Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
73. Skip


__ADS_3

Lelah.


Di pagi hari, tepatnya ketika jam digital di atas nakas masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Ketika suasana dingin dengan hembusan semilir angin menerpa tirai jendela yang terbuka, membuat setiap insan kian semangat untuk menarik dan mengeratkan selimut mereka untuk menutupi tubuh yang terbuka.


Zayn telah terjaga dari tidurnya semenjak sepuluh menit yang lalu. Ia bergerak gelisah merasa tak nyaman dengan bagian bawahnya yang kembali menegang. Berada di ranjang yang sama dengan sang istri membuatnya bergerak gelisah di landa syahwat yang tak kunjung mereda. Di tambah dengan suguhan pemandangan punggung telanjang dihadapannya, membuat Zayn mau tak mau harus meneguk ludahnya berulang kali. Meresapi setiap denyut yang teras nyeri mendamba akan sebuah penyatuan.


Setelah sekian menit dilanda derita, ia dengan segala kecamuk birahinya, bergelayut manja memeluk tubuh Gita dan kian mengeratkan rengkuhannya dengan maksud yang berbeda.


Jemarinya bergerak liar membelai tubuh polos sang istri yang masih terkulai di sampingnya, berusaha mengusiknya agar ia pun ikut terjaga bersamanya.


Namun sepertinya usahanya berbuah sia-sia. Gita tetap terlelap meski jemari Zayn bergerak nakal menjamah beberapa bagian sensitifnya. Gadis itu tetap menutup matanya, bergeming dan tetap bertahan pada posisi sebelumnya.


Dia terlihat amat lelah.


Wajah cantiknya terlihat kusut dengan rambut tergerai namun terkesan berantakan. Celah bibirnya yang sedikit terbuka dengan dengkuran halus yang keluar dari saluran pernapasannya membuat zayn seolah tak tega untuk meneruskan permainannya.

__ADS_1


Mengingat kejadian semalaman. Tatkala tubuh ringkih itu terus di paksa untuk tetap berada di bawah kungkungan lengan Zayn. Gita berusaha sebaik mungkin untuk mengerahkan kemampuannya untuk menari di atas ranjang, memuaskan hasrat sang suami dengan kemampuan yang pernah ia pelajari dari pengalaman terdahulunya. Namun siapa sangka, Pria itu seolah tak punya rasa lelah, dahaganya seolah tak pernah terpuaskan meski nyatanya ia telah mendapatkan pelepasan nya hingga berulang.


"Haih," dengusnya lirih seraya mengacak rambutnya. Sedang jemarinya yang semula aktif segera berhenti bergerak, berhenti menjamahi tubuh polos sang istri yang telah berpaling kembali membelakanginya. Namun ketika netranya kembali bertemu dengan punggung putih nan mulus milik gita, hasratnya yang semula sedikit mereda kembali menjadi rancu, kembali menggebu menuntut akan penyatuan dan berharap mendapatkan pelepasan sempurna setelah mencecap nikmatnya surga dunia.


Ia menyerah, setelah usahanya untuk membangunkan Gita lagi-lagi berbuah sia-sia. Kaki jenjangnya memilih untuk beranjak, menarik selimut tipis yang berserak di bawah kakinya, kemudian menyelimuti tubuh polos sang istri agar tak lagi menggoda hasratnya. Sepertinya ia butuh mandi air dingin untuk menenangkan gejolak syahwat yang kian menyiksa tubuhnya, setidaknya hingga hari esok tiba, ketika Gita telah terjaga dan kembali bisa melayani keinginannya.


***


Jarum jam berputar cepat, seiring matahari yang mulai menampakkan semburat warna merah indah di atas langit. Gita menggeliatkan tubuhnya nyaman, jemarinya bergerak-gerak meraba sisi ranjangnya yang telah kosong. 'Dimana suamiku?' batinnya bingung seraya mengerjapkan matanya.


Ini masih pukul setengah lima pagi dan biasanya pria itu masih lelap dalam buai mimpi indahnya. Ia mengendarkan pandangannya dan mendapati sosok yang ia cari tengah terbaring di atas sofa dengan bertelanjang dada.


Ia bergerak lincah dengan tubuh polosnya yang hanya tertutupi oleh kain tipis sebagai pelindung bagian-bagian tubuhnya yang sedikit menyumbul dari tempatnya.


"Morning kiss," bisiknya lirih menyapukan bibirnya pada wajah dan juga bibir sang suami. Ia sedikit termangu mematung dalam tatapan kosong menatapi wajah polos Zayn ketika ia tertidur. Pria itu benar-benar memiliki pahatan yang sempurna di setiap lekuk sudut wajah maupun tubuhnya. Perutnya yang dihiasi oleh otot-otot sixpack membuat jemarinya mendadak gatal untuk menjamahkan nya di atas perut rata milik suami yang ia damba.

__ADS_1


Sentuh lembutnya ia hadirkan disana, menyentuhnya dengan perlahan merayapi permukaan kulit putih suaminya yang kian menggoda. Gita menggigit bibir bawahnya, naluri liar nya serasa bergolak tatkala ia juga punyai rasa mendamba. Birahinya seolah terus bergolak tak sabar untuk segera meneguk nikmatnya bercinta.


"Babe, apa kau menyukainya?" suara serak itu membuat Gita seketika terperanjat, tersadar dari lamunan nakal yang terus berlari-lari dalam kepalanya.


"K-kau .. sudah bangun?" tanyanya tergagap seraya menarik jemarinya yang masih melekat di atas dada suaminya.


"Jangan beranjak, kau harus bertanggung jawab karena sudah membuat ku menunggu terlalu lama," tutur Zayn dengan senyuman menggoda. "Lihatlah," serunya seraya menggenggam tangan Gita dan menuntunnya untuk menyentuh sesuatu yang telah berdiri sempurna.


"Ih, kamu apaan si, babe!" ujar Gita seraya menarik jemarinya, sedang bibirnya tak mampu untuk menahan tawa.


Di pagi nan indah dengan alunan nada indah sebagai pengiring penyatuan cinta mereka.


Zayn merengkuhkan lengannya perlahan sedang jemarinya yang bebas membelai punggung putih itu dari bagian belakang. Menghadirkan kecupan-kecupan panas yang meninggalkan noda kemerahan di punggung putih telanjang sebagai titik pelampiasan.


Keduanya masih terus berpacu, menikmati setiap detik yang berlalu dengan buai nyaman yang menuntut dan tak berkesudahan.

__ADS_1


Peluhnya telah bercucuran, namun berbagai macam gaya membuat mereka seolah betah untuk berlama-lama di atas sofa.


Ya, mereka melakukannya. Menikmati panasnya proses bercinta kaum pasangan muda. Geloranya seolah tak berkesudahan, hingga akhirnya mereka usai seiring hadirnya denyut pelepasan.


__ADS_2