
Romansa cinta.
Di bawah langit malam kota Paris, tepat di bawah kukuhnya bangunan menara Eiffel yang terlihat semakin indah dengan lampu-lampu terang yang menghiasi setiap inci dari bangunan tersebut. Meninggalkan kesan menakjubkan dan juga romantisme yang sangat kental bagi para pengunjung yang datang untuk menikmati pemandangan indah yang selalu memanjakan mata siapapun yg melihatnya.
Kedua sejoli muda itu berjalan beriringan dengan langkah kaki yang berayun pelan. Keduanya terlihat mesra dari kejauhan. Kemesraan yang membuat beberapa pasang mata ketika melihatnya sampai menaruh iri saat keduanya terlihat begitu lepas, larut dalam buai asmara penuh cinta yang tak menghadirkan buncahan hasrat di dalamnya.
Zayn mengenggam jemari Gita erat. Membawa gadis itu untuk duduk sejenak di bawah nyala lampu terang menara Eiffel. Menikmati indahnya malam bersama gadis kesayangannya dengan penuh ketenangan. Meskipun nyatanya ada banyak orang yang saat ini juga tengah berada di sekeliling mereka.
Detik demi detik serasa berjalan lambat. Begitupun dengan keduanya yang masih saling bersitatap, saling tersenyum ketika mereka telah usai dengan pandangan kosong mereka. Keduanya saling tersipu, tanpa seucap kata pun yang keluar dari mulut keduanya.
"Sois ma fiancée et promets d'être fidèle à mes côtész. Bisik Zayn lirih dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya. Kata-kata itu memiliki arti yang medalam, "Jadilah pengantin ku dan berjanjilah untuk setia di sampingku."
Gadis itu termangu untuk sesaat. Kemudian binar-binar bahagia perlahan timbul dan bersemi di wajahnya. Gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat, ketika Zayn kembali mengeluarkan kotak merah kecil dari saku celananya. Ia dengan segala kesungguhannya, berlutut dihadapan Gita. Di saksikan oleh banyaknya pasang mata yang tengah menatap mereka penuh dengan antusias dan harap-harap cemas.
Seketika susana menjadi hening. Sementara Gita masih mematung dengan tatap mata kosong. Menyaksikan sang pujaan hatinya yang rela berlutut di bawah kakinya demi memohon kesediaannya.
"Teruntuk gadis pujaan ku, Gita! hari ini, di bawah indahnya langit malam kota Paris. Di saksikan banyaknya mata sebagai saksi ketulusan ku. Malam ini, aku dengan kesungguhan hati ku dan segala keyakinan ku. Memberikan sepenuhnya hati dan seluruh jiwa ku, hanya untuk menyemaikan seluruh kasih ku bersamamu. Gita, kekasih ku. Bersediakah engkau menerima pinangan ku? menjadi ibu dari anak-anak ku, menemani ku hingga nyawa tak lagi berada dalam tubuh ku? sudikah kiranya engkau mengulurkan tangan mu, dan menyambut niat tulus ku dengan segala keikhlasan hati mu?" tuturnya lembut penuh permohonan.
Gadis itu terhenyak, cukup lama hingga tepuk tangan dengan teriakan suara dari banyaknya mata yang sedang melihat mereka terdengar riuh, "Terima, terima , terima," begitu seterusnya, hingga akhirnya gadis itu mengagguk mantap menerima lamaran Zayn untuk ke dua kalinya. Ia menganggukkan kepalanya beberapa kali, tangisnya pecah seiring rasa bahagianya yang tak dapat ia lukiskan.
"Apa kamu bahagia babe?" gumam Zayn sembari memasangkan cincin berwarna perak itu di jemari Gita.
Gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan. Tenggorokannya seolah tercekat, bibirnya keluh tak mampu lagi untuk bertutur kata. Hanya linang air mata bahagianya yang terus mengalir dari pelupuk matanya, mengisyaratkan betapa bahagianya ia ketika mendapatkan calon suami idaman seperti Zayn.
__ADS_1
•••••••••••
Pulang.
Di bandar udara Paris. Penerbangan awal menuju Indonesia.
Zayn, nampak murung sembari mendudukkan dirinya kasar di kursi kabin penumpang.
Ia menatap jengah pada jendela pesawat yang sebentar lagi akan segera lepas landas.
Sedang di sampingnya duduk sang gadis pujaan yang nampak tenang dengan senyum tipis yang mengembang di wajahnya.
Dengan lembut ia menggapai jemari tangan Zayn lalu menggenggam nya erat dalam buai kelembutan. Pria itu masih bergeming, ia tetap diam sembari mengalihkan pandangannya pada bingkai kaca pesawat.
Pasalnya, ia telah menyiapkan segala persiapan pernikahannya di Paris, yakni tepat sehari setelah gadis pujaan nya itu menerima lamaran kali ke dua darinya. Ia begitu yakin akan langkah yang ia ambil, berharap gadis pujaannya itu akan tersenyum bahagia ketika mengetahui bahwasanya Zayn akan segera meminangnya dalam ikatan janji suci nan sakral yang akan membuat hubungan mereka menjadi resmi di mata agama dan juga negara.
Namun sayang, seperti nya usahanya sia-sia.
Gita bahkan sama sekali tak terlihat bahagia ketika Zayn menyampaikan kabar bahagia mengenai niatnya sehubungan dengan pesta pernikahan mereka yang akan di gelar di Paris secara besar-besaran.
Gadis itu menolak keras
rencana Zayn, lebih-lebih lagi ketika ia tahu bahwa tiada satupun keluarga yang mengetahui tentang rencana pernikahannya ini.
__ADS_1
Gadis itu masih waras dan memiliki akal sehat yang masih berfungsi baik untuk berpikir rasional.
Ia seorang wanita, lebih lagi mengenai pernikahan. Bukanlah suatu hal yang bisa di anggap sepele, apalagi tanpa melibatkan keluarga. Bukankah itu terlalu egois?
Ia tak memungkiri bahwa ia juga sangat ingin untuk segera meresmikan ikatan cinta mereka dalam jalinan kasih suci yang berlandaskan pada agama yang mereka anut.
Namun, ia bukanlah gadis tamak, yang hanya akan menerima setiap hasil akhir tanpa perjuangan. Mungkin iya, ia akan bahagia ketika ia bersanding dengan Zayn, menyandang gelar nama belakang dari pria pujaannya itu.
Namun, bukankah suatu saat nanti pada akhirnya ia juga akan di hadapkan kembali pada pihak keluarga? lantas bagaimana mungkin ia akan menghadapi keluarga itu ketika restu saja tak sempat untuk ia minta?
Gadis itu memikirkan segala hal yang berkecamuk dalam kepalanya dengan begitu cepat. Mengutarakan semua keluh kesah dan juga inginnya pada pria yang saat ini tengah duduk bersamanya.
Zayn tak punya pilihan lain. Gita hanya akan bersedia menjadi pendamping hidup nya, ketika ia juga bersedia untuk menurunkan egonya. Membawanya pulang ke tanah kelahirannya untuk kembali bertemu dengan keluarga besarnya.
Memohon restu dari sang ibunda tercintanya dan juga ayah beserta keluarga lainnya.
Berat dan juga rumit. Namun satu hal yang pasti. Pernikahan tak akan lengkap tanpa hadirnya restu dari pihak keluarga terutama restu dari seorang ibu.
"Kita pasti bisa melalui semuanya Zayn, percayalah!" ucapnya sembari mengusap lembut punggung tangan Zayn.
Pria itu mengembuskan napasnya perlahan, kemudian melembutkan pandangan kepada Gita. Ia mengagguk pelan sembari mengulas senyum tipis nya. "Hm, kita akan berjuang bersama. Hingga semua orang lelah menyuarakan ketidak terimaan mereka terhadap hubungan kita. Hingga akhirnya mereka menyerah dan memberikan restu mereka untuk kita berdua. Untuk meresmikan cinta kita."
Keduanya saling bersitatap, perlahan memiringkan kepala mereka sembari mengikis jarak yang terasa kian dekat. Hingga hembus napas ke duanya saling menerpa Indra penciuman masing-masing. Bibir mereka menyatu untuk sesaat, meninggalkan jejak kecup kilas yang terasa hangat dan manis. Semanis curah harap sederhana mereka, untuk menyemai ikatan cinta dalam biduk tumah tangga bahagia.
__ADS_1