
Yang Kedua kalinya. 21+
Di bawah sinar bulan purnama, dengan cahaya terang yang menyinari bumi dari gelapnya nuansa malam. Suasana telah sepi seiring selesainya segala prosesi yang amat melelahkan.
Harum aroma kelopak bunga menyeruak menusuk Indra penciuman tatkala kedua mempelai itu baru saja tiba di dalam kamar khusus yang memang di peruntukkan untuk keduanya.
Dekorasi dengan nuansa temaram bersumber dari lilin aroma therapi kian mendramatisir keadaan yang ada.
Gita nampak kikuk ketika ia tanpa sengaja menolehkan kepalanya kearah Zayn. Dalam nuansa gelap itu, ia masih bisa memandangi wajah tampan itu meski melalui cahaya remang. Wajahnya kembali bersemu tatkala ia malah mendapati sosok sang suami yang juga sedang menatapnya dengan penuh kelembutan. Pandangan mereka terpatri untuk beberapa saat. Kedua pasang anak manusia yang baru saja menjadi pasangan resmi itu nampak salah tingkah, kemudian dengan serempak mengalihkan pandangannya ke segala arah.
***
Di depan cermin yang nampak buram, Gita mendudukkan dirinya di depan bangku rias seraya memandangi wajahnya. Ia baru saja selesai menyegarkan diri dan hendak mengeringkan rambutnya yang masih terurai basah.
__ADS_1
Rengkuhan tangan kokoh bergelayut manja di perutnya, menuntutnya untuk tetap diam tatkala Zayn kian mengeratkan rengkuhannya, "Sayang, kamu wangi banget si," pujinya seraya mengenduskan indra penciumannya di area tengkuk sang istri. Aroma semerbak wangi sabun seketika terhirup cepat mengisi rongga-rongga napasnya. Hal itu membuat Zayn kian tak sabar untuk segera melakukan prosesi selanjutnya. Sebuah Prosesi yang akan menjadikan mereka pasangan sempurna di kali kedua ketika mereka melakukannya. Rasa itu telah sejak lama menguasainya, rasa ingin kembali menyatu dan mencecap setiap rasa dari tubuh gita. Ia begitu bergelora, tak dapat lagi menyembunyikan hasratnya. Kini hubungan keduanya telah terjalin sempurna, tanpa takut akan hadirnya dosa ketika mereka kembali melakukannya.
Zayn mengeratkan pelukannya di tubuh Gita, gadis itu hanya terdiam dengan bibir terkatup rapat menahan suara. Dengan lembut pria itu membawa Gita untuk merapat ke area singgasana nya. Membaringkannya perlahan di atas ranjang yang bertabur kelopak bunga.
Susasana begitu romantis, di balut dengan nuansa temaram yang membuat keduanya kian leluasa mengekpresikan emosinya. Terbalut dalam romansa, ke dua insan berlainan jenis itu kian merapat tubuhnya.
Dan Zayn dengan lembut mengiring Gita dalam proses penyatuan. Dengan lembut ia mulai melepaskan simpul tali yang membebat tubuh sang istri, membuatnya toples dengan tubuh polos tanpa sebuah penghalang yang menutupinya, sama seperti dirinya.
Melalui pantulan kaca, Zayn yang telah di balut oleh hasrat bercinta itu dengan lembut menjelajahi setiap inci dari wajah sang istri. Menjejakkan kecupan-kecupan kecil di area wajah sekaligus rahangnya. Gita memejamkan mata, menggigit kecil bibir bawahnya tatkala syahwat mulai menguasai tubuhnya, membuatnya lunglai tak berdaya di bawah kungkungan lengan sang suami. "Sayang, bisakah kamu melakukannya dengan perlahan?" Gita berucap lirih dengan jemarinya yang membelai lembut wajah sang suami.
Desah manja mengalun lembut dari bibir gita, terdengar begitu merdu di telinga Zayn yang masih asik menjelajah tubuh indah milik sang istri. Ia masih belum melakukan proses penyatuan, namun lidahnya masih bersemangat mencecap bagian-bagian terindah yang belum lagi terjamah olehnya.
Bermandikan peluh di tengah suasana, Gita kembali memejamkan matanya tatkala dirinya kembali di buat melayang oleh proses penetrasi yang di lakukan oleh sang suami. Napasnya masih memburu sedang dadanya naik turun setelah proses pelepasannya yang kedua baru saja usai.
__ADS_1
Zayn menyunggingkan senyum nakalnya, kemudian kembali menggoda Gita untuk segera bersiap menerima kehadirannya dalam proses penyatuan yang sesungguhnya.
Matanya terpejam erat dengan lengan yang tersampir rapi di tengkuk sang suami. Gita merasakannya, merasakan setiap inci tubuhnya yang terasa nyeri tatkala Zayn memasukinya. Ia menggigit bibir bawahnya sedikit kuat, rasanya masih saja perih meski nyatanya ia bukan lagi seorang gadis bertubuh suci.
"Buka matamu dan lihat lah aku, sayang." Suara berat itu bagai titah yang tak dapat ia bantah. Dengan malu-malu Gita membuka kelopak matanya perlahan, menatap Zayn yang sedang berada di atas tubuhnya. Wajah tampan itu menyunggingkan senyumnya, menatapnya penuh cinta sebelum akhirnya menghadirkan kecupan panas di bibirnya. Melu*anya dengan brutal seolah tak bersisa.
Zayn masih menggerakkan tubuhnya, tiada kata lelah meski peluh telah mengucur di area dahinya. Ia masih semangat menjalankan kewajiban barunya, membuai sang istri dengan cumbu dan juga cinta.
Lenguhan suara masih terdengar lirih, suara keduanya masih bersahut-sahutan dengan racauan tak jelas yang keluar dari mulut keduanya. Gita merasakannya, lagi. Tubuhnya bagai tersengat ribuan volt listrik tatkala Zayn menancapkan gigi-giginya di area punggungnya. Titik sensitifnya seolah terus digoda, membuat Gita kembali merengkuh lagi dan lagi nikmat klimaksnya.
'Sshh' desisnya lirih, "Bisakah jika kita segera menyelesaikannya? mi-milik ku terasa perih," rintih Gita seraya memalingkan wajahnya. Gadis itu telah menahannya sejak sepuluh menit yang lalu. Namun sepertinya, suaminya itu tak kunjung usai dengan kegiatannya.
Zayn menyunggingkan senyumnya, ia mempercepat gerakannya dan kian agresif mengeratkan pelukannya ke tubuh Gita. Membuat tubuh ringkih itu berguncang tak stabil seiring bagian bawahnya yang terasa menghangat. Ia terhenyak, tubuhnya ikut menegang menikmati sensasi aneh yang menjalari tubuhnya.
__ADS_1
Ritual ini telah selesai, pun dengan Zayn yang telah terkulai dengan tubuh bermandi peluh.
"Terimakasih, istriku," ucapnya lirih dengan mata yang perlahan mulai terpejam. Melepaskan seluruh lelah dalam buai indah malam ke dua.