Hasrat Tuan Muda Kaya

Hasrat Tuan Muda Kaya
38.


__ADS_3

Ungkapan rasa.


Di waktu sore. Kecantikan warna langit senja ikut menemani dua pasang anak manusia yang tengah duduk-duduk santai di sebuah bangku taman bermain. Ke duanya nampak sedang membahas hal-hal yanh bersangkutan dengan hubungan mereka.


"Jadi, kamu yang mau di kenalin bunda sama aku, Num?" Tanya Zayn sembari menatap ke arah langit.


"Mungkin," jawabnya ambigu sembari tersenyum tipis.


"Jujur, aku juga taunya baru kemarin siang sih kak. Itupun papa cuma bilang mau ajak aku ke rumah temen lamanya . Dan aku nggak nyangka kalau temen yang di maksud papa adalah tante ayu, bunda kamu." Jelasnya pelan.


"Ehm, terus menurut kamu gimana?"


"Maksutnya gimana, Itu gimana ya kak?"


"Ya, soal rencana orang tua kita." Zayn berucap pelan. "Mungkin sebentar lagi pasti mereka akan segera bahas soal peresmian hubungan kita."


Hanum sedikit tersentak mendengar ucapan dari Zayn yang terkesan jujur, " Kakak tau dari mana?"


"Ya tau lah. Udah ketebak dari ekspresi om Rio sama bunda semalem. Jadi gimana?"


Hanum mulai bersemu, ada kabut asmara yang nyata terpancar dari manik indah miliknya.


"Aku sih mau aja kak. Lagian kakak juga bukan pria yang buruk kok untuk di jadikan sebagai kandidat calon suami." Tuturnya dengan sedikit senyuman.


Zayn menyugar rambutnya kebelakang, kepalanya mendongak seakan memancarkan kebimbangan. " Gini Num. Kamu belum sepenuhnya kenal sama aku. Jadi gimana bisa kamu kayak pasrah aja gitu menerima suatu hal yang belum tentu kamu mau. Kamu suka?"


Hanum melipat sudut bibirnya kedalam. Jujur memang ia belum sepenuhnya mengenal pria di hadapannya ini. Tiga tahun menjadi teman curhat, ternyata belum membuatnya berhasil mengetahui sisi lain yang dimiliki oleh seorang Zayn. "Ehm, kita masih ada waktu untuk saling mengenal satu sama lain kan, kak? Lagian tante ayu sama papa pasti kasih kita waktu lah."


Zayn masih terdiam, ia seakan-akan bingung dengan pola pikir yang di miliki Hanum. Kenapa gadis itu seolah girang menyambut perjodohan yang terjadi di antara mereka?

__ADS_1


"Kamu tau kan, Num. Aku masih belum siap," ucap Zayn serius.


"Kenapa?" Tanya gadis itu dengan nada lemah.


"Hmmm. Hati aku masih terisi oleh orang yang sama, Num. Dan kamu tahu betul soal itu.


Nggak mungkin kan kalau aku ngejalin hubungan sama kamu, sementara hati aku masih tersimpan untuk orang lain."


Hanum seolah tercekat, sementara bibirnya masih menyunggingkan senyum sedihnya.


Ia mengagguk pelan seolah mengerti akan perasaan zayn yang masih terkunci untuk seorang wanita yang entah dimana keberadaannya sekarang. "Aku ngerti kok kak. Tapi apa salahnya sih, kalau kakak coba buka hati buat orang lain. Contohnya aku." Lirihnya sendu.


"Buka hati ya! Belum kepikiran kesana sih," Zayn berucap jujur.


Ucapan itu membuat Hanum kian meratapi perasaannya yang nyata tak berbalas. Apasih kurangnya dia sebagai seorang perempuan?Hingga pria di hadapannya ini seolah enggan untuk menjatuhkan hati kepadanya. Padahal selama ini ia selalu mengupayakan yang terbaik agar pria ini selalu betah untuk berlama-lama dengannya.


Suasana mendadak sunyi seiring percakapan yang merujuk ke arah rasa. Ke duanya begitu canggung untuk melanjutkan pembahasan berikutnya yang mungkin malah membuat suasana kian tak nyaman bagi ke duanya.


Namun nyatanya ia salah. Pria ini terlalu kukuh untuk sebuah romansa cinta yang telah kandas lenyap di makan jaman. Ruang hatinya terlalu sempit untuk menampung kehadiran orang baru dalam hidupnya.


Hanum mengusap lembut tetesan air mata yang berjatuhan di pipinya. ia sedih, marah, dan juga kecewa. Kenapa perangainya seolah tak pernah di anggap oleh Zayn. Apakah ia tak seistimewa gadis pujaannya? Tapi ia bisa mencoba. Menjadi seperti yang Zayn inginkan. Kalau memang itu bisa membuat Zayn bisa melihatnya, sungguh ia tak keberatan. Cinta memang buta dan juga butuh perjuangan.


Hanum kembali mengalihkan pandangan, menatap Zayn yang masih menunduk lesu. Pria ini terlihat begitu lelah, sorot matanya terlihat begitu sayu seolah tak ada semangat hidup.


Usapan lembut ia hadirkan di punggung tangan Zayn. Senyumnya kembali merekah menyamarkan kesedihan yang saat ini ia rasakan. Zayn mendongak menatap Hanum yang masih bisa ceria seperti biasanya.


"Kita pulang." Ajak Hanum seraya menggandeng tangan Zayn menuju area parkiran.


Ke duanya seakan bisu untuk waktu yang lumayan lama. Hingga Hanum kembali membuka mulutnya.

__ADS_1


"Kak. Maaf mungkin ini terlalu kejam dan terkesan memaksakan kehendak. Tapi , apapun keputusan kakak nanti . Aku tetap berada di pilihan yang sama. Yaitu bertahan dan menerima rencana orangtua kita."


Zayn mengurangi kecepatan mobilnya, kemudian menepi sejenak untuk memperjelas status hubungannya dengan hanum. "Maksud kamu gimana?" Tanyanya dingin dan terkesan marah.


Hanum nampak tergugu. Ia menelan Salivanya berulang kali sebelum akhirnya membuka suara. "Aku suka sama kakak! Apa salahnya sih kalau kakak buka hati buat aku?


Apa kurang aku di mata kakak? Kenapa kakak selalu simpen hati kakak buat dia yang bahkan keberadaannya aja kakak nggak pernah tau!" Sarkasnya emosi.


Hanum sesenggukan, ia begitu emosi dan lepas kendali jika sudah di hubungkan dengan masa lalu Zayn.


"Suka bisa hilang seiring berjalannya waktu, Num. Dan kamu belum tau seberapa brengseknya aku, betapa buruknya aku di masa lalu. Kamu nggak akan bisa nerima itu semua."


"Darimana kakak tau aku bisa atau enggak?


Sementara sedikit pun kakak nggak mau berbagi tentang sisi gelap yang kakak punya.


Aku mampu, dan aku bersedia untuk berbagi kak, please! Kasih aku kesempatan."


Zayn menarik napasnya pelan, ia sudah lelah untuk menyembunyikan segala keburukan dan juga borok masa lalunya. "Oke, aku harap setelah ini kamu bisa pikir-pikir ulang mau lanjut atau enggak.


Dengar Hanum . Orang yang di hadapan kamu ini bukanlah pria baik-baik, yang selalu di sanjung-sanjung oleh bunda ku itu. Aku ini seorang pria brengsek yang memiliki ribuan rasa sakit dan juga naluri binatang. Kau tau dulunya aku adalah seorang maniak.


Dan aku suka dengan gadis suci yang selalu bersedia merangkak naik keranjang ku guna memuaskan seluruh hasrat ku." Tutur Zayn perlahan-lahan, menegaskan setiap kata yamg keluar dari mulutnya.


Hanum mengatupkan bibirnya rapat, matanya membulat seiring kata "Gadis suci " keluar dari mulut Zayn. Ia gemetar . Entah karena takut atau perasaan jijiknya yang mulai tumbuh di dalam hatinya.


Zayn menyunggingkan seringai lebar di wajahnya. Ia berhasil membuat kesan buruk di mata Hanum.


"Ba-bagaimana kalau seandainya kakak mendapatkan seorang gadis yang tak lagi suci." Pertanyaan bodoh itu tiba-tiba keluar dari bibir mungilnya.

__ADS_1


Zayn terkekeh mendengar pertanyaan yang di ucapkan Hanum, "tentu saja aku akan membuatnya menyesal seumur hidup karena telah berhasil mengenal ku. Satu lagi, aku paling benci dengan yang namanya kebohongan," ucapnya dingin dan terkesan menakutkan.


Hanum hanya mengagguk kan kepalanya berulang, tapi hatinya masih sedikit ragu. Mungkin kah pria yang terlihat kalem seperti, Zayn memiliki sisi gelap yang begitu menyeramkan? Lantas jika memang benar, bagaimana nasipnya kelak?


__ADS_2