
Ancaman.
Di ruang serba putih, lengkap dengan fasilitas VIP kelas satu rumah sakit ternama tempat di mana alex sedang di rawat kini. Tubuh penuh otot itu tengah terbaring tak berdaya di atas ranjang pesakitannya.
Ia masih terpejam dan belum tersadar dari pengaruh obat bius pasca operasi yang sempat ia jalani.
Sudah setengah jam berlalu, Zayn masih duduk diam tepat di samping ranjang pesakitan Alex.
Pria itu ingin menjadi orang pertama yang di lihat Alex ketika pria keji itu tersadar.
Jemari yang terlihat pucat dengan selang infus yang menembus permukaan kulitnya, mengalirkan cairan khusus untuk mempercepat proses pemulihan akibat luka tusuk yang ia derita. Alex mengernyit menahan sakit yang menusuk bagian perutnya. Rasa sakit yang di sebabkan oleh hilangnya pengaruh obat bius dari tubuhnya. Ia tersadar dan mendapati raut wajah masam Zayn yang seolah menatap nya penuh hardikan dan pandangan jijik.
"K-kau," ucap nya terbata seraya memundurkan tubuhnya pelan ke ujung ranjang. Pria itu kian pucat ketika Zayn menyeringai penuh amarah seolah ingin melampiaskan kemarahannya yang sempat tertunda oleh insiden yg membuatnya seperti ini. "Ap-pa yg akan kau lakukan?" tuturnya cepat mengibaskan tangannya kedepan untuk menghalau Zayn yang kian merangsek tubuhnya.
Pria itu kian terkekang dan juga dilanda kepanikan ketika jemari Zayn menekan kuat-kuat luka tusuk miliknya. Menekannya kuat-kuat hingga membuat Alex mengerangkan lengkingan keras nan serak dari mulutnya yang terdengar kian menggema. Pria itu merasakan sakit berkali-kali lipat di bagian perutnya, di sertai rasa perih seiring kucuran darah yang kembali merembes dari bekas jahitan yang Kembali terbuka. Zayn menyeringai penuh kekejaman, dalam matanya yang kian menggelap tersirat akan ancaman yang mungkin saja menimbulkan derita yang lebih parah dari hal ini.
"Apa ini sakit?" tanya Zayn dengan pandangan remeh, ia masih belum selesai dengan kegiatan barunya yang dirasa cukup menyenangkan. Senyum di bibirnya terurai tipis, ia senang bukan main ketika mendapati pria licik yang mencoba menodai gadisnya itu tengah tersiksa dan merintih tak berdaya di bawah tangannya sendiri.
"Ampun!! a-aku salah. Aku minta maaf. Tolong hentikan ..." rintih Alex tak kuasa lagi menahan sakitnya yang kian menyiksa. Pria itu begitu memelas dengan linangan air mata yang membasahi wajahnya. "Tolong panggilkan dokter ... tolong!" Ia kelihatan sangat takut akan kematian yang mungkin saja akan merenggut nyawanya melalui pria yg berada di hadapannya ini.
__ADS_1
Zayn bergeming untuk sesaat, kemudian ia melangkah mundur dan segera mencuci ke dua tangannya yang masih berlumuran darah itu di bawah aliran air wastafel. Pria itu tersenyum penuh kepuasan ketika ia dapat menyalurkan amarahnya dengan sangat bebas pada seonggok tubuh yang tak berdaya. "Apa kau tau Alex? ini kali pertama dalam hidup ku, aku bermain dengan cara menjijikkan seperti ini,"
Gumamnya dengan kekehan tawa. "Biasanya aku akan bermain bersih, membayar seseorang untuk melenyapkan orang-orang yang berusaha merenggut barang milik ku. Tapi, khusus untuk mu, aku akan memberikan perlakuan yang berbeda dari biasanya. Entah mengapa, kau membuatku merasa sangat bergairah untuk melakukan hal keji tak bermoral demi menuntaskan amarahku," tuturnya lembut namun lebih ancaman.
Setelah selesai, Zayn kembali mendekatkan dirinya di samping Alex. Dengan keji menangkup kan jemarinya ke area rahang kokoh milik Alex. Pria itu gemetar, wajahnya nampak sayu dan kemungkinan saja kesadarannya sebentar lagi akan segera lenyap. "Dengar kan aku!" ucap Zayn sembari menguatkan rema*tan jemarinya dengan kasar, "Jika sampai kau mengulang lagi kejadian seperti ini di masa mendatang, maka bersiap-siaplah. Bukan hanya dirimu saja yang akan tersiksa, tapi seluruh keluarga mu akan mengalami hal serupa yang mungkin akan berkali-kali lipat lebih menyakitkan dari pada yang kau alami saat ini. Jauhkan pandangan mu dan juga niat busuk mu itu dari wanita ku," ucapnya penuh penekanan. Pria itu hanya bisa mengaggukkan kepalanya patuh, dan tak berselang lama setelah itu kesadarannya pun akhirnya lenyap.
Zayn mengibaskan ujung pakainya yang terlihat kusut. Ia menekan tombol darurat pasien sebelum akhirnya ia melenggang pergi dari ruang perawatan itu dengan wajah berseri penuh kepuasan.
••••••••••
Janji.
Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam, mengirup sepoi angin malam yang semilir sejuk menerpa tubuhnya.
Ia memejamkan matanya untuk sesaat, meresapi setiap hembusan angin sejuk yang seakan membawa segala luka perih yang pernah ia derita.
Ketika ia sedang terhanyut dalam buai ketenangan, sebuah sentuh jemari lembut tiba-tiba hadir melingkar di area perutnya. menghadirkan usap lembutnya dengan belaian halus sehalus kapas yg membuai angan nya untuk sesaat. Zayn menyandarkan kepalanya di bahu Gita, membuat gadis itu kembali memejam ketika napas hangat Zayn menghembus mengenai tengkuknya.
Gita menggeliat pelan, menjauhkan wajahnya dari wajah Zayn yg semakin dekat dari ujung hidungnya. Aroma mint yang menguar dari mulut pria itu membuat Gita sedikit terhenyak untuk sesaat. Ia termangu menatap kosong pada sosok pria yang saat ini tengah tersenyum penuh arti kepadanya.
__ADS_1
Cup. Sebuah kecup lembut membuat Gita mengerjapkan matanya berulang. Gadis itu kembali tersadar dari lamunannya dan mendapati Zayn yang sedang menopangkan dagu di bahunya.
"Ngelamun terus kamu babe, mikirin apa?" tanya Zayn sembari menegakkan tubuhnya. Ia berdiri sejajar berhadapan dengan gita, menatap indahnya langit malam yang terlihat mempesona dari pantulan kaca jendela.
Gadis itu hening untuk sesaat, ia ditanya memikirkan apa? dan pertanyaan itu membuat otaknya mengarah pada Alex.
Entah bagaimana keadaan pria itu saat ini.
Sudah sepekan berlalu, dan ia hanya mendapatkan kabar melalui Zayn, bahwa pria itu dalam keadaan baik-baik saja dan tidak akan membawa kasus ini pada pihak berwajib.
"Kamu mikirin apa babe?" tanya Zayn lagi seraya memberikan usapan lembutnya di pipi Gita. Gadis itu kembali meremang meresapi setiap jengkal jemari halus yang menyapu kulitnya.
Ia menggeleng pelan, menggenggam jemari Zayn dalam genggam tangannya."Aku hanya memikirkan hubungan kita."
Zayn mengulas senyum tipis nya, "Bukankah kita sudah pernah berjanji bahwa apapun yang terjadi, kita akan tetap berjuang hingga impian kita untuk bersama benar-benar tercapai? Masih adakah keraguan di dalam sana ..." tunjuk Zayn pada bagian tengah dada Gita. Menunjuknya dengan perlahan penuh keingin tahuan
Gadis itu kembali terhenyak, menatap nanar pada bola mata coklat dengan segala keseriusan di dalamnya. "Tidak ada ruang untuk meragu, karna sejujurnya kemanapun kau menuntun langkah mu, disitu akan ada aku yang selalu menjadi pengiring langkahmu dan menjadi bayang-bayang di dalam hidupmu. Selamanya. I promise."
.
__ADS_1