
Panas 🔥🔥
Di kala langit senja mulai bergerak melintasi langit kota Paris. Gerak langkah kaki yang seolah lunglai tanpa daya menyusuri area pepohonan. Gita terduduk di atas tanah. Ia menyentuh kan jemarinya pada lembaran daun yang berguguran di atas tanah tempat ia berpijak. "Seperti kisah cinta kita, yang telah gugur layu sebelum berkembang!" ucapnya lirih dengan senyum samar di sudut bibirnya.
Ia memilih untuk beranjak, datang ke tempat ini bukanlah suatu hal yang benar baginya.
Inginnya untuk melepaskan segala resah, malah berujung pada sebuah sesak seiring pandangannya yang mendapati banyaknya sejoli yang tengah memadu kasih mereka di bawah guyuran hujan daun yang telah mengering.
Ia memilih untuk berbalik, menyusuri jalanan setapak untuk segera pergi dari tempat itu.
Kakinya bergerak cepat pandangannya lurus tak lagi hirau akan netranya yang seolah ternoda ketika mendapati pasangan kekasih yang sedang bercumbu mesra di sekelilingnya.
"Jalan pak!" titahnya ketika ia sudah berada di dalam mobilnya. "Kita keliling-keliling aja pak, jangan pulang dulu!" imbuhnya pada supir yang sedang fokus mengendalikan kemudi mobilnya.
•••••••••••
Hari semakin larut entah sudah berapa jam ia terus berputar-putar mengelilingi jalanan ramai dengan tak tentu arah.
Pandangannya sendu dengan raut wajah masam, membuat supir pribadinya bungkam tak berani untuk membuka suaranya.
Seperti titah yang ia dengar sebelumnya, mungkin sang nyonya sedang di belenggu oleh sebuah masalah hingga membuatnya bersikap lain daripada sebelumnya.
•••••••••••
"Saya bilang keliling-keliling pak! kenapa malah berhenti?" sarkasnya bernada emosi.
"Maaf nyonya! kita sedang berada di lampu merah," tutur sang supir dengan suara rendah penuh kehati-hatian.
Gita memalingkan wajahnya kesal, moodnya yang tak stabil membuat emosinya menyasar setiap orang yang ada di dekatnya. "Maaf, tadi saya nggak liat," tuturnya lirih sedikit menyesal karena telah berucap kasar.
__ADS_1
Ia mengalihkan pandangannya pada kaca mobil, sekedar iseng menghitung banyaknya mobil yang terjebak dalam hitungan detik lampu merah yang segera berakhir.
Namun sepertinya langkah isengnya itu menuntunnya pada sebuah kebetulan yang tak terduga. Di sudut tepian jalan paling seberang, netra tajamnya memicing memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukan lah sebuah ilusi yang hadir akibat tekanan emosinya.
"Zayn!" ucapnya lirih penuh keterkejutan.
"Pak, ikuti mobil sport merah yang disana," titah Gita sembari menunjuk ke arah mobil sport merah yang sudah melaju terlebih dahulu.
"Jangan sampai kita kehilangan jejak mereka pak!" Imbuhnya lagi penuh ketidak sabaran.
Gita mengusap wajahnya gusar. Baru hitungan hari mereka tak bertemu dan hari ini ia malah mendapati pria itu dengan wanita lain yang tak ia kenali. Meskipun tampilan pria itu sedikit berbeda dari sebelumnya, namun sebuah hoddie yang menutupi kepala, tak lantas bisa menyamarkan identitas pria itu di mata tajam Gita.
Jemarinya masih menggenggam erat menahan rasa sesak yang merambati hatinya. Belum selesai di situ, kini dadanya kian bergemuruh ketika mendapati mobilnya telah terhenti di sebuah Bar relatif besar bernama Nuba .
Ia masih berdiam diri di dalam mobil, matanya bergerak lincah mengamati pergerakan Zayn dari kejauhan. Manik coklat itu nampak berbinar ketika merangkul kan lengan kokohnya pada pinggang gadis asing yang juga ikut bergelayut manja di lengan Zayn.
Langkahnya lebar memasuki pintu masuk Nuba club yang menyambutnya dengan hiruk pikuk kelamnya dunia malam.
Bau alkohol dan juga dentam musik yang memekakkan gendang telinganya membuat konsentrasi pencariannya sedikit memudar.
Ia mengehentikan langkahnya sejenak . Berdiri di antara kerumunan manusia yang telah terbuai oleh binar dunia terlarang. Ia seolah terhimpit, tubuhnya terdorong-dorong kesana kemari bertubrukan dengan gerombolan orang yang tengah meliuk kan tubuh mereka di bawah kerasnya suara musik.
Umpatannya tak lagi tertahan, ia memaki-maki para manusia yang telah membuatnya terseok dalam suara lirih yang hanya mampu terdengar oleh seseorang yang berdiri di sampingnya.
Lagi-lagi keberuntungan kembali berpihak kepada nya. Sosok yang sedari tadi ia cari-cari ternyata berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
Sentuhan jemari lentik nampak menggelayuti tubuh kekar berbalut kemeja putih yang telah tanggal sebagian kancingnya itu. Zayn meneguk segelas alkohol yang berada dalam genggamannya dengan piawai. Netranya meredup seolah menikmati setiap sentuhan yang menggerayangi sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Gita melihat nya, melihat semuanya dengan sejelas-jelasnya.
Hatinya serasa kian terbakar ketika tiada penolakan yang terucap dari bibir pria dingin itu.
Di depan meja bartender, Gita dengan pongahnya melepaskan mantel tebal yang sedari tadi membalut tubuh indahnya. Meletakkannya asal di atas bangku tinggi yang sempat ia duduki sebelumnya.
Langkah kakinya meliuk indah, menghampiri Zayn dengan tatapan acuh dan menggoda.
Sontak pria itu menjadi tegang. Manik tajamnya terbuka lebar melihat perangai Gita yang begitu berani melepas lengan bajunya di hadapan banyak orang.
"Hentikan tingkah konyol mu git!" titah Zayn seraya memegangi ujung baju Gita yang telah sepenuhnya terangkat di atas kepala.
Tubuh indah itu hanya berbalut kain tipis yang menjadi pelindung terakhir dari lekuk indah yang sesungguhnya.
"Bukankah kau ingin menari? aku juga akan menemanimu menari. Coba koreksilah bagian mana dariku yang terlihat lebih buruk daripada wanita di samping mu itu!" cibirnya penuh kekesalan. "Aku bisa menari, mengimbangi mu dengan busana serasi seperti yang kau kenakan di saat ini. Maka buka matamu, lihat dan nikmatilah!" tutur nya dengan desis menggoda.
Gita bergerak lincah, meliukkan tubuhnya mengiringi kerasnya suara musik yang kian menghentak. Mengiringnya untuk terus bergerak meski peluhnya telah bercucuran di sekujur tubuhnya.
Zayn mengepal kan jemarinya kuat, gerahamnya gemeratak seiring netranya yang mendapati banyak mata nakal dari beberapa pria yang mengunci pandangan mereka pada Gita.
"Stop! kita pulang!" ucap Zayn dingin sembari mendekap tubuh Gita dari belakang. Menutupi tubuh indah itu dengan Hoodie tebal yang sempat ia tanggalkan.
Napasnya masih terengah ketika gerakan erotis yang ia bawakan tadi menghabiskan sisa energi di tubuhnya.
Gita meringkuk pasrah ketika Zayn menggelandang tubuh lelahnya itu dengan paksa keluar dari tempat maksiat itu.
Langkah kakinya kian terseok-seok mengikuti gerak cepat Zayn yang masih mencekal pergelangan tangannya .
Bibirnya mendesis lirih, ketika rasa ngilu dan perih merayapi bagian kakinya.
__ADS_1
Membuat Zayn terpaksa menghentikan langkah lebarnya dan dengan paksa membopong gadis itu masuk ke dalam mobil miliknya.
Sebuah penolakan yang sudah berada di ujung lidahnya kembali tertahan, ketika Zayn menempatkan jari telunjuknya di bibir Gita. "Diam dan jadilah gadis penurut." titah itu terdengar lembut mengalun pelan dari bibir zayn. Namun sorot mata tajam itu seolah mengintimidasinya untuk tak menyuarakan sebuah bantahan yang jelas nyata terbaca olehnya.