Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
22.


__ADS_3

Saingan Berat .πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Zayn masih berbincang ria dengan kedua adiknya, tak lupa juga dengan kehadiran Hanum yang ikut menyelip di antara ke tiganya.


Membuat ketiganya seakan larut dalam suasana bincang yang kian hangat.


Ada tawa tawa kecil yang hadir di sana dan membuat hadirnya gurat senyum di wajah Zayn.


Gita masih memperhatikan mereka yang tengah asik bercanda ria dengan topik yang sedang mereka bahas. Meskipun nyatanya ia tak bisa mendengar apapun dari tempatnya duduk yang lumayan berjarak dari tempat mereka.


Senyumnya mendadak pudar saat ia melihat adanya gurat bahagia yang hadir di wajah pria itu. Pria yang selalu berbicara dengan nada dingin dan tanpa ekspresi terhadapnya.


Gita memilin pelan ujung baju yang ia kenakan.


Entahlah, mendadak mood-nya berubah buruk saat mendapati kebahagiaan itu bukan berasal darinya.


Dadanya kian sesak saat netranya menangkap adanya kedekatan yang terjalin antara Zayn dan juga wanita yang ada di hadapannya. Sosok yang belum ia kenali sebelumnya.


Terlihat jelas bahwa pria bermata tajam itu tak pernah teralih dari fokusnya untuk menatap pemilik wajah anggun itu.


Gita memilih untuk segera beranjak dan pergi dari tempat itu. Berlama-lama disana bukanlah suatu pilihan yang bagus baginya.


Kakinya berjalan cepat menyusuri area parkiran.


Langkahnya terhenti di samping jalan raya dan ia mematung disana untuk beberapa saat guna menanti kedatangan taksi yang akan mengantarnya pulang.


Gita mengusap wajahnya kasar, hatinya kembali berkecamuk saat bayangan wajah Zayn mendadak melintas di benaknya.


"Brengsek!" umpatnya sembari memukulkan jemarinya pada pintu taksi.


Ia menggeram kesal, "kenapa sih, kenapa bukan gue yangg Lo liat? kenapa harus perempuan lain?" rutuknya dalam hati


Matanya perlahan mulai berkaca saat ia sadar bahwa tak seharusnya ia memiliki perasaan seperti ini.


Tak sepantasnya ia menyimpan perasaan pada Zayn, karna dari awal semuanya berawal dari sebuah kesalahan.


Kesalahan yang membawanya pada perasaan yang tak berujung dan mulai berakar di hatinya.


Ia melangkahkan pelan menyusuri lobby apartemen dengan langkah lunglai.


Pandangannya sayu tak bertenaga.

__ADS_1


Batinnya masih terasa sesak hanya dengan mengingat kejadian di cafe tadi.


Hal yang membuat hatinya serasa remuk redam dan terbakar cemburu tanpa adanya ikatan di antara mereka.


"Arrrggghhh ...." teriaknya histeris melemparkan segala benda yang berada di atas meja riasnya.


Ia melemparkan semua benda-benda yang ada di kamarnya, melampiaskan segala sesak yang kian meremat batinnya.


"Kenapa, kenapa Lo nggak pernah melihat keberadaan gue.


Apa Lo nggak pernah sadar kalau selama ini gue juga ada perasaan sama Lo.


G-gue suka sama Lo Zayn. Gue suka sama Lo ... " lirihnya dalam tangis.


Air matanya masih berderai hingga suara ketukan kecil di pintu menghentikan Isaknya.


"Git," panggil Zayn dari luar pintu.


"Hm, iya. Tunggu sebentar," ucapnya seraya menghapus air matanya.


Ia beranjak berdiri dan membukakan pintu kamarnya. Tenggorokannya serasa tercekat tak mampu lagi untuk berkata kata saat netranya kembali bertemu dengan manik coklat indah yang selalu membuai angannya.


Gita menggeleng pelan, "aku nggak apa-apa," jawabnya singkat .


Zayn menarik lengan Gita pelan menyisihkan dirinya untuk menghindar dari pintu.


Ia membawa langkahnya masuk dan melihat keadaan kamar yang begitu berantakan dengan segala benda yang berserakan di mana mana.


Terlihat jelas bahwa wanita ini tak sedang baik-baik saja.


Gita menunduk lesu, ia pasrah jika ia akan mendapatkan cibiran atas kelakuan buruknya itu.


"Aku minta maaf," ucap Gita lirih.


Zayn melipat kedua tangannya di dada.


Punggungnya bersandar santai di samping pintu.


"Untuk apa?"


"Untuk kekacauan ini," tunjuknya pada kamarnya yang benar benar hancur berantakan

__ADS_1


"Dasar bodoh!" Zayn menyentil kening Gita sedikit keras, membuat Gadia itu mengaduh sakit memegangi keningnya yang terasa ngilu.


"Yang hancur barang milikmu, kenapa aku yang harus marah? aneh," ucap Zayn kembali dingin.


Gita merengut kesal, bibirnya bungkam seiring umpatan kecil yang keluar dalam hatinya.


"Jangan mengumpat!" ucap zayn menatap tajam kearah Gita.


"Sok tau," jawab Gadis itu kesal.


"Ya udah, cepet beresin. Marah nggak jelas kayak anak kecil," ucap Zayn beranjak pergi meninggalkan Gita sendiri.


"Gue begini juga gara-gara Lo pe'ak!


Lo-nya yang nggak peka, gue-nya yang sakit.


Lo-nya yangg senyum, gue-nya yang seneng.


Gue yang ancur, Lo-nya yang ketawa.


Kenapa sih, kenapa harus gue duluan yang jatuh cinta sama Lo? Kenapa Tuhan nggak ngasih elo buat jatuh cinta sama gue," ucap Gita sendiri.


ia terus meracau mengeluarkan segala unek-unek di hatinya hingga kamarnya kembali bersih dan tertata rapi seperti semula.


Ia merebahkan tubuhnya berbaring di atas ranjangnya yang sudah berganti dengan sprei baru.


Ia hirup dalam-dalam wangi parfum mint yang sempat ia semprot kan beberapa hari yang lalu di sana .


Parfum yang diam-diam ia ambil dari kamar Zayn dan diam-diam pula ia semprotkan ke beberapa barang di kamarnya, termasuk baju tidur yang sering ia kenakan.


Wanginya yang membuai membuat amarahnya mereda untuk sesaat.


Jika hanya dengan mengirup wanginya saja bisa membuatnya begitu tenang, apalagi jika bisa memiliki sang pemilik parfum.


Mungkin hari-harinya tak kan sesuram ini.


"*Lo*ok at me, and please look at my feelings."


Gumamnya sebelum memejamkan matanya.


Berharap perasaannya akan berbalas meskipun itu hanya dalam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2