Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
70.


__ADS_3

Melepas Rindu.


Awan mendung di sertai rintik gerimis kecil di sore hari. Berbekal payung hitam Gita menapakkan kakinya di area pemakaman TPU Taman Langgeng. Kakinya melangkah pelan sedang netranya mencari sebuah nisan berkijing hitam legam yang menjadi ciri dari makam ayahnya.


Di sinilah ia berada, tepat di depan sebuah nisan hitam bertuliskan Cokro Wiratmaja di atasnya. Gita masih mematung dalam diam. Tak tahu apa yang harus ia utarakan sebagai kata perkenalan kepada mendiang ayah yang barusaja ia ketahui keberadaannya itu. Dua puluh empat tahun telah berlalu, dan selama itu pula ia selalu beranggapan bahwa ia hanyalah seorang anak yang terlahir dari benih haram. Selama itu pula ia terus menjadi bahan cemoohan, dan seringkali menyandang gelar anak buangan. Hidup terasa amat sulit, terlebih lagi ketika ia barusaja mengetahui kebenarannya tempo hari yang lalu.

__ADS_1


Ia menangis, sesekali memukul-mukul relung dadanya yang terasa sesak akibat ketidak percayaan. Penuturan dari sang mami membuat ia kembali jatuh terpuruk setelah ia berhasil mendapatkan kabar gembira mengenai ayahnya. Ia bahagia ternyata ia bukanlah seorang anak haram, namun bahagianya hanya mampu bertahan dalam hitungan detik saja. Tatkala sang mami kembali mengucapkan tutur kata mengenai kematian ayahnya. Bukankah ini terlalu tragis? Atau bahkan bisa di bilang dengan sesuatu yang mencekam.


Berbekal sebuah bingkai potret foto masa lalu. Seorang pria terlihat begitu bahagia mengusapkan jemarinya di atas perut yang terlihat masih rata. Senyum keduanya tercetak jelas dengan gurat bahagia yang terlukis di sana. Mereka adalah mami dan juga ayahnya. Seorang pria keturunan Jawa dengan sorot mata teduh penuh buai kasih yang terpancar jelas meski hanya melalui selembar foto.


"Ayah!" Panggilnya lirih seraya menaburkan bunga di atas pusara. "Aku datang. Apakah ayah mengenaliku, melihat ku dari atas sana? Kenalkan, aku ... Putri mu. Putri yang selama ini buta dan tak pernah mengenalmu. Putri yang telah durhaka karena seringkali menyumpahi mu. Ayah, dulunya aku pernah benci, aku pernah marah, dan aku juga pernah kecewa. Karena terlahir kedunia tanpa kasih dari seorang ayah seperti teman-teman ku yang lainnya. Ayah, apakah sudah terlambat bagiku? Mengetahui kebenarannya ketika usia ku sudah menginjak angka ke 24 tahun, dan selama itu pula tak pernah sekalipun aku berprasangka baik terhadapmu."

__ADS_1


Gita terus menuturkan kalimat sendunya, melepaskan semua kecamuk rasa yang ia tahan untuk ayah tercintanya. Namun, sepertinya Tuhan memang lebih mencintai ayahnya, Ia bahkan mengambilnya di saat Gita kecil masih berada dalam kandungan maminya.


Trenyuh sekaligus pedih. Namun inilah kehidupan. Dimana siklusnya telah di atur sesuai garis ketetapan dari Sang Maha Kuasa.


Gita cukup berbahagia, akhirnya ia masih di berikan kesempatan untuk melepas rindunya terhadap sang Ayah. Meski hanya bisa menyentuhnya melalui bongkahan nisan, setidaknya kini ia tau bahwa masih ada sosok lain yang dulunya juga pernah mengharapkan kelahirannya di dunia ini.

__ADS_1


Lama gadis itu terduduk di tempatnya semula, bahkan guyur hujan yang kian deras pun tak urung jua membuatnya segera beranjak dari sana. Gadis itu seperti terlarut dalam dunianya, dimana ia merasa seperti bisa bersua dan berkomunikasi dengan sang ayah. Senyumnya perlahan terurai, seiring tubuhnya yang kembali tegap setelah sekian jam terduduk di sana. Gadis itu menghela napasnya panjang, ada kelegaan yang tersirat dalam raut wajah yang semula sendu itu. "Aku pamit ayah. Ekm ... lusa adalah hari pernikahan ku. Aku telah menemukan sesosok pria baik yang kurasa kasihnya sama besarnya seperti kasih mu kepadaku. Dia sangat mencintaiku dan tak pernah sedikitpun berupaya untuk meninggalkan ku. Ayah ... aku harap, ayah bisa melihat ku dari atas sana. Melihat putri mu ini meresmikan ikatan kasihnya dan berharap bisa bahagia hingga kami menua." Gita kembali memandangi bingkai kaca potret ayahnya, kemudian di usapnya pelan seraya mengecupnya untuk terkahir kali. Jemarinya bergerak pelan seraya meletakkan benda persegi itu di atas pusara sang ayah, " Aku pamit."


Gadis itu berlalu, mengiring langkahnya keluar dari area TPU. Sesekali ia kembali menolehkan kepalanya ke belakang, menyapu banyaknya deretan makam yang tertata rapi di sana. Nisan hitam itu akan selalu ia ingat, dan mungkin akan sering ia kunjungi di waktu depan dengan sang suami.


__ADS_2