
Kenyataan.
"A-adek!" ucap ayu dengan suara bergetar.
Wanita tua itu seketika roboh tak kuasa menahan rasa kecewanya melihat putra bungsunya lah yang telah melepaskan masa lajangnya bersama gadis pilihannya yang ia teruntuk-kan untuk sang putra sulung.
"Bunda, bunda!" teriak Reynand histeris seraya menangkap tubuh sang ibunda yang mendadak lemah.
Ayu memijit pelipisnya dengan perlahan, ia masih belum yakin dengan apa yang terjadi.
Sementara Hanum, gadis itu masih mematung di tepian ranjang.
Senyumnya mendadak pudar ketika pria yang ia nanti kedatangannya untuk menjemputnya dan menyematkan cincin kawin di jari manisnya bukanlah seorang Zayn.
Ia masih berdiam diri di sana, menatap nanar pada seorang pria berjas putih yang tengah panik dengan kondisi bundanya.
"Rey!" panggilnya lirih.
Hanum menutup bibirnya rapat-rapat, hatinya serasa bergemuruh tak terima akan pernikahannya yang telah resmi tercacat dalam agama dan juga negara itu adalah sebuah pengalihan semata.
Seketika tubuhnya merosot ke lantai.
Kakinya serasa lemas tak dapat menahan beban tubuhnya.
Batinnya di hujani oleh ragam kecamuk pikiran yang terus mengoyak relung jiwanya.
Ia hancur, dan ia juga kehilangan.
"Kenapa harus berakhir seperti ini? kenapa harus dia kak?" batin hanum meratapi nasibnya.
Hanum memukul-mukul relung dadanya yang kian terasa sesak.
Bulir air matanya kembali terjun bebas dan semakin deras mengalir dari kelopak matanya.
Begitu perih kenyataan yang ia terima, hingga sesekali ia harus tersengal menahan sesak yang kian meremat batinnya.
Ia menangis, menangisi kehidupan barunya dengan orang yang sama sekali tak pernah terbayang-kan akan menjadi suaminya.
Bahkan hatinya pun sama sekali tak memiliki secuil rasa untuk pria yang telah menyandang status sebagai suaminya itu.
Hanum masih tersedu dalam diam, hingga akhirnya kepalanya pun mulai terasa berat dan kesadarannya pun perlahan mulai menghilang .
••••••••••••••
Hanum masih terbaring di atas ranjang pengantinnya . Dengan matanya masih terpejam erat, namun telinganya samar-samar mulai dapat mendengar suara langkah kaki yang perlahan mendekat ke arahnya.
Ia menggerakkan bola matanya pelan sebelum akhirnya mata bulatnya itu terbuka sepenuhnya.
Seulas senyum tipis hadir di wajah reynand. Ia sedikit lega mendapati Hanum yang sudah kembali tersadar dari pingsannya. "Pelan-pelan," ucapnya lirih sembari membantu Hanum untuk duduk dan menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang.
"Jauhkan tanganmu dariku, Rey!" ucap Hanum menepis uluran tangan Reynand. Wajahnya berpaling ke samping menghindari tatap mata dengan suaminya itu.
__ADS_1
"Maaf." ucap Rey lirih, seraya menjauhkan diri dari sisi istrinya itu.
Hanum terdiam, ia mengatupkan bibirnya rapat dengan segala sesak yang kembali hadir mengisi relung hatinya.
Sekuat tenaga ia menahan tangisnya agar tak lagi lolos dan terlihat oleh pria di hadapannya ini.
"Menangis lah! jika itu bisa membuat mu lega." Reynand berucap dengan senyum penuh ironi.
Hanum meremat kasar selimut tebal yang menutupi tubuhnya, tangannya gemetar melampiaskan rasa kesal dan juga kecewanya di sana.
Ia menangis, menangis hingga sesenggukan di hadapan reynand.
Dengan lembut reynand menarik kepala Hanum dan membenamkannya ke dalam dadanya.
Ia terdiam ikut meresapi setiap luka yang hadir di hati gadis ini.
Belai lembut dari Jemarinya pun tak hentinya mengusap lembut bahu ringkih yang sedang bergerak naik turun seiring sengguk yang perlahan mulai mereda.
"Sudah lebih baik?" Reynand berucap pelan menatap lekat pada manik indah nan sembab milik gadis di hadapannya ini.
Hanum beringsut mundur, menjauhkan wajahnya dari dada bidang Reynand yang sepenuhnya telah basah karena air matanya.
"Maaf, aku terbawa suasana." Lirihnya seraya menundukkan kepalanya.
"Apa kau menyesal?" Pria itu bertanya dengan nada lembut.
Hanum mendongak pelan, netranya mengamati mimik muka reynand yang juga nampak kalut.
"Aku tau kau pasti kecewa, karena yang menikahimu bukanlah Abang ku. Benarkan?" tanyanya memastikan.
"Itu salah satunya, dan aku kecewa berat akan hal ini." Jelasnya dengan gamblang.
Hanum mulai beranjak dari duduknya, ia melangkah lurus ketepian jendela, lalu netranya menatap kosong pada kerlip indah jutaan bintang di langit.
"Kau pasti tau, Rey. Aku sangat mencintainya .
Dan aku sangat berharap bisa menjadi istrinya hari ini. Tapi lihatlah apa yang sedang terjadi saat ini ...!"
Reynand ikut beranjak. Ia membawa langkahnya berdiri tepat di belakang Hanum.
Merengkuh kan jemarinya dengan lembut ke tubuh gadis itu.
"Sebelumnya aku minta maaf, mungkin ucapan ku kali ini akan membuat mu kembali terluka.
Perlu kau ketahui satu hal, Num. Kepergian abangku dari pernikahan ini merupakan bagian dari rencana papa mu dan juga papa ku.
Kau tahu, abangku sama sekali tidak pernah mencintai mu Num.
Dan dia juga sudah berulang kali meyakinkan itu padamu."
"Tapi aku mencintainya! Aku bisa membuatnya bahagia, Rey!" sanggahnya cepat.
__ADS_1
Hanum berusaha melepaskan diri dari dekapan tangan reynand. Namun hasilnya percuma , justru dekapan itu semakin mengerat seiring usahanya yang semakin kuat untuk melepaskan diri.
"Lepas, Rey!" tegas Hanum yang sudah berderai air mata.
"Sampai kapan kamu mau kayak gini?
Abang aku udah pergi, Num!" reynand berucap penuh kepedihan. Hatinya juga sakit melihat keadaan gadis ini yang teramat rapuh.
"Nggak!! Aku harus cari ... aku harus cari dia, Rey! Lepas!!" rintihannya bercampur sendu.
Reynand bergeming, ia masih berdiri dan mengokohkan rengkuhan tangannya guna mengunci pergerakan Hanum.
Gadis itu kian meronta dengan racauannya yang kian menggila.
"Diam!!" bentak Reynand yang mulai merasa jengah dengan sikap kekanakan Hanum.
Ia melepaskan dekapnya dengan kasar dan berpaling membelakangi Hanum.
"Kau harus belajar menerima kenyataan, Num . Bahwa sesungguhnya, saat ini akulah suami mu, bukan abangku!"
"Nggak, Rey! Aku harus ngomong sama papa. Ini nggak boleh terjadi," racauannya bergegas lari ke arah pintu.
"Pergilah! Dan aku yakin papamu pasti akan mengucapkan hal yang sama seperti yang aku katakan padamu."
Seketika Hanum mengehentikan langkahnya yang sudah berada di ambang pintu.
Ia perlahan berbalik dan menatap nanar pada sekeliling ruangan kamarnya.
"Kau tahu Rey! seharusnya hari ini menjadi hari bahagia ku dengan Zayn.
Kau lihat hiasan kamar pengantin ini?"
Hanum mengendarkan pandangannya menatap lemah pada dekorasi khas kamar pengantin tempat harusnya ia menikmati malam indahnya dengan suami pujaannya.
"Aku sendiri lah yqng menyiapkannya untuk membuat malam ini menjadi malam yang paling berkesan untuk kami berdua.
Tapi ku rasa, ini sudah nggak berguna lagi .
Percuma, dia udah pergi!" seraya menghapus bulir air matanya.
"Terus buat apa kemarin aku harus susah-susah buat beginian, kalau tau orangnya itu kamu, Rey. Kenapa!!"
Hanum berteriak histeris, ia meluapkan segala kecewanya terhadap reynand.
Pria itu masih mematung di tepian jendela
membelakangi Hanum dengan telinganya yang masih mendengar segala kesedihan yang terucap dari bibir Hanum.
Bukan inginnya untuk jadi seperti ini. Tapi walau bagaimanapun juga sekarang dia lah suami sah Hanum.
Dan hal itu tak dapat lagi di rubah, kecuali dengan jalan perceraian.
__ADS_1