
Mengutarakan perasaan ❤️❤️
Dering jam weker berbunyi nyaring di atas meja nakas membangunkan Gita yang masih terpejam dan menggulung dirinya di dalam selimut.
Rasa malasnya masih bergelayut manja di sekujur tubuhnya, netranya perlahan kembali terpejam menikmati buai mimpinya yang belum sempat usai.
Suara ketukan pintu yang begitu keras membuatnya kembali terusik dan menggeram kesal.
"Apa sih?" teriaknya marah.
"Woy! sarapannya mana?" ucap Zayn dari balik pintu.
Gita meraih ponselnya matanya membulat sempurna saat jam sudah menunjuk pukul 07.00. pagi.
"Shit! kesiangan kan, gue," umpatnya bergegas bangun dan mengikat rambutnya asal.
Ia pontang panting berlarian ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya cepat dan segera bergegas keluar dari kamarnya.
Ia berlarian kecil menuruni anak tangga hingga sampai ke dapur dan meracik sarapan yang paling simple untuk ia hidangkan di meja makan.
Sesekali ekor matanya bergerak pelan mencuri curi pandang pada pria dingin yang tengah duduk di kursi meja makan.
Kakinya menyilang rapi dan juga kemeja polos yang membalut tubuhnya kian membuatnya terlihat elegan dan nyaman di pandang.
Sorot mata yang tajam terlihat begitu fokus mengamati setiap email yang masuk di layar laptopnya.
"Ekhm, jangan sampai karena terpesona dengan ketampanan ku lalu kau menghidangkan makanan tak layak makan untuk ku, nona. Fokuskan saja matamu pada masakan mu," ucapnya Zayn dingin tanpa menolehkan pandangannya.
Gita mengerjap kaget, bibirnya kembali berdecih dengan suara lirih . "PD banget jadi orang," ucapnya l sembari mengaduk nasi goreng buatannya .
Hatinya mendadak dongkol saat tak mendapatkan kehangatan dari setiap ucapan dari zayn yang di tujukan untuknya.
Tak! Gita meletakkan sepiring nasi goreng ke atas meja.
"Sarapan mu tuan!" ucapnya dengan nada kesal namun senyum keterpaksaan tak luput ikut hadir menghiasi sudut bibirnya.
"Hm!" gumam zayn segera menggeser laptopnya dari hadapannya, lalu menarik pelan sepiring nasi goreng yang tersaji dan menyantapnya perlahan.
Gita masih mematung di tempatnya melihat betapa lahapnya Zayn saat menyantap hidangan buatannya.
Senyumnya perlahan mengembang, hatinya mulai kembali menghangat saat tidak ada kata protes yang terlontar dari mulut pria dingin ini.
Ia senang walaupun ucapan terimakasih tak pernah sekalipun ia dapatkan secara langsung dari mulut Zayn sendiri.
Ia bahagia asalkan bisa melihat sosok pria dingin itu setiap hari bersedia menikmati hasil olahan tangannya dengan begitu lahap dan selalu habis tak bersisa.
"Kau masih di sini?" tanya Zayn yang telah selesai dengan sarapannya.
Gita mengangguk cepat mengiyakan pertanyaan Zayn.
"Duduk!" titahnya seraya menopangkan dagunya di atas kedua tangannya.
Gita membulat kan matanya, bingung, "ada apa lagi nih?" batinnya ragu.
__ADS_1
"Semalem kenapa nggak dateng?" Zayn bertanya seolah mengintrogasi.
"A-aku dateng kok," jawabnya terbata.
"Kapan? kok gue nggak liat?"
"'Ya gimana lu mau liat, orang lu lagi enak-enak sama cewek lain.' Batin Gita dongkol
"Aku dateng. Aku juga liat pas kamu lagi perform di panggung."
"Terus kenapa Lo nggak nyapa kalau Lo tau ada gue?"
'What? nyapa? harus gitu.' cibirnya dalam hati
"Itutu ... aku ..."
"Kenapa?"
Gita menghembuskan napasnya lirih. Ia mendongakkan wajahnya menatap lekat pada bola mata tajam yang juga tengah menatap dirinya.
"Jujur atau bohong?" tanya Gita balik.
"Gue lebih suka orang jujur daripada pendusta," ucap zayn dengan cepat.
"Ya udah, pake Lo gue aja ya biar enak pas gue jelasin," ucap Gita yg juga mendapat anggukan dari lawan bicaranya.
"Jadi semalam gue emang dateng ke sana, cukup lama sih gue stay disana sampai perfom lo selesai."
"Terus kenapa Lo nggak ada nyamperin gue, atau kasih selamat buat usaha baru gue?" potong Zayn di sela penjelasan yang belum terselesaikan.
Sekalian minta tanda tangan karna mendadak gue jadi nge-fans sama Lo.
Tapi gimana gue mau deket atau kasih selamat buat Lo Zayn, kalo Lo-nya lagi asik cuap-cuap sama cewek cantik." jelas Gita menggebu.
Zayn terkikik pelan, "maksut Lo Hanum?"
"Mana gue tau siapa namanya, kenal juga enggak."
"Dia temennya keyra. cantik ya!"
Gita memutar bola matanya jengah, 'bisa nggak sih Lo nggak muji cewek lain di depan gue?' rutuk Gita dalam hati
"Cantik mah relatif kali, Zayn."
"Kenapa Lo jadi jutek gitu," ucap Zayn penuh selidik.
"Lo suka sama dia?" tanya Gita menohok
"Entah, belom tau gue kalo sekarang. Kenapa emang?"
"Lo bisa nggak, misal nggak suka sama cewek lain?" tanyanya serius.
"Lhah kenapa? gue lajang Git."
__ADS_1
"Iya, gue juga lajang kali, Zayn."
Ke duanya sempat terdiam untuk sesaat .
Gita mengendarkan pandangannya menerawang ke sekeliling berusaha menyingkirkan kegugupan yang mulai mendera dirinya.
Jantungnya ikut berdebar kencang saat naluri wanitanya mulai bergolak untuk menuntut sebuah kedilan.
"Gue suka sama Lo," ucapnya lantang.
Yang seketika membuat Zayn bungkam.
"Wait, wait. Maksut Lo?"
"Nggak mungkin Lo nggak ngerti kan? Lo bukan pria polos Zayn." cibir Gita mulai menajamkan pandangannya.
Netra ke duanya masih bertemu bahkan semakin runcing saat Gita tak kunjung juga mendapat jawaban atas pernyataan cintanya.
"Lo dengerin gue ngomong nggak sih Zayn?" ucap Gita yg mulai kesal.
Ia bukan seorang yang suka menunggu apalagi ini menyangkut perasaannya.
"Denger," jawabnya singkat.
Jemarinya kembali menjangkau laptopnya yang tadi sempat tersisih karena perbincangan ini.
Netranya kembali terfokus pada layar yang menyala itu. Membuat Gita menghentak kesal dengan amarahnya yang mulai membuncah di puncak kepalanya
"Terus jawaban lo apa?" buru Gita yang sudah mulai emosi.
Zayn tersenyum tipis, wajahnya kembali mendongak dan beradu pandang dengan Gita yang tengah bermuka masam.
"Jawaban apa sih, git? kayak bocah aja lu," sindirnya acuh.
"Gue serius Zayn," ucapnya lagi.
"Bisa nggak sih, sekali aja lo liat gue dan bukan perempuan lain?"
"I always see you, Git." jawab Zayn datar
"Sebagai apa? temen atau *******?" ucap Gita parau
Zayn mengerjap kaget, "What? *******? gue nggak pernah mandang Lo dari segi itu.
Lagian, lo kenapa sih marah-marah nggak jelas?" tanya Zayn yang juga mulai terpancing emosi.
Gita mengusap bulir hangat yang menetes di pipinya, dadanya terasa bergemuruh saat ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang ia mau.
"Gue kurang apa sih sama Lo Zayn?
Kesucian gue udah Lo ambil, mami gue di penjara . Kenapa sih Lo nggak bisa peka dikit aja soal perasaan gue?" ucapnya kian lirih.
"Jadi mau Lo apa sekarang?"
__ADS_1
"NIKAHIN GUE!"