Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
09.


__ADS_3

Deru mobil militer terdengar berhenti tepat di depan club yang berada di bawah naungan Reynand.


Zayn yang sedari tadi sudah menunggu pun segera keluar dan menyambut baik kedatangan teman lamanya itu. Ah bukan, lebih tepatnya saudara jauhnya.


mengingat ia adalah putra dari paman Jacob dan almarhum tante sinta.


Nathan•


Pria muda yang memilih untuk mengabdikan dirinya di dunia distrik militer.


Setahun terakhir kiprahnya semakin di akui oleh negara. Terbukti jelas dari kenaikan pangkatnya yang kini sudah menyandang gelar menjadi letnan jenderal di salah satu TNI AD.


Di kenal sebagai Letjen Nathan Aileen Caesar. Yang memiliki segudang prestasi sejak pertama ia memutuskan untuk bergabung di distrik militer Indonesia.


Butuh perjuangan dan proses yang panjang untuk sampai pada titik pencapaian nya kini.


Nathan tersenyum tipis dengan senang hati menyambut uluran tangan dari sahabat lamanya itu.


Tangan mereka beradu kepalan sebagai salam resmi dari awal perjumpaan. Sama seperti waktu duduk di bangku sekolah dulu.


"Lama nggak ketemu zayn, apa kabar?" tanya Nathan seraya mengikuti langkah Zayn yang membawanya masuk ke dalam room VVIP yang sudah di siapkan untuk menyambut kedatangannya. Di ikuti oleh reynand yang sedari tadi seolah enggan untuk berbicara.


"Baik. Tapi ... sekarang gue lagi butuh bantuan dari Lo Nath!" ucap Zayn sembari mengangsurkan segelas wine pada Nathan.


"Bantuan apa?" tanyanya sembari meneguk segelas wine yang ada di genggamannya.


"Ada transaksi ilegal skala besar di club ini,"


ucap Zayn dingin, seraya menuangkan kembali sebotol wine pada gelasnya yang sudah kosong. "Yang pasti club kita nggak ada sangkut pautnya dengan barang haram itu nath," ucap Zayn lagi.


Nathan terdiam sejenak.


menyimak setiap penuturan dari mulut sahabatnya itu.


"Kalau ada bukti yang konkrit, gue pasti bantu." ucap Nathan meyakinkan.


"Rey!" panggil Zayn pada sang adik yang sedari tadi masih diam di tempat


"I-iya bang!"


"Bawa buktinya kemari," titahnya lagi.


Reynand mengagguk dan segera mengambil laptopnya yang memang sudah ia persiapkan sejak tadi. Ia memutar kembali detik-detik rekaman video cctv yang ada di dalam room khusus tempat kejadian berlangsung.


Jujur reynand merasa terkekang karna masalah ini. Kelalaiannya dalam pengamanan club dan kemungkinan terbesar adalah jeratan hukum yang bisa menghancurkan nama baik keluarga terus membayanginya seharian ini.


Tapi untunglah, ia masih memiliki bukti otentik di tangannya.

__ADS_1


Dan ia bisa cukup tenang karna ada seseorang yang bisa ia andalkan untuk mengatasi masalah ini.


"Gimana Nath?" tanya Zayn setelah memperlihatkan bukti yang ia miliki.


"Ekhm ... gue bisa urus. Biar anak buah gue ntar yang handle.


Kalau kalian terbukti bersih, gue jamin nggak ada masalah kedepannya." Jelasnya singkat.


Reynand menghela napas lega.


Dengan cepat ia meneguk segelas wine miliknya yang sedari tadi seolah enggan untuk ia sentuh. Karena pikirannya masih tertuju pada masalah yang menurutnya rumit dan berbahaya.


"Thanks bang Nath," ucap reynand mengangkat gelasnya ke udara.


mereka bertiga bersulang dan menikmati gemerlap indahnya dunia malam sebagai ucapan terimakasih atas bantuan dari Nathan.


••••••


Di lain tempat, Gita masih mondar mandir di ruang tamu.


menunggu sosok pemilik apartemen yang tak kunjung pulang di jam yang kian larut.


ia berdecak kesal karna hatinya mendadak risau karena teringat akan pria kejam yang kemarin merenggut paksa mahkota miliknya.


Entahlah, hanya karena beberapa hari ia tinggal seatap dengan pria yang dianggapnya seorang psikopat gila itu, ia bisa menjadi seperti sekarang.


Mendadak risau tak jelas dan suasana hati yang menjadi tak menentu jika tak melihat pria itu barang sehari.


Ia menghentakkan kakinya kasar, lalu melangkah ke dalam kamar. Berharap semoga matanya bisa lekas terpejam dan ia bisa beristirahat.


Namun lagi-lagi bayang wajah Zayn kembali terukir di benaknya.


Sama seperti beberapa jam yang lalu di setiap ia mencoba memejamkan matanya. Kilas balik kejadian penuh hasrat di malam itu kembali terputar di dalam benaknya.


"Sialan!" umpat Gita seraya kembali terduduk.


Ia mengacak rambutnya frustasi.


Kenapa otaknya harus mengingat kejadian yang memalukan itu di saat seperti ini. Jantungnya kian berdegup kencang tatkala bayangan bibir seksi itu menyentuh permukaan bibirnya untuk pertama kali. Membuat Gita menggeleng keras, berusaha menolak untuk mengingat


Ia beranjak dari tempatnya, membawa kaki mungilnya kembali ke ruang tamu.


Tempat ini terasa begitu sepi saat sang pemilik tidak berada di tempatnya.


Denting suara jam yang menggema semakin membuat suasana menjadi sunyi.


Gita mengusap lembut pergelangan tangannya, suhu AC yang terlalu dingin membuat bulu romanya sedikit berdiri.

__ADS_1


Sesekali matanya kembali melirik ke arah jam yang sudah mulai merujuk ke pagi hari.


Namun, orang yang ia tunggu tak kunjung datang juga.


"Entah apa yang dilakukan pria brengsek itu!" ucap gita pada dirinya sendiri.


Saat ini ia sudah lelah, ia hanya ingin tidur dan beristirahat dengan nyaman.


Akan tetapi apa mau dikata, isi kepalanya seolah enggan untuk di ajak berkompromi.


Membuat Gita terus mengomel tak jelas di setiap pergantian jam.


Hingga pukul dua dinihari ia mendengar bunyi "bip" dari balik pintu yang perlahan mulai terbuka.


Matanya membulat sempurna saat ia melihat sosok Zayn dengan penampilannya yang tak seperti biasanya.


Rambut acak-acakan, serta aroma wine yang menyengat begitu menguar di seluruh tubuhnya.


Gita reflek mendekat saat langkah Zayn mendadak gontai dan nyaris ambruk terbentur sudut meja.


Dengan cepat ia menopang kan tangannya pada bahu Zayn.


Menjaganya agar tetap seimbang.


Meski harus bersusah payah dan terhuyung huyung nyaris terjerembab ke depan. Saat Gita menaiki tangga yang terasa semakin memanjang dari sebelumnya.


ia terseok-seok berusaha sekuat tenaga membawa Zayn menuju kamarnya.


"Huh! akhirnya," Gita tersenyum tipis saat ia sudah berada di depan pintu kamar Zayn.


Tangannya perlahan bergerak untuk meraih gagang pintu dan membukanya.


Tercium aroma maskulin khas seorang pria yang begitu pekat mendominasi seluruh ruangan saat Gita mulai bergerak masuk ke dalam kamar bosnya itu.


Ia merebahkan tubuh Zayn ke atas ranjang.


Sesaat pandangannya mengendar, mengamati seluruh isi ruangan yang di dominasi oleh warna biru Dongker itu.


Ada sebuah bingkai foto kecil yang menyita perhatiannya. Tangannya terulur untuk meraih dan melihat siapa gerangan yang ada di balik foto tersebut.


Ada rona bahagia yang terpancar dari setiap wajah yang ada di sana.


Pasangan keluarga bahagia beserta anak kecil yang tersenyum ramah di depan kamera.


"Apakah ini ayah dan ibumu?" gumam Gita masih memandangi bingkai foto yang ada di tangannya.


Ia milipat bibirnya kedalam, dan perlahan sudut matanya mulai berair. Mengingat ia tak pernah memiliki keluarga yang utuh sejak ia dilahirkan.

__ADS_1


Gita meletakkan bingkai foto itu ke tempat semula, bergegas pergi setelah ia menutup pintu kamar bosnya itu.


Ia merebahkan dirinya ke ranjang dan perlahan menutup mata kemudian terlelap dalam tidur nyenyaknya.


__ADS_2