
Sudah 4 hari Rain berada dirumah sakit terhitung sejak pendarahan. Dan hari ini dia memaksa pulang karena sudah merasa sehat.
Sean mengemasi semua barang barangnya dan Rain. Dia meneliti semua agar tak sampai ada yang ketinggalan dirumah sakit.
"Sayang, kita jenguk ayah ya besok?" rengek Rain. Dia ingin sekali meminta maaf pada ayahnya.
"Jangan besok, minggu depan apa sampai kondisi kamu benar benar sehat." Sean sengaja tak mau mengajak Rain kesana karena tak ingin Rain kembali tertekan jika nanti sambutan ayahnya tak sesuai ekspektasi Rain.
"Tapi aku gak bisa tenang Sean, aku harus segera meminta maaf pada ayah." Ucap Rain dengan wajah cemas.
"Tenanglah, hari ini Maya bertemu ayah. Aku yakin dia bakal ngejelasin semuanya. Udah gak usah terlalu dipikirin. Semua orang tua pasti menyayangi anaknya. Apapun kesalahan anak, cepat atau lambat pasti dimaafkan." Bujuk Sean sambil membelai kepala Rain sambil sesekali mencium pucuk kepalanya.
"Kamu ke depannya mau naik kursi roda apa aku gendong?" tawar Sean.
"Aku bisa jalan, gak butuh keduanya."
"Nggak boleh jalan, ntar kamu capek atau pusing gimana? rumah sakit ini besar, jarak dari sini ke lobi jauh."
"Gak usah lebay deh, aku bisa jalan kok." Rain lagi lagi menolak.
"Ish, gak ngehargain banget sih perhatian dari suami."
"Iya, iya, maaf." Rain bergelayut manja dilengan Sean sambil menunjukkan ekspresi puppy eyes agar Sean gak marah. "Aku pakai kursi roda aja."
"Gitu dong, yang nurut sama suami." Sean yang gemas langsung menangkup kedua pipi Rain dan memberikan kecupan singkat dibibirnya.
"Ya udah aku ngambil kursi roda dulu didepan, Ok." Sean membentuk huruf O dengan jarinya lalu meninggalkan ruangan Rain.
Sembari menunggu Sean, Rain mengambil cermin dan memoles sedikit make up diwajahnya agar terlihat lebih segar.
Ceklek.
"Kok cepet banget yang?" Tanya Rain tanpa melihat siapa yang datang. Dia terlalu fokus memoles lipstik di bibirnya.
"Gimana keadaanmu Rain?"
Rain segera mengalihkan tatapannya dari cermin saat mendengar suara seorang wanita.
"Mama, papa." Lirih Rain sambil meletakkan cermin kecilnya lalu menutup kembali lipstiknya.
"Gimana keadaan kamu Rain, udah lebih baikkan? Maaf Papa dan Mama baru bisa jenguk sekarang." Ucap Zainal sambil berjalan ke arah Rain yang sedang duduk di sofa.
"Alhamdulillah Rain baik Pah, silakan duduk."
Untuk sesaat keheningan tercipta. Suasananya menjadi sedikit canggung hingga Zaenal membuka percakapan.
"Mana Sean?"
"Dia mengambil kursi roda. Hari ini Rain udah boleh pulang."
Sejak tadi Vivi memperhatikan pergelangan tangan Rain yang dibalut perban.
__ADS_1
"Maafin mama ya Rain." Ucap Vivi sambil memegang tangan Rain.
"Gak usah minta maaf, mama gak salah kok." Ucap Rain sambil tersenyum untuk mencairkan suasana.
"Maya sudah menjelaskan semuanya sama mama. Maaf karena mama lebih percaya pada omongan Firman."
"Sudahlah ma, Rain ngerti kok kenapa mama ngelakuin itu. Semua itu karena mama sayang sama Sean kan? makanya mama ingin yang terbaik untuk Sean."
Vivi mengangguk lalu memegang perut Rain. "Maaf, karena mama kalian kehilangan calon anak kalian."
Seketika Rain kembali ingat kesedihannya. Air matanya mulai mengalir kembali.
"Kamu kenapa beb?" Sean yang baru masuk terkejut mendapati Rain yang sedang menangis.
"Mama apain istri Sean? Belum cukup mama nyakitin Rain?"
"Mama gak ngapa ngapain Sean. Mama kesini hanya untuk menjenguk Rain." Sanggah Vivi.
"Kalau gak ngapa ngapain kenapa Rain nangis?" Sean tak bisa percaya begitu saja.
Rain memegang tangan Sean lalu menggelengkan kepalanya.
"Mama gak ngapa ngapain aku kok." Terang Rain sambil menghapus air matanya dan berusaha untuk tidak menangis lagi.
"Terus kenapa kamu nangis?"
"Aku cuma teringat calon anak kita."
Sean bernafas lega, setidaknya mamanya tak bikin masalah lagi kali ini.
"Kedatangan mama dan papa kesini untuk minta maaf Sean. Dan kalau kalian mau, kami ingin mengajak kalian tinggal bersama." Zainal mengungkapkan keinginannya. Tadi malam dia sudah berunding dengan Vivi, mereka berdua sepakat mengajak Sean dan Rain tinggal bersama.
"Maaf Pah, seperti tidak untuk saat ini. Sean dan Rain ingin mandiri dulu. Lagipula, Sean ingin resign dari perusahaan." Ucapan Sean itu sontak membuat kedua orang tuanya menatap tak percaya. Sean adalah pewaris perusahaan tersebut, bagaimana mungkin dia resign.
"Resign? Papa tak paham?"
"Papa sudah sehat, Sean ingin mengembalikan perusahaan pada papa. Sean ingin membuka usaha sendiri bersama Rain. Kami juga akan pindah rumah. Kami akan memulai kehidupan yang baru mulai dari nol."
flashback
"Rain, apakah kamu bakal ninggalin aku jika aku nggak kaya lagi?" Tanya Sean setelah mereka merayakan ulang tahun Sean secara apa adanya malam itu.
Rain mengerutkan dahinya. Dia tak mengerti kenapa Sean tiba tiba menanyakan hal seperti itu.
"Tentu saja aku akan meninggalkanmu, aku benci hidup miskin." Rain mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap.
"Ish, aku tanya serius." Sean menarik bibir Rain yang terlihat lucu itu.
"Kenapa tanya seperti itu? Apa perusahaan sedang ada masalah?" Rain berubah ke mode seriusnya.
Sean menggeleng. Perusahaan memang sedang tak ada masalah, bahkan makin berkembang pesat.
__ADS_1
"Lalu?"
"Aku hanya ingin tahu pendapatmu saja?"
Cup
Rain mengecup singkat bibir Sean lalu tersenyum. "Aku akan selalu bersamamu dalam kondisi apapun. Bukankan aku adalah kadomu? Jadi aku milikmu, milikmu saat kau senang maupun susah, saat kau kaya ataupun miskin."
Sean mengulum senyum mendengar penuturan Rain yang sangat melegakan itu. Dia menghujani wajah Rain dengan ciuman lalu memeluk wanita itu makin erat.
"Aku ingin resign dari perusahaan, aku ingin membangun usaha kecil kecilan bersamamu. Mengajakmu tinggal dirumah impianmu dan memulai kembali rumah tangga kita dari nol."
Rain terdiam beberapa saat. Dia masih tak bisa percaya Sean ada niatan seperti itu.
"Apa kau yakin? Aku sudah terbiasa hidup sederhana. Tapi kau? Kau sudah terlahir dari keluarga kaya dan tak pernah hidup susah." Rain sangat tahu Bagaimana kehidupan Sean. Pria itu terbiasa hidup mewah. Hidup sederhana, apakah itu pilihan yang tepat?
"Apa kau ragu padaku?"
"Jujur aku ragu Sean. Aku takut kau tak sanggup. Bukankah masalah ekonomi sering menjadi alasan beberapa pasangan untuk berpisah?"
Sean tersenyum sambil membelai pipi Rain dengan punggung tangannya.
"Aku tak mengajakmu hidup miskin. Lagi pula aku juga tak mau hidup miskin. Maksudku adalah hidup sederhana. Aku ingin kita tinggal dirumah dua lantai dengan halaman yang luas seperti maumu. Aku juga ingin membuka usaha sendiri."
"Tapi apa alasannya tiba tiba kau ingin berubah?"
"Aku hanya sedang lelah Rain. Lelah pada sikap orang tuaku. Sejak dulu, mereka tak pernah mempercayaiku. Bahkan dulu papa pernah menyerahkan jabatan tertinggi perusahaan pada Firman dengan alasan tak percaya dengan kemampuanku yang baru lulus S2 dan belum berpengalaman. Tapi kau tahu sendirikan, Firman justru korupsi hingga perusahaan hampir collabs. Dan disaat seperti itulah papa baru menyuruhku untuk mengambil alih perusahaan."
Sean tersenyum getir mengingat saat itu. Dimana dia diremehkan oleh papanya sendiri.
"Dan sekarang, mereka kembali mengulangi hal yang sama. Mereka lebih percaya Firman daripada aku yang notabene anak kandungnya? Aku kecewa Rain, aku ingin membuktikan pada mereka jika aku mampu hidup tanpa mereka, tanpa uang mereka."
Rain menepuk nepuk pelan dada Sean. Dia bisa melihat kalau Sean sedang tak baik baik saja sekarang.
"Aku janji tak akan membuatmu hidup susah. Hanya saja mungkin hidup kita tak semewah saat ini." Sean menatap lekat lekat kedua manik mata Rain.
"Aku akan mendukung semua keputusanmu Sean. Aku yakin kau sudah memikirkan semua ini dengan matang."
"Terimakasih beb." Sean mengecup lama kening Rain. "Kita buka lembaran baru tanpa bayang bayang masa lalu. Apapun aku dan kamu dimasa lalu, biarlah semua itu hanya menjadi masa lalu. Kita mulai semuanya dengan yang baru. Anggap saja kita baru terlahir kembali."
"Ya, aku setuju, tapi aku harus meminta maaf dulu pada ayahku. Apapun keputusannya nanti, aku akan menerima. Kita harus menyelesaikan masalah masa lalu sebelum membuka lembaran baru. Dan kau juga, minta maaflah pada kedua orang tuamu. Tak peduli siapa yang salah, kita tetap anak mereka dan wajib menghormati mereka."
"Hem... aku setuju. Tapi, sebelum itu, aku ingin mengajakmu liburan, anggap saja honeymoon."
"Kemana?"
"Kemanapun yang kau mau. Kita bisa ke korea, jepang, eropa atau manapun yang kau mau."
Rain memutar kedua bola matanya lalu membuang nafas kasar.
"Katanya mau hidup sederhana dan membuka usaha baru? Jadi kenapa harus buang buang uang buat liburan yang jauh. Gimana kalau kita honeymoon di Indonesia saja. Indonesia juga gak kalah bagus dari luar negeri."
__ADS_1
"Kemana? Bali?" Hanya Bali yang terlintas di kepala Sean.
Rain menggelengkan kepalanya "Aku ingin ke labuan bajo."