
Teror Kepemilikan 🔥🔥
Suara rintik gerimis yang turun dari langit, membasahi setiap inci dari permukaan bumi di pertengahan malam. Hawa dingin nan sejuk kian berhembus kencang melalui kaca jendela yang telah terbuka di bagian samping ruang kamarnya. Gita meringkuk kan tubuhnya kembali. Ini masih pukul dua pagi, dan gadis itu harus kembali terjaga dari tidurnya setelah ia mendapati pesan singkat dari nomor yg tak di kenal.
Ia gusar, ketika bibirnya mulai membaca isi dari rangakaian pesan singkat berjumlah puluhan yang terkirim secara bersamaan di ponselnya. Hampir semuanya berisi pesan yg sama, "Kembalikan milik ku!" begitulah isi pesan yang ia baca.
Berawal dari sebuah panggilan asing di sore hari. Suara yang aneh dengan tangisan lirih yang tak kunjung henti, membuat Gita terpaksa segera mengakhiri sambungan telepon misterius itu. Gadis yang biasanya tenang dan juga acuh akan perihal remeh sehubungan dengan teror, mendadak gusar setelah pemilik nomor asing itu terus saja mengirimkan pesan kepadanya. Semua berisi hal serupa, bernada ancaman dan juga intimidasi. "Siapa?" balasnya singkat setelah ratusan pesan berhasil mengusiknya. Namun, hasilnya nihil. Gita tak mendapatkan jawaban apapun dari sang peneror.
"Kembalikan milik ku!" Gita bergumam lirih, mengingat kembali akan sesuatu yang mungkin saja pernah ia pinjam, namun terlupa untuk ia kembalikan. Gita mendengus lirih, upayanya untuk mengingat seolah tak berujung, ia tak mendapati apapun mengenai sebuah barang pinjaman.
"Kembalikan, kembalikan, kembalikan!" Suara serak mengerikan itu membuat Gita bergidik ngeri. Bulu halusnya seketika meremang ketika jemarinya menekan lagi voice note baru yg barusaja masuk. Suara gesekan pisau yang terdengar nyaring itu seketika membuat tubuhnya menegang, di balut oleh ketakutan yang tiada henti. Gadis itu segera beranjak, berlarian menuju kamar sebelah dimana Zayn sedang beristirahat di dalam sana. Tanpa ragu, ia menggedor kasar badan pintu yang masih tertutup rapat di hadapannya itu. Menimbulkan bunyi berisik yang sangat mengusik. "Babe, babe !" teriaknya lantang seraya menangis. Gadis itu sangat pucat dengan tangan yang gemetar menahan ketakutan.
"Hey, ada apa babe?" tanya Zayn yang baru saja membukakan pintu. Ia hanya diam mematung, ketika mendapati sosok Gita yang nampak kalut dengan mata sembab berair tengah berdiri di hadapannya. Gadis itu segera menerjang tubuhnya, mendekap Zayn dengan erat seraya menahan sengguk nya yang tercekat.
"Ada apa?" ucap Zayn perlahan seraya mengusap lembut puncak kepala Gita. Gadis itu bergeming, ia tetap menyembunyikan kepalanya dalam-dalam, sedang jemarinya menggenggam erat ujung piyama yang di kenakan oleh Zayn.
__ADS_1
Zayn menghela napasnya perlahan, sedang jemarinya menangkup di antara ke dua pipi Gita. Netra teduhnya itu menyalurkan ketenangan, menghilangkan gelenyar takut yang semula masih membelenggu pikir kekasihnya. Gita kembali mengerat kan pelukan nya, bibirnya terbuka secelah bersiap untuk menuturkan bait cerita. Sementara Zayn dengan sikap tenang, tetap menutup mulutnya hingga gadisnya itu selesai dengan ceritanya. Ia berusaha menjadi pendengar yang baik sekaligus mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri.
••••••••••
Tiga hari telah berlalu. Sedang Gita menjadi kian terpuruk. Gadis itu enggan untuk berkomunikasi dengan orang luar, sering mengunci diri di dalam kamar dan menghabiskan sebagian waktunya di dalam sana. Selama tiga hari pula, Zayn tak mengijinkan nya untuk memegang ponselnya. Setidaknya hal itu bisa membuatnya sedikit tenang, tanpa gangguan teror.
Berteman dengan sebuah kanvas putih di dalam kamarnya. Gita dengan tatapan mata sendu menggoreskan kuas berlumur cat merah di atas sana. Melukiskan sesuatu yg berkecamuk di dalam pikirannya. Gerak jemarinya perlahan, menghadirkan aneka corak warna berbentuk abstrak. Namun jelas ada pesan yg tersirat di dalamnya. Entah pesan mengenai hal apa, hanya dialah yang mengetahuinya. Sebuah hasil lukis, bergambar satu mata yang memiliki binar cerah dengan bola mata berwarna biru tua. Bulu mata yang lentik, namun terlihat sangat rapuh.
Ada binar tersembunyi di dalamnya, sebuah kesedihan yg tak dapat lagi terbendung. Bulir air mata yang seharusnya berwarna bening, berubah menjadi merah. Sepekat warna darah sebagai ilustrasi kesedihan yang ia alami.
Tok .. tok .. tok ..
Suara ketuk pintu mengalun pelan, membuat gadis itu segera menolehkan pandangannya ke arah pintu yg terkunci rapat. "Siapa?" tanyanya penuh waspada.
"Babe, ini aku," ucap zayn lirih.
__ADS_1
Gita menghela napas lega, ia segera bangkit dan membukakan pintu untuk kekasihnya itu.
Zayn menyunggingkan senyum lelahnya.
Sedang di tangannya membawa sepiring nasi dengan susu hangat yang masih mengepulkan asap putih di atasnya. "Kamu belum makan kan?" tanya Zayn lemah lembut. Pria itu nampak kusam dengan paras sayu dan penampilan yang berantakan. Jelas terlihat ia begitu kepayahan.
Gita menggeleng kan kepalanya perlahan, ia mempersilakan Zayn untuk masuk kedalam kamarnya. Sementara tangannya segera menyambut nampan yang ada di dalam genggaman tangan Zayn.
"Harusnya, kamu nggak perlu repot-repot ngurusin aku sampai begini babe," ucap Gita seraya melepaskan sepatu yang membalut telapak kaki Zayn. Pria itu sempat berjingkat ingin menolak, namun segera ia urungkan ketika tatap mata kekasihnya itu terlihat begitu tulus melakukannya.
"Kamu selalu lupa untuk hal sepele babe. Kalau bukan aku, siapa lagi yang bisa bujuk kamu untuk sekedar makan?" ucap Zayn lirih.
Gadis itu terhenyak untuk sesaat, kemudian kepalanya terangkat hingga bersitatap dengan sosok Zayn yang selalu ada di sampingnya. "Apakah, aku membebani mu Zayn?" pertanyaan itu terucap gamblang syarat akan kebimbangan. Gadis itu masih mendongakkan kepalanya, menatap lekat pada sosok Zayn dengan binar bening yang telah menggenang di bawah matanya.
Zayn bergeming, "Apa kau meragukan ku? untuk hal sepele seperti ini, haruskah aku merasa terbebani?" ucapnya dengan nada sedikit meninggi. Ia mengeratkan pelukannya rapat, mengapit Gita dengan agresif. Tatap matanya tak lagi teduh, ada kekecewaan yang tersirat di dalamnya. Pandangan mata itu sedikit memerah, menyiratkan sebuah sendu yang juga merayapi hatinya. "Jangan pernah meragukan ketulusan ku git. Sungguh, jika seandainya kau tak lagi bisa menopang dirimu sendiri, atau bahkan jika kau hanya bisa menghabiskan waktumu untuk berbaring di atas ranjang di setiap harinya, aku tak akan pernah keberatan ataupun terbebani oleh mu."
__ADS_1
Zayn melepaskan pelukannya, ia mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya ia bangkit dan meninggalkan Gita seorang diri dalam kamarnya.