
Momen bahagia.
Di suatu senja, tatkala matahari mulai terbenam di ufuk barat.
Seorang wanita muda tengah terduduk ditepian pantai seraya tersenyum menatap indahnya cahaya matahari yang mulai meredupkan sinarnya. Ia mengusap lembut perutnya yang telah membesar terisi oleh benih cinta dari suami pilihannya.
Waktu berjalan begitu cepat, seperti baru kemarin ia menjalankan prosesi pernikahan dan saat ini ia tengah menanti kelahiran sang buah hati tercinta hasil dari penyemaian benih dari sepasang insan penuh gelora.
Usap lembut jemari tangan pria hadir menyalurkan sentuh hangat di atas kulit perutnya, di sambut dengan tendangan yang cukup kencang dari dalam sana sebagai tanda ia mengenali siapa yang tengah menyapa dari dunia luar sana. "Hai, baby," ucap Zayn seraya mengecupkan bibirnya di atas permukaan perut Gita. "Dady, sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan mu. Segeralah keluar dan kami akan segera menimang mu, sayang."
Gita tertawa lirih mendengar ucapan suaminya, jemarinya ikut menyalurkan usapan lembut membelai rambut Zayn yang masih setia menempelkan wajahnya di atas perutnya. "Apakah dia perempuan atau laki-laki?"
Zayn mendongak kan kepalanya, menatap Gita dengan binar bahagia, "apapun itu, laki-laki maupun perempuan aku akan tetap menyayanginya dan mencintainya. Karna dia adalah anak ku, buah cinta kita."
••••
Satu setengah tahun yang lalu, ketika mereka terikat dalam tali suci sebuah pernikahan.
Keduanya teramat bahagia dengan kehidupan damai penuh cinta. Suasana pengantin baru, menikmati indahnya momen berbulan madu, panasnya gelora bercinta dan juga rutinitas sehari-hari yang kian memupuk intensitas kebersamaan mereka. Membangun keluarga kecil penuh keintiman dibawah bangunan megah di tepian pantai.
Tepatnya di sebuah pulau yang berada di Amerika tengah. Sebuah bangunan mewah dengan fasilitas yang dilengkapi dengan bungalo, kolam renang, pelayan pribadi sekaligus koki mahir yang sengaja di pekerjakannya di tempat itu.
Mereka pindah ke tempat ini dan menetap di sini sejak usia pernikahan mereka menginjak bulan ketiga. Tepat ketika Gita masih belum mengandung janin dalam perutnya, lagi.
Keharmonisan keluarganya menjadi pemicu utama. Mahligai rumah tangga penuh cinta yang mereka lalui menghadirkan sebuah kecemburuan sosial dari salah satu pihak yang merasa terusik oleh hubungan cinta keduanya dan menjadikannya sebagai sebuah momok menakutkan dan mungkin, membuat orang itu tersiksa.
Ya, sebuah insiden telah terjadi hingga membuat mereka terpaksa untuk menjauh dari keluarga. Menepi dari tanah airnya dan memilih menetap di negara bagian yang lain demi menghindari faktor kejahatan yang mungkin akan mengusik ketenangan keluarga kecilnya.
Suatu kecelakaan telah terjadi dan hal itu membuat Gita harus terpuruk lagi dan lagi, ia di paksa menelan kenyataan pahit untuk kesekian kalinya. Ia harus merelakan janinnya yang baru berbentuk gumpalan darah itu luruh terkubur dalam gundukan tanah. Hal itu membuatnya depresi, selalu terbayang oleh suara tangis bayi yang selalu terngiang dalam telinganya. Mengusiknya di tengah malam dan membuatnya kembali meremang meresapi setiap sakitnya kehilangan.
Hampir dua Minggu pertama sejak kandungannya dinyatakan gugur oleh dokter pribadi yang menangani kehamilannya. Gita terus saja histeris di rundung duka.
__ADS_1
Bagaimana tidak, ia begitu mencintai calon anaknya meski nyatanya anak itu masih berbentuk dalam wujud gumpalan darah, namun begitu tetaplah segumpal darah itu adalah miliknya. Tiada seorang ibu yang takkan histeris jika ia harus merelakan darah dagingnya yang bahkan belum sempat tersentuh oleh jemarinya itu harus terkubur dalam lubang tanah.
Zayn juga merasakan hal serupa, ia juga tak kalah kalutnya dengan gita. Namun ia tetap berupaya tegar, bagaimanapun ia adalah seorang pria. Masih ada tanggung jawabnya untuk menenangkan sang istri yang beban mentalnya jauh lebih terguncang daripadanya.
Butuh waktu untuk menerima. Sebuah kesalahan atau kesengajaan, entah lah. Namun keduanya memilih untuk bungkam, melepaskan pelaku utamanya. Karena mereka masih ingat bahwa mereka masih satu keluarga.
••••
Di suatu pagi yang cerah dengan awan biru yang membentang di langit. Ditemani oleh suami siaga, gita menapakkan kakinya keluar menuju pantai untuk berolahraga santai di sana. Seperti biasanya ia selalu menikmati keindahan pantai untuk sekedar berolahraga ringan sambil merangsang janinnya agar segera turun ke jalan lahir.
Sejak semalam ia telah menahan nyeri di bagian bawah perutnya, merasakan perutnya kencang-kencang dan kemudian hilang timbul di waktu yang lama. "Semangat baby, kita berjuang bersama, ya!" ucapnya lirih seraya membelai perutnya.
"Haruskah kita ke rumah sakit Sekarang?" Zayn berucap panik sambil memegangi bahu istrinya.
Dahinya terlihat mengkerut dengan bibirnya yang mendesis lirih menahan rasa ngilu yang kian menjalari bagian bawahnya. "Sebentar lagi," ucap gita terbata. Namun begitu ia tetap melanjutkan langkah kakinya, meski itu sangat lambat dan sejenak ia harus berhenti lagi karena rasa nyeri.
Zayn menyugar rambutnya kasar, ia kian panik tatkala melihat istrinya merintih seraya memegangi perutnya, "Sial!" umpatnya segera membawa Gita dalam dekapannya. Membopongnya penuh kehati-hatian dan segera melarikannya ke rumah sakit terdekat.
"Bertahanlah ... sebentar lagi," Zayn berucap lirih sembari memegangi jemari Gita. Ia nampak panik ketika melihat istrinya itu menitikkan air mata dengan senyum cantik di wajahnya. "Berjanjilah untuk selamat, kau harus selamat!" imbuhnya lagi tatkala jemarinya sepenuhnya telah terlepas dari genggaman tangan wanita yang di cintainya.
Sesekali ia beranjak kemudian terduduk lagi, berjalan mondar-mandir melepaskan risau yang serasa menghimpitnya. Hatinya diliputi oleh banyak kecemasan sekaligus was-was yang kian membelenggunya. Ada sedikit rasa takut yang tiba-tiba hadir dalam hatinya.
Mengingatkannya akan kebersamaannya bersama sang istri tercinta.
Bayangan kenangan itu muncul begitu saja dalam memorinya, memperlihatkan banyaknya waktu yang telah mereka lalui bersama. Ia serasa berada dalam bingkai memori percintaannya. Dimana ia bisa melihat lagi betapa bahagianya ia ketika ia memperistri Gita dan menjadikan ia satu-satunya belahan jiwanya.
Mengingat lagi tentang momen menyedihkan dimana istrinya itu begitu rapuh tatkala ia terus menyuarakan rasa rindunya pada anaknya.
Dan masih banyak hal lain lagi yang ia lihat dalam angannya. Semua momen-momen yang telah ia lalui bersama, semuanya terputar cepat dalam lintasan ingatannya.
"Perasaan apa ini?" pikirnya bingung diselipi rasa takut. Mengingat lagi ketika beberapa saat yang lalu ia barusaja melihat istrinya itu tersenyum penuh kelegaan. Mungkinkah ..?
__ADS_1
Zayn beranjak dari duduknya, mendekat kearah pintu yang masih tertutup rapat di hadapannya. Ia kacau, bertanya-tanya kenapa hatinya mendadak di hadirkan rasa takut akan suatu kehilangan?
Matanya masih menatap kosong pada kaca jendela buram yang ada di hadapannya, namun pendengarnya berhasil menangkap sayup tangis liris yang seketika menghangatkan seluruh raganya, menghilangkan segala gundah yang mencemari pikirannya, "Dia telah lahir, itu anak ku." Seraya mendekatkan wajahnya hingga lekat ke arah kaca, berharap ia bisa melihat aktifitas yang berada di dalam sana.
Namun ia tak mendapati apapun, hingga akhirnya ia memilih untuk duduk tenang seraya menunggu.
Hingga tak berselang lama lampu operasi pun akhirnya berubah warna, di ikuti dengan keluarnya seorang suster yang mendorong kereta bayi dari dalam ruangan itu. "Keluarga Malik?"
Sontak Zayn seketika berdiri, menghampiri suster itu dengan sedikit tergesa dengan rona bahagia.
"Selamat tuan, anda memiliki seorang putra," ucap suster itu dengan penuh kelembutan. Zayn mengaggukkan kepalanya, bibirnya tersenyum lebar sedang pandangannya tertuju pada putra sulungnya yang masih terpejam dalam mimpi indahnya. Namun ekspresinya mendadak kembali menegang, "bagaimana keadaan istriku?"
Suster itu tersenyum lagi, "dia baik-baik saja tuan. Sebentar lagi dokter akan segera memindahkan nya ke ruang rawat biasa agar ia bisa secepatnya memulihkan diri dan segera memberikan asi kepada putra anda."
Bibirnya kembali menyunggingkan senyumnya, "terimakasih."
****
Di ruang perawatan kelas satu tempat dimana Gita tengah berbaring memiringkan tubuhnya.
Ia berusaha gigih menuju pulih demi bisa menyusui sang putra. "Berhenti memforsir dirimu, Momy." Zayn memasuki ruangan itu dengan senyum sumringah di ikuti oleh seorang suster yang membawa kereta bayi di belakangnya
Matanya berbinar bahagia tatkala ia bisa bertemu langsung dengan buah hatinya. Netranya memandang takjub pada warna kulit kemerahan dengan bola mata coklat indah seperti milih Dady nya. "Dia mirip seperti mu, Daddy." Gita mengusap kan jemarinya lembut ke pipi anaknya.
"Tentu saja dia mirip denganku, dan akan ada satu atau dua lagi yang akan mirip dengan mu, Momy," ucapnya dengan nada menggoda.
Mereka terduduk bersama, menikmati momen bahagia menjadi sepasang orangtua baru yang berbekal sebuah ilmu parenting di bulan-bulan sebelumnya. Mereka yakin bisa melaluinya, menyayangi anaknya, membesarkannya dan memberikan cinta untuk buah hati tercintanya.
Senantiasa sempurna, tatkala mereka berhasil melalui setiap tahapan yang ada.
Menjalani setiap proses yang menempa diri dan menjadikannya seperti saat ini. Kehidupan yang penuh arti dengan keluarganya sendiri.
__ADS_1
END.
.