Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
52.


__ADS_3

kembali bersua.


Rindu. Satu kata yang bisa ia ucapkan ketika saat ini netranya tengah bertemu dengan seorang gadis yang sedang berdiri di hadapannya.


Senyumnya merekah, ia bahagia.


Tapi berbeda dengan wanita di hadapannya.


Tatapannya seolah beku, entah ia tengah bahagia atau tengah murka dengan pertemuan ini.


Tapi satu hal yang pasti saat ini Zayn begitu bahagia hingga ia susah untuk berkata-kata.


"Hay!" ucapnya bingung ketika hendak menyapa Gita yang masih diam mematung di hadapannya.


Gadis itu mulai memundurkan kakinya perlahan, dan ia segera berbalik selagi masih ada kesempatan.


Namun sial, pergelangan tangannya berhasil di cekal erat oleh jemari Zayn yang begitu kuat melingkar di pergelangan tangannya.


"Apa kabar?"


Gita bergeming, gadis itu masih terlihat syok dengan pertemuan mengejutkan yang terjadi begitu mendadak. Tatapannya masih kosong seolah tak yakin bahwa kejadian ini benarlah suatu kenyataan.


"Git!" panggil Zayn dengan lembut.


Gadis itu mendongak, menampilkan sorot mata yang sulit untuk di artikan.


Ia menghempaskan jemari Zayn dengan paksa. Menarik dirinya untuk sedikit berjarak dari jangkauan jemari Zayn lagi.


"Baby!" Panggilnya lagi dengan nada yang mulai sendu. Pria ini menjadi putus asa setelah melihat ekspresi wajah Gita yang seolah tak bersedia untuk menerima kehadirannya.


"A-aku baik. Dan tolong, jangan panggil aku dengan sebutan itu."


Gurat senyum tipis perlahan mulai merebak di area bibirnya, Zayn tersenyum lega ketika akhirnya gadis ini masih bersedia untuk membuka suara untuknya.


"Syukurlah! aku pikir kau sudah lupa dengan ku. Apa kau bersedia untuk meluangkan waktumu sejenak?


Ehm ... ku rasa kita perlu bicara."


Sontak saja kepala Gita seketika terangkat, nampak nyata ada kegugupan yang kembali hadir di wajahnya.


Senyumnya terurai tipis, dan sebuah gelengan kepala menjadi jawaban bagi permohonan Zayn. "Maaf zayn, kurasa kita sudah selesai sejak lama.


Jadi sebaiknya kita lupakan segala sesuatu di masa lalu." Tuturnya gamblang.


Zayn memejamkan matanya sejenak ketika jawaban yang ia terima seolah menghantam dalam relung dadanya. Menghancurkan segala harap akan benih cinta yang mungkin bisa kembali tumbuh di antara mereka.

__ADS_1


Namun sayang, lagi-lagi ia di permainkan oleh sebuah takdir.


Takdir yang senantiasa berbanding terbalik dengan inginnya.


Rahangnya seketika mengetat dengan bunyi geraham yang saling gemeratak. Sementara jemarinya sudah membentuk gumpalan tinju keras yang siap menghujam pada lawannya.


Ia tersenyum lebar dengan sedikit kelakar yang keluar dari mulutnya, "Aiya !! bagaimana aku bisa lupa bahwa gadis di hadapan ku ini adalah seorang peliharaan sang fotografer .


Maaf nona, kurasa aku salah orang. Permisi'"


Pamitnya santun dengan senyum maskulin khas miliknya.


"Zayn," panggil gita lirih, sangat lirih sampai orang yang ada di dekatnya pun tak mampu mendengar suaranya.


Tangannya terulur kedepan seolah menjangkau punggung tegap yang telah bergerak menjauh darinya.


Gita menggigit bibir bawahnya, melampiaskan segala kecerobohan nya ketika berbicara dengan Zayn.


Ia lupa bahwa Zayn adalah seorang pria yang berbeda.


Langkahnya berayun pelan mengikuti langkah Zayn dari belakang.


Meskipun ia tahu bahwa saat ini pria itu pasti tengah di selimuti oleh pekatnya emosi.


Dan mungkin kehadiran nya kali ini belum tentu bisa membuat suasana hati zayn kian membaik. Tapi tak ada salahnya mencoba bukan? selama ini ia selalu bisa membuat hati pria itu luluh.


Ia kembali bimbang, entah ingin mengejar Zayn yang telah berlalu atau malah berbalik pergi dan melupakan kejadian tadi.


Gita masih terhanyut dalam dilemanya.


Hingga ia terlonjat ketika seseorang menepuk bahunya pelan.


"Baby! Kamu nggak apa-apa?" Alex terlihat khawatir. Ia mengusap pelan wajah Gita untuk memastikan bahwa gadis kesayangannya itu baik-baik saja.


Gita tersenyum lembut, "Aku nggak apa-apa kok Lex." Seraya menepis pelan sentuhan tangan Alex dari wajahnya.


Keduanya terlihat mesra dari kejauhan, di tambah lagi dengan perangai Alex yang terlihat begitu memanjakan dan menjaga Gita bak sebuah hati kristal yang mudah rapuh dan pecah.


Zayn mengeratkan genggaman nya, jemarinya terkepal dan berakhir menghantam sudut dinding yang menjadi pelampiasan amarahnya.


"Damn it!" Geramnya kesal.


Zayn hanya bisa menatap benci kedua orang itu dari kejauhan.


Susah payah ia menjaga hatinya demi untuk mencari sosok Gita.

__ADS_1


Namun apa yang akhirnya ia dapatkan sekarang? Sebuah penghianatan yang terasa perih menghujam jiwanya.


Mengoyak seluruh perasaannya dan menghancurkan lagi sisi kepercayaan nya akan sebuah cinta.


" Brengsek!" umpatnya kesal. Ia masih memperhatikan gerik mesra yang terjadi antara Alex dan Gita dari kejauhan. Dan hal itu semakin kuat membakar hatinya.


Menimbulkan kecemburuan sosial akan sebuah kepastian cinta.


"Ya, ini nggak boleh terjadi.


Dari dulu dan sampai sekarang Gita cuma punya gue! punya gue! dan nggak untuk orang lain." Gumamnya dingin dengan seringai kejamnya.


Zayn menatap keduanya dengan tatapan sinis, sebelum akhirnya ia berbalik dan meninggalkan tempat itu.


•••••••••••


Lama ia berdiam diri di dalam mobilnya.


Nerta tajamnya masih cermat memindai setiap orang yang berlalu lalang di sekitarnya.


Sudah dua jam berlalu dan dua orang laknat itu belum juga keluar dari dalam sana.


Entah apa yang sedang mereka kerjakan di dalam sana.


Hari kian larut namun orang yang ia tunggu masih saja belum muncul.


Zayn mengirup napasnya panjang-panjang, berusaha menghilangkan pikiran buruknya akan hal aneh yang mungkin menimpa Gita.


Ia menghentakkan kakinya bimbang, menimbang-nimbang untuk pergi mencari keberadaan Gita atau tetap menunggunya di sini dengan kecamuk rasa penasaran yang kian menggerogoti pikirannya.


"Ck. Kenapa dari dulu Lo tu nggk pernah berubah si git! Selalu bikin gue khawatir," Ucapnya sembari berjalan cepat menyusuri lobby hingga ia tiba di lantai 10, tempat Alex bekerja.


Langkahnya berayun pelan memeriksa setiap bilik pintu dan berharap tak menemukan hasil yang bisa membuat amarahnya kembali bangkit.


Dari pintu satu ke pintu yang lain zayn masih sibuk mencari.


Hingga gerak kakinya berhenti di sudut pintu terakhir.


Ia memutar kenop pintu yang masih tertutup rapat, sungguh ini bukanlah kepribadian nya.


Baru kali ini di seumur hidupnya ia mengintip seseorang demi mencari keberadaan gadis yang bahkan tak lagi menganggap penting kehadirannya.


Dengan langkah tenang Zayn mengendap pelan masuk ke dalam ruangan itu.


Dan seketika matanya membulat sempurna ketika mendapati Alex dan juga Gita di dalam ruangan yg sama.

__ADS_1


"Bajing*an! minggir ..."


__ADS_2