
Tiba di pelataran villa miliknya.
Zayn dengan wajah suramnya turun dari mobil kemudian dengan sigap membopong Gita keluar dari dalam kendaraan nya.
Gadis itu tetap diam, seperti titah Zayn yang sempat di suarakan sebelumnya.
Di sofa panjang ruang keluarga Zayn mendudukkan Gita dengan perlahan.
Melepaskan sepatu hak tinggi yang membungkus pergelangan kakinya.
"Bodoh!" cibir Zayn ketika mendapati luka lecet di mata kaki gadis itu.
Gita hanya bisa merengut kesal. Batinnya menggerutu mendengar cibiran zayn yang terdengar begitu pedas di telinganya. "Ck, pelan-pelan!" protesnya pada Zayn yang tengah membubuhkan obat di mata kakinya. Sesekali kakinya berjingkat, bereaksi cepat ketika sapuan obat itu kian membuat mata kakinya terasa perih.
Pria dingin itu kini bertambah lagi sifat buruknya.
Bukan hanya dingin dan juga arogan, bertabiat kasar dalam penanganan pertama sebuah luka juga patut di sematkan sebagai gelar baru padanya.
Zayn telah selesai, ia beranjak dari duduknya dan memindahkan pergelangan kaki Gita yang sedari tadi berada di pangkuannya itu ke atas sofa.
Gita masih memberengut kesal, ia senantiasa mengalihkan pandangannya untuk tak bertatap muka dengan Zayn.
"Masih marah?" tanya Zayn sembari mengusap lembut kepala Gita.
"Siapa yang marah?" tanya Gita balik sembari menepis tangan Zayn yang berada di kepalanya.
"Kamu lah!"
"Cih, Narsis!" cibir Gita dengan lirik tajamnya.
Gadis itu masih enggan untuk mengakui bahwa dirinya masih merasa kesal dengan kejadian di club malam tadi.
"Terus? kalo nggak marah, maksutnya kamu lagi cemburu nih ceritanya?" goda Zayn sembari menopangkan dagunya di atas jemarinya yang bertumpu di atas paha.
"Nggak!" bantahnya tegas.
Zayn mengagguk tipis, namun senyumnya kembali terukir ketika mendapati wajah Gita yang terlihat merona dengan senyum tipis tersembunyi di sudut bibirnya.
Gadis itu sedang menahan diri untuk tidak meloloskan senyumnya di tengah rasa marah dan cemburunya ketika berhadapan dengan tutur kata manis yang terucap dari bibir zayn.
__ADS_1
"Kamu nggak penasaran dia siapa?" pancing Zayn penuh rahasia.
Membuat Gita mau tak mau memalingkan wajahnya dan menatapnya dengan tatap curiga.
"Pacar baru kan? udah tau, nggak usah di jelasin!" Sarkasnya penuh emosi.
Zayn kian terkikik menahan tawanya. Permainan tarik ukurnya tak disangka begitu cepat harus segera berakhir.
"Masih gebetan, belum jadi pacar," ujarnya penuh kesombongan. "Habis gimana ya, udah nasip jadi orang ganteng, sekali putus banyak yang ngejar!"
Gita hanya bisa berdecih kesal, mengumpati Zayn dengan segala ke pedeannya.
"Sial jadi pacar orang ganteng, udah cinta malah di PHP in!" celetuk Gita menyuarakan kekesalannya yang tertahan.
"Enak punya pacar orang ganteng, nggak malu-maluin kalau di ajak jalan."
"Sial jadi pacar orang ganteng, kalo udah resmi suka banyak yang nikung."
"Enak punya pacar ganteng, kalo cewek lagi ngambek, di senyumin aja udah pasti luluh!" Ucapnya lagi dengan kerlingan mata nakalnya, "Cieee, yang senyum!" imbuhnya lagi seraya mencubit pelan dagu Gita.
Sontak gadis itu menjadi tersipu menahan tawanya. "Apaan sih kamu," sembari melayangkan pukulan pelan di lengan Zayn.
Jarak mereka kian terkikis, seolah ruang lebar itu kian menyempit seiring hembusan napas ke duanya yang saling menerpa. Keduanya memejamkan mata, menikmati kecup lembut yang hadir di bibir keduanya. Kecupan hangat syarat akan cinta yang telah lepas dari belenggunya. Sangat manis dan juga terasa nikmat.
Gita membuka matanya perlahan, menyudahi pagutan di bibirnya sebelum akhirnya menjadi lebih memanas.
Begitupun dengan Zayn. Pria itu masih berdiam diri memandangi gadis di hadapannya itu dengan pandangan mata yang mulai berkabut.
Jemarinya terulur, menyentuh permukaan pipi halus gadis kesayangannya itu.
"Aku masih mencintaimu git," tuturnya lirih penuh kejujuran.
Gita tersenyum lembut, jemarinya ikut menggenggam tangan Zayn yang masih setia membelai lembut wajahnya. "Aku juga Zayn!"
ucapnya lirih sembari memejamkan matanya.
"Aku tau. Maaf kan aku yang harus membuat mu melampaui batas rasional pikiranmu .
Hanya dengan membuat mu cemburu, baru kau bisa yakin terhadap perasaan mu sendiri.
__ADS_1
Membuktikan bahwa perasaan yang kau bilang telah lenyap itu masih bertahta di posisi yang sama. Terimakasih, karna kau masih mengakuinya!"
Gita menggangguk lirih. "Aku memang terlalu pengecut untuk mengakui perasaan ku sendiri terhadap mu Zayn.
Namun satu hal yang pasti, bahwa keberadaan mu di hatiku tetaplah menjadi yang pertama. Selamanya akan tetap seperti itu."
Zayn mengulas senyum tipisnya. "Jadi, maukah kau menyelesaikan peresmian kisah asmara kita yang sempat tertunda?" tanya Zayn penuh permohonan.
"Ya, aku bersedia!" gadis itu tersenyum bahagia ketika Zayn kembali menghadirkan kecup lembut di jemarinya.
"Berjanjilah, bahwa setelah ini walau apapun yang terjadi di antara kita, kau tetap akan berada di sisiku dan tak lagi berpikir untuk beranjak dan berlari meninggalkan ku. Berjanjilah Gita!"
"Hn, aku janji. Walau apapun halang rintangannya.
Ketahuilah untuk selamanya aku akan tetap berdiri di samping mu , memegangi jemari mu dan tak kan lagi berpaling untuk membelakangi langkah mu. Aku akan tetap bersamamu dan aku yakin kita mampu untuk memalui semuanya hingga momen bahagia itu datang menjemput ku."
Zayn menghadirkan kecup lembut di kening gadis kesayangannya itu. Tatapannya teduh menyiratkan ketenangan ketika mendengar untaian kata syarat akan sebuah ikatan janji yang terucap penuh makna.
"Waktu telah berlalu cukup lama , merampas semua hal yg mungkin telah berlalu sejak lama. Mungkin ini terlalu mendadak , tapi aku tak ingin lagi membuang setiap detik waktu yg berlalu di antara kita."
Zayn menekuk lututnya, bersujud di bawah kaki Gita dan mendongak kan kepalanya, menatap lekat pada manik mata indah yang selalu membayangi setiap malamnya.
Jemarinya meraih sesuatu yang terselip di antara saku celananya. "Gita, bersediakah kau menjadi istri ku? berbagi kehidupan dengan ku? dan menjadi ibu dari anak-anakku?" ucapnya lirih seraya menengadahkan tangannya yang sudah memegang sebuah cincin bertahta berlian di atasnya.
Gita mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Apakah ini sebuah lamaran?" tanyanya penuh keraguan.
"He-em! ini sebuah lamaran. Dan aku sedang melamar mu untuk menjadi pendamping hidup ku."
Gita masih di selimuti keterkejutannya, bibirnya bergetar perlahan menyuarakan sebuah jawaban. " I-iya ! a-aku bersedia," ucapnya terbata sembari mengangguk-angguk kan kepalanya.
Binar wajahnya terlihat begitu bahagia, bulir air matanya pun sepenuhnya lolos seiring tersematnya cincin indah itu di jari manisnya.
"Terimakasih!" ucap Zayn merengkuh tubuh Gita dan membawanya dalam dekapannya.
❄️Tamat ❄️
Tapi bohong ... 🤣🤣🤣🤣🤣
Jangan lupa komen, like, sama ratenya kakak.😘😘
__ADS_1