
Reynand berlarian ke luar rumah saat telinganya menangkap adanya barang baru yang hadir di rumahnya.
Matanya seakan meloncat keluar dari tempatnya saat ia melihat kakaknya masih stay di atas motor cepat yang sudah lama ia idam idamkan itu.
"Kaaaak!!" Pekiknya histeris melihat betapa cocoknya sang kakak saat menunggangi motor keluaran terbaru itu.
"Paan sih lu! Berisik," jawab keyra acuh.
"Cieilee! Sombong banget lu." Celetuk reynand mulai kesal.
"Biarin, gue lagi seneng. Lu maki juga terserah," jawabnya singkat.
"Bang ...." Rengeknya pada Zayn dengan manja. Pria itu kini tengah bersandar di mobilnya.
"Hmm!" Gumam Zayn.
"Beliin gue juga, yang kayak begitu," pinta Reynand pada sang Abang.
Zayn menggeleng pelan.
"Nggak! Bekasan gue aja yang kemarin gue kasih elu lebih mahal dari itu." Tunjuknya pada motor keyra.
"Nah sekarang lu mau minta lagi.
Lu mau bikin gue mati muda cuman buat ngurusin keinginan elu?" Jelas Zayn dengan wajahnya yang seakan di buat serius.
Membuat reynand seketika diam tak berani lagi untuk meminta minta pada sang abang.
"Pinjem bentaran kak," Liriknya pada keyra.
"NGGAK!" Jawab keyra sengit.
"Pelit lu. Bentaran doang," Izin reynand lagi.
"Lu kan nggak pernah bawa motor.
Kalo jatoh, sayang motor gue!" Jawab keyra dengan nada mengejek.
"Enak aja lu ngomong. Gini-gini gue pernah naik motor kali."
"Iya, motor matic-nya bunda tu." Ledek keyra lagi, membuat reynand mencibir kesal.
"Nih!" Keyra melemparkan kunci motornya pada reynand.
Denagn gesit segera di tangkap oleh ke dua tangannya.
"Makasih kakak keyra yang cantik," celotehnya ria.
"Awas kalo lecet! Gue sembelih lu." Ancamnya serius yang membuat reynand menyengir kuda saat
mendengarnya.
Tanpa harus di suruh reynand pun mulai menunggangi kuda besi warna silver milik keyra.
Bergerak pelan saat ia masih di lingkungan perumahan dan semakin mengencang saat ia berada di jalanan.
Zayn memilih untuk bersantai sejenak di ruang tamu.
Seperti titah bundanya, ia harus menunggu di sini sebentar sementara ayu masih mengambil sesuatu di dapur.
Ekor matanya bergerak ke sebuah rak buku kecil di sudut ruangan.
Jemarinya mulai tergerak untuk mengambil beberapa majalah yang di sinyalir adalah milik sang ibunda.
Tangannya mulai sibuk membolak-balik lembar demi lembar kertas majalah yang semuanya dapat di pastikan ada gambar dirinya di sana.
"Ngapain kak?" Tanya ayu meletakkan sepiring brownis coklat ke atas meja.
"Eng! Liat majalah bund," jawabnya sembari menunjuk pose dirinya yang ada dalam halaman tersebut.
Ayu tersenyum tipis lalu kemudian jemarinya meraih majalah yang ada di tangan Zayn dan menatapnya cukup lama.
"Ini yang beli keyra. Tapi ... bunda yang nyuruh sih.
Bunda suka keingetan sama kakak pas kakak jauh dari bunda.
Kadang bunda penasaran gimana kiprah anak kesayangan bunda ini di dunia model..
Bunda pengen tau aja sih kak," jelasnya lirih.
__ADS_1
"Kenapa bunda nggak tanya langsung sama kakak?" Tanya Zayn lagi seraya memeluk bundanya.
Ayu menggeleng pelan, "Bunda tau kakak pasti capek di sana, bunda takut kakak terganggu kalau bunda nanya-nanya hal yang nggak penting begitu."
"Enggaklah bund ...
Malah kakak seneng kalau bunda bawel, cerewet sama kakak," ucapnya lagi seraya menumpukan kepalanya di pangkuan ayu.
"Ya Allah bund!" Pekik Zayn menepuk jidatnya sendiri.
"Kenapa sih kak?" jawab ayu tak kalah terkejutnya.
"Kakak lupa nggak beliin bunda apa-apa tadi."
"Masyaallah! Bikin kaget aja kamu kak.
Nggak usah, bunda juga nggak minta."
"Tapi bund, kakak jadi nggak enak sama bunda. Jadi anak nggak bisa ngasih apapun ke orangtua." Lirihnya kembali merebahkan kepalanya pada pangkuan ayu.
Usapan lembut terasa membelai lembut rambut hitam Zayn.
"Bunda nggak butuh barang ataupun uang kak.
Tapi kalau kakak bersedia buat bantu bunda, bunda akan berterimakasih banget sama kakak."
"Bantu? Apa bund?"
"Jadi model. Buat fashion week Minggu depan."
"Desain bunda sendiri?" Tanya Zayn lagi
"Iya. Desainnya bunda sama keyra.
Mengusung tema baju muslim kekinian, yang model couple itu loh kak!"
"Couple? Berarti ada pasangannya dong bund?"
"Ada. Kalo model ceweknya udah di siapin sama keyra. Gimana? Kaka bisa nggak?"
"Bisa bund! Buat bunda apapun kakak pasti usahain," ucapnya penuh keyakinan.
Raka yang baru saja pulang dari restoran miliknya tanpa sengaja berpapasan dengan reynand yang juga baru saja sampai di rumah.
Senyumnya mendadak kaku saat sang papa menatap tajam kendaraan yang ia kendarai.
"Motor siapa dek?" Tanya Raka to the point.
"Ehm, itu pa ... Motor kak keyra," jawabnya lirih.
Raka mengusap wajahnya kasar seraya masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," ucapnya yang segera di sambut oleh ayu dan juga Zayn yang tengah berbincang di ruang keluarga.
"Waalaikumsalam pa," jawab keduanya bersamaan.
"Keyra mana bund?" Tanya Raka yang baru saja tiba.
"Di kamar mungkin. Mau di panggilin?" Tawar ayu hendak berdiri.
Raka menggeleng, ia lebih memilih untuk naik ke kamar putrinya sendiri.
"Papa kenapa?" Tanya Zayn pada reynand yang tengah menyantap brownis coklat miliknya.
Reynand mengedikkan bahunya.
"Gara-gara lu nih bang!"
"Lhah, kok gue?"
"Emang gara-gara elu. Siapa suruh lu beliin kak keyra motor."
"Kenapa emang?"
"Nih gue kasih tau ya bang.
Kak keyra itu, dua minggu yang lalu dia ketahuan sama papa ikut balapan liar di jalanan."
"Seriusan lo? Kenapa lu nggak ada cerita sih?"
__ADS_1
"Lhah, lu-nya yang nggak nanya. Tiba-tiba lu udah bawa tu moge kemari," jawab reynand yang tak ingin di salahkan.
"Pantesan dia girang banget pas gue nggak sengaja nawarin motor ke dia tadi.
CK ... terus gimana ini?" Tanyanya pada reynand.
"Ya mana gue tau. Lu bilang aja sama papa kalo ini tu ide lu bang."
"Sialan lo! Yang ada gue yang mampus," ucap Zayn sembari menyugar rambutnya frustasi.
Reynand mengedikkan bahunya lagi.
"Serah elu lah bang! Gue nggak ikut-ikut."
Reynand berucap seraya berlalu pergi, meninggalkan si Abang yang tengah mengerang frustasi.
Setelah lama berpikir, Zayn memilih untuk mengakui kelalaiannya. Ia menyusuri tangga menuju kamar adiknya keyra.
Terdengar perdebatan kecil yang terjadi di dalam sana.
Suara keyra yang meninggi, menolak tegas larangan dari sang papa soal hobi berkendaranya.
"Pa! Nggak tiap hari keyra ikut balapan pa.
Itu cuman hobi keyra, hobi sesaat pa," jelasnya pada sang papa.
"Walaupun cuman sekali tapi tetep aja key, BAHAYA!" Tegas Raka pada putrinya itu.
Hingga suara ketukan dari luar pintu membuat mereka berhenti berdebat untuk sesaat .
"Pa!" Ucap Zayn perlahan masuk kedalam, ikut bergabung dengan papa dan juga adiknya.
Mata keyra terlihat sembab sementara Raka tengah menahan diri untuk tidak melepaskan kembali amarahnya. Napasnya kembang kempis berusaha menormalkan emosinya yang masih belum stabil.
"Maaf pa, sebenarnya ... tadi kakak yang beliin motor buat keyra."
" Iya, papa tahu soal itu. Papa udah duga sebelumnya," jawab Raka berusaha tenang.
"Nih, kunci motornya pa. Terserah mau papa jual lagi apa gimana terserah." Seraya menyerahkan benda pipih itu ke tangan Raka.
Keyra merengut kesal, wajahnya kian tertekuk saat sang Abang malah menyerahkan kunci miliknya pada si papa.
"Abang! Itu kan udah jadi milik keyra." Cicitnya lirih meremat ujung bajunya.
Zayn memilih diam. Sementara keyra kian histeris karena hidupnya yang terasa terkekang.
Zayn terkekeh geli melihat tingkah sang adik.
Lama-lama ia tak tega juga, jika harus melihat keyra bersedih.
Hingga akhirnya Zayn berusaha untuk membujuk papanya.
Sekali lagi demi memberikan kebebasan pada keyra.
Raka terdiam untuk sesaat, memikirkan saran yang baru saja di berikan oleh putranya itu.
"Yaudah! Papa balikin nih kunci motor kamu.
Tapi ada syaratnya,"
"Apa pah?" Jawab keyra yang segera menghapus air matanya.
"Kamu nggak boleh ikut balapan liar"
"Yah!! Lha terus ini buat apa pah kuncinya kalo nggak boleh ikut balapan?" Bantah keyra tak terima.
"Ikut balapan resmi di sirkuit.
Lebih terjamin keamannya." Jawab Raka singkat dengan gurat senyum di bibirnya.
Keyra mengerjap kaget.
Memastikan apa yang barusaja ia dengar bukanlah suatu khayalan semata.
"Beneran pa?" Sekali lagi ia meyakinkan ucapan dari sang papa.
Anggukan kecil dari Raka membuat keyra senang bukan main.
Ia memeluk si papa sembari tak henti hentinya berucap terimakasih padanya.
__ADS_1
Tak lupa cium jauh untuk si Abang yang tengah mengacungkan dua jempol padanya.