
Awal mula.
Di pagi yang masih buta, Zayn sudah tersadar dari alam tidurnya.
Bukan karna ia kerajinan melainkan sejak semalaman matanya seolah enggan untuk terpejam.
Lingkar hitam nampak berhias di bawah kelopak matanya. Beberapa bintik jerawat kecil pun mulai menampakkan diri di sekitar area rahangnya.
Kulit sensitifnya benar-benar bereaksi saat otaknya tak lagi dalam keadaan jernih.
Gemericik gerimis kecil terlihat indah dari balik kaca tebal dinding apartemennya.
Zayn masih duduk santai menikmati segelas wine dan juga sebatang rokok yang nyaris habis ia isap sejak semalaman.
Puntungnya pun sudah hampir memenuhi asbak kecil di atas mejanya. Ini menandakan bahwa pria ini masih larut dalam bingkai gundah gulana.
"Git, Gita." panggilnya halus.
Zayn masih mematung di depan pintu kamar Gita. Sesekali ketukan kecil ia hadirkan di sana guna membuat orang yang ia panggil segera bangun.
"Git!" panggilnya lagi agak sedikit keras.
Namun masih tak ada jawaban hingga akhirnya ia berbalik arah memunggungi pintu yang masih tertutup itu.
"Ada apa?" jawab Gita sembari mengucek kelopak matanya yang masih terasa lengket.
Zayn terhenyak, "sorry gue bangunin Lo sepagi ini. Kalo lo masih ngantuk Lo tidur aja lagi."
"Kenapa, laper?" tanya Gita yang langsung mendapat gelengan kepala dari Zayn.
"Gue mau ke rumah bunda. Kalo Lo mau ikut buruan siap-siap." tuturnya lembut.
'Ha? sepagi ini?' batinnya heran.
Belum sempat ia menjawab namun si empunya sudah tak lagi berada di hadapannya.
Gita menutup pintunya pelan, jemarinya mulai meraih gagang almari dan melihat koleksi baju-bajunya di dalam sana.
sibuk . Gita masih bingung harus memakai baju yang mana guna bertemu dengan calon mertuanya nanti.
Jika mengingat kembali sebenarnya ini bukan kali pertama baginya untuk bertemu dengan sosok ibunda dari boss killernya itu.
Tertegun kembali, Gita menghentikan kesibukannya memilah baju.
Darahnya serasa berdesir saat ia ingat kejadian dua minggu yang lalu. Tepatnya saat penyerangan yang di lakukan sang mami yang juga melibatkan dirinya kala itu.
__ADS_1
"Buat apa gue sibuk milih baju bagus kalo kenyataannya keluarga dia udah tau soal kebusukan gue," ucapnya lirih.
Pasti perangainya sudah mendapat cap buruk dari keluarga Zayn .
"****' banget sih ... kenapa kemarin gue bisa sampe nurutin perintah gila dari mami sih!"
Sekarang gue juga yang ribet kan! pusing mau ketemu sama camer yang sempet babak belur gara-gara ulah gue sama mami.
Duh! gimana ini?" ucapnya sembari mondar-mandir.
Giginya masih menggigit kecil ujung kukunya yang sama sekali tak memanjang. Sedang bibirnya terus berujar kata yang sama. Kecemasannya akan penolakan serasa berkecamuk menghantui pikirannya.
tok ... tok ... tok.
Suara ketukan kembali terdengar dari balik pintu.
"Masih lama nggak?" serunya dari luar pintu.
"Enggak ... bentar lagi selesai." jawabnya sedikit meninggi.
Gita merapikan anak rambutnya yang terurai di area keningnya. Sebuah jepit rambut mutiara ia selipkan di bagian sisi rambutnya guna mengapit anak-anak rambutnya yang membandel.
"Huh!" Gita menghela napasnya panjang.
Zayn masih berdiri di samping pintu menyandarkan bahu kokohnya disana. Demi menanti sosok Gita yang masih berdiam diri di dalam sana.
Sesaat kemudian pintu telah terbuka menampakkan sosok gadis yang tak kalah anggun dari gadis yang sempat ia ajak berbincang di cafe semalam.
Netra ke duanya masih bertemu, dan mata tajam itu mendadak sayu saat mendapati penampilan yang berbeda dari seorang Gita.
Gita jadi salah tingkah. Grogi mendadak menghinggapi sekujur tubuhnya saat tatapan sayu itu seolah menelanjangi dirinya.
"Ekm ... g-gue udah selesai," ucapnya terbata.
"Iya. Buruan turun kita berangkat sekarang," titahnya segera beranjak pergi meninggalkan Gita yang masih tersipu dalam diam.
"Kenapa sih liatin terus dari tadi?" protes Gita di tengah perjalanan ke rumah keluarga Zayn.
"Enggak."
"Terus kenapa dari tadi liatin ke sini?"
"Gue suka aja, Lo cantik." pujinya sembari fokus pada jalanan yang mereka lalui.
Gita merona. Suhu tubuhnya mendadak menjadi lebih hangat daripada sebelumnya.
__ADS_1
'Hanya satu pujian dan itu bisa bikin gue kayak begini?' batinnya heran
'Gila, kekuatan bucin bisa sampe bikin orang jadi begini.' rutuk nya lagi
"Oh ya, zayn! gue boleh minta sesuatu nggak?"
"Apa? " ucap Zayn tanpa berpaling
"Lo bisa nyanyiin satu lagu buat gue nggak?" pintanya antusias.
"Pffftt." Zayn menahan tawanya, "kayak alay Lo."
Gita merengut kesal, "gue kan juga pengen di nyanyiin sama Lo. Kyak cewek yang kemarin," ucapnya seraya memalingkan muka.
"Ya Allah, itu lagi, itu lagi." Zayn mengusap wajahnya kasar.
"Emang iya kan, kemarin lagu yang Lo nyanyiin itu buat si Hanum Hanum itu kan?" ucapnya kesal.
"Ngak usah sebut-sebut dia. Kalo Lo maunya gue nikah sama Lo please berhenti sebut nama Hanum di depan gue."
"kenapa emang?"
"Ya, biar gue gampang buat move on."
Gita membisu, secercah harapnya mendadak pudar .
"jadi Lo beneran suka sama dia?" selidik Gita
Zayn mengusap dagunya pelan, " masih sekedar suka, cuman belom gue tidurin," ucapnya di iringi tawa kecil.
"Brengsek Lo! maki Gita kesal.
"Seriusan ini gue nanya? Lo beneran suka sama Hanum ?"
"Suka itu kita nggak bisa nentuin git.
Kayak Lo sekarang suka sama gue padahal sebelumnya Lo benci sama gue. Kenapa bisa gitu?" tanya Zayn balik.
"Ya ... gue suka aja. Lagian kan Lo udah pernah gituan sama gue," cicitnya lirih.
"Git ... git.
Polos banget sih Lo," sembari mengacak rambut pink terangnya.
"Dih, terserah lo deh. Males gue debat nggak jelas," ucapnya menutup pembicaraan.
__ADS_1