
Salma cemas, berkali kali dia mengetuk pintu kamar Gaza tapi tak ada sahutan sama sekali.
"Gimana ini Pah? Gaza tak keluar kamar dari tadi." Adunya pada sang suami.
"Biarin aja mah, mungkin dia lagi butuh sendiri. Nanti kalau dia mau keluar pasti keluar." Jawab ayah Gaza dengan santai.
"Kamu itu kok gak peduli sama anak sih Pah? Anak sejak pagi ngurung diri dikamar gak makan gak apa kok kamu cuek. Kamu gak khawatir apa sama dia?" Salma marah marah pada suaminya yang dianggap terlalu santai.
"Gaza bukan anak kecil lagi mah. Dia tahu apa yang dia lakukan. Kenapa sih mama lebay gini. Hidup diluar negeri sendirian aja Gaza bisa. Masa cuma ngurung diri dikamar seharian kamu sepanik ini sih. Kalau lapar dia pasti keluar."
"Tapi ini sudah malam Pah, Gaza sejak pagi didalam kamar. Mama takut terjadi apa apa. Mana gak ada suaranya lagi. Gimana kalau Gaza bunuh diri Pah?" Pikiran Salma sudah tak karuan.
"Mulut kamu mah. Kalau ngomong itu hati hati. Kata kata itu doa. Gaza tak selemah itu. Dia itu laki laki. Emang perempuan apa, dikit dikit bunuh diri. Udah gak usah berlebihan gitu. Papa yakin Gaza baik baik saja. Papa kenal gimana anak papa."
Bukannya tenang karena nasehat suaminya, Salma malah kesal. Sepertinya dirumah ini hanya dia yang khawatir tentang Gaza, yang lainnya mah cuek. Salma memang agak lebay kalau berhubungan dengan Gaza. Maklumlah dia anak satu satunya. Walaupun dia mengasuh Ghania dan Gio sejak kecil, tapi mereka tetap hanya keponakan bukan anak kandung.
Daritadi Salma terus kepikiran Rain, dia yakin semua ini ada kaitannya dengan gadis itu. Tapi Salma gengsi ingin menghubungi Rain. Bagaimanpun waktu itu dia yang memaksa Rain memutuskan pertunangannya dengan Gaza.
...*******...
Tok tok tok
Berkali kali Rain mengetuk pintu kamar Gaza. Dia datang kerumah Gaza atas permintaan Salma. Salma yang sudah bingung harus berbuat apa akhirnya menurunkan egonya lalu menghubungi Rain. Dia menyuruh Gio datang menjemput Rain.
"Ga, ini aku Ga, Rain. Buka pintunya Ga."
Ceklek
Rain menghela nafas lega melihat Gaza membuka pintu. Begitu pula dengan Salma. Dia lega akhirnya bisa melihat wajah putra kesayangannya dalam kondisi sehat walau terlihat tak baik baik saja.
Setelah Rain masuk, Gaza kembali mengunci pintu. Dia butuh privasi untuk bicara dengan Rain. Rain memandangi kamar Gaza yang acak acakan. Semua tak pada tempatnya, berserakan dimana mana.
Gaza duduk dilantai bersandarakan kaki ranjang. Wajahnya terlihat kacau. Tapi disini, sebenarnya Rain lah yang lebih kacau. Sejak tadi perasaannya tak tenang. Melihat Gaza seperti ini, Rain makin yakin kalau Gaza tahu sesuatu tentang dirinya dan Sean.
"Bagaimana kamu bisa ada disini?"
"Mama kamu yang nyuruh aku kesini Ga. Dia mencemaskan kamu." Kata Rain yang saat ini duduk disebelah Gaza. "Berkali kali aku hubungin kamu tapi gak bisa. Ponsel kamu gak aktif."
__ADS_1
"Untuk apa kau menghubungiku?"
"Aku mencemaskanmu. Kenapa kau seperti ini Ga? Apa Sean mengatakan sesuatu padamu?"
"Menurutmu?" Gaza menatap Rain yang ada disebelahnya. Tatapannnya sangat tajam, seolah mampu merobek hati Rain untuk mencari tahu isi didalamnya.
"Jadi kau sudah tahu semuanya Ga?" Ucap Rain lirih sambil menunduk. Dia seperti tak punya kekuatan lagi untuk menghadapi Gaza. Dia terlalu malu, terlalu merasa kotor didepan Gaza.
"Jadi semuanya benar Rain?" Gaza mencengkeram pundak Rain dengan kuat. "Katakan?" bentak Gaza dengan sangat kuat hingga membuat telinga Rain berdegung.
Rain mengangguk pelan sambil menitikkan air mata. Mungkin sudah saatnya aibnya terbongkar. Rain pasrah, sebaik baik kita menyembunyikan bangkai, baunya akan tercium juga.
"Aaarrghh... " Gaza melepaskan cengkeramannya pada Rain lalu melampiaskan kemarahannya dengan memukul lantai dengan sekeras kerasanya. Tanganya berdarah, tapi tak seberapa sakitnya dibanding hatinya yang hancur saat ini. Dia masih berharap jika semua ini tidak benar. Tapi melihat Rain mengangguk, harapannya hilang.
"Maaf Ga." Ucap Rain sambil terisak.
"Kenapa kau melakukan ini Rain, kenapa?" Ucap Gaza lirih, dia berusaha menahan agar tak menangis didepan Rain.
"Aku terpaksa Ga, aku butuh uang."
"Uang? jadi uang masalahnya? Kenapa kau tak minta padaku. Aku memang tak punya uang sebanyak itu Rain. Tapi aku bisa mengusahakannya."
"Jadi menurutmu lebih baik menjual diri daripada meminta bantuan padaku?" Serendah itukah dirimu Rain? sependek itukah jalan pikiranmu?"
Mungkin inilah perkataan Gaza yang paling kasar selama menjalin hubungan dengan Rain. Gaza tak bisa lagi menyembunyikan kekecewaannya.
"Ayahmu mati matian menjaga kehormatanmu, tapi kau malah menjualnya. Dimana hati nuranimu? Aku kecewa padamu."
"Maaf Ga." Rain menggemgam tangan Gaza tapi pria itu menghempaskannya dengan kasar.
"Aku sangat mencintaimu Rain. Bagiku tak masalah jika kau sudah tidak virgin. Saat kau bilang diperkosa, sedikitpun rasa cinta padamu tak berkurang. Aku justru merasa bersalah karena tak bisa menjagamu. Tapi ternyata kau bohong. Kau tidak diperkosa, kau menjual keperawananmu." Dada Gaza seperti ditusuk tusuk saat mengatakan itu, sakit sekali rasanya.
Apalagi orang yang membelinya adalah Sean. Kalau saja orang lain yang tidak dia kenal, mungkin tak akan sesakit ini.
"Maaf karena sudah membohongimu. Aku terlalu takut untuk jujur. Aku jadi pengecut karena takut kehilanganmu."
"Apa sampai sekarang apa kau masih melakukan pekerjaan itu?"
__ADS_1
"Sumpah demi Tuhan aku tak melakukan itu lagi Ga. Aku memang pernah melakukan itu, tapi hanya sekali."
"Aku tak tahu harus percaya padamu atau tidak. Kau sudah merusak kepercayaanku. Kau bahkan bisa mengarang suatu kebohongan besar. Kau bukan lagi Rain yang dulu. Aku seperti tak mengenalimu sekarang."
Mendapatkan kepercayaan memang tidak sulit, yang sulit adalah mempertahankan kepercayaan.
Sekali kita ketahuan berbohong, saat bicara jujurpun orang masih akan menganggap berbohong.
Begitu pula dengan Rain, karena menciptakan kebohongan besar dengan berpura pura diperkosa. Saat dia berkata jujurpun, Gaza susah untuk percaya.
"Kau tahu Rain, dulu aku sangat bangga padamu. Kau gadis yang pemberani, jujur dan mengetahui batasan. Aku merasa sangat beruntung karena bisa memilikimu.Tapi kau sudah berubah sekarang. Aku kecewa padamu Rain, kau menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang."
"Aku terpaksa Ga. Saat itu aku sendiri, tak ada siapapun yang bisa aku ajak bertukar pikiran. Aku menemui jalan buntu. Aku bingung Ga." Ucap Rain sambil terisak.
"Kau punya aku Rain, aku tak pernah meninggalkanmu. Tapi kau yang memilih meninggalkanku. Kau yang bersikeras memutuskan pertunangan kita. Keputusanmulah yang membuatku seperti sendirian."
Aku juga tak ingin meninggalkanmu. Kalau saja kau tahu, aku sangat membutuhkanmu saat itu. Tapi aku tak ingin egois. Aku tak ingin menghancurkan nama baik keluargamu dengan memaksakan diri tetap bersamamu. Aku sudah menganggap tante Salma seperti ibuku sendiri, dan saat dia memohon padaku, mana mungkin aku tak mengabulkan permohonannya, batin Rain.
Dia tak mungkin berkata seperti itu. Dia tak ingin seolah olah menyalahkan Salma atas putusnya pertunangan mereka.
"Dan yang membuatku tak habis pikir,.kau masih bersama Sean setelah melakukan semua itu. Tak adakah perasaan tak nyaman dihatimu. Ataukah kau memang menyukainya?"
"Tidak Ga, itu tidak benar. Hubunganku dengan Sean murni pekerjaan. Aku bahkan tak tahu kalau itu perusahaannya saat aku melamar kerja disana."
"Dan kau tetap melanjutkan bekerja disana saat mengetahuinya. Kau sepertinya sangat nyaman bersama Sean. Aku memang tak sekaya dia Rain. Aku tak bisa memberimu banyak uang seperti Sean yang memberimu 1M hanya dengan sekali tidur dengannya."
Sakit sekali hati Rain mendengar ucapan Gaza. Dia merasa sangat hina dan kotor. Sesaat dia merasa jika dirinya memang tak pantas untuk Gaza.
"Lebih baik kau pulang Rain. Aku ingin sendiri."
"Tapi Ga." Rain tak ingin pulang sebelum bisa memperbaiki hubungannya dengan Gaza.
"Aku mohon, aku ingin sendiri saat ini."
"Baiklah Ga, aku akan pergi. Jangan terus mengurung diri dikamar. Mamamu snagat cemas."
.
__ADS_1
**Jangan lupa like, komen dan vote.
Terimakasih atas dukungannya**.