
Gita P.O.V
Kicauan suara burung di pagi hari serta hembusan angin sejuk yang masuk melalui jendela kaca yang terbuka menemani tidur Gita di pagi hari.
Sejak semalam gadis itu masih belum terbangun dari tidurnya.
Beberapa kali Amber di buat risau akan keadaan Gita saat ini, namun lagi-lagi ketika ia mengecek suhu badan anak itu ternyata sudah normal dan tak lagi demam seperti semalam.
Amber menghela napasnya lega, Ia memilih untuk beranjak ke dapur untuk menyiapkan semangkuk bubur yang akan ia hidangkan kalau-kalau Gita sudah terbangun.
'Hoooaaamm!' Gita menguap lebar seraya mengeliat kan tubuhnya nyaman.
Gita membuka kolopak matanya perlahan ketika netranya bersibobrok dengan sinar mentari yang menerpa wajahnya.
Ia memalingkan wajahnya sejenak dan mengucek pelan kelopak matanya yang belum terbiasa dengan cahaya matahari yang langsung menyoroti matanya.
Suara ketukan pintu membuat fokusnya teralihkan. Amber masuk ke dalam dengan sebuah nampan lengkap dengan bubur dan juga susu hangat. "Bonjour, Gita . Sarapan dulu ya, sayang," ucap amber dengan penuh kasih.
Gita mengulas senyum tipisnya ,"pagi juga, mami amber !
"Gimana keadaan kamu? Udah baikan atau masih ada yang nggak nyaman mungkin?" tanya amber sembari mengusap lembut kening Gita.
"Je vais bien, mami! Mami nggak usah khawatir gitu,"
Amber berkacak pinggang, ia tak senang jika gadis itu selalu melarangnya untuk khawatir.
"Gimana mami nggak khawatir, semalem kamu pingsan di jalanan. Untung masih ada orang baik yang nolongin kamu git,"
Gita meletakkan sendoknya pelan, "pingsan?" ucapnya tak percaya.
"He-em!" Amber menganggukkan kepalanya, meyakinkan gadis itu akan ucapannya.
"Terus yang nganterin aku pulang siapa, mami?*
Mami juga nggak tau Gita! Mami juga lupa nggak nanya namanya."
Mendengar itu Gita menjadi merasa bersalah.
Wajahnya mendadak murung. "Gimana Gita ngucapin terimakasihnya ya, mami. Kalau orangnya aja mami nggak kenal! hah! eluhnya pasrah.
"Eh, nggak usah murung gitu! Nanti dia ke sini lagi kok,"
Seketika senyumnya mengembang kembali, "yang bener mami?"
"Iya! Dia mau nengokin kamu katanya.
Orangnya kelihatan baik sih, kemarin dia juga nawarin untuk bawa kamu ke RS." Jelas Amber sembari menyisir rambut Gita yang masih tergerai berantakan.
"Kamu makan dulu, mungkin sebentar lagi dia sampai."
Gita mengagguk patuh, ia menyuapkan sesendok bubur itu ke dalam mulutnya sembari mendengarkan celoteh Amber mengenai kejadian lucu akibat prasangka buruknya kepada pria yang menolongnya semalam.
Mereka tertawa bersama, larut dalam cerita pagi yang membuat Gita terkikik karena cerita dari Amber.
Sejenak ia terdiam dan memandangi Amber yang masih tersenyum bahagia di hadapannya. Sekilas ia berpikir,
alangkah bahagianya jika seandainya wanita di hadapannya ini adalah maminya.
Mami yang akan selalu tersenyum ketika berbicara dengannya. Mami yang dengan sabar merawatnya ketika ia sakit, dan mami yang memiliki sisi kelembutan bak-seorang ibu.
Bukan seperti mami kandungnya sendiri .
Bahkan Michiko memiliki sifat yang sangat bertolak belakang dan tak pantas di sebut sebagai seorang ibu jika di bandingkan dengan mami Amber yang selalu memperlakukannya bak putri sendiri.
"Aku pasti sangat bahagia jika bisa terlahir dari rahim mu, mami." Tanpa sadar bibir Gita berucap seperti itu.
Linangan air matanya kembali meluncur membasahi pipinya yang masih sedikit pucat.
Amber tertegun, tawanya seketika lenyap dan menjadi senyum penuh ironi.
Ia mengusap lembut kepala Gita dengan penuh kasih.
"Meskipun kamu nggak terlahir dari rahim mami, tapi kamu udah mami anggap seperti anak mami sendiri Gita . Please, don't talk like that."
Suara amber menjadi parau, ia merengkuh bahu Gita dan mendekapnya dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Kamu bisa jadi anak angkat mami, dan mami bisa bantu kamu untuk urus perpindahan kewarganegaraan kalau kamu mau."
Gita mendongak pelan, menatap lekat pada keseriusan yang terpancar dari wajah Amber.
Bibirnya kembali tersenyum, kemudian ia menggeleng pelan dan mengecup lembut jemari amber.
"Terimakasih atas penawaran mami, aku sangat-sangat bersyukur karena di sini aku di pertemukan dengan sosok wanita yang berhati mulia seperti mu.
Yang memperlakukan ku layaknya seorang anak sendiri.
Tapi, aku minta maaf, untuk pindah kewarganegaraan ..."
Gita terdiam cukup lama dan menahan kalimatnya.
Amber mengangguk paham, "Mami tau dan mami nggak memaksa kamu untuk hal itu Gita.
Satu hal yang harus kamu tau git. Kalau suatu saat nanti kamu pulang ke Indonesia dan disana kamu masih merasa di acuhkan, di sakiti dan nggak di terima.
Mami mohon, jangan lagi kamu tinggal di sana. Ada mami di sini yang siap menerima kamu dan membantu kamu untuk menetap di negara ini. Jangan lagi bertahan sayang!
Dan mungkin di sini kamu bisa menemukan orang baik lain yang akan menggantikan posisi dia di hati kamu.
Gita memalingkan wajahnya menghadap ke arah jendela kaca.
Mengingat tentang dia, yang dua tahun ini tak pernah tau bagaimana kabarnya.
Gita memejamkan matanya kembali, menikmati hadirnya kenangan lama mereka.
Jika saat ini ada seorang yang bertanya kepadanya, apakah saat ini ia sedang merindukan seseorang?
Tentu jawabannya adalah "Iya".
Dia rindu, bahkan sangat rindu hingga terasa sesak ketika ia harus menahan rasa rindunya seorang diri dan membenamkan kembali rasa itu ke dalam batinnya. Menyimpannya seorang diri tanpa di ketahui oleh pihak yang bersangkutan.
Ia tersiksa, ia sakit, bahkan sejak setahun pertama ketika ia meninggalkan Indonesia.
Setiap hari ia menangis, ia merintih ketika memandangi wallpaper layar ponselnya.
Ada gambar pria itu di sana, dan hanya itu yang bisa menjadi penawar rindu bagi Gita.
Lebih tepatnya pasti saat ini pria itu tengah marah karena tak mendapatkan kabar apapun darinya.
Ia ingat sebelum ia pergi .
Ia pernah berjanji ketika ia sampai di tempat tujuannya maka Zayn-lah yang akan menjadi orang pertama yang akan ia hubungi.
Namun sayang, ia harus mengingkari janjinya sendiri.
Bahkan sampai saat inipun Gita masih enggan untuk menghubungi Zayn.
Padahal semua yang berhubungan dengan pria itu masih tersimpan rapi di dalam ponselnya.
Ia sengaja melakukan hal itu, ia berharap Zayn bisa membencinya dan melupakan semua hal tentang mereka.
Tanpa harus kembali merajut kisah yang sempat mereka janjikan untuk kembali bersama.
••••••••••
"Git!" Suara Amber mengejutkannya.
Ia menolehkan kepalanya ke arah pintu dan melihat Amber yqng sedang tersenyum kepadanya.
"Iya, mami."
"Tamunya udah datang.
Kamu turun ya!" titah Amber dengan lembut
Gita mengagguk patuh, ia berjalan beriringan bersamaan dengan Amber.
Sesekali ia melongok-kan kepalanya ke arah lantai bawah, sekedar melihat siapa gerangan yang berbaik hati memberinya pertolongan.
Namun sayang, hanya bagian punggung yang terlihat begitu kokoh yang dapat ia lihat dari tempatnya berdiri saat ini.
Langkah kecilnya terus menapaki undakan anak tangga hingga ia berada tepat di belakang pria ini.
__ADS_1
Orang yang sempat ia lihat meskipun dalam keadaan samar.
Gita meremat jemarinya kasar, rasa gugupnya perlahan mulai mendominasi seluruh tubuhnya.
Ia hanya mematung di belakang pria itu tanpa berucap sepatah katapun.
Hingga akhirnya pria itulah yang menoleh menghadap ke arahnya.
"Eh, emmhh ... itu," Gita berucap tak jelas.
Dan pria itu malah tertawa melihat kegugupan Gita. "Santai nona!" ucapnya dengan lembut.
Gita mengagguk cepat, bibirnya tak kuasa menahan senyum mengingat kesan konyolnya yang ia berikan ketika bertemu dengan pria ini.
"Bagaiman keadaan mu?"
"Aku baik-baik saja, dan itu berkat bantuan dari mu juga pastinya."
Pria itu kembali tersenyum, menampilkan deretan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi di sertai hadirnya lesung pipi yang semakin membuat pria muda terlihat mempesona.
"Aku hanya sekedar lewat dan tak sengaja bertemu dengan mu di jalan.
Oh ya, sepertinya kita harus kenalan!"
Alex mapeli," ucapnya sembari mengulur kan jemarinya.
"Gi-gita." Sembari menyambut uluran tangan dari seorang yang bernama Alex ini.
"Aku tau itu."
"Eh, maksutnya?" Gita mengerjap bingung
"Aku sudah tau soal namamu."
" .... "
"Ah, maaf. Tanpa seijin mu aku terpaksa harus membongkar isi tas mu dan mencari kartu identitas yang kau punya. Termasuk mencari alamat rumah ini. Karena saat itu kau dalam keadaan pingsan."
"Tidak apa-apa. Terimakasih atas bantuan mu, Alex. Jika saja bukan kamu yang lewat nggak tau sekarang nasip ku bakal gimana."
Cukup lama mereka berbincang di temani oleh Amber yang juga ikut bergabung dalam obrolan mereka.
Dari Amber pulalah Alex akhirnya tahu bahwa Gita merupakan seorang wanita pekerja keras yang sering lupa waktu untuk mengurus kesehatannya sendiri.
Jangan kan kesehatan, membagi waktunya untuk istirahat saja bahkan ia juga tak sempat.
Alex menyimak setiap penuturan yang di ucapkan oleh Amber.
Pantas saja gadis ini nampak begitu pucat, dengan kantung mata tebal yang berada di bawah matanya.
Ia tersenyum miris, sangat di sayangkan jika gadis berwajah cantik itu hanya menghabiskan hidupnya untuk pekerjaan kasar yang menghasilkan sedikit uang.
"Aku mohon diri untuk pamit.
Bibi, terimakasih atas jamuannya. Kue buatan mu sangat lezat."
Pujinya pada Amber.
"Aku akan membuat kan lebih banyak lagi untuk mu jika kau bersedia untuk kembali datang ke rumah ini."
"Pasti, aku akan sangat merindukan kue buatan mu, bibi." Ucap Alex sembari melirik ke arah Gita.
Gadis itu hanya tersenyum tipis memberi anggukan kepada Alex.
Sebelum ia benar-benar pergi, Alex sempat memberikan sebuah kartu namanya ke pada Gita.
"Kalau kamu berminat, aku bersedia membantumu untuk mendapatkan pekerjaan di bidang baru yang lebih sesuai dengan mu nona.
Aku harap, kamu bisa mempertimbangkan tawaran dari ku. Hubungi aku jika kamu sudah punya keputusan."
Pria itu kemudian pamit , ia masih melambaikan tangannya ketika ia sudah berada di dalam mobilnya.
Maaf , part ini receh dan garing ya.
Happy reading ☺️ ☺️
__ADS_1