
"Ce, panggil kakak kamu. Makan malam sudah siap." Teriak Rain dari dapur rumah mertuanya yang sekarang sudah menjadi miliknya. Sejak papa Sean meninggal 3 tahun yang lalu. Rain sekeluarga pindah ke rumah mertuanya. Dan satu tahun yang lalu, sang mama mertua menyusul suaminya ke pembaringan terakhir karena sakit.
"Siap Ma." Jawab gadis cantik bernama Oceana Kalandra yang biasa dipanggil Cea. Gadis itu tak habis pikir dengan kedua orang tuanya yang memberinya nama yang sangat mirip dengan nama papanya. Bedanya hanya terletak pada huruf A saja. Cea segera naik kelantai dua untuk memanggil kedua kakak tampannya yang sedang asik bermain game.
"Kak dipanggil mamah tu. Makan malam udah siap."
"Nanggung nih lagi asik." Jawab Delmar si kakak sulung yang enggan meninggalkan game nya.
"Udah dulu kak, nanti lanjut lagi. Entar kita kenyang omelan mama kalau gak segera turun." Dylan segera meletakkan stick game nya. Dylan kalandra, anak ke dua Sean dan Rain memang sangat penurut. Sifatnya sangat berbeda dengan kakaknya Delmar kalandra karena berbeda asuhan.
Sejak kelahiran Dylan, Delmar diasuh oleh oma dan opanya. Entah bagaimana cara mengasuhnya, Delmar menjadi anak yang sangat arrogant.
"Yaelah, gak asik lo Dyl. Jadi anak nurut banget." Delmar berdecak kesal saat Dylan mengakhiri gamenya. Karena tak ada lawan, dia terpaksa ikut berhenti.
Ketiga anak remaja itu turun dan langsung menuju meja makan. Disana sudah tampak mama dan papanya yang sedang suap suapan.
"Cie.... romantis banget." Goda Cea sambil menarik kursi tepat disebelah mamanya. Rain hanya tersenyum mendengar ledekan putrinya.
"Kebiasaan gak pernah mau nunggu." Kesal Delmar sambil mengambil duduk didepan mamanya.
"Kelamaan kalian, papa udah lapar."
Ketiga anak itu segera mengambil makan dan melahapnya tanpa banyak bicara.
"Kamu jangan main game terus Del, ingat sebentar lagi kamu ujian akhir." Sean mengingatkan Delmar. Anak itu sudah duduk dikelas XII dan beberapa bulan lagi akan ujian akhir.
"Kok Del doang, Dylan gak?" protes Delmar. Sejak dulu, dia memang selalu iri pada Dylan. Dia menganggap jika kedua orang tuanya membuangnya sejak Dylan lahir. Dia merasa jika orang tuanya hanya sayang pada Dylan, sedang dirinya sama sekali tidak disayang.
"Dylan masih kelas VIII, ujian akhirnya masih tahun depan." Jawab Sean.
******, selalu aja gue yang diomelin. Si Dylan anak kesayangan gak pernah sama sekali. Delmar menggerutu dalam hati sambil memakan makanannya dengan cepat. Dia memang paling malas kumpul keluarga kayak gini. Dia merasa asing ditengah keluarganya sendiri. Padahal keluarganya tak pernah menganggapny seperti itu.
BRAK BRAK BRAK
Ting tong ting tong
BRAK BRAK BRAK
"Siapa sih yang ngedor pintu kayak gitu?" Tanya Rain sambil menatap suaminya. "Bi Lela, bukain pintunya dong."
"Enggeh Nyah."
Bi Lela yang sedang didapur segera keluar untuk membuka pintu.
__ADS_1
"Maaf tuan ada yang nyariin tuan sama nyonya." Ucap Bi Lela.
"Siapa Bi?" Rain mengerutkan keningnya.
"Nggak tahu nyah. Katanya ada perlu sama Tuan, nyonya dan den Delmar."
"Gue." Delmar menunjuk dirinya sendiri.
"Enggeh Den."
Sean segera keluar bersama Rain dan diikuti Delmar dibelakang. Mereka melihat seorang pria paruh baya dengan dua orang wanita yang sepertinya ibu dan anak sedang menangis.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sean. Dia merasa tak mengenal orang orang itu.
"Apa dia yang bernama Delmar?" Seorang pria paruh baya berteriak sambil menujuk Delmar.
Delmar mengerutkan keninganya, dia merasa tak mengenal satupun dari mereka bertiga, tapi kenapa mereka mengetahui namanya.
"Tolong bicara yang sopan saat berada dirumah kami." Rain tak terima pria itu berteriak dirumahnya.
"Sopan?" Pria itu tertawa sinis. "Berani anda bicara tentang kesopanan disaat anda sendiri tak tahu caranya mendidik sopan santun pada anak anda." Maki pria itu.
"Siapa anda berani menghina istri saya seperti itu?" Sean pasang badan saat istrinya dihina.
"Memangnya apa tujuan anda?" Sean mendengus kesal sambil berkacak pinggang. Emosinya naik gara gara kelakuan ornag tak dikenal yang marah marah dirumahnya.
"Kami kemari untuk meminta pertanggungjawaban. Putra anda yang bernama Delmar itu telah menghamili Putri saya." Teriak pria itu sambil melotot dan menunjuk ke arah Delmar.
Deg
Jantung Rain seperti berhenti berdetak mendengarnya. Spontan dia menoleh ke arah Delmar. Begitu juga dengan Sean, dia langsung menatap Delmar.
Delmar hanya geleng geleng saat tatapan semua orang mengarah padanya. Saat Rain dan Sean syok, sebenarnya Delmar lebih syok lagi. Siap yang tidak syok jika tiba tiba seorang gadis mengaku jika hamil anaknya.
"Bohong Pah, Mah. Del tak mengenal perempuan itu." Del menunjuk seorang gadis ya yg sejak tadi menangis dipelukan ibunya.
Del merasa tuduhan ini sangat tak berdasar. Menghamili? mana mungkin? kenal saja tidak. Bahkan Del merasa tak pernah melihat gadis itu.
"Siapa lo tiba tiba fitnah gue? gue gak kenal lo?" teriak Delmar sambil berjalan mendekati gadis itu.
Gadis itu hanya menunduk sambil menangis. Tubuhnya makin bergetar saat Delmar mendekatinya.
"Bagus, sudah berbuat tak mau bertanggung jawab." Pria paruh baya itu menarik lengan Del lalu mendorongnya hingga hampir terjatuh.
__ADS_1
"Jangan kasar pada anak saya." Rain yang tak. terima segera memegangi tubuh Del.
"Apa benar tuduhan itu Del?" Sean menatap Del dengan nafas naik turun. Dia butuh kejelasan saat ini.
"Bohong Pah, ini fitnah. Del berani bersumpah jika Del tak mengenal perempuan ini. Jangankan kenal, ketemu saja gak pernah. Mana mungkin dia hamil anak Del. Ini sangat konyol."
"Jadi menurut kamu, anak saya yang berbohong disini?" Pria itu tak terima dengan ucapan Delmar. "Baiklah kalau kamu tak mau bertanggung jawab. Saya akan melaporkan kasus ini kepolisi."
"Laporkan saja, saya tidak takut. Anak saya tidak mengenal putri anda. Jadi susah jelas jika ini hanya fitnah." Sean balik menantang.
Rain merasa ada kejanggalan disini. Dia bisa melihat jika Del berkata jujur. Tapi gadis itu, dia tampak lugu dan bukan seperti gadis jalang.
"Tunggu sebentar, biar saya tanya pada gadis ini." Rain berjalan mendekati seorang gadis yang sejak tadi hanya menangis.
"Siapa nama kamu?" Tanya Rain sambil mengangkat pelan dagu gadis itu.
"A, Akilla tante." Jawab gadis itu dengan terbata sambil terisak.
"Apa benar kamu hamil anak Delmar?" Rain bertanya sambil gemetar. Dia takut mendengar jawaban yang bisa menghancurkan masa depan putranya.
"Be, benar tante." Jawab Akilla sambil mengangguk.
Rain memejamkan matanya. Dadanya terasa sesak. Air mata tak sanggup lagi dia tahan. Sebagai seorang ibu, dia merasa gagal mendidik putranya.
Sebagai seorang wanita yang mempunyai naluri kuat, dia bisa melihat jika gadis itu tidak sedang berbohong.
"Bohong, jangan sembarang bicara. Gue gak kenal lo." Teriak Delmar. Dia bingung harus dengan cara apa membuktikan jika bukan dia ayah dari anak dalam kandungan Akilla.
"Apakah yang kau katakan benar?" Sean menatap tajam ke arah Akilla. Sedangkan yang ditatap hanya menunduk tak berani balik menatap. "Saya bisa saja melakukan tes DNA pada janin dalam kandungan kamu. Jika kamu berbohong, saya pastikan kamu dan keluarga kamu akan membusuk dipenjara." Ancam Sean pada Killa.
"Putri saya tak pernah berbohong. Yang ada, anak kalian yang akan membusuk dipenjara jika tak mau bertanggung jawab." Ayah Killa sama sekali tak gentar. Dia tahu jika putrinya tak mungkin berbohong untuk masalah sebesar ini.
"Apa kau berani melakukan tes DNA?" Rain bertanya dengan lembut. Dia sudah tak ada tenaga untuk berteriak seperti para pria disana.
"Saya berani melakukan tes DNA." lirih Killa diantara isak tangisnya.
Delmar merasa tubuhnya lemas. Dunianya sekan runtuh. Kejutan apa ini? april mop ? rasanya bukan, karena ini bulan januari. Apakah ini konten you tube. Dan dia target pranknya. Entahlah.
.
**Saya ingin membuat cerita tentang pernikahan dini Delmar dan Akilla. Apakah kira kira cerita ini menarik, mohon komennya. Kritik dan saran saya buka lebar lebar.
Terimakasih, tolong sempatkan like dan komen**.
__ADS_1