
Hari ini ketika pagi telah menjelang dengan sinar terik yang kian memancar menyinari permukaan bumi. Dimana semua orang tengah di sibukkan dengan padatnya jadwal kerja dan juga urusan penting mereka masing-masing .
Sedangkan gita, masih meringkuk di bawah selimut tebal yang menutupi kepalanya.
Gadis itu memilih untuk mengambil cuti mendadak dan memberikan biaya ganti rugi pada pihak menejemen artis yang menjadi tempatnya bernaung kini.
Rasa malas masih mendera dirinya, sejak ia telah sepenuhnya terjaga dari beberapa jam yang lalu. Gadis itu masih betah untuk tetap bergulung dalam selimut tebalnya, menyembunyikan dirinya di dalam sana dengan mata yang sepenuhnya telah terbuka.
Semalam ia baru bisa terlelap setelah kisaran hari menjelang pagi. Ditemani oleh Zayn yang masih terus mendekapnya hingga ia benar-benar terpejam dalam buai tidurnya. Pria itu terus menuturkan kata-kata manisnya dan membuat netranya kian terasa berat seiring otaknya yang perlahan mulai lupa mengenai hal menjijikkan yang barusaja ia lihat.
Detik jam kian melaju, seiring tubuh Gita yang perlahan mulai bangkit dan beranjak melepaskan bebat selimut yang masih membelit tubuhnya. Kemudian ia berjalan pelan menuju kamar mandi.
Di tatapnya pantulan bayang dirinya yang berada di dalam bingkai cermin. Mimik muka sendu dengan matanya yang terlihat sembab, masih mendominasi struktur wajahnya. Menjelaskan bahwa keadaannya saat ini tidak sedang baik-baik saja.
Selesai ia menyegarkan tubuh nya di bawah kucuran air shower, Gita keluar dari sana dengan balutan handuk yang masih membungkus kepalanya.
Ia terduduk di atas bangku meja rias, mengeringkan rambutnya yang basah dengan hairdryer. Wajahnya terlihat lebih segar dan lebih ceria daripada sebelumnya.
Denting suara bel membuat gita mengalihkan pandangan. Ia berjalan pelan menuju ruang tamunya dan mengintip melalui celah lubang pintu. Disana ia mendapati Alex yg tengah berdiri tegak di depan pintu dengan sebuah bingkisan di tangannya. Seketika tubuhnya menegang, mendadak kaku dan di serang oleh kepanikan. Gadis itu gelagapan, berjalan terhuyung-huyung sembari merem*at ujung piyama handuknya.
Tok..tok..tok..!
"Git," panggil Alex sembari terus mengetuk badan pintu.
"I-iya, tunggu sebentar." Gita berucap gugup.
Dengan cepat ia berlari kembali ke kamarnya, membuka almarinya dan mengambil setelan busana panjang yang sepenuhnya menutup lekuk indah tubuhnya.
Gadis itu kian gemetar dan berupaya setenang mungkin ketika jemarinya perlahan mulai bergerak memutar gagang pintu.
Senyum palsunya merekah sempurna ketika netranya bersitatap dengan sosok Alex yang membawa sebuah bingkisan dan dengan segera di serahkan kepadanya.
"Apa ini?" tanya Gita sedikit waspada.
"Sarapan sekaligus makan siang buat kamu, aku panik pas dapet kabar kalau kamu ambil cuti mendadak. Aku pikir kamu sakit," ucap Alex dengan raut wajah sedihnya.
Pria itu mengacak rambut Gita perlahan kemudian tersenyum tipis ketika Gita yang seketika beringsut mundur menjauh dari jangkauan jemarinya.
"A-aku nggak apa-apa kok lex, seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja." tutur Gita tergagap. Gadis itu berjalan mundur menghindari Alex yang kian merapat ke arah tubuhnya.
"Aku taruh ini dulu di dapur," ucap Gita seraya berjalan cepat meninggalkan Alex di ruang tamunya.
__ADS_1
Gita gemetaran, gadis itu terlihat kian gugup dengan bulir keringat dingin yang mulai membasahi keningnya. Lama ia berdiam diri di dalam dapur, menghindari sosok Alex yang mungkin masih menunggu kehadirannya untuk kembali bergabung ke ruang tamu.
"Git!" panggilan itu seolah membekukan nadinya. Gita kian tercekat tatkala Alex mulai berjalan pelan menuju ke arahnya.
"Ekhm, maaf membuat mu menunggu. A-aku hanya sedang ... membuatkan minuman untukmu Lex," ucap Gita tergagap seraya memamerkan deretan gigi putihnya.
"Kau terlihat gugup, bagaimana kalau kita ke rumah sakit? kau terlihat pucat."
Gadis itu menggeleng cepat, menolak niat baik yang di tawarkan pria itu secara terang-terangan. Jelas sudah sikap Gita mulai berubah, semenjak hadirnya Zayn di tengah-tengah ke duanya, ia seolah tersisih dan kian tercampak kan. Dan saat ini gadis yang begitu ia puja-puja itu tengah menatapnya dengan pandangan aneh bagai orang asing yang barusaja bertemu. Binar indah di mata itu seolah lenyap ketika ia hanya mendapati sebuah ketakutan yang terpancar nyata dari bola mata indah milik Gita. Tiada lagi keteduhan yang terpancar di sana ketika netranya menyelami kian dalam ekspresi Gita yang terlihat dingin terhadapnya. "Apa kau baik-baik saja?" ucap Alex penuh selidik.
Gita hanya menggangguk kan kepalanya pelan dengan senyum penuh ironi. Ia bergerak cepat menjauh dari Alex yang kian merangsek ke arah nya. Seringaian aneh itu terpancar dari sudut bibir Alex, netranya yang terlihat berkabut membuat Gita serasa tersudut dalam bingkai ketakutan. "A-apa yang kau lakukan Lex? ka-kau membuat ku takut dengan tatapan matamu?"
Gadis itu tergagap tak lagi berkutik ketika Alex telah sepenuhnya mengunci pergerakannya dalam sudut kecil ruang sempit itu.
Senyum jahatnya kembali timbul, seiring suara tawa yang kian keras keluar dari mulut alex. Pria itu telah sepenuhnya melepaskan topeng manisnya, menampakan dirinya yang sesungguhnya. Nalurinya di penuhi oleh rasa ingin dan obsesinya untuk memiliki gadis di hadapannya itu seutuhnya tanpa gangguan dari orang lain. Sorot matanya yang berbeda, di balut oleh hasrat nyata yang melingkupi wajah nya. Pria itu dengan perangainya yang sedikit kasar membuat Gita meremang menahan kengerian, dan reflek menaruh ke dua tangannya di depan dada, menjadikan hal itu tameng terakhirnya sebagai perlawanan terhadap pria yang telah lama di kenalnya itu.
"Lihat aku!" ucap Alex sembari menarik paksa wajah Gita untuk menatap matanya. Pria itu menangkup kan jemarinya kasar di pipi gadis pujaannya itu. Cengk*ramannya yang terlalu kuat membuat Gita mengernyit nyeri menahan sakit ketika rem*tan tangan itu kian menguat menangkupi ke dua pipinya.
Pria itu terkekeh senang ketika melihat binar mata penuh ketakutan itu hadir di wajah Gita.
Gadis itu telah membuatnya terluka, melenyapkan semua kebaikan yang sempat dimilikinya karena penolakan yang berakibat pada musnahnya secercah harap indahnya.
Jadilah sekarang seperti ini, pria baik ini menjadi begitu liar dan brutal demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Yang tak lain dan tak bukan hanyalah Gita seorang. Mimpinya yang sederhana berharap bisa menyemai ikatan cinta dengan sang gadis pujaan terpaksa harus berubah haluan. Cara halus yang ia tempuh tak pernah berhasil membuat hati gadis pujaannya itu luluh sepenuhnya terhadap dirinya. Hingga ia harus rela menjatuhkan harga dirinya dengan cara-cara kotor demi bisa memiliki gadis itu sepenuhnya.
Pria itu kembali tertawa, seolah tak tersentuh dengan suara lembut Gita yang biasanya mampu melemahkan hati nya. "Aku akan membuatmu takut, bahkan sangat takut hingga akhirnya kau bersedia menyerahkan diri mu sepenuhnya kepada ku git."
"Ja-jangan Lex, kumohon jangan seperti ini," mohonnya bersungguh-sungguh dengan tatap matanya yang kian berkaca-kaca.
"Ini keinginan ku, dan hari ini akan ku pastikan bahwa kau akan sepenuhnya menjadi milikku git, sepenuhnya milikku!"
•••••••••••
"Aaaakkhh!!" pekik Gita nyaring ketika jemari pria itu bergerak cepat berusaha melucuti kancing pakaiannya.
Tangannya yang terkunci membuat ia tak berdaya dan hanya bisa meronta-ronta sembari mengeluarkan air mata.
"Jangan lex!" rintihnya memohon belas kasih.
Plakk! Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Gita, membuat gadis itu terpelanting ke samping dengan rasa sakit yang menjalari seluruh wajahnya. Alex menatapnya penuh geram, gadis itu tak henti-hentinya bergerak dan memperlambat pergerakannya.
Gita beringsut mundur dan merangkak menjauhi pria bengis yang hendak memaksakan kehendaknya itu terhadap dirinya.
__ADS_1
Langkahnya terseok dengan ketakutan yang tak bisa ia lukisan, semakin memperlambat gerakan tubuhnya.
Teriakan nyaring lagi-lagi terdengar, ketika pria itu berhasil mencekal pergelangan tangannya dan menarik paksa rambut tebal gita untuk kembali ke area dapur.
Kemungkinan pria itu memiliki fantasi liar untuk melakukan hal itu disana.
"Ah ... sakit," pekik Gita ketika akar rambutnya serasa di cabut paksa dari kepalanya. Gadis itu masih meronta-ronta memberikan serangan tak berarti pada tubuh tegap Alex yang telah gelap mata.
"Berteriak lah sayang, suaramu itu membuat ku kian tak sabar untuk menikmati setiap lekuk indah milik mu."
Gita masih gencar melakukan pemberontakan, air matanya masih terus berderai meski hal itu tak lagi mempan untuk melemahkan hati pria bajin*an yang ada di hadapannya saat ini.
Dengan sekuat tenaganya yang masih tersisa, Gita menggerakkan ke dua kakinya yang masih bebas untuk menyerang titik lemah seorang pria. Gerak kakinya melayang sempurna bersarang tepat di antara ke dua paha Alex, membuat pria itu seketika melepaskan cekalan tangannya dan terhuyung mundur sembari memegangi alat vitalnya.
Ia mengaduh kesakitan, sementara bibirnya meracaukan umpatan-umpatan kasar lengkap dengan nama binatang yang keluar dari mulutnya. "Sialan !" umpat Alex kian geram, dan dengan segera melayangkan tangannya ke wajah Gita. Membuat gadis itu tersungkur di bawah kakinya. Sontak alex tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, lengan kekarnya hendak kembali meraup tubuh Gita dan membawanya dalam dekap hangat tubuhnya.
"Jangan mendekat !" ancam Gita dengan sebilah pisau yang ada di tangannya. "Jangan macam-macam atau aku akan berbuat nekat," ancam Gita sembari mengacungkan pisau itu tepat di depan wajah Alex.
Pria itu mengehentikan langkahnya, mengamati pergerakan Gita dengan tenang.
Senyumnya kembali terukir kemudian langkahnya Kembali berpijak mengikis jarak di antara mereka.
Gita masih gugup, gadis itu masih gemetar mengacungkan senjata tajam itu pada Alex. "Jangan mengujiku Lex," ucap Gita serius.
Alex hanya bisa menyeringai lebar, tatapannya remeh terkesan tak percaya bahwa gadis ini memiliki keberanian untuk melukainya."Lakukan lah, jika kau memang mampu git. Atau aku yang akan melakukan hal lain padamu!"
Alex serasa di atas angin, ia jelas melihat kalau gadis di hadapannya ini memang hanya memiliki nyali yang ciut dan hanya mampu menggertak. Kesempatan ini kian berpihak kepadanya. Ia membawa langkahnya kian cepat merangsek maju dan menghimpit tubuh Gita.
Gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat. Seiring tangannya yang terasa berat bersamaan dengan menancapnya benda tajam itu sepenuhnya dalam perut Alex. Sontak ia langsung melepaskan gagang pisau yang masih berada dalam genggamannya.
Tubuhnya gemetar ketika melihat simbah darah yang keluar dari perut pria itu, sebagian dari darah segar itu telah menempel dan meninggalkan noda kemerahan di jemarinya.
Gita beringsut mundur, ia masih syok ketika melihat Pria itu tersungkur tepat di bawah kakinya. Matanya telah terpejam dan hal itu kian membuat nya khawatir.
Gita berjalan gontai, netra nya masih mengawasi soonggok tubuh yang telah terkapar di lantai dapurnya.
Ia memerhatikan ke dua tangannya yang masih bersimbah darah, "A-aku membunuh orang?" ucapnya lirih dengan ketakutan yang kian membelenggunya.
Kakinya masih berjalan, meski sesekali ia harus terhuyung-huyung nyaris menabrak benda-benda yang ada di dalam apartemennya.
Langkahnya terhenti mendadak, kepalanyanya mendongak melihat siapa gerangan yang datang ke rumahnya dalam keadaan genting seperti ini.
__ADS_1
"Za-zayn!"