
Keheningan masih membentang di ruangan itu. Kedua insan berlainan jenis itu masih bersitegang dengan pikiran dan juga ego mereka masing-masing.
Zayn memilih untuk menyingkir, ia memilih keluar dari ruangan luas yang terasa menyesakkan baginya.
Gita masih berdiri tegang di tempat semula, perlahan pertahanannya runtuh seiring isaknya yang semakin terdengar pilu.
"Bodoh". Satu kata yang terus ia racaukan dalam tangisnya.
Gita kian tersedu meratapi setiap tutur katanya yang mungkin telah membuat hati pria itu terluka.
Inginnya untuk kembali merajut tali cintanya seolah gugur seiring lidah tajamnya yang menggoreskan luka perih dalam relung hati pria yang begitu ia cintai.
Semua sirna, seolah tak bersisa ketika pria itu tak jua membalikkan punggungnya dan kembali mengulur kan tangan guna menyambutnya lagi.
Jangan kan untuk membalikkan punggungnya berhenti sejenak untuk menunggu tutur katanya pun tidak.
Gita masih tertunduk di ruangan yang sama.
Ia masih larut dalam suasana sedih yang membelenggunya.
Ponselnya masih terus berdering disertai getaran yang semakin membuat bising suara meja.
Namun ia masih bergeming, seolah tak terusik oleh bunyi dari benda pipih itu.
Matahari kian meninggi, namun Gita masih saja menatap kosong pada kaca jendela di ruangan yang sama.
Angan nya menerawang jauh seakan menggapai cinta semu yang masih berpendar dalam ingatan nya.
Entahlah, hatinya masih terasa sakit ketika mengingat kekecewaan yang hadir di netra Zayn. Benarkan pria itu masih menunggunya ?
Angan nya kian berkecamuk, carut marut dalam isi kepalanya.
Ia risau dan sedikit menyesal.
"Bukankah di sini aku lah yang bersalah?
Bukan kah aku yang telah berbuat keji karena menghilang dan melupakan keberadaan mu? Aku ! aku yang mendustai setiap kebenaran Zayn, begitupun dengan perasaan ku.
Kau masih di sini, dalam hatiku.
Walau sebesar apapun usaha ku untuk melupakan mu menggantimu dengan sosok yang lain, tapi tetaplah tiada yang lain yang bisa mencuri dan menyamankan segala perasaan ku. Kecuali ... kau."
Bulir air matanya kembali menetes, melepaskan segala sesak yang serasa menghimpit rongga napasnya.
__ADS_1
Sementara di luar pintu Zayn tengah terduduk bersandar pada dinding yang menjadi sekat pemisah di antara mereka.
Ia menundukkan kepalanya dan menumpukan nya pada kedua lututnya.
Ia dengar, semua yang di gumamkan gadis itu dari dalam sana.
Ia dengar, segala kejujuran yang di ucapkan oleh Gita ketika dia berada dalam kesendirian.
Hatinya pilu, angannya kacau.
Semuanya semu, entah apa lagi yang harus ia lakukan sekarang.
Semua usahanya seolah tak pernah berarti di mata gadis itu.
Bahkan ketulusan nya pun hanya berbalas dengan sebuah kebohongan palsu yang mengakibatkan keretakan pada hubungan mereka.
Zayn kembali beranjak dari duduknya meninggalkan dinding sandaran nya dan berlalu ke ruangan yang lain.
••••••••••
Tok ... tok ... tok
Suara ketukan pintu mengalun pelan di badan pintu.
Ia beranjak berdiri dan membukakan pintu kamarnya.
Seorang maid membawa sebuah nampan berisi makanan sedang berdiri di hadapannya. Wajahnya yang cantik dengan senyum ramah yang terurai di bibirnya terlihat begitu tulus ketika ia mengemban tugas sebagai pelayan di tempat ini. "Maaf nona, tuan menyuruh saya untuk membawakan hidangan makan siang untuk nona. Silahkan anda nikmati ."
"Terimakasih!" ucapnya dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
Maid itu pun membungkukkan tubuhnya, kepalanya mengangguk pelan sebelum akhirnya ia pamit untuk undur diri.
Gita meletakkan nampan itu di atas meja, ia duduk di sana sembari memandangi sepiring makanan mewah yang ada di hadapannya.
Ia mendengus lirih ."Tak ada yang berubah Zayn. Dari dulu kau masih menjadi seorang tuan muda. Entah di Indonesia ataupun disini, entah sekarang ataupun kemarin. Kau tetaplah seorang tuan muda. Tuan muda yang memiliki pesona dan juga kemewahan.
Ibarat kau adalah sebuah bintang di langit, sedangkan aku hanyalah serakan batu kerikil kecil yang berada di pusat bumi. Kita terlalu berbeda. Tapi sialnya, kita malah terikat oleh cinta.
Gita masih bergumam, lidahnya terus mengoreksi banyaknya perbedaan yang membentang di antara mereka.
Dari hal terkecil hingga hal yang paling besar, menurutnya ia bukanlah tandingan untuk seorang Zayn.
Kasta yg berbeda, kekayaan, pola hidup, sampai strata sosial mereka yang sangat berbanding terbalik dari kedua sisi.
__ADS_1
Gita tersenyum kecut, ia sadari usahanya selama ini untuk meningkatkan nilai pandang orang terhadapnya telah membuahkan hasil. Banyak dari beberapa pengusaha ternama yang mencatut kan namanya sebagai Brand ambassador produk unggulan mereka.
Namun nyatanya, Gita masih tak merasa bahagia ketika dirinya berhasil berjaya dengan meraup pundi-pundi penghasilan nya yang tergolong bernilai fantastis.
Hatinya seolah hampa sepi tanpa penghuni.
Sebenarnya ia lelah, namun asanya seolah tetap memaksanya untuk bertahan.
Sudah sering bibirnya berucap suatu penolakan di setiap ada seseorang yang selalu mencoba mendekatinya.
Entahlah, ia merasa risih ketika di hadapkan dengan pernyataan cinta.
Seperti beberapa bulan yang lalu ketika ia menjadi begitu canggung dan tak leluasa bertutur kata. Waktu itu Alex kembali menyatakan perasaan cinta kepadanya. Bibirnya hanya bisa menyunggingkan senyum tipisnya, di iringi oleh gelengan kepala dan juga kata maaf yang entah sudah berapa kali ia tutur kan ketika pria itu kembali memburunya dengan bujuk rayu. Alex seolah tak pernah lelah menerima penolakan halus darinya . Pria itu begitu gigih dan juga berhati lapang .
Entah matanya yang telah buta atau dalam batinnya telah tertanam obsesi untuk memiliki gita. Gita pun tak tau mana satu yang pasti.
•••••••••
Suara ketukan pintu kembali terdengar . Seseorang dengan suara beratnya meminta izin untuk memperbolehkan nya masuk.
Gita segera beranjak dan menjangkau kan jemarinya pada gagang pintu, perlahan memutarnya dan mempersilahkan Zayn untuk masuk. Senyum tipisnya kembali terurai ketika netranya juga mendapati hal yang sama pada mimik muka pria dingin di hadapannya ini.
"Aku akan mengantarmu pulang. Bersiap-siaplah!" tutur Zayn lembut.
Pria itu mendudukkan dirinya di ranjang sembari mengamati ekspresi Gita yang seolah kecewa.
"Ba-baiklah, tunggu sebentar aku akan merapikan diri." ucapnya berlalu ke kamar mandi.
Gita memejamkan matanya rapat ketika air dingin dari wastafel mengenai wajahnya.
Ia membasuh wajahnya berulang kali .
"Apakah ini sebuah pengusiran?" batinnya mendadak rancu dengan segala ketidak terimaan yang serta-merta mengoyak titik rendahnya.
Bukan kah ini yang aku inginkan? sebuah perpisahan dan jarak yang kian lebar membentang?
Tapi kenapa , hatinya harus menjadi sesakit ini ketika pria itu seolah tak ingin ada keberadaan nya di tempat ini?
Apa inginnya yang sesungguhnya?
Gita mengembuskan napasnya lelah .
Ia terlalu naif dan munafik sebagai seorang perempuan. Hati dan jiwanya masih kuat menggenggam, namun lisan nya selalu berkata lain.
__ADS_1
Lepaskan, menjauh, dan sekarang tinggallah beban batin yang di sangganya.