
Sean begitu senang mengetahui Rain hamil. Dia merasa bersalah sudah tak pulang dua hari. Dan untuk menebus kesalahannya, dia mengorbankan meetingnya bersama klien dan lebih memilih pulang. Dia menyuruh Danu untuk menggantikannya.
"Hai ganteng." Sean menyapa Del yang sedang duduk menonton tv sambil disuapi oleh Bi Ratih.
"Papa kok sudah pulang?"
"Papa kangen sama kamu, makanya papa buru buru pulang." Jawab Sean sambil mencubit gemas pipi Delmar.
"Papa kok bawa bunga?"
"Buat mama, sayang."
"Ish, katanya kangen Del, tapi yang dibawain oleh oleh mama. Gimana sih papa ini?" Protes Del sambil melipat kedua tangannya di dada dan memasang wajah cemberut.
Sean memang sengaja mampir toko bunga saat pulang dari kantor. Dia ingin membujuk Rain yang marah, makanya tak mau datang dengan tangan kosong.
"Jangan cemberut gitu." Sean menarik pipi Del agar tersenyum.
"Mau cembelut aja, gak dibeliin oleh oleh pulang kelja." Del makin mengembungkan pipinya.
"Emangnya Del mau apa?"
"Mainan."
"Nih pilih mainan diponsel papa." Sean mengeluarkan ponselnya dan membuka market place agar Delmar bisa memilih mainan yang dia mau. "Masak anak sultan ngambek cuma gara gara minta mainan, gak keren ah." Ledek Sean sambil mengacak gemas rambut Delmar.
Delmar dengan semangat memilih mainan di aplikasi belanja online. Wajah cemberutnya langsung hilang dan berganti dengan senyuman lebar.
"Del beli banyak ya Pah, kan anak sultan?"
"Terserah kamu. Mama mana?"
"Dikamal pa nangis." Jawab Del sambil tetap fokus pada layar ponsel.
"Nangis?" Sean mengerutkan keningnya.
"Iya pa nangis. Mama cengeng, masak kangen papa aja nangis nangis, lebay." Ucap Del sambil menyebikkan bibirnya. Sejak perjalanan pulang dari kantor, Rain udah Nangis. Dan saat Delmar bertanya kenapa, Rain beralasan jika dia kangen papa.
"His, gak boleh ngomongin mamanya gitu ah. Ya udah papa nyamperin mama dulu biar ilang kangennya, biar gak nangis lagi." Sean segera naik ke kamarnya.
Sean membuka pelan pintu kamarnya dan melihat Rain tengah meringkuk diatas ranjang. Bahunya terlihat naik turun, sepertinya dia memang sedang menangis seperti yang dikatakan Delmar.
"Hai beb, ini aku belikan bunga." Ucap Sean sambil duduk ditepi ranjang dan menunjukkan buke bunga mawar kepada Rain.
Rain sama sekali tak berminat menerima bunga itu. Dia bahkan langsung perpaling memunggungi Sean.
"Maafin aku." Ucap Sean sambil membelai rambut panjang Rain.
"Ngapain kamu pulang? Mau ambil baju? atau ambil apa?" Ketus Rain sambil menyingkirkan tangan Sean dari kepalanya.
"Aku kangen kamu."
"Halah bohong banget."
"Kok bohong sih, benaran tauk."
"Kalau kamu kangen aku, gak mungkin ninggalin aku."
"Siapa sih yang ninggalin kamu? nih buktinya aku pulang."
"Tapi kamu udah dua hari ninggalin aku. Kamu gak pulang Sean. Aku gak suka digituin." Bentak Rain sambil terisak.
__ADS_1
"Maaf, aku Bener Bener minta maaf. Aku gak pulang karena aku lagi emosi sama kamu. Aku gak mau keceplosan ngomong kasar atau sampai berlaku kasar sama kamu. Aku pergi cuma mau meredakan emosi doang. Gak ada niatan buat ninggalin kamu. Sumpah beb."
Sean naik keatas ranjang lalu memeluk Rain dari belakang.
"Aku sayang banget sama kamu, gak mungkin aku ninggalin kamu." Sean makin mempererat pelukannya dan menciumi kepala serta bahu Rain. Dia sangat merindukan istrinya. "Aku kangen kamu beb, kangen banget."
"Tidur dimana kamu dua hari? Ditempat Kak Brian gak ada, ditempat kak Dino juga gak ada?"
"Aku tidur dihotel."
Mendengar kata Hotel seketika membuat Rain meradang lagi. Dia sudah memikirkan hal yang tidak tidak. Rain melepaskan pelukan Sean lalu mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk.
"Tidur sama siapa kamu dihotel?" Rain menatap Sean penuh selidik. Sean yang merasa diperhatikan langsung ikut duduk disebelah Rain.
"Tidur sendirian beb. Jangan mikir yang aneh aneh deh."
Rain yang tak percaya langsung menciumi tubuh Sean. "Tuh kan bau kamu lain, parfum siapa yang menempel ditubuh kamu?"
Sean menghela nafas lalu berjalan menuju meja kerjanya yang ada disudut kamar. Sean mengambil parfum yang ada didalam tas kerjanya.
"Nih cium, aku baru beli." Sean menyodorkan parfum barunya pada Rain. "Aku kan gak pulang, jadi beli parfum baru. Ya kali aku ngantor gak pakai parfum. Gak pede aku."
Rain mencium bau parfum itu, dan benar saja, baunya persis dengan yang ada dibaju Sean.
"Ya iyalah gak pede, orang dikantor ada yang bening." sindir Rain dengan muka cemberut.
"Gak gitu juga kali beb."
"Terus gimana? aku udah pernah bilang, aku gak mau kamu punya sekretaris perempuan. Tapi nyatanya?" Rain tersenyum miring. Rasanya seperti sedang dibodoh bodohi oleh Sean.
"Aku sedang cari ganti beb. Kalau udah ada gantinya dia aku mutasi ke bagian lain."
"Kamu gak bisa dipercaya lagi Sean. Kamu udah janji bakal pakai sekretaris laki laki. Tapi kamu udah ngelanggar janji."
Sean meletakkan kedua telapak tangannya dipipi Rain sambil menatap dalam kedua matanya. "Kita udah 5 tahun menikah, apa selama ini aku pernah menghianati kepercayaan kamu? Kamu dan Del segalanya buat aku beb."
Rain bisa melihat kesungguhana dimata Sean. Selama ini Sean memang tak pernah mengkhianati kepercayaannya.
"Lain kali jangan seperti ini lagi. Kalau ada masalah, kita bicarakan baik baik. Kalau sampai kamu gak pulang lagi tanpa kabar. Aku juga bakal pergi dari rumah ini."
"Maaf, aku janji gak bakal kayak gini lagi. Kamu juga janji jangan deket deket Gaza. Aku paling gak bisa ngeliat kamu deket Gaza. Aku cemburu beb. Aku insecure kalau kalau dibandingin ama Gaza."
"Iya maaf, semua itu diluar kendaliku."
Sean menghapus air mata Rain lalu menempelkan dahinya pada dahi Rain. "I love you beb, I love you so bad."
Rain memejamkan matanya, dia bisa merasakan hangatnya nafas Sean dari jarak sedekat itu. Tak bisa dipungkiri, jika dia sangat merindukan Sean 2 hari ini.
Perlahan Sean mulai menyapukan bibirnya pada bibir Rain. ******* dan menghisap dengan lembut bibir yang dua hari ini dia rindukan.
Sean makin memperdalam ciumannya saat merasakan tangan Rain yang mulai meraba dadanya. Nafasnya kian memburu tatkala Rain mulai melepas kancing kemejanya.
"Udah gak sabar beb?" Tanya Sean dengan seringai kecil saat pagutan bibir mereka terlepas.
"Kamu cepetan mandi gih, aku gak tahan nyium parfum kamu. Perutku mual Sean." Rain melanjutkan membuka kemeja Sean hingga semua kancing bajunya terlepas. Lalu perlahan mendorong tubuh Sean agar turun dari ranjang.
Sean membuang nafas perlahan. "Udah keburu on yang dibawah beb, kamu sih mancing mancing." Sean meletakkan tangan Rain di bagian bawahnya yang terasa sesak. "Satu ronde dulu ya, habis itu aku mandi." Pintanya sambil memelas.
"Tapi aku gak tahan nyium parfum kamu, mual." Rain menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangannya.
"Anak papa gak suka ya baunya?" Sean mengelus perut Rain lalu menciumnya beberapa kali hingga membuat Rain kegelian.
__ADS_1
"Geli Sean." Rain berusaha mendorong kepala Sean yang ada diperutnya.
"Kamu makin cantik kalau lagi cemburu." Sean membelai pipi Rain yang terlihat mulai memerah itu. "Apalagi hamil, makin seksi, makin bikin aku gak bisa tahan." goda Sean.
Sean beranjak menuju meja rias sambil melepaskan kemejanya. Dia mengambil parfum lamanya dan menyemprot seluruh tubuhnya.
"Udah enak nih beb baunya." Sean mengendus endus baunya sendiri. Rain seketika tersenyum malu malu melihat Sean.
"Mau kemana?" Rain melihat Sean yang berjalan menuju pintu.
"Udah gak tahan ya?" ledek Sean sambil menyeringai kecil. "Ngunci pintu bentar beb, dibawah ada Del. Bisa gawat kalau dia tiba tiba masuk dan mergokin kita. Anak kamu itu kan paling kritis kalau ngeliat sesuatu yang aneh dikit. Bisa nanya dari A sampai Z kalau ngeliat mama papanya kuda kudaan." Sean melanjutkan langkahnya menuju pintu.
BRAKK
"Papa."
Sean sampai mengelus dada saking terkejutnya mendengar suara pintu dibanting. Dan siapa lagi yang bikin jantungan seperti itu kalau bukan Delmar.
Gagal deh mau enak enak, batin Sean sambil menggaruk tengkuknya.
"Baru aja diomongin udah muncul dianya." Lirih Rain sambil cekikikan.
"Mainannya uda aku masukin kelanjang semua. Buluan bayalin bial cepet diantal ke rumah." Rengek Del sambil memberikan ponselnya kepada Sean.
Sean membulatkan matanya melihat 20 lebih mainan dikeranjang belanjaannya.
"Banyak banget Del, kamu mau jualan?"
"His papa, katanya banyak gak papa. Kan anak sultan."
"Memangnya dia minta mainan berapa?" Tanya Rain sambil berjalan kearah mereka berdua.
"26."
"What!" pekik Rain. Dia langsung merebut ponsel itu dan melihat nominal yang fantastis disana.
"Enggak boleh, pokoknya gak boleh beli sebanyak ini. Beli dua aja, lagian mainan kamu udah banyak banget Del." Omel Rain. Jiwa emak emaknya mulai muncul kalau berhubungan dengan uang.
"Mama gak selu, mama tuh cocok sama Om yang kemalin, sama sama gak kelen." Del menghentak hentakan kakinya dilantai karena kesal.
"Om siapa?" Sean penasaran.
"Om Ga----"
"Ya, udah gapapa beli semua. Mama yang bayarin, sini ponselnya." Rain buru buru memotong kata kata Delmar. Dia mengambil ponsel ditangan Sean dan ingin segera membayarnya.
"Kemarin kamu ketemu Om siapa Del? Om Alan?" Sean masih penasaran. Apalagi melihat sikap Rain yang tiba tiba aneh makin membuatnya ingin tahu.
"Del, ini mau yang warna apa?" Rain menarik tangan Del agar mendekat padanya.
"Yang bilu ma."
"Oh, yang ini ya." Rain berusaha membuat Del lupa. "Mama udah bayar semua nih, udah sana Del main sama Bi Ratih."
"Makasih mama." Del langsung mencium pipi mamanya sambil jingkrak jingkrak.
"Mama kelen, cocok baget jadi mamanya Del. Yang gak kelen itu Om Gaza."
Deg
Jantung Rain terasa berhenti gara gara Delmar menyebut nama Gaza.
__ADS_1
"Om Gaza?" Sean langsung melotot dan menatap tajam ke arah Rain.