang baru masuk dapur.
"Gak papa Bu. Dirumah, Rain juga nyuci piring setiap hari."
"Masak istrinya bos nyuci piring?" Goda Bu Seruni.
"Istrinya bos kan juga manusia bu, gak ada salahnya kan nyuci piring." Timpal Rain sambil menyeringai kecil.
"Masyaallah, beruntung sekali Sean dapat istri seperti kamu. Udah cantik, baik, gak gengsian."
...******...
Rain memikirkan perkataan Zalfa sepanjang perjalanan pulang. Ingin merubah Sean, sudah pasti menjadi keinginan utamanya. Tapi sekali lagi dia tak percaya diri. Dia serasa ingin menyerah sebelum berjuang.
"Kamu kok diem aja sih dari tadi?" Tanya Sean sambil melirik ke arah Rain. "Lagi mikirin apa?"
"Lagi mikirin kamu."
__ADS_1
Sean melongo mendengar penuturan Rain. "Rain mikirin gue saat gue ada disebelahnya. Apa sudah sebucin itu dia sama gue," batin Sean sambil senyum senyum.
"Jangan GR dulu." Rain bisa melihat Sean yang ke ge er an itu. "Aku mikirin, apa benar kamu bucin sama aku?"
Tuh kan bener, gara gara Dinosaurus nih Rain jadi mikir kayak gitu. Kalau ketahuan bisa bisa Rain besar kepala, gumam Sean dalam hati.
"Ya enggak lah. Masak seorang Sean bucin. Yang ada dia dibucinin cewek cewek."
"Tapi gue inget inget, lo selalu marah deh kalau ada cowok yang deket sama aku. Kayak Gaza, Arya, terus.. tuh copet dipasar. Kamu ngamuk ngamuk pas copet gak sengaja nabrak aku."
"Gak usah nebak nebak gitu. Gue marah bukan karena bucin, tapi untuk menjaga harga diri gue sebagai suami. Kalau gue ngebiarin lo deket sama cowok lain, semua orang pasti ngeremehin gue."
Bener juga sih, batin Rain sambil manggut manggut.
"Tapi lo juga ngajar Dino habis habisan waktu dia mau ngelecehin gue."
"Ya iyalah, masak gue belum ngincipin bini gue. Dino udah ngeduluin."
"Jadi kalau udah Lo incipin. Gue mau diapain aja gak masalah gitu?" Rain tak terima dengan ucapan Sean.
"Ya gak gitu juga maksud gue Rain."
"Terus gimana maksud lo?"
Astaga.... gue salah ngomong, Sean kelabakan mencari kata kata yang tepat.
"Ya pokoknya selama lo jadi istri gue, gue gak mau lo disentuh pria lain."
Rain memutar bola matanya jengah.
"Turunin gue didepan mall."
"Mau belanja? gue temenin ya?"
"Gak usah, gue mau sendiri. Lo langsung aja pulang."
Rain turun di depan mall yang ada dibagian bawah apartemen. Sedangkan Sean segera menuju basement untuk memarkirkan mobilnya.
Rain yang sedang kesal ingin senang senang dengan menghabiskan uang 2M dari Sean kemarin. Dia ingin sekali kali belanja barang mewah kayak sosialita.
Dia masuk kedalam toko tas branded dan melihat lihat kalau aja ada yang minat. Tapi sebelum dia ingin benar benar membeli, dia ingin memastikan dulu saldo rekeningnya.
Tapi diluar dugaannya. Rain melongo sambil menggosok gosok matanya berkali kali saat melihat saldo di mesin atm. Dia berulang kali menghitung jumlah nol dibelakang angka 2.
Dia seakan tak percaya jika dirinya sudah kena prank. Bukannya 2M, ternyata isi saldo kartu debit itu hanya 20 juta.
"Sean.... awas kau." Rain mengepalkan kedua tangganya. Dia segera kembali keapartemen untuk bikin perhitungan dengan Sean.
__ADS_1