
Sebuah Prosesi.
Suasana pagi yang asri, dengan hawa sejuk di sertai dengan sorot sinar matahari yang mulai menyingsing tinggi. Hari ini bumi terasa jauh lebih hangat tanpa tetes hujan yang mengguyur wilayah perkotaan.
Di kediaman keluarga Malik Ahmad, seorang gadis berparas ayu tengah duduk tenang di depan sebuah bingkai kaca rias. Parasnya cantik penuh pesona dengan sanggul khas Jawa yang telah membebat erat kepalanya. Ia telah siap dengan balutan kebaya modern berwarna gold dengan bagian ekor yang menjuntai hingga ke lantai, telah terpasang rapi di tubuhnya.
Dilengkapi riasan khas Jawa dengan balutan kain batik yang membebat bagian bawahnya, semakin kental memancarkan budaya khas kedaerahan. Menambah kesan anggun yang terpancar terang dari raut wajah Gita, gadis itu begitu anggun, dengan lesung pipi mungil yang terselip di bagian pipinya.
Gadis itu sesekali tersipu, tatkala mendengar celetukan-celetukan nakal yang keluar dari bibir keyra. Calon adik iparnya itu tak pernah berhenti untuk menggodanya, membuatnya tertawa sekaligus menghilangkan ketegangan yang ia alami. Hubungan mereka terjalin begitu cepat, semakin erat dan juga terpatri dalam simbol persahabatan.
__ADS_1
••••••••••••
Susasana mendadak tenang, seiring berkumpulnya beberapa tamu undangan yang telah hadir dalam acara, hal itu semakin membuat Gita selaku mempelai wanita dibalut dalam buai ketegangan. Peluhnya terus saja menetes di iringi dengan debaran jantungnya yang kian berpacu. Ia menggenggam erat jemari keyra, adik iparnya itu dengan sabar menuntun langkah sang kakak ipar secara perlahan menuju mimbar di hadapan penghulu. Sesekali, sejenak mereka berhenti. Entah keyra yang sibuk mengusapkan tisu untuk menghapus bulir peluh di wajah Gita atau malah sebaliknya, Gita yang sibuk mengatur langkah kakinya yang terasa amat sulit dan juga sesak ketika ia berjalan.
Pijakan kaki mungil itu perlahan menuruni anak tangga, dengan wajah tertunduk sembari menghitung berapa anak tangga lagi yang harus ia lalui. Jarak yang tak terlampau jauh itu bahkan memakan waktu bermenit-menit lamanya hingga kaki mungilnya itu sampai di depan mimbar tempat penghulu berada. Wajahnya masih terlihat gugup dengan ekspresi senyumnya yang terkesan di paksakan. Namun begitu, tetap tak mengurangi kesan jelita yang sangat terpancar dari dalam dirinya.
Jemari sang bunda mertua pun terulur, menyambut kedatangan calon menantu dan perlahan mendudukkannya tepat di samping mempelai pria yang tak lain adalah putra sulungnya. "Atur nafas, kemudian buang perlahan. Tolehkan kepalamu, dan lihatlah pangeranmu yang akan segera mempersunting dirimu. Membawamu dalam mahligai rumah tangga bahagia penuh damba." Suara lembut itu mengalun syahdu dari bibir bunda mertuanya, dan bagai sebuah sugesti Gita mulai melakukan apa yang di tuturkan olehnya.
Gita tersenyum lembut, netranya sedikit menyipit mengekspresikan rasa bahagianya. "A-apa kamu sudah menghafal teks-nya?" bisik Gita lirih sembari menutupi sebagian wajahnya. Mengantisipasi agar tiada orang lain yang mendengar bisik-bisik mereka.
__ADS_1
Zayn bergeming, ia kembali memfokuskan pandangannya kedepan menatap penghulu dengan sorot mata penuh keyakinan. Ia menarik napasnya panjang, menormalkan irama jantungnya yang kian memburu seiring bacaan ayat suci yang di perdengarkan.
hening penuh ketegangan. Begitu sesak seolah tak mampu lagi untuk menarik napas. Gita sedikit menundukkan kepalanya, menahan haru tatkala Zayn dengan gamblang menuturkan bait-bait ijab qobul. Namanya tersebut dengan lancar berikut dengan binti Alm. Cokro Wiratmaja yang menyandang gelar sebagai ayah kandungnya. Ia menitikkan bulir air matanya. Tak mampu lagi menahan keharuan yang menyelimutinya
seiring kata 'Sah' terucap kompak dari beberapa tamu yang ikut menjadi saksi penyatuan cinta mereka.
Senyum haru sekaligus peluk sayang berhambur kepadanya, "Jabat tangan suamimu, Nak. Kecuplah perlahan karena dia telah resmi menjadi imam dalam hidupmu," titah penghulu mempersilahkannya.
Gita mengangkat pandangannya perlahan, memandangi raut wajah tampan yang tak lain adalah suaminya. Dengan tangan gemetar ia memberanikan diri untuk menyambut jemari sang suami dan mengahdirkan kecup sayang penuh ketulusan disana. Kecup kilas namun penuh dengan pengabdian sekaligus rasa hormat 'Bimbinglah aku menuju mahligai bahagia. Tuntunan lah aku dan jangan pernah berhenti untuk mengingatkan ku tatkala aku sudah mulai lengah dengan segala kewajiban ku.' batinnya dalam hati.
__ADS_1
Gita memejamkan matanya sejenak seiring dengan bibir Zayn yang mengecup kilas bagian keningnya. Dadanya kembali berisik dengan debaran yang cukup kencang memacu jantungnya. Membuat napasnya kian berpacu seiring dengan bisik lirih yang terdengar di telinganya, "Aku sangat menantikan malam kedua kita, istriku!" Sontak hal itu membuat Gita mendongakkan kepalanya, pipinya seketika merona menahan malu yang terpampang nyata di wajahnya.
Namun, ia tetap tersenyum menyikapi godaan dari sang suami. Senyumnya terukir cantik sedang netranya sedikit menyipit, memberikan simpul penuh kelembutan yang terpancar dari bola mata indahnya. "Aku tak sabar menantikan hal itu, suamiku." Gita berujar pelan, sebelah matanya mengerling cepat dengan gurat senyum tipis penuh godaan.