
Assalamualaikum, kakak-kakak pembaca yang author rindukan.
Hari ini Aim mau promo novel baru nih, lanjutan dari novel 'Hasrat Tuan Muda Kaya'. Dan tepatnya ini kisah anaknya Zayn dan Gita. Novel ini bakalan up setiap hari, dan bisa dibaca di aplikasi (N L) ya, kakak.
Sekian dan terima kasih. Jangan lupa mampir kakak☺️🙏
...****************...
Menikah muda?
Hal itu tak pernah sekalipun terlintas dalam benak pria muda yang baru saja menginjak usia 21 tahun itu.
Ashraf Malik Ahmad. Pemuda itu bahkan masih terlalu dini untuk menghabiskan masa muda yang rasanya belum puas ia jajaki.
Bahkan jika memang harus menapaki altar pernikahan pun, itu tidak akan terjadi sekarang. Tidak untuk saat ini, tatkala ia masih ingin berselancar dengan hingar bingar indahnya masa muda.
Percintaannya yang masih terjalin seumur jagung, belum mampu membuat sosok jangkung itu benar-benar yakin akan keyakinan dirinya yang mungkin suatu saat nanti bisa saja berubah secara tiba-tiba.
Ia tidak akan tahu, barangkali seiring waktu yang berlalu, bisa saja asmaranya yang saat ini sedang sangat menggebu tiba-tiba pupus di tengah jalan karena persoalan yang datang.
Selena, gadis yang seringkali disebut sebagai primadona kampus itu adalah kekasihnya. Mereka baru saja merayakan anniversary pertama Minggu lalu. Dan tentu saja, keduanya mereyakan hari jadi itu dengan berpesta.
Pesta yang meriah, untuk ukuran anak kampus yang memiliki orang tua berpundi-pundi harta. Tentu bukan lagi menjadi hal tabu, karena yah ... pesta dan cinta, seperti perpaduan yang sudah biasa.
Ashraf dan Selena, beberapa orang sering mengelukan mereka sebagai best couple tahun ini.
Kedekatan mereka yang tiba-tiba dan juga keromantisan yang seringkali diumbar mesra membuat beberapa orang berdecak iri, membuat para jomlo melonggarkan kancing kemeja mereka yang terasa sesak.
Ada banyak tanya yang terkadang menjelma pada benak orang-orang yang melihat hubungan keduanya.
Mungkinkah kisah asmara mereka yang terjalin dengan begitu hangat akan bisa sampai menjejak pada altar pernikahan?
Atau mungkin aura merah muda yang setahun belakangan ini kuat memancar malah akan meredup dan pupus di tengah jalan?
Entahlah, hanya perkara waktu sampai rasa penasaran mereka terjawab nantinya. Entah putus atau terus, itu urusan belakangan.
Digadang-gadang sebagai pasangan paling ideal.
Sosok Ashraf yang memiliki fisik sempurna dengan tubuh tegap atletis, pahatan rahang yang tegas, bibir merah muda, jakun seksi, dan otot-otot perut dengan delapan lekukan yang membuat beberapa kaum hawa menjerit tanpa kendali tatkala melihat betapa gagahnya pria itu saat bermain bola basket. Dan lagi, netra kecoklatan yang tajam dengan sorot tatapan yang dalam benar-benar memancarkan pesona yang sulit untuk ditolak kaum hawa kesepian ataupun yang memiliki pasangan.
Sedangkan Selena, wanita itu memiliki paras yang cantik. Bibirnya merekah seksi, dan buah dada yang sedikit membusung.
Beberapa mahasiswa menyebutnya boneka Barbie versi upgrade, karena ya ... fisiknya memang aduhai dan membuat beberapa mata sulit untuk mengalihkan pandangan pada beberapa lekuk tertentu.
Selain itu, ia juga memiliki nilai prestasi unggul dalam bidang seni yang ditekuninya. Seni musik dan juga tari, sangat serasi jika dipadu padankan dengan tubuhnya yang gemulai dan suaranya yang merdu.
Mereka memang benar-benar memesona, baik dari segi paras ataupun kecerdasan.
__ADS_1
Jalinan kisah asmara yang baru saja tumbuh, bila diibaratkan seperti sebuah bunga yang baru saja kuncup.
Namun memiliki semburat warna gelap setengah layu.
Tidak ada harapan indah akan kebersamaan, cinta dan kasih mereka seolah layu sejak dini.
Semua bermula saat malam itu, tatkala Ashraf membawa Selena untuk makan malam di rumahnya.
Sebenarnya bukan inisiatif dari pria itu sendiri, bahkan bisa dikatakan makan malam bersama keluarga terjadi lebih cepat dari susunan rencana perkenalan yang sudah ia rancang sejak jauh-jauh hari.
Namun begitu, ia tetap tak bisa mengenyahkan begitu saja permintaan yang diajukan oleh kedua orang tuanya.
Atau berkata tidak dengan mengarang-ngarang alasan yang pada akhirnya tetap akan membuat ia tersudut.
Tak ada pilihan lain, malam itu ia membawa Selena untuk bertemu dengan keluarganya.
Gadis berambut panjang itu mengenakan dress selutut dengan hills tiga centimeter yang membalut tungkai kakinya.
Seperti biasa ia terlihat cantik dan selalu memesona dipandangan pria yang amat mencintainya itu.
Sosoknya terlihat anggun dan sudut bibirnya pun terangkat sedikit tatkala Ashraf memujinya dengan sebutan princess.
Hal yang sering ia dengar, tapi tetap berhasil membuat jantungnya berdebar tatkala pria itu mengucapkannya dengan nada menggoda. Membuat ia tersipu malu dengan cekikik tawa yang coba ia sembunyikan.
Bertemu keluarga.
Kedatangan pasangan muda itu disambut dengan uluran tangan terbuka. Peluk cium mesra bak restu kedua orang tua Ashraf sudah pasti ada dalam genggaman tangan Selena.
Zayn dan Gita, hanya bisa tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala. Seolah paham dan memaklumi kisah asmara putra sulungnya itu.
Namun kemudian, percakapan penuh sandiwara itu terhenti seketika.
Tepat tatkala Ashraf, putra sulungnya itu membubuhkan kalimat bahwa ia akan membawa hubungannya ke jenjang yang lebih dalam lagi.
Sontak senyum di bibir kedua orang tua itu seketika sirna.
Berganti dengan tatap mata terkejut, seolah menjelaskan bahwa perkara tersebut bukanlah suatu keputusan yang bisa diambil dari salah satu pihak saja.
"Ehm, Mama kira persoalan mengenai jalinan hubungan kalian yang lebih dalam itu nggak perlu dibahas sekarang deh, Kak! Toh, kalian masih sama-sama muda, masih banyak maunya. Iya kan?"
Gita tersenyum dengan paksa.
Sedang ujung jemarinya mencubit kecil paha suaminya agar pria itu lekas menimpali ucapannya.
Alih-alih menimpali, Zayn malah beranjak dari duduknya. Ia berlalu pergi seraya mengajak sang putra untuk mengikuti langkah kakinya.
Meninggalkan Selena dengan segudang tanya yang kini berpendar dalam kepalanya.
Mungkinkah jika orang tua kekasihnya itu tak menyukainya? Atau ceritanya tadi terlalu berlebihan hingga membuat jengah kedua pasang pasangan yang sedari tadi mengumbar senyum manis di depannya?
__ADS_1
Selena menggeleng pelan, meyakinkan dirinya bahwa apa yang kini sedang berpendar dalam kepalanya itu bukanlah suatu hal yang benar. Ia tidak perlu khawatir ataupun cemas, karena ia yakin bahwa kekasihnya itu pasti bisa meyakinkan kedua orang tuanya mengenai hubungan mereka kedepannya.
Dan pikiran positif itu berhasil membuat debaran jantungnya kembali berdetak normal.
Senyumnya terulas tipis, ia menatap fokus pada sosok wanita yang kini ada di hadapannya.
Sikapnya ia buat sesantun mungkin, selembut mungkin hingga wanita yang kini sedang menatapnya lurus itu akan kesulitan untuk menolak memberikan dukungan pada hubungannya yang sempat diragukan.
Ia tersanjung, nalarnya seperti melambung tinggi tatkala Gita memujinya dengan wajah yang berbinar.
"Selena, kau gadis yang sangat cantik.
Terima kasih karena kau sudah berhasil membuat putraku dimabuk kepayang, karena kasmaran," ujarnya dengan senyum ceria.
Gadis itu tersipu, "bukan apa-apa, Tante. Ashraf memang sosok laki-laki yang sempurna. Bahkan di kampus pun banyak gadis yang tergila-gila padanya, dan tentunya aku termasuk salah satu dari mereka yang beruntung," tukas gadis itu dengan senyum malu-malu.
"Beruntung! Ya ... Tante juga berpikir seperti itu. Tapi Selena ...."
Percakapan itu terjeda sejenak, lalu kemudian berubah menjadi serius.
Tutur kata yang dilontarkan oleh Gita berubah menjadi tegas. Tapi bukan berarti ia tak menyukai gadis itu. Ia suka, tapi ia tidak menginginkannya. Lebih tepatnya tidak untuk menjadi calon menantunya.
"Selena, apa kau tahu bahwa kau adalah gadis yang sangat cantik? Maksud Tante, kau adalah gadis dengan paras cantik dan prestasi yang cemerlang.
Kau sempurna, Sayang," ujarnya seraya mengusap lembut punggung tangan gadis itu.
"Tapi ... kau terlalu sempurna untuk anak Tante. Lebih tepatnya, kau bisa menemukan pria lain di luaran sana yang jauh lebih baik daripada Ashraf."
Suaranya melembut, nadanya terdengar ragu. Dan hal itu tak mengubah fakta apapun bahwa gadis itu tersakiti oleh perkataan halusnya.
Meneguk ludahnya kasar, ia menggeram dalam bisu seraya mengepalkan genggamnya kuat-kuat. Seolah kuku jarinya menancap kuat pada permukaan kulitnya dan menggores sedikit luka di sana.
"Kenapa Tante? Apa alasannya?" Gadis itu berujar dengan nada berat.
Suaranya terdengar sendu dengan air mata yang merebak di dalam kelopak matanya. Tapi ia segera menghapusnya, sebelum titik lemah itu berderai di pipinya.
Ia seperti dihempaskan ke dasar bumi setelah diterbangkan ke langit.
Rasanya sakit, dan detik itu pula ia yakini tak ada harapan yang tersisa dari hubungan yang setahun belakangan ini selalu ia jaga dan harapkan kelanjutannya.
Wanita itu menggeleng, tak berniat menuturkan sebait alasan apapun yang dapat menenangkan hati gadis bernama Selena itu.
"Kau bisa mendengar alasannya besok, Selena. Ashraf akan menjelaskan padamu secara rinci.
Dan Tante harap, kau tidak menyalahkan pria itu atas kejadian ini. Maafkan, kami."
Gadis itu tertunduk, tubuhnya lunglai tanpa daya. Ia tak bisa menyanggah apapun, lidahnya terasa kelu bahkan untuk sekedar mengucapkan kata "iya".
Ia melangkah pergi, meninggalkan rumah itu dengan hati hampa.
__ADS_1
Tanpa sosok pria yang menahan laju kakinya. Dan tanpa kata perpisahan yang dapat ia dengar sebelum langkah kakinya benar-benar keluar dari hunian tersebut.