Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
48.


__ADS_3

please don't cray


Persiapan begitu megah telah di gelar dengan mewah dan meriah.


Sentuhan dekorasi berwarna putih khas nuansa barat menghias di salah satu gedung serbaguna yang di kelola oleh Zayn.


Beberapa karangan bunga bertulisan selamat menempuh hidup baru pun berjajar rapi di pelataran hotel.


Banyak tamu undangan yang datang dan semuanya berasal dari kalangan atas.


Tentu saja semuanya berasal dari kalangan atas karena ini adalah pernikahan dari seorang CEO dari hotel ternama di kota itu.


Seorang pria bertubuh tegap berbalut dengan jas putih modern sedang duduk sigap di hadapan penghulu dan para saksi yang hadir.


Di hadapannya juga sudah duduk sang wali sah mempelai perempuan yang sebentar lagi akan menyandang gelar sebagai


papa mertuanya.


Ia meneguk ludahnya kasar, sementara jemarinya meremat ujung kain celananya.


Meninggalkan bekas kusut di bagian pahanya akibat rematan jemarinya yang terlalu kuat.


Semuanya senyap untuk sesaat.


Ikut menyaksikan suasana sakral yang tengah berlangsung di aula besar itu dengan khidmat.


Lantunan ayat suci begitu merdu di lantunkan sebagai kata sambutan sebelum akhirnya ijab qobul pernikahan berlangsung.


Antara gugup, dan juga belum ada kesiapan hati.


Namun ini tetap ia lakukan dengan ikhlas dan sebaik mungkin demi kelancaran prosesi pernikahan.


Suara lantunan ijab qobul mulai di ucapkan dengan begitu tenang dan juga khidmat oleh wali nikah perempuan yang tak lain adalah om Rio.


Netranya menatap tajam pada seorang pemuda yang ada di hadapannya ini dengan tatap mata yakin.


Membuat mempelai pria itu sedikit gemetar ketika pandangannya bertemu dengan papa mertuanya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Hanum Salsabiela dengan maskawin tersebut di bayar tunai." ucapnya begitu lancar dengan satu tarikan napas.


Semua orang menyuarakan kata 'Sah' sebagai tanda bahwa prosesi sakral itu telah berjalan lancar.


"Jemput lah istrimu nak!" Titah pak penghulu kepada mempelai pria.


*****


"Om, aku mohon.


Aku bukanlah orang yang baik untuk mendampingi putri mu. Aku harap om bisa mempertimbangkan lagi tentang pernikahan ku dengan Hanum."


Di meja bundar itu, tiga kepala sedang mencoba merundingkan sesuatu hal yang serius. Ini adalah kali ke-lima Zayn menemui om Rio dengan tujuan yang sama.


Raka bersitatap dengan manik hitam Rio yang juga nampak serius memandanginya.


"Kenapa? aku sangat yakin kau bisa menjaga putri ku dengan baik, Zayn."


"Nggak om, bukan aku." Sangkal Zayn menggeleng kan kepalanya dengan cepat.


"Mungkin om salah mengartikan hubungan antara aku dengan Hanum.

__ADS_1


Di antara kami tidak ada cinta, melainkan hanya sebuah persahabatan."


"Tapi putri ku sangat mencintai mu, Zayn." Rio masih berupaya memperjuangkan keinginan putrinya.


"Ayolah om! aku tidak ingin membuat gadis kecil mu itu tersiksa karena tidak bahagia hidup bersama ku.


Aku tidak mencintainya, dan sampai kapan pun aku akan tetap menganggapnya sebagai seorang sahabat dan bukan seorang istri.


Aku yakin setiap orang tua selalu menginginkan kebahagiaan untuk anaknya.


Bukankah begitu om?" Zayn menatap tajam pada Rio yang tengah duduk di hadapannya. Ia ingin segala sesuatunya jelas detik ini juga.


"Aku paham, dan aku mengerti.


Tapi apa yang bisa kita perbuat Zayn? undangan sudah selesai di cetak. Lalu, mungkinkah kita juga akan membatalkan pernikahan ini?" Rio juga tak kalah bingungnya dengan Zayn.


Selain masa depan putrinya yang di pertaruhkan, nama baiknya juga terancam tercoreng akibat gagalnya pernikahan ini.


Raka masih terdiam. Ia masih memainkan jemarinya di atas meja.


Menimbulkan bunyi ketukan kecil seolah menimbang-nimbang sesuatu yang ada dalam kepalanya


"Pa! papa ada solusi?" tanya Zayn penuh harap.


Ia tau papanya itu tak sekejam perangai sang bunda.


Ia juga seorang lelaki yang juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Pastilah ia tahu mengingat dulunya sang papa juga pernah di paksa untuk menikah.


"Kita lanjutkan pernikahan!" Raka berucap penuh kepastian.


"Pa! ayolah, ini terlalu kejam untuk ku!" Protes Zayn keberatan.


"Tenang Zayn, papa sudah memikirkan rencana.


Tapi papa harap kamu bisa diam dan tenang sampai waktu pernikahan tiba.


Dan setelah itu terserah apa mau kamu."


"Satu lagi!" Rio menyela pembicaraan ke duanya. "Om harap, kamu bisa sedikit melunak ketika bersama Hanum. Gadis itu begitu rapuh ketika kau acuh padanya, Zayn." Mohon Rio dengan sungguh-sungguh.


"Akan ku usahakan, om."


••••••••


Hari H.


Zayn sudah bersiap dengan balutan jas putih elegan yang membalut tubuhnya. Layaknya seorang pengantin pria yang begitu tampan dan juga gagah.


Ayu nampak bahagia ketika melihat putranya itu sudah siap untuk menapaki jenjang kehidupan yang baru dengan gadis baik-baik pilihannya.


"Bund! Mohon doa restunya," Zayn berucap dengan santun. Ia merebahkan kepalanya di pangkuan Sang ibunda seraya mengecup kilas jemari tangan ibundanya dengan lembut.


Ayu merasa terharu, ia menghadirkan usapan lembutnya di kepala anaknya dengan penuh kasih.


Air matanya lolos ketika sendu mulai merambah ke hati nya.


"Bunda merestui kak! Berbahagialah, dengannya!"


Lalu kemudian ia menghadirkan kecupan sayang ke kening sang putra.

__ADS_1


"Bunda ke kamar Hanum dulu.


Turunlah, sebentar lagi akad akan di mulai.


Setelah kalian sah jemput lah istrimu dan pakaikan cincin di jari manisnya." Titah sang bunda dengan lembut.


Zayn mengagguk patuh, dan sang bunda pun berjalan keluar pintu.


Prosesi ijab qobul yang mengusung konsep pernikahan syar'i. Yaitu konsep dengan memisahkan


calon suami dengan calon istrinya semakin memuluskan rencana yang telah di susun oleh sang papa.


Zayn segera berganti dengan pakaian casual yang telah ia siapkan sejak tadi.


Sementara reynand dengan cepat berganti dengan pakaian milik Zayn.


Ya, mereka bertukar peran.


Hari ini Reynand lah yang akan menggantikan posisi Zayn sebagai mempelai prianya.


Ia rela dan siap memperistri Hanum dan menjadikan wanita itu sebagai pendamping hidupnya.


Zayn memeluk reynand dengan erat, sesekali ia mengecup pipi adik bungsunya itu dengan sayang.


"Thank Rey! gue bakal inget pengorbanan lu hari ini.


Kapanpun Lo butuh bantuan gue, gue bakalan siap kapanpun untuk bantu Lo," ucapnya dengan sendu.


"Pergilah bang! kejar apapun yang Lo mau.


Gue harap lu bisa bahagia dengan pilihan Lo." Reynand menyemangati Abangnya dengan tulus.


"Thank Rey. Good luck buat Lo.


Semoga kalian bahagia."


Keduanya sempat berpelukan lagi, pelukan erat dua saudara yang memiliki kisahnya masing-masing.


******


Ketukan pintu di kamar sang mempelai perempuan terdengar pelan.


Reynand masih berdiri tegang di luar pintu di temani oleh sang papa dan juga Rio yang mengapitnya dari ke dua sisi.


Perlahan pintu terbuka, berharap di sambut dengan bahagia oleh sang ibunda


"Assalamualaikum ..." ucap reynand ketika pintu perlahan mulai terbuka.


Sontak saja, pintu yang semula bergerak perlahan itu seketika berhenti.


Sementara di balik pintu itu sebuah tubuh berdiri dengan gemetar dan juga hati yang berkecamuk menahan marahnya.


"Ini bukan suara Zayn!" batinnya yakin.


Ayu kembali membuka pintu kamar itu, tak lagi dengan perlahan namun kini dengan kecepatan maksimal.


Sontak netranya membola, bibirnya ternganga menahan keterkejutan yang mengoyak kesadarannya.


"A-adek?"

__ADS_1


__ADS_2