
Pertikaian.
Zayn mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut dengan pelan. Kepalanya terasa pusing karena beberapa minggu ini ia tak lagi cukup istirahat dan mengurus dirinya dengan baik.
Seperti hari ini, ia begitu terlihat lelah dengan banyaknya aktifitas yang ia lalui. Entah itu meeting kantor atau hal-hal lain yang semakin membuat isi kepalanya nyaris meledak karena rasa sakit yang menderanya.
Namun lagi-lagi, ia masih mengedepankan kepentingan perusahaan daripada dirinya sendiri.
Bermalas-malasan di kantor bisa memberikan contoh buruk bagi para karyawannya dan pastinya akan berdampak buruk pula bagi perkembangan perusahaan ke depannya.
Jam kerja telah usai, semula ia berniat untuk memilih stay di kantor dan meneruskan jam lemburnya seperti biasa. Namun ia segera urungkan karena denyutan di kepalanya terasa semakin menjadi-jadi menimbulkan sakit yang serasa memecahkan isi kepalanya. Membuat langkahnya terseok-seok saat melangkah menuju area parkiran kantornya.
Untungnya ia masih mampu mengendalikan setir kemudinya hingga sampai di rumah sang ibundanya.
Entah kenapa hari ini ia memilih untuk berkunjung ke tempat sang ibunda tercintanya.
Pasalnya sejak kepergian Gita, ia lebih memilih untuk kembali menetap di apartemennya. Mengenang sisa-sisa kebersamaan dengan gita yang sempat mereka habiskan di tempat itu. Meskipun nyatanya itu malah menyiksa batinnya sendiri.
Ia memacu kendaraannya pelan hingga mobilnya berhenti tepat di depan rumah sang Ibunda.
Sesampainya di sana Zayn juga mendapati kehadiran mobil rizal di sana. Tak biasanya pria itu berkunjung ke mari jika tidak ada suatu perihal yang penting untuk di bahas.
Zayn memilih untuk segera turun dan segera masuk ke dalam rumah. Berniat ingin bergelayut manja di pangkuan sang ibunda guna meringankan rasa sakitnya.
Jika biasanya seucap salam selalu ia ucapkan sebelum telapak kakinya menyentuh permukaan lantai ruangan rumah sang ibunda, maka hari ini ia urungkan niatnya . Karena ia berniat untuk memberikan kejutan bagi sang ibunda. Sudah seminggu ini ayu terus menanyakan ke adaan putra sulungnya itu. Dan hari ini Zayn tanpa sengaja datang kemari demi menyenangkan hati sang ibunda tercintanya.
Langkah demi langkahnya ia tapaki dengan begitu pelan, nyaris tak menimbulkan suara dan menyamarkan kedatangannya di rumah itu Langkahnya terhenti tepat di depan sekat penghubung antara tempatnya berdiri sekarang dengan ruang keluarga tempat para orangtuanya tengah berbincang ria.
Telinganya kian menajam saat ia tanpa sengaja mendengar pembahasan tentang Gita.
Mendadak rasa ingin tahunya semakin meninggi ketika sang ayah ternyata juga mengetahui soal kepergian gadis pujaannya itu dari sisinya.
Zayn menggeram penuh emosi, darahnya serasa mendidih setelah beberapa fakta yang baru saja ia ketahui mengenai adanya campur tangan sang ayah dalam kepergian Gita dari sisinya.
"Sialan!" umpatnya seraya menghantam kan kepalan tangannya ke sisi dinding. Menghadirkan bunyi dentaman yang tak terlalu keras namun seketika membuat orang-orang di dalam sana berhenti berbicara.
__ADS_1
Ia merangsek masuk dan memberikan tatapan penuh kebencian pada pria tua itu.
Nampak Rizal sedikit gugup karena tatap mata tajam itu selalu ter-arah padanya.
Ayu pun ikut menegang melihat aura kemarahan begitu nyata terlihat di wajah Zayn. Dengan penuh kelembutan ia mengusap bahu putra sulungnya itu dengan hati-hati. "Assalamualaikum, kakak!" ucapnya dengan sayang.
Zayn berusaha untuk tersenyum di hadapan sang ibunda. Menjawab salamnya dan mengecup lembut jemarinya dengan penuh cinta. "Waalaikumsalam, bunda."
Ayu tersenyum lembut , perlahan mengajak Zayn untuk menyisih dari tempat itu. Menjauhkan putranya dari Rizal yang mungkin jika tak segera di lerai lebih dulu ke duanya akan terlibat adu mulut dan menimbulkan pertikaian antar keluarga.
"Makan dulu ya kak, bunda ambilin." Tawar ayu meraih sebuah piring guna mengambilkan sepucuk nasi untuk sang putra.
"Enggak bund. Kakak masih kenyang," ucapnya bohong. Padahal seharian ini ia belum sempat mengecap rasa sesendok nasi karena kesibukan yang mendera jadwal kerjanya.
Zayn berdiri, hendak kembali melangkah ke dalam ruang keluarga. Namun lengannya tertahan oleh jemari sang bunda yang tengah mencekal pergelangan tangannya. Ayu menggeleng pelan seolah tak mengijinkan Zayn untuk kembali ke tempat itu.
Zayn menepis pelan jemari sang ibunda dari lengannya, senyum tipisnya kembali terurai mengisyaratkan bahwa ia akan baik-baik saja dan tak akan menyakiti ayahnya jika memang semua yang ia dengar tadi hanyalah sebuah halusinasi belaka.
Ayu terdiam, ia tau bukan lagi kapasitasnya untuk menahan semua pergerakan Zayn yang sudah menginjak usia dewasa. Ia mengagguk pelan lalu mengikuti langkah lebar Zayn dari belakang. Jujur, saat ini hatinya seolah tak tenang melihat perangai Zayn yang tak selembut biasanya.
Ayu dan Raka saling bersitatap, ke duanya juga ikut gugup seiring suasana yang kian tak nyaman yang seakan membelenggu mereka.
Rizal menegakkan tubuhnya, seperti biasa ia selalu terlihat tenang dan penuh wibawa.
"Bicaralah Zayn," ucapnya menyimak dengan serius.
"Katakan! apa hubungan mu dengan surat pengunduran diri salah seorang karyawan kantor ku, ayah?" tanyanya tegas tak sabar mendengar sebuah jawaban.
Rizal mengedikkan bahunya pelan, ia sudah menebak bahwa lambat laun putranya akan mengetahui soal ini. "Ayah hanya tidak menyukai cara kerjanya zayn. Maka dari itu ayah ... "
"Memaksanya untuk keluar dari perusahaan dan menyuruhnya untuk menjauh dariku? iya kan?" potongannya cepat. Emosinya serasa semakin meninggi dan melenyapkan denyut sakit di kepalanya.
Rizal menyunggingkan senyumnya, "yap! sesuai dugaan mu," ucapnya begitu tenang.
Zayn mengepal kan jemarinya erat, giginya gemeratak menahan emosinya yang sudah sampai di ubun-ubun. "Stop mencampuri urusan pribadi ku ayah." Tunjuknya tepat di hadapan wajah Rizal.
__ADS_1
Rizal hanya tersenyum tipis melihat Zayn yang begitu emosi, ia menggenggam telunjuk Zayn dan menyisihkannya dari ujung hidungnya. "Dia hanya gadis biasa Zayn, ayolah! ayah hanya ingin kebahagiaan mu nak."
Zayn berdecih kesal. "Tau apa kau tentang bahagia ku ayah? bahkan kau mencampakkan aku dan bunda di saat aku masih butuh belai kasih sayang mu!" sarkasnya emosi.
"Maka dari itu ayah memisahkan mu darinya Zayn. Ayah hanya ingin kau belajar dari pengalaman."
"Alah ...! bullshit. Sekarang kau menggurui ku, seolah kau adalah pria paling sempurna tanpa cacat dosa ayah. Apa kau lupa siapa yang membuat ku menjadi pria brengsek seperti ini, ha?" serunya lantang.
Ayu kian panik, suasana di ruangan itu kian memanas seiring percekcokan yang kian meruncing yang terjadi antara ayah dan anak itu.
Ia mencoba menenangkan salah satu di antara mereka, berharap perseteruan ini akan segera selesai.
"Zayn! pelan kan suara mu nak," ucap ayu lirih menggapai bahu Zayn dengan penuh kelembutan.
Tampak napasnya masih naik turun seiring emosinya yang masih belum stabil.
"Apa kau juga yang mengurus kepergian Gita dari negara ini?" tanya Zayn lagi.
Rizal nampak hening, ia enggan membuka mulut perihal campur tangannya mengenai kepergian Gita. Dan itu membuat Zayn kian marah. "Katakan! Kemana dia pergi, ayah?" ucapnya tegas dengan jemarinya yang telah mencengkram erat kerah kemeja yang di kenakan Rizal.
Ayu memekik kecil, ia segera melerai ke duanya di bantu oleh Raka yang kini sudah membawa Rizal pergi dari tempat itu.
"Pulanglah!" titah Raka pada Rizal.
"Baiklah! Berjanjilah untuk tidak buka mulut mengenai apapun." Pesannya pada Raka sebelum ia pergi dari pelataran rumah mantan istrinya itu.
Sementara di dalam sana Zayn masih dengan kemelut emosinya yang semakin membuncah.
Hatinya serasa hancur berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa semua keluarga ikut terlibat dalam kepergian Gita.
Ia berjalan lunglai keluar dari rumah sang Ibunda. Telinganya seolah tuli dengan raungan ayu yang terus memanggil-manggil namanya untuk kembali.
Ia mengendarai mobilnya melaju pesat di atas jalanan sepi. Melepaskan semua luka-luka yang di hadirkan oleh orang-orang tersayangnya.
Batinnya sakit, hatinya menangis. Dalam diam ia meronta menyesali telah tercipta di dunia yang terlalu kejam baginya.
__ADS_1