
Jengah.
Seperti hari-hari biasanya. Zayn nampak kembali bugar dan fresh setelah sesi curhatnya dengan Hanum minggu lalu. Ia tak lagi selalu memikirkan tentang Gita. Perlahan ia mulai menutup kisah lamanya dan kembali menapaki kisah yang baru. Kesendirian ternyata membuatnya jauh lebih tenang. Untuk hubungan baru, saat ini Zayn lebih memilih untuk membatasi dirinya berhubungan dengan lawan jenis. Saat ini ia belum siap . Belum siap untuk kembali jatuh dan kembali merasakan trenyuhnya kehilangan seorang pasangan. Karena hal itu benar-benar menyiksa batin dan juga pikirannya. Membuatnya hilang arah dan senantiasa di selimuti emosi.
Hari-hari berlalu, berganti dengan bulan dan juga tahun. Zayn masih sama seperti sebelumnya. Selalu dingin terhadap para wanita. Kecuali keyra dan juga Hanum. Mereka adalah wanita ke-tiga yang selalu dekat dengannya selain sang ibunda.
Sejak pertikaian yang terjadi terakhir kali di rumah sang ibunda beberapa tahun silam. Kini ia jadi lebih menutup diri untuk tidak terlalu terbuka pada sang ibunda. Apalagi mengenai sebuah perasaan. Zayn lebih memilih untuk menyembunyikan segalanya dan mungkin akan membagi keluh kesahnya kepada Hanum atau keyra.
Mereka lebih bisa menjaga rahasianya , daripada sang ibunda yang menurutnya kurang cakap untuk di ajak bermain rahasia.
Seperti biasa. Setiap hari Zayn selalu menghabiskan seluruh waktunya di kantor.
Mengabdikan diri sepenuhnya demi kemajuan hotel yang di wariskan sang Oma untuknya.
Mengingat sang Oma, tiba-tiba membuatnya sedikit sedih. Ia ingat wanita tua itu yang selalu memberikan limpahan kasih dan sayang untuknya sedari ia kecil. Namun na'as, Tuhan telah mengambil nyawanya di saat ia masih berada di Amerika. Ia tak sempat mengecup jemari sang Oma di saat-saat terakhirnya.
••••••••
Aman , Te Molla. . .
Aman , Te Molla . . .
Dering ponselnya berbunyi beberapa kali. Membuat Zayn harus menghentikan gerakan lincah jemarinya yang sedang menari di atas papan keyboard mengerjakan sesuatu yang penting.
Ternyata itu adalah panggilan video dari reynand.
Zayn mengurut pucuk hidungnya lembut, ia mengembuskan napasnya pelan sebelum akhirnya menggeser tombol hijau itu ke atas.
Membuat panggilan itu tersambung dengan memperlihatkan wajah sang adik yang nampak cengengesan memenuhi layar ponselnya.
"Hay Abang!" serunya melambaikan tangannya ke arah kamera.
"Hmm!" gumam Zayn malas.
"Pulang jam berapa?" tanya reynand ingin tau.
"Nggak tau. Masih sibuk." ucapnya dingin.
__ADS_1
"Nanti mampir ke cafe bentar ya, sebelum pulang." tutur Reynand pada sang Abang.
"Ngapain?" tanya Zayn lagi. Jujur saja ia malas bermain tebak-tebakan seperti anak kecil. Mengingat usianya yang tak lagi muda membuatnya bosan untuk bermain-main.
Reynand nampak memutar arah kameranya, memperlihatkan beberapa persiapan yang sudah selesai dengan hiasan khas ulang tahun.
Zayn menautkan kedua alisnya, "what the hell, Rey?"
"Tara! This is a party for you, Abang!" ucap Reynand dengan senyum di wajahnya.
Zayn mendengus kesal, "ck, stop acting like a child, Rey! Aku bukan lagi anak kecil." sarkasnya kesal.
Reynand mendengus lirih, ada gurat kecewa yang hadir di wajahnya. "Ini juga ide dari bunda bang, bukan ide gue. Gue cuma nurutin kemauan bunda buat ngerayain ulang tahun elu bang."
Zayn tersenyum kecut, "bunda lagi, bunda lagi." Batinnya lemah.
Jika sudah berhubungan dengan sang ibunda, lidahnya seolah keluh untuk berucap tidak.
"Iya udah, nanti Abang mampir," ucapnya sembari menutup sambungan video.
Setelah pekerjaannya selesai Zayn segera melajukan mobilnya menuju cafe sang adik. Dan menepikannya ke area parkir khusus setelah ia benar-benar sampai di depan cafe itu.
Zayn melangkah santai menuju lantai dua, tempat pesta yang telah di persiapkan untuknya.
Sorak-sorai beberapa orang nampak riuh menyambut kedatangannya yang barusaja tiba. Memaksanya untuk menghadirkan senyum keterpaksaan yang tertutup oleh mimik mukanya yang begitu mendukung.
"Selamat ulangtahun, kakak!" ucap ayu mengecup lembut kening sang putra.
Zayn hanya tersenyum mendapati perlakuan sang ibunda yang terkesan selalu memperlakukannya layaknya anak kecil. Padahal usianya sudah mencapai dua puluh- delapan tahun.
"Happy birthday, Abang!" ucap reynand merangkul bahu Zayn.
Di ikuti oleh keyra dan juga Hanum yang juga ikut memberikan ucapan selamat untuknya.
Zayn hanya bisa tersenyum meski nyatanya ia begitu jengah berada dalam situasi seperti ini.
"Wish, dulu bang!" ucap reynand sembari memegangi tart dengan hiasan lilin yang menyala di atasnya.
__ADS_1
Zayn memejamkan matanya sejenak dan mulai memanjatkan permohonan kecilnya . "P**ertemukan lagi aku dengannya, walau hanya untuk sesaat." Kemudian ia meniupkan hembusan napasnya dan membuat api-api kecil itu padam.
Ia termenung sesaat hingga sebuah sentuhan lembut hadir di bahunya.
Zayn menolehkan wajahnya ke samping menatap sang ibunda yang nampak begitu sumringah .
"Makasih bunda untuk pestanya." tutur nya lirih.
Ayu mengagguk pelan. "Kakak usianya berapa sekarang?"
"Masih dua puluh-delapan, bun." jawabnya lirih.
"Kakak nggak pengen gitu, punya pasangan?"
Pertanyaan itu membuatnya seketika bungkam. Ia seolah tercekat dengan pertanyaan yang di lontarkan sang ibunda terhadapnya. Hingga beberapa detik kemudian ia tersadar dan menghadirkan senyum lesu di wajahnya.
"Belum ada calonnya bund." tuturnya jujur.
Memang saat ini Zayn belum ada calon sama sekali. Bahkan dekat dengan wanita saja tidak.
"Besok dateng ke rumah ya kak," tutur ayu penuh dengan harap.
"kenapa emangnya bund? ada acara lagi kah?"
Ayu tersenyum lembut, "besok bunda rencana mau kenalin seseorang buat Kakak. Kakak mau ya!"
Seketika senyum di wajahnya pudar. "Bund! jangan bilang ini tentang perjodohan?" tebaknya tepat
"cuma sekedar kenalan kok, Kak. s
Syukur-syukur kalau nantinya kakak bisa suka."
Zayn menyunggingkan senyum tipisnya. kemudian mengagguk patuh mengiyakan permohonan sang ibunda.
Lagi! Salalu seperti ini. Bukan kah sudah biasa ia harus selalu patuh dan menuruti semua permintaan sang ibunda. Walaupun nyatanya ia tak selalu menyetujui dan menelan pil pahit atas pedihnya keterpaksaan.
Zayn tetap mengupayakan yang terbaik, demi membuat sang ibunda senang.
__ADS_1
Maaf yak , kalau part ini rada garing. Dan untuk visual di bab sebelumnya, insyaallah besok bakal tak kasih. Tapi nggk tau juga kapan bisa lolosnya. Thank buat para readers yang selalu hadir dan support tulisan ku yang masih asburd ini. thank juga atas like, komen, dan poin yang kalian kasih buat dukung novel aku. makasih banyak ☺️☺️🙏🙏