Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
47.


__ADS_3

Di siang yang terik ketika matahari serasa begitu menyengat mengenai permukaan kulit.


Gita masih berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pose terbaik sesuai arahan yang di berikan oleh Alex.


Ia mendesah kesal karena sedari tadi tubuhnya serasa kaku tak bisa mengikuti instruksi pose yang di ajarkan oleh pria itu.


"Break dulu bentar git," ucap Alex menyudahi sesi pemotretan .


Ada tetesan bulir peluh yang menetes di area pelipisnya. Menandakan bahwa ia sudah cukup lama berada di bawah sinar matahari terik.


Gita jadi merasa bersalah, ia begitu bodoh dan juga lambat dalam mengekspresikan gerakannya.


"Sorry Lex, kayaknya aku emang nggak berbakat di sini." Tuturnya dengan mimik muka cemberut.


"Hey! ayolah, ini kan baru beberapa kali percobaan. Santai aja git! anggap aja kamu lagi foto biasa, jangan terlalu tegang."


"Kamu pasti capek dari tadi ngambil gambar aku nggak ada yang bener."


Alex mengacak rambut Gita dengan lembut, "Ngomong apa sih. Siapa bilang nggak ada yang bener?"


Alex meraih kameranya dan menunjuk kan hasil jepretannya ke pada Gita.


"Dari tadi sebenarnya aku udah dapet banyak foto kamu. Aku suka ekspresi wajah kamu yang kayak polos gitu." Pujinya menyemangati Gita.


"Aku bakal masukin foto-foto kamu barusan ke majalah aku Minggu ini. Nggak apa-apa kan?" ijinnya tanpa memaksa.


Gita mengagguk senang,"It's okay ! jawabnya singkat seraya melingkarkan ibu jari dan juga telunjuknya membentuk huruf 'O'


"Kita lunch dulu, nanti lanjut pemotretan berikutnya dengan kostum yang lain." Ajak Alex seraya menggandeng lembut jemari Gita dalam genggamannya.


Gita hanya bisa tersenyum, ia mengikuti Alex menuju cafe terdekat dari lokasinya saat ini.


Ke duanya berjalan santai. Meskipun di siang hari yang terasa begitu terik, pria itu tak merasa keberatan untuk menapak kan kakinya dengan lincah di atas jalanan aspal yang lumayan ramai di lalui oleh beberapa kendaraan yang berlalu lalang.


Gita sedikit terheran, biasanya kalangan pria muda apalagi dengan gelimang harta kebanyakan dari mereka akan lebih suka memamerkan kendaraan atau aset yang mereka miliki. Daripada harus bersusah payah mengeluarkan peluh untuk sekedar menikmati lunch di salah satu cafe.


Tapi kenapa pria ini malah lebih memilih untuk berjalan santai dan terkena paparan cahaya matahari yang begitu menyengat kulit ? batinnya terheran-heran.


Sudah lima-belas menit berlalu. Dan pria itu masih menggiring kakinya melangkah tak tentu arah.


'Sshht .. sshhtt ... ' desis Gita lirih memanggil Alex yang masih memimpin langkahnya.


"Permisi!" Kejut Gita menepuk bahu Alex.


Sontak pria itu menolehkan kepalanya kebelakang, ia menatap lucu pada mimik muka Gita yang sudah terlihat lelah dengan peluh dan kusam yang melekat indah di wajahnya.


"Pffftt!" Alex terkikik menahan tawanya.


Gita merengut kesal "Kau tertawa ? mengejek ku ya?" sungutnya kesal.


"Maaf, maaf." ucap Alex sembari memberikan satu pack kecil tisu basah kepada Gita.


"Wajahmu ..." ucapnya menahan tawa lucunya.

__ADS_1


Dengan cepat Gita menyambar pemberian dari Alex, dan ia segera mengusapkan selembar tisu itu ke wajahnya.


Menghapus jejak kusam dan juga minyak yang melekat di wajahnya.


Ia memalingkan wajahnya menghadap ke arah dinding kaca sebuah toko tempat ia berdiri sekarang, bibirnya menyunggingkan senyum kecil ketika melihat wajahnya kembali bersih tanpa bekas noda di sana.


"Merci ..." cap Gita dengan senyum cantiknya.


Alex menyunggingkan senyum yang sama, "sama-sama , yuk lanjut jalan."


"Masih jauh ya Lex? tanya Gita pelan. Jujur saja saat ini betisnya sudah mulai terasa berdenyut nyeri karena menahan pegal.


"Nggak! itu di depan." Tunjuk Alex pada sebuah cafe kecil yang berada tak jauh di depannya.


Gita tersenyum riang setelah melihat tempat tujuannya sudah berada di depan mata, "Haih, akhirnya sampe juga," ia menduduk kan bokongnya di sebuah bangku kayu di cafe tersebut setibanya ia sampai disana.


"Capek banget ya?" Alex tersenyum menggoda.


"Nggak , cuma pegel dikit." ujarnya sembari memijit pelan bagian betisnya.


Alex tersenyum tipis menanggapi jawaban dari Gita.


Tak berselang lama seorang pelayan dengan senyum anggunnya pun datang menghampiri meja mereka.


"Bonjur!" Alex menyapanya dengan ramah.


"Silahkan menunya, tuan," seorang pelayan berucap ramah dan juga lembut.


Alex memilih hidangan daging untuk menemani makan siang kami


Di tambah Citron presse-nya dua.


* citron presse adalah minuman segar berbahan perasan air lemon dengan campuran gula dan juga air dingin.


*coq au vin berarti ayam jantan di wine .


Berarti ayam yang di masak dengan campuran anggur merah dalam waktu lama, yang membuat tekstur dagingnya menjadi lebih lembut dan juga bumbunya pun meresap sempurna ke dalam daging.


Bercampur dengan irisan garlic, lardon, dan juga irisan jamur di dalamnya.


*Foise gras bahan utamanya adalah hati angsa atau bebek yang di buat pasta.


Proses pengolahannya bisa di panggang, goreng atau di bakar dengan saus khas Prancis sampai di campurkan ke dalam sandwich*.


••••••••


Gita telah berganti dengan pakaian yang lain.


Berbeda dengan yang tadi saat ini Gita tengah berpose garang.


Dengan balutan makeup tebal dan juga kuku jarinya yang di cat berwarna hitam.


Posenya terlihat menantang dengan lirikan matanya yang membuat orang seolah terpikat.

__ADS_1


"Okay! one, two, tree." Alex menghitung setiap detik nya ketika hendak mengambil foto jepretannya. "Good, girl." pujinya lagi ketika ia berhasil mendapatkan sesuatu yang di rasanya bagus.


Alex terus menjepret foto dengan pose yang berbeda-beda.


Tetap dengan gaya garang dan seksi yang menonjol dari riasan wajah Gita.


"Yap! Selesai." Alex bertepuk tangan dengan ekspresi wajah puasnya.


Ia melihat lagi hasil jepretannya dan kembali mengacungkan ke dua jempolnya ke arah Gita.


"good job, Git! kayaknya habis makan kamu jadi cepet ngerti ya." Ledeknya yang langsung mendapatkan pukulan kecil di lengannya dari Gita.


"Ck, nggak usah ngomong gitu juga kali Lex," Rajuknya pura-pura.


"Jangan ngambek! Gambar kamu beneran bagus kok.


Besok kita lanjut lagi, sekalian ajak kamu ke tempat pelatihan."


Gita menautkan kedua alisnya, ia bingung.


Emang harus ya? bukannya cuma sekedar photo shoot aja? batinnya bertanya-tanya.


"Pelatihan? ngapain?" imbuh Gita ingin tau.


"Ya buat latihan jalan, sama benerin pose kamu lah.


Kan kamu mau jadi model, harus di tempa dulu di tahapan awalnya.


Biar semuanya bener." Jelas Alex sembari mencubit pipi Gita dengan gemas.


Gita menundukkan kepalanya, mendadak tubuhnya serasa tak bertenaga setelah mendengar penuturan dari Alex. "Emang nggak bisa di rumah aja ya latihannya?


"Ya nggak bisa lah git. Kan di rumah nggak ada fasilitas yang mendukung.


Kamu yang semangat dong, jangan loyo gitu."


Gita hanya bisa mengangguk tipis, namun ekspresi wajahnya masih saja muram tak bertenaga.


"Hey! dengerin aku," ucap Alex seraya menarik kecil dagu Gita untuk menatap netranya.


"Kamu nggak akan lama di sana asalkan kamu serius.


Disana juga bakalan banyak calon kandidat model kayak kamu.


Kamu bisa banyak temen, sekaligus kamu bisa asah lagi bakat kamu yang lain.


Aku bisa jamin kamu bakalan betah di sana."


Tutur Alex meyakinkan Gita.


Gita mengagguk patuh. Bibirnya kembali menyunggingkan senyum cantiknya.


Setelah mendengar penuturan dari Alex, semangatnya kembali bangkit.

__ADS_1


Ia akan buktikan bahwa ia bisa dan mampu untuk menjadi orang sukses tanpa seorang pun yqng akan bisa merendahkan martabatnya di masa depan.


__ADS_2