
Zayn membawa langkahnya memasuki pintu kamarnya, merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang hampir satu minggu ini belum sempat lagi ia tiduri.
Ia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sang ibunda. Entahlah, beberapa hari terakhir ia ingin sekali bermanja-manja di pangkuan sang ibunda.
Layaknya Zayn kecil yang selalu ingin larut dalam buai kasih yang tak pernah surut dari sang ibunda.
Matanya terpejam, napasnya berhembus lembut membuang segala gundah. Angannya kembali menerawang membuka beberapa serpihan hidupnya di masa lalu .
Ia tersenyum kecut hanya dengan mengingatnya, bahkan sekarang lebih terkesan jijik.
Mengingat betapa angkuhnya sosoknya yang dulu. Yang selalu memandang segala sisi hanya dari uang dan ia selalu menganggap perempuan sebagai makhluk keji yang hanya mengandalkan paras mereka untuk mendapatkan segala keinginan mereka.
Tanpa berpikir, berapa banyak kerusakan yang mereka timbulkan atas perlakuan hina mereka.
Hanya karena hatinya, hatinya telah mengeras dan tergores akibat traumanya di masa kecil.
"Haih," eluhnya lirih.
Ia menyugar rambutnya kasar. Pikirannya seolah tak pernah teralihkan dari masalah yang sama.
Ia memilih untuk segera bangkit dari tempat tidurnya kemudian bergerak cepat menuju kamar mandi untuk mendinginkan hati dan juga pikirannya yang selalu tergugah membangkitkan emosi liarnya.
•••••••
Rambut yang basah di sertai dengan aroma wangi menenangkan menguar lembut seiring keluarnya Zayn dari dalam kamar mandi
Balutan handuk sebatas pinggang, dengan bagian dada yang tak tertutup oleh balutan kain itu menampakkan otot-otot kekar yang menonjol di beberapa bagian.
Permukaan yang basah dan lembab di area dada dan juga otot perutnya membuat Zayn terlihat lebih menggoda bagi perempuan yang melihatnya.
Ia termenung diam sembari bersandar di kursi kamarnya.
Menyulut sebatang rokok lalu kemudian mengepulkan asapnya ke udara sembari menikmati suasana senja dari balik jendela kaca apartemennya.
Bersamaan dengan itu, terdengar ketukan suara pintu dari luar kamarnya.
Terdengar suara lembut dari luar sana memanggil namanya beberapa kali .
"Apa?" ucap Zayn dari dalam kamarnya.
"Eng ... apa aku boleh masuk?" tanya Gita yang masih mematung di luar pintu.
"Masuklah!"
__ADS_1
Gita tersenyum tipis lalu kemudian jemarinya bergerak pelan memutar gagang pintu itu hingga terbuka.
Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam, menyusuri lantai berwarna ke abu-abuan itu dengan sedikit gugup.
Baru beberapa langkah ia menapaki ruangan itu namun, langkahnya kembali terhenti . Matanya memejam untuk sesaat, meresapi aroma menenangkan yang menyambut kedatangannya. Indra penciumannya menghirup dalam-dalam aroma wangi yang entah sejak kapan mulai menjadi kesukaannya
Wangi yang menjadi candu baginya, membuat ia tak pernah bosan untuk menghirupnya meski beberapa kali.
"Ada apa?" tanya Zayn sembari menatap Gita yang masih bergeming tempatnya.
Gadis itu masih tak bereaksi.
Gita masih saja terpejam, menikmati segala hal yang ingin ia nikmati dalam angannya.
Zayn berdecak kesal, dan pria itu memilih segera bangkit dan menghampiri sosok Gita.
Lamat-lamat ia pandangi sosok gadis di hadapannya ini. Mata yang terpejam dengan senyum tipis di bibir mungilnya. Bibir dengan rasa manis yang sempat ia cecap satu bulan yang lalu.
Zayn meneguk ludahnya kasar, senyumnya terurai tipis dan wajahnya perlahan mendekat. Berusaha untuk menjangkau sudut bibir gadis mungil ini dan perlahan menyatukannya dalam kecup kecil penuh kelembutan.
Gita membeliakkan matanya seraya meraba bibirnya yang masih terasa basah oleh sesuatu. Jantungnya berdegup kencang saat ia benar-benar yakin bahwa ada sesuatu yang lembut yang mengecup bibirnya.
Sedang kan di hadapannya sudah ada Zayn yang tengah menatapnya dengan sorot mata tajam.
Wajahnya begitu dingin, membuat Gita meragu akan dugaannya bahwa pria ini baru saja menciumnya.
"Ma-makan malam sudah siap,"
ucap Gita sembari memundurkan tubuhnya.
Zayn mengangguk tipis.
ia berbalik dan mengambil sesuatu dari meja nakasnya.
"Kau bisa datang, jika kau sempat," ucapnya seraya mengangsurkan sebuah undangan pada Gita.
Tangannya terulur pelan menyambut pemberian dari Zayn.
Bibirnya berucap lirih membaca lampiran undangan yang ada di tangannya.
"Grand opening cafe idol,"lirihnya.
"Tempat yang sama di mana mamimu pernah bekerja.
__ADS_1
Dan tempat itu telah berubah menjadi sebuah cafe, dan bukan lagi club' malam," jelasnya dengan cepat.
Gita menganggukkan kepalanya perlahan, "aku pasti datang, akan ku usahakan."
Zayn memalingkan wajahnya ke arah lain, memunggungi gadis itu dan kbalinke tempatnya bersantai tadi, "baguslah, dan kalau sudah selesai kau bisa keluar sekarang," titahnya tanpa memalingkan wajahnya.
Gita mengagguk paham, tubuhnya lekas berbalik dan kakinya bergerak cepat keluar dari ruangan itu.
•••••••
Di cafe.
Zayn sengaja datang lebih awal bersamaan dengan Reynand untuk memastikan bahwa semuanya sudah rampung.
Matanya menyelidik ke segala arah dan bibirnya menyunggingkan senyuman tatkala melihat semua dekorasinya sudah berubah, kecuali meja bartender yang masih tertera di tempat semula.
Lampu-lampu menyala terang, wallpaper dinding juga telah berganti dengan warna-warna cerah.
Tak ada lagi kerumunan hidung belang, tak ada lagi suguhan dentam musik yang memekakkan telinga. Hanya ada beberapa alat musik yang hadir di sana, sengaja mereka siapkan untuk para tamu yang hadir.
Barangkali ada satu dari mereka yang bersedia memainkan musik untuk ikut meramaikan suasana cafe.
Semuanya berubah sesuai dengan keinginan ke duanya.
Mereka menyulap tempat laknat itu menjadi tempat kekinian bagi kaum muda milenial yang berkenan menghabiskan waktu mereka disini.
Zayn duduk di atas kursi kayu berhadapan dengan reynand yang masih menatap puas pada suasana cafe baru miliknya.
"Lo suka nggak dek?" tanya Zayn menatap lamat wajah reynand yang nampak bahagia
"Suka lah bang, suka banget malah.
Harusnya dari dulu sih gue bikin usaha beginian," cicitnya lega.
" Jujur gue nyesel sih bang. Gue pernah minta duit lo sampe ratusan juta cuma buat bikin tempat maksiat." Lirihnya tertunduk.
"Abang juga nyesel sih dek, kenapa Abang nggak pernah ingetin itu ke lo."
Tuturnya penuh penyesalan.
"Tapi yaudah lah ya, kalau nggak ada kejadian kemarin kita juga nggak bisa sadar. Dan Alhamdulillahnya, kita masih punya orangtua yabg bisa ngerti dan mau bimbing kita buat jadi orang yang lebih baik," imbuhnya lagi.
"Iya sih bang, gue juga mikir begitu.
__ADS_1
Seenggaknya kita masih punya kesadaran dan ada niat buat berubah jadi orang yang lebih baik. Nggak cuma bisa maksiat dan bikin dosa doang," tutur reynand lagi.
Zayn tersenyum tipis, lalu menepuk bahu adiknya, "tumben pinter dek!" ledeknya yang seketika mendapat umpatan canda dari adiknya.