Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
29.


__ADS_3

*T**ergoda* πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Zayn tengah serius berkutat dengan beberapa proposal penting di meja kerjanya.


Kehilangan seorang sekretaris membuatnya menjadi lebih sibuk dari hari-hari biasanya.


Apalagi di tambah dengan sekretaris baru yang masih belum bisa mengimbangi cara kerjanya membuat ia menggeram kesal di sertai umpatan - umpatan kotor yang terbatin dalam hatinya.


"Kamu bisa kerja nggak?" bentaknya pada seorang gadis yang tengah berdiri di hadapannya


"M-maaf pak," ucapnya gemetar menahan takut.


Gadis itu adalah anak magang baru yang menggantikan tugas Gita di kantor.


Hari ini adalah hari pertama ia masuk kerja dan langsung di angkat untuk menjadi sekretaris yang mendampingi Zayn.


Namun sayang, alih-alih fokus dengan tugasnya ia malah mengacaukan segalanya.


Yang akhirnya membuat batas kesabaran Zayn habis dalam sekejap.


"Maaf, maaf! dari tadi maaf terus yang kamu bilang. Maaf tidak akan menyelesaikan kekacauan yang kamu ciptakan di perusahaan saya. Ngerti?" Sarkasnya penuh ketegasan.


Gadis itu hanya bisa mengangguk beberapa kali. Tubuhnya terlihat bergetar di iringi isakan kecil yang keluar dari bibirnya.


"Eh, dia nangis?" batin zayn mengamati gerik gadis itu.


Zayn mengusap hidungnya pelan.


Seakan merasa bersalah karena menyinggung perasaan gadis magang tersebut.


"Baiklah, kau bisa keluar!


Pahami segala tugas-tugas yang ku berikan dan jadilah sekertaris yang bisa di andalkan."


"Baik pak, terimakasih." ucapnya sembari membungkuk kan sedikit tubuhnya, setelah itu ia pamit meninggalkan ruangan pria itu.


Zayn menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.


Ia menelisik sisi ruang yang terlihat begitu senyap tak seperti biasanya.


Seperti ada yang hilang dalam ruangan itu.


"Tapi apa? Mungkinkah jika ia ..."


Zayn mengusap wajahnya kasar.


Ia kembali melihat ke dalam arlojinya, takut akan melupakan janji yang telah ia sanggupi pada Gita sejak dua hari yang lalu.


Zayn mulai beranjak dari duduknya m, mengibaskan jasnya yang terlihat sedikit kusut. Ia melangkah santai menuju lobby hotelnya.


Dan memutuskan untuk datang lebih awal ke apartemen Gita. Entahlah, rasanya ia tak ingin melewatkan kesempatan terakhirnya untuk bertemu gadis itu.


Di apartemen Gita


Gita terlihat sibuk dengan beberapa hidangan yang baru saja selesai ia buat.


Tak lupa sebotol anggur berkadar alkohol rendah juga ia suguhkan di atas meja makan yang sudah tertata rapi dengan berbagai hidangan dan juga makanan penutup di atasnya.


"Masih satu jam lagi," gumamnya setelah melirik ke arah penunjuk waktu.


"Siap-siap dulu deh, sebelum Zayn dateng."


Gita berlarian kecil menaiki undakan tangga yang menuju ke arah kamarnya.


Jemarinya bergerak cepat mengambil koleksi gaun berwarna cerah yang akan ia gunakan untuk dinner romancenya malam ini.


Senandung kecil ia lantunkan seiring gemericik air shower yang mulai membasahi tubuhnya.


Suaranya merdu ikut menggema di dalam kamar mandinya.


Semerbak wewangian ia semprotkan pada tengkuk dan juga pergelangan tangannya.


Membuat aroma wangi lembut itu menguar ke udara.


Gita sudah selesai dengan ritual make-upnya.


Sesekali senyum tipisnya terurai saat ia mengagumi kecantikan wajah yang ia miliki.


"Ting ... tong !!


Suara bel di luar pintu membuat Gita seketika bersemangat untuk segera membukanya dan menyambut seseorang yang sudah ia tunggu.


Netranya membulat seolah terkunci oleh sosok pria di hadapannya ini.


"Kamu kok udah dateng?" tanyanya gugup.


Zayn mengangkat sebelah alisnya, "kenapa?"

__ADS_1


Gita menggeleng pelan, "silahkan masuk." ucapnya tulus


Zayn menapak kan kakinya menyusuri segala ruangan.


Ia kembali mengernyit saat melihat adanya kegugupan yang begitu nyata terpatri di wajah Gita.


"Lo kenapa? sakit?" tanya Zayn khawatir.


Tangan Zayn reflek menempel pada dahi Gadis itu, memeriksa apakah keadaan gadis ini baik-baik masih saja.


"Ck, iya! gue sehat," gerutu Gita seraya menampik halus punggung tangan Zayn dari keningnya.


"Mau langsung makan atau gimana?" tawarnya langsung


"Hm, makan juga boleh. Kebetulan gue juga laper."


Gita mengangguk kilas, "yaudah kita ke ruang makan aja. Semuanya udah siap disana," ucapnya sembari mendahului langkah Zayn.


Dengan telaten Gita mengambilkan nasi dan juga lauk dalam piring yang akan Zayn gunakan.


"Nah, makan yang banyak. Kalau perlu abisin."


Zayn mengulas senyum tipis, "tumben perhatian?" sembari menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.


"Kapan sih gue nggak perhatian sama Lo? yang ada Lo-nya yang nggak peka."


Zayn terdiam, tapi bibirnya kembali mengulas senyum.


Entah lah, hatinya terasa menghangat saat mendapat perhatian kecil seperti ini.


Padahal sebelumnya hampir setiap hari gadis ini selalu menaruh perhatian kepadanya.


"Lo ulang taun?" tanya Zayn saat melihat adanya cake ultah yang juga tersaji di hadapannya.


"hmm!" gumamnya acuh.


"Lhah, kenapa lo nggak bilang? kan gue bisa bawain hadiah dulu tadi sebelum kesini."


Gita menggeleng pelan, " Lo mau dateng ke sini aja udah termasuk hadiah buat gue.


Makasih, karna Lo udah mau dateng." ucapnya sembari menatap lekat bola mata indah Zayn.


"Ekhm, ya ... buruan Lo nyalain lilinnya."


"Iya, iya. Bawel!" cibir Gita mulai menyalakan beberapa lilin .


"Y**a Tuhan, jika masih ada kesempatan bagi ku. Ku mohon hadirkan aku dalam hati pria angkuh ini. Ijinkan aku untuk memberikan cinta dan mewarnai hidupnya sepanjang hidupku. Amin."


Gita mengembuskan napasnya pelan, meniup api-api kecil itu hingga padam.


Potongan pertama ia hadiahkan kepada Zayn.


"Untukmu!" ucapnya lirih meng angsurkan seiris cake kepada Zayn.


Tangannya menengadah menerima pemberian dari Gita.


Sementara lidahnya terlihat sibuk menikmati setiap rasa yang mengecap di lidahnya.


"Apa wish Lo?" tanya Zayn melahap suapan terakhir ke dalam mulutnya.


"Rahasia, lah!"


"Apaan? siapa tau gue bisa bantu ngabulin-nya."


"Yakin?" ucap Gita sentiasa meragukan.


"Hm!" Zayn meng iyakan pertanyaan dari Gita.


Gita terkekeh pelan lalu ia menuangkan segelas anggur ke dalam dua gelas yang sudah ia sediakan.


"Cheers!" ucapnya sembari meneguk segelas anggur itu seketika.


Zayn masih terdiam mengamati gadis di hadapannya ini. Seperti ada yang berbeda darinya hari ini.


"Cheers! lagi." Gita masih meneguk isi gelas demi gelas anggur itu hingga tandas.


Sementara Zayn masih diam mematung di tempatnya. Jemarinya bahkan belum sempat menyentuh ujung gelas yang tersedia untuknya.


"stop git, Lo mabok!" titah Zayn menjangkau segelas anggur dari tangan Gita.


"Nggak! gue masih kuat," ucapnya terdengar serak.


"Sini'in gelasnya." Gita mencoba meraih gelas yang ada didalam genggaman tangan zayn.


"Stop, stop!" titah Zayn keras.


Membuat Gita mundur dan menjauhkan dirinya dari Zayn.

__ADS_1


Langkahnya pelan kembali membawanya ke dalam kamarnya.


Zayn mematung, netranya sempat menangkap kesedihan mendalam hadir di wajah Gita.


Kakinya pun ikut beranjak, menyusuri setiap undakan anak tangga dan membawanya berhenti tepat di depan pintu yang sedikit terbuka itu.


Gadis itu nampak kalut, "hey! Lo kenapa?" tanyanya pelan menjangkau kan jemarinya di bahu Gita.


Gadia itu hanya diam, matanya menatap kosong pada dinding kaca kamarnya.


"Git!" panggil Zayn lagi.


Air mukanya mendadak keruh seiring bulir air mata yang mulai menerobos keluar dari persembunyiannya.


Gita terisak pilu dalam dekap hangat pria pujaannya.


"Lo kenapa?" tanya Zayn lembut.


Namun masih seperti sebelumnya, hening tiada sepatah kata yang keluar dari mulut Gita.


Ia menumpahkan segala emosinya dalam dekapan dada bidang Zayn.


Zayn perlahan menjauhkan wajah Gita dari tubuhnya. Jemarinya bergerak pelan mendongakkan dagu Gadia itu dan membuat bola mata mereka saling bertemu.


Sesaat mereka terdiam, hingga kecupan kecil nan lembut ia hadirkan di bibir Gita.


Membuat Gita reflek memejamkan matanya sejenak.


Menikmati pagutan lembut dari pria pujaannya itu.


Zayn menarik tubuhnya mundur, menyudahi kegiatannya sebelum birahi melingkupi ruang pikirnya.


"Kenapa?" tanya Gita terdengar berat.


Pandangannya sedikit berkabut seiring cengkeraman tangannya yang semakin menguat di kerah baju yang Zayn kenakan.


Ada keinginan lebih yang tersirat di dalam sana, dan itu membuat Zayn harus berjuang lebih untuk menjernihkan pikirannya sendiri.


"Sial!" umpatnya sembari mendorong tubuh Gita menjauh darinya.


"Please, give me!" mohonnya lirih.


"Nggak git, stop!" bentaknya tegas.


"please! gue cinta sama Lo Zayn. Dan gue beneran gila karna Lo nggak bisa buka hati Lo buat gue!" ucapnya sendu.


"Git, bukan gue nggak bisa. Tapi ..."


"Kasih gue satu kesempatan. Gue pasti'in kalo gue nggak akan ngecewain Lo Zayn." mohonnya lagi


Zayn menunduk lemah, "sebesar inikah rasa cinta Lo buat gue?" batinnya sibuk dengan segala pertanyaan yang tiba-tiba muncul begitu saja.


"Gue nggak yakin Lo bisa nunggu git!"


Gita menunduk, "apa gue harus jadi liar di depan Lo, baru Lo mau terima gue?"


Zayn terdiam, "maksut Lo apa sih, git?"


"Lo maunya gini kan?" ucap Gita sembari membuka satu persatu kancing bajunya, memperlihatkan setiap lekuk tubuh indahnya di hadapan Zayn.


Seketika Zayn memalingkan wajahnya, pipinya bersemu merah menahan gejolak yang hadir di tubuhnya.


Naluri ke lelakiannya kembali tergugah setelah mati-matian ia berusaha menahannya sejak tadi.


"Ini kan? Lo suka yang begini kan, Zayn?" teriak Gita histeris.


Zayn menangkup kan jemarinya lembut pada wajah Gadis itu, "Git! gue emang ********. Tapi gue nggak akan lagi ngelakuin hal kotor itu ke elo."


Zayn tersenyum tipis kembali mengecup lembut bibir yang masih memiliki rasa manis itu.


Jemarinya bergerak turun menempel di antara ke dua lutut Gita.


Perlahan ia membopong tubuh Gita dan membawanya ke dalam bathtub kamar mandi. Ia butuh air dingin untuk menyingkirkan pikiran kotor di kepalanya.


"Jernih kan pikiran mu git, aku tunggu di luar." titah Zayn keluar dari kamar mandi.


"Shit!" umpat Zayn didalam kamarnya.


Hasratnya masih bergejolak liar dalam dirinya.


Pemandangan yang ia saksikan di kamar Gita membuatnya berusaha sekuat tenaga untuk menekan naluri binatangnya dalam-dalam.


Zayn memilih mengguyur kepalanya dengan air dingin.


Menekan dalam-dalam keinginan


nya untuk membuat penyatuan di antara ke duanya.

__ADS_1


__ADS_2