
Semu .
Di hari Minggu pagi, ketika fajar baru saja berganti dengan sinar terang mentari pagi.
Menelusup hangat masuk melalui celah-celah fentilasi dan juga pantulan rumah-rumah kaca .
Geliat manja Hanum di atas ranjang kamarnya terlihat begitu nyaman.
Gadis itu mengeryitkan dahinya ketika tirai penutup jendela kamarnya di buka paksa oleh sang papa.
Rio dengan penuh kelembutan menarik lengan sang putri untuk diajaknya segera beranjak.
Kebetulan karena hari ini hari Minggu ia akan membawa hanum untuk ikut ber-olahraga bersamanya.
Enam hari dalam seminggu mereka gunakan untuk sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tersisa satu hari libur dan mereka baru bisa menghabiskan waktu berdua seharian di rumah atau sekedar berbelanja kebutuhan bersama.
Terlahir menjadi seorang piatu. Sejak kecil Hanum tak pernah merasakan buai kelembutan kasih seorang ibu.
Hanya ada papanya yang selama ini merawatnya dengan penuh kelembutan dan juga kasih sayang. Hal itu di rasanya lebih dari cukup daripada tak memiliki orang tua sama sekali seperti kebanyakan orang yang tak seberuntung dirinya diluaran sana.
Usapan lembut itu ia rasakan lagi. Papanya memang hobi sekali mengacaukan tidurnya .
Hanum menggeliat pelan, menyingkap selimut yang masih menutupi bagian kakinya.
"Apa sih pa!" rengek Hanum mengucek pelan kelopak matanya.
"Kamu bangun nggak? ada Zayn tuh di bawah, dia nungguin kamu dari tadi."
"Ha! Zayn di sini? Ngapain?" batin Hanum yang segera beranjak dari tidurnya.
Ia melongok ke luar pintu, mengintip dari atas sana dan memang mendapati pria itu berada di sana.
"Papa kenapa nggak bangunin aku dari tadi!" gerutunya yang segera merangsek masuk ke dalam kamar mandinya.
Tok .. tok .. tok .. Rio mengetuk pintu kamar mandi Hanum yang masih tertutup.
"Papa keluar dulu nemenin Zayn ngobrol ya! Kalau kamu udah selesai, buruan keluar jangan lupa bawain minuman juga ke ruang tamu." Titahnya dengan suara lembut.
"Iya pa!" Jawab hanum dari dalam kamar mandinya.
Kemudian Rio pun beranjak keluar dari kamar putrinya dan kembali ke ruang tamu untuk menemani Zayn selagi menunggu Hanum selesai dengan rutinitas paginya.
Tak berselang lama, Hanum pun sudah rapi dengan balutan dress putih dengan corak bunga-bunga kecil yang berhias di bagian bawah busananya.
Ia berjalan pelan sesekali mencuri dengar tentang apa yang sedang di bincangkan oleh sang papa dan juga pria pujaannya itu.
Namun sayang, ia tak dapat mendengar apapun karena suara mereka terdengar begitu pelan dari tempatnya berdiri sekarang.
Hanum memilih untuk beranjak dan melangkah santai menuju area dapur.
Di raihnya dua buah cangkir untuk menyeduh kan sesuatu yang hangat dan nyaman untuk di konsumsi di pagi hari.
Teh hangat ia pilih guna menjamu tamu yang hadir, tak ketinggalan dengan se-toples kue coklat kering hasil olahan tangannya sendiri guna menjadi teman minum teh di pagi hari.
"Silahkan di nikmati pa, kak." Sembari mengangsurkan ke dua cangkir dan kue kering itu ke atas meja.
Zayn mengagguk pelan dan tersenyum tipis kepada hanum.
"Om pamit dulu ya. Kalian lanjutin aja ngobrol nya." Pamit om Rio sembari membawa cangkir teh miliknya.
Zayn dan Hanum nampak begitu canggung. Mereka masih sama-sama diam dengan pikiran mereka masing-masing.
Zayn meraih cangkirnya dan mengirup aroma greentea yang begitu menenangkan langsung menyeruak mengisi rongga hidungnya. Begitu nikmat ia menyesap sedikit demi sedikit isi di dalamnya hingga ia tak sadar jika cangkir itu telah sepenuhnya kosong.
Zayn meletakkan cangkir itu di atas meja.
__ADS_1
Ia mengusap lembut sudut bibirnya dengan tisu, "Manis dan hangat. Sama seperti hubungan kita dulu ya, Num," ucap Zayn tenang.
Hanum menyugging kan senyum tipisnya.
Entah itu tadi sebuah pujian atau cemoohan, tapi yang pasti ucapan itu memang tertuju kepadanya.
"Ada apa kak, tumben mampir ke sini?" Hanum betanya dengan senyum cantiknya.
"Ehm, ada yang mau aku omongin, Num. Tapi nggak di sini, kita cari tempat lain aja ya, sekalian jalan-jalan." Pintanya lembut.
"Aku ijin dulu sama papa ya kak. Ehm ... kakak tunggu di mobil aja," ucapnya meninggalkan Zayn yang masih terduduk di ruang tamunya.
Zayn tersenyum miris seiring kepergian hanum dari hadapannya.
Tiada lagi kedekatan yang tersisa di antara ke duanya, semuanya serba asing. Bahkan untuk sekedar say hay pun serasa sulit baginya.
Entahlah, ia benci dengan keadaan ini.
Keadaan yang memaksa nalurinya untuk menjauh dari sisi Hanum. Sosok gadis periang, dewasa dengan segala pemikiran logisnya.
Gadis yang selama ini telah begitu dekat dengannya . Bukan sebagai kekasih melainkan seorang sahabat.
Dan sialnya lagi kenapa harus dia yang menjadi pilihan sang ibunda untuk menemani kehidupannya? kenapa bukan orang lain yang belum sempat ia kenali sebelumnya?
Kenapa harus Hanum? pertanyaan itu masih terus bermunculan dalam kepalanya.
Masih mencari-cari sebuah jawaban yang mungkin sulit untuk ia temukan.
Sebuah usapan lembut yang hadir di bahunya menyadarkan Zayn dari pemikiran peliknya.
Matanya menatap seseorang yang sudah berdiri di hadapan.
Hanum, dengan senyum cantiknya sudah berdiri di hadapan Zayn yang masih mematung di tempat semula. Tatapannya masih kosong untuk beberapa detik hingga kesadarannya kembali mengisi kepalanya.
"Kakak nggak apa-apa?" tanya Hanum khawatir.
Hanum hanya bisa menghela napasnya, berusaha tabah untuk menghadapi sikap Zayn yang begitu dingin terhadapnya.
Ia menghampiri Zayn yang sudah berada di dalam mobil, langkahnya sedikit ragu untuk ikut bergabung menemani Zayn di dalam sana.
"Masuk, num!" Titah Zayn yang langsung membukakan pintunya dari dalam.
Hanum mengagguk patuh kemudian duduk di samping Zayn dengan tenang. Bibirnya tertutup rapat. Tak akan terbuka jika lawan bicaranya tak lebih dulu bertanya.
Hanum memalingkan wajahnya menghadap ke arah jendela kaca.
Ada banyak bunga di sekeliling jalan yang telah ia lalui.
Begitu indah dan tertata rapi di setiap barisnya.
Hanum begitu antusias, bibirnya kembali terbuka untuk menyuarakan segala pertanyaan yamg ada di ujung bibirnya.
Namun melihat raut wajah dingin itu membuat Hanum kembali mengurungkan niatnya.
Ia memilih bungkam dan memfokuskan penglihatannya pada area jalanan yang mereka lalui.
••••••••••••
Sampai di tujuan.
Di sebuah rumah mewah dengan halaman luas juga aneka bunga-bunga indah yang begitu terawat rapi oleh sang pemilik seolah menyambut kedatangan mereka.
Zayn menyuruh Hanum untuk turun kemudian mengajaknya untuk masuk sejenak ke dalam rumah itu.
"Ini rumah orangtuanya papa. Rumah ini di wariskan ke aku sama keyra setelah mereka meninggal lima tahun yang lalu." Tutur Zayn menjelaskan.
__ADS_1
Hanum mengagguk paham karena sejujurnya sejak tadi ia juga bertanya-tanya tentang rumah ini.
"Duduk, Num!"
"I-iya kak."
Zayn beranjak kembali, ia menghilang ke sisi ruangan yang lain untuk sesaat.
Dan kemudian kembali dengan minuman dingin di tangannya.
Ia memberikan minuman itu kepada Hanum "Kita harus bicara, Num." ucap Zayn sedikit tegas.
"Soal pernikahan lagi?" sela Hanum dengan jawaban tepat.
"Iya."
Hanum menghela napasnya lelah.
Pria ini selalu saja membahas hal serupa jika bersamanya. "Kamu nggak capek kak, bahas itu-itu terus?"
Zayn menggeleng cepat, "nggak akan capek sebelum kamu ngerti maksut aku, Num."
Kamu tau nggak kenapa aku selalu kekeh nolak perjodohan ini?"
Hanum hanya mengedikkan bahunya tanda ia tak tahu.
"Aku nggak mau kalau kamu sampai tersiksa karena harus bertahan sama aku, Num.
Jujur, aku sayang sama kamu . Tapi sebagai sahabat dan juga adik. Sama seperti aku sayang sama keyra. Itu perasaan aku ke kamu, Num."
Hanum memalingkan wajahnya kasar, ia jengah mendengar ucapan yang sama dari mulut Zayn. "Mau seberapa banyak pun kakak nyakitin aku, aku akan tetep terima kok. Aku nggak akan keberatan meskipun setiap hari kakak bersikap dingin sama aku. Kayak sekarang ini." Imbuhnya lirih.
Zayn mengacak rambutnya frustasi.
Kenapa gadis ini begitu bebal akan permintaannya.
"Aku nggak mau kamu sakit. Itu intinya, Num.
Kenapa kita harus mengikuti perjodohan ini kalau dengan bersahabat saja kita bisa lebih nyaman dan lebih dekat?"
Hanum meringis ngilu memegangi dadanya yang mulai terasa sesak. Ia merasa tak di inginkan oleh Zayn.
Kenapa? Kenapa pria ini tak pernah sekalipun berusaha untuk membuka hatinya dan menerima kehadirannya di sini ?
Padahal dia telah sepenuhnya jatuh hati pada sosok Zayn.
"Kak! Apa aku nggak cukup layak sih untuk jadi istri kakak?" tanya Hanum begitu pilu.
Zayn menggeleng lemah, "bukan nggak layak, Num. Kamu layak banget, tapi bukan untuk aku. Ada banyak pria diluaran sana yang lebih baik dari pada aku, Num. Yang jelas-jelas mereka bisa membahagiakan kamu.
Tapi kenapa kamu harus repot-repot berkorban di sini?"
"Aku begini karena aku cinta sama kamu, Kak. Aku sayang sama kamu! Kenapa sih, kamu nggak pernah sedikit pun mikirin perasaan aku ke kamu, Kak? Aku juga sakit kamu giniin setiap saat, Kak!" tuturnya dengan derai air mata.
"Kalau kakak memang ingin perjodohan ini batal, kakak bilang sendiri sama papa dan tante Ayu. Karena mereka sendiri yang mengatur semua ini. Ini semua bukan keinginan aku kak. Di jodohkan dengan pria yang sama sekali nggak menghargai aku di sampingnya.
Tapi apa salahnya sih, kalau aku jatuh cinta sama kakak?
Kalau aku tau endingnya bakal begini, mending dari awal lebih baik aku nggak kenal sama kakak.
Sakit, sakit banget kak," Ucap Hanum memukul-mukul relung dadanya.
Melampiaskan rasa sesak yang kian membelenggunya.
Menyisakan pilu yang tak akan tau ujungnya.
__ADS_1
Hanya tangis, kerinduan akan buai cinta yang entah kapan akan tiba.
Hanum memilih untuk pergi, meninggalkan Zayn yang masih mematung melihat ke arahnya.